Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 182 (Dendam)


__ADS_3

Arinda memutar mata malas, lalu ia pun membalas dengan menendang piring Lilis, hingga nasi yang ada dalam piring musuhnya berserakan di lantai.


“Beraninya kau!” Lilis bangkit dari duduknya.


“Kau juga begitu pada ku!” pekik Arinda.


Saat keduanya ingin berseteru kembali, tiba-tiba sipir yang yang mengawasi mereka datang.


“Pada hal baru di peringatkan, tapi kalian berdua benar-benar bebal.”


“Dia duluan pak! Tanpa alasan yang jelas meludahi nasi ku!” ucap Arinda.


“Apa benar begitu?” tanya sang sipir, lalu Gina teman Arinda pun memberanikan diri untuk buka suara.


“Benar pak, saya saksinya.” Lilis memelototi Gina yang ikut campur, namun Gina yang tak terima dirinya di aniaya oleh Lilis kemarin pun tak perduli.


“Oh, jadi begitu, pada hal kau baru datang, ayo! Ikut aku!” sang sipir membuka gembok sel mereka, dan membawa Lilis ke penjara pengasingan, yaitu tempat para tahanan nakal di hukum karena berkelahi.


“Awas ya kalian!” pekik Lilis.


Setelah musuh tangguh mereka pergi, Arinda dan Gina pun melakukan tos.


“Terimakasih banyak Gin, sudah membela ku,” ucap Arinda.


“Sama-sama, aku melakukannya karena dendam padanya, kau lihat kan, bekas pukulannya di wajah ku?” Gina menunjukkan lebam di wajahnya karena perbuatan dari Lilis.


“Iya, aku mengerti, dan kalau kau mau, mari bersatu untuk menghabisi wanita iblis itu! Aku masih belum terima, kemarin dia mengotori wajah ku dengan kencingnya!”


“Baiklah, apa rencana mu?” tanya Gina, lalu Arinda pun membisikkan hal gila pada Gina.


“Apa? Kau yakin?” ucap Gina tak percaya.


“Tentu saja! Dia harus mendapatkan hal setimpal.” Arinda tersenyum licik, ia membayangkan bagaimana nasib Lilis ke depannya.


___________________________________________


Beeve yang sudah berada di restorannya, tiba-tiba kedatangan tamu.


“Dengan siapa pak?” Beeve menjabat tangan pria paru baya yang ada di hadapannya.


“Saya Handoko, arsitek yang di utus oleh pak Andri untuk melihat bangunan restoran ibu, sekaligus melakukan perancangan bangunan baru bu,” terang Handoko.


Wah, mas Andri gesit juga, batin Beeve.


“Oh, begitu ya pak, jadi kira-kira menurut bapak bagusnya restoran ku ini di ubah jadi seperti apa?” tanya Beeve.


“Itu sih tergantung permintaan bu, memangnya ibu tidak punya gambaran?”


“Belum punya sih pak,” ucap Beeve.


“Kalau pak Andri minta pada saya, jika ibu belum punya design, ia menyarankan untuk membuat tema 3 utama, yaitu lantai 1 Asia, lantai 2 Eropa dan lantai 3 Amerika, jadi itu akan menarik minat para pengunjung untuk datang kemari,” terang Handoko.


“Oh, begitu ya, tapi kira-kira biayanya kena berapa ya pak?” tanya Beeve.

__ADS_1


“Kalau bahan-bahan belanjaannya belum ada, kita belum bisa perhitungkan, tapi kata pak Andri masalah biaya, tidak perlu di pikirkan , yang penting harus bagus, dan bangunannya tahan lama,” terang Handoko.


“Oke pak, saya paham.” Beeve pun menemani Handoko untuk melihat-lihat restorannya.


________________________________________


Andri yang telah masuk kantor kembali di sambut hangat oleh Arman.


“Selamat pagi bro, kau buru-buru banget masuk kerjanya.” ucap Arman seraya memeluk Andri.


“Aku sudah terlalu lama vakum Man.”


“Pada hal aku masih senang-senangnya untuk mengerjai Emir, meski dia atasan ku, tapi aku bebas memarahinya kalau ia salah, hahaha,” Arman tertawa lepas.


“Dasar, ternyata kau menikmatinya?!” kemudian Andri dan Arman pun saling melepas pelukan.


“Eh, ku dengar Beeve sudah kembali, maaf ya aku belum sempat berkunjung, dan menyapanya secara langsung,” ucap Arman.


“Enggak apa-apa Man, santai saja.” Andri pun duduk di kursi kerjanya.


“Dia sehatkan?”


“Alhamdulillah, sehat Man.”


“Anak kalian?”


“Nah, itu dia Man masalahnya, Bia di bawa oleh mantan pacarnya Beeve entah kemana, andaikan aku bisa mengembalikan Bia pada Beeve, pasti Beeve akan mencintai ku seperti dulu lagi,” terang Andri.


“Sabar Ndri, tapi kau sudah bertindak kan?”


