
Beeve dan Arinda pun makan siang bersama seraya terus membicarakan sikap Emir.
Mereka yang baru saja selesai makan beranjak dari dapur.
“Bee, badan ku lengket bangat nih, aku boleh mandi disini enggak?” ucap Arinda.
“Oh, boleh dong, ayo mandi di kamar ku saja,” ujar Beeve.
“Tapi aku enggak bawa baju loh, haduh... kalau mandi masih pakai baju yang sama, rasanya kurang nyaman banget,” lanjut Arinda.
“Ya sudah, kau pakai baju ku saja," ucap Beeve.
“Boleh nih?” tanya Arinda memperjelas.
“Iya boleh dong,” jawab Beeve.
Lalu keduanya pun masuk ke dalam kamar, Emir yang berada di sofa ruang tamu pun melihat Beeve membawa Arinda masuk ke dalam kamar.
“Ck,” Emir berdecak seraya menggelengkan kepala.
“Nda, ini handuk untuk mu,” ujar Beeve, mengambil handuk yang baru dari dalam lemari.
“Terimakasih ya, aku masuk dulu ke dalam kamar mandi kalau begitu,” ujar Arinda.
“Ya sudah, mandi yang bersih ya,” ucap Beeve.
Saat Arinda tengah mandi, Beeve pun mengambil satu stell dress biru muda bermotif bunga dari dalam lemarinya untuk Arinda.
“Baju yang ini saja deh, toh belum pernah ku pakai, untung mbak Winda sigap membawa baju-baju ku turun dari atas,” gumam Beeve.
Selang 10 menit, Arinda yang telah selesai keluar dari dalam kamar mandi.
“Wah, air shower nya dingin banget Bee, tubuh ku rasanya jadi segar bugar,” ujar Arinda yang telah wangi.
“Air disini memang dingin Nda, kita jadi serasa mandi di kaki gunung, oh iya, ini baju untuk mu,” ucap Beeve seraya menyodorkan dress biru muda indah itu pada Arinda.
“Wah! Bagus bangat Bee! Ini masih baru ya?” tanya Arinda.
“Tahu saja kau soal kalau barang baru,” jawab Beeve.
“Tahu dong, bahannya masih mengkilat mulus begini, hmm... kainnya juga lembut sekali Bee," ujar Arinda seraya menempelkan dress itu ke wajahnya.
“Baguslah kalau kau suka, itu untuk mu saja,” Beeve yang baik hati pun memberikan dress indah yang belum ia pakai sama sekali pada sahabatnya, tanpa ia tahu asal usulnya.
“Terimakasih banyak sahabat ku,” Arinda pun mengenakan dress pemberian Beeve.
“Bee, pas bangat untuk ku, lihat! Panjangnya juga pas selutut, enggak terlalu seksi, dan aku jadi nampak langsing dengan memakai baju ini,” terang Arinda.
“Kau benar juga, wah! Enggak salah dong berarti kalau aku kasih untuk mu,” ungkap Beeve.
Arinda sungguh menyukai gaun pemberian Beeve tersebut, selanjutnya Arinda menyisir rambut dan ber-makeup, setelah itu mereka pun keluar dari dalam kamar.
“Aku pulang sekarang ya Bee, lagi pula sudah sore,” ucap Arinda.
“Iya, lain kali main lagi ya kesini,”
__ADS_1
“Pasti, jangan lupa bilang ke mas Andri ya, agar aku di terima kerja,” pinta Arinda.
“Iya, pasti aku akan bicarakan padanya,” saat Arinda dan Beeve menuju pintu utama yang melewat sofa yang ada di ruang tamu, Beeve dan Arinda melihat Emir memberikan tatapan tajam pada mereka.
“Dia kenapa lagi ya?” bisik Arinda.
“Jangan tanya aku, kan kita selalu bersama dari tadi,” ujar Beeve dengan suara pelan.
“Ih, seram bangat sih tatapannya,” seketika Arinda merinding, karena Emir tak hentinya memberikan tatapan mematikan.
Mereka berdua pun buru-buru lewat dari hadapan Emir, sesampainya di teras rumah Arinda berpamitan pada Beeve.