“Oh iya, aku ada kenalan, detektif juga, dia baru saja selesai menangani kasus teman ku, yang mencari ibunya selama 15 tahun, dan menurut ku lumayan cepat juga, hanya seminggu, dia sudah menemukan ibunya.” Arman pun menceritakan kronologi lengkap mengenai kisah temannya.


“Wah, hebat banget, kenalkan aku pada detektif itu Man, aku juga ingin meminta bantuannya, makin banyak yang mencari, akan lebih makin bagus.”


“Tapi mahal banget loh Ndri.”


“Semahal apa sih? Semua harta yang ku miliki akan ku berikan, yang penting Bia di temukan, dan aku bisa bersama seperti dulu dengan Beeve.” Andri sangat bersemangat mendapat setitik harapan dalam hidupnya.


“Baiklah, nanti aku minta kontaknya, semoga saja anak kalian segera di temukan.” ucap Arman.


“Terimakasih banyak Man.” Andri sangat bersyukur, karena selalu ada Arman yang menasehati dan memberinya bantuan di saat ia susah.


__________________________________________


Elia yang mengunjungi Arinda sore itu di buat kaget, sebab putri semata wayangnya yang berparas cantik kini babak belur, banyak benjolan biru di wajah dan sekujur tubuh Arinda.


“Siapa yang melakukan ini pada mu nak?” tanya Elia panik.


“Ini kerjaan tahanan yang baru masuk kemarin bu,” ucap Arinda.


“Ya ampun nak, kau pasti sangat menderita karena orang itu, kurang ajar sekali dia, berani menganiaya mu!” Elia menangisi keadaan Arinda yang tragis.


“Sudahlah bu, jangan di pikirkan, semua sudah terjadi, kalau ibu mau membantu, aku ingin meminta tolong pada ibu.”

__ADS_1


“Mau minta tolong apa nak?”


“Tolong temui mas Andri, bujuk dia untuk mengeluarkan ku dari sini, lakukan segala cara, aku benar-benar enggak tahan bu hidup disini.”


“Ibu mengerti nak, akan ibu usahakan untuk membujuknya, semoga dia bersedia.”


“Dan satu lagi bu, tolong kalau ibu datang berkunjung kesini lagi, bawakan racun ampuh!” bisik Arinda ke telinga ibunya.


“Apa? Kenapa kau memerlukan racun? Apa yang ingin kau lakukan?”


“Untuk membunuh wanita itu! Dia sudah salah berurusan dengan ku!”


“Ibu enggak mau kalau masalah racun, nanti kalau ketahuan bagaimana? Kau akan dapat hukuman tambahan lagi, syukur-syukur kalau di tambah masa tahanan, kalau kau dapat tuntutan hukum mati bagaimana nak?” Elia menolak keras permintaan gila Arinda.


“Lakukan saja bu! Ibu enggak tahu apa saja yang ku alami selama dalam penjara, beli racun yang bagus, yang matinya seseorang itu seolah-oleh karena penyakit, aku pernah menonton itu di yutub, jangan khawatir, itu enggak akan ketahuan!” Arinda terus membujuk ibunya, agar bersedia membantu.


“Arinda, ibu takut, bagaimana kalau ibu kena penjara juga kalau ketahuan?”


“Makanya ibu biasa saja! Jangan sampai menimbulkan kecurigaan orang lain, dan juga tolong banget bu, temui si Andri secepatnya, agar aku keluar dari sini! Aku sudah enggak tahan bu!”


“Baiklah nak, ibu akan melakukannya, kau tenang saja.” Arinda merasa sedikit lega, karena Elia mau membantunya.


____________________________________________


Andri yang baru memperoleh nomor detektif kenalan Arman pun, dengan segera mendial nomornya.


📲 “Halo, Assalamu'alaikum pak,” Andri.


📲 “Walaikumsalam, ini dengan siapa ya?” Heru


📲 “Perkenalkan pak, saya Andri Han, saya dapat nomor bapak dari teman saya Arman,” Andri.


📲 “Oh iya, saya Heru, ada perlu apa ya pak sebelumnya?” Heru.


📲 “Saya ingin meminta tolong pada bapak, tapi enaknya kita bertemu secara langsung, agar lebih leluasa bercerita,” Andri.


📲 “Oh, boleh-boleh pak, kira-kira kapan?” Heru.


📲 “Kalau nanti malam bagaimana pak? Di Kafe @Saya_muchu jam 19:00 malam?” Andri.


📲 “Siap pak, kalau begitu sampai jumpa nanti malam,” Heru.


📲 “Terimakasih banyak pak, Assalamu'alaikum,” Andri.


📲 “Walaikumsalam pak Andri,” Heru.


“Semoga saja, orang ini dapat membantu ku ya Allah,” gumam Andri.


Karena jam telah menunjukkan pukul 17:20, Andri memutuskan untuk pulang, kebetulan hari itu pekerjaannya selesai lebih cepat.


Saat ia ingin beranjak, tiba-tiba perutnya berbunyi, Ya ampun, pada hal baru makan, dan dari pagi sampai sekarang aku sudah makan 7 kali, benar-benar ampuh vitamin yang istri ku berikan, batin Andri.


Ia yang merasa lapar pun memutuskan untuk menuju kafe @saya_muchu lebih awal.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2