“Bee, aku pulang ya,”
“Oke hati-hati di jalan,”
“Kau juga hati-hati, sebaiknya kau masuk dari pintu belakang, ku lihat dari caranya, mungkin dia akan memakan mu sebentar lagi," ujar Arinda.
“Ih, jangan bicara sembarangan, seram banget kalau begitu,” ucap Beeve seraya tertawa getir.
“Ya sudah, aku pulang ya,” tit tiit... Arinda menekan klakson motornya.
Setelah Arinda hilang dari pandangannya, Beeve pun masuk kembali ke dalam rumah, saat ia akan melewati ruang tamu lagi, tiba-tiba Emir yang sedang duduk di atas sofa berbicara padanya.
“Kau bodoh?”
“Hah? Apa dia bicara pada ku?” batin Beeve.
Beeve yang tak merasa bagian dari lawan bicara Emir pun tak menggubrisnya, ia terus melanjutkan langkahnya.
“Beeve, aku bicara pada mu,” ucap Emir dengan suara yang pelan namun tegas.
“Iya mas Emir? Ada apa?” tanya Beeve dengan senyuman terpaksa.
Lalu Emir bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat Beeve berpijak.
“Hmmm, lain kali jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar mu, walau itu pembantu, apa lagi wanita lain, kau itu sudah bersuami Bee,” ucap Emir.
“Ya ampun mas Emir, kau mikir apa sih mas,” Beeve yang polos tak mengerti maksud Emir.
“Dasar bodoh, itu pantang Bee, jangan biarkan orang lain masuk ke dalam kamar mu, apa lagi tidur di ranjang mu, kau mengerti kan sekarang?”
“Mmm, iya mas, tapi apa enggak berlebihan ya, dia kan sahabat ku,” ucap Beeve dengan menyunggingkan bibir.
“Sahabat juga bisa jadi lawan, terlebih dress yang kau berikan padanya adalah hadiah yang di khususkan Andri untuk mu, dia memesan itu langsung dariku, kau ini sakit atau apa sih Bee? Ck....,” Emir menggelengkan kepalanya.
“Masa sih?” Beeve menjadi resah, karena dress yang ia beri pada Arinda ternyata hadiah khusus dari suaminya.
“Mas Andri enggak bilang sih sebelumnya, aduh, semoga nanti dia enggak marah padaku,” batin Beeve.
“Kalau bajunya ku minta lagi, rasanya kurang baik, akh... gimana ya?” gumam Beeve.
“Ya tinggal minta di kembalikan,” ucap ketus Emir.
“Masalahnya aku sudah kasih ke dia,”
__ADS_1
“Hahh...., dasar...., sudahlah, lain kali kalau dia datang jangan bawa ke kamar, kau harus peka akan situasi, kalau enggak, kau akan tersingkir,” setelah menyampaikan yang ingin Emir katakan, ia pun kembali ke kamarnya.
“Sudah susah payah aku pilihkan baju itu untuknya dengan hati yang berat, malah di beri pada orang lain,” gumam Emir dalam hatinya.
“Dia kenapa sih? Bawaannya judes terus, dia selalu berpikir berlebih,” ucap Beeve.
Pukul 18:00, Andri yang baru saja pulang kerja di sambut oleh Beeve.
“Assalamu'alaikum sayang,” ucap Andri yang sedang berdiri di depan pintu.
“Wa'alaikumsalam mas, tumben pulang cepat hari ini mas,” ucap Beeve seraya mengecup telapak tangan suaminya.
“Karena urusan dengan klien selesai lebih awal sayang, oh iya, Emir mana?”
“Dia ada di kamarnya mas,” ucap Beeve.
“Oh, begitu ya? Apa kau sudah mandi sayang?” tanya Andri.
“Sudah mas,” jawab Beeve.
“Apa kau mau mandi sekali lagi?” ucap Andri menggoda istrinya.
“Aku sih mau mas, tapi kalau aku masuk angin gimana?”
“Jangan dong sayang, cukup mas Andri saja yang boleh memasuki dirimu,” Beeve yang mendengar gombalan receh suaminya tertawa geli.
Emir yang baru turun ke lantai satu pun mendengar gombalan Andri pada Beeve.
yang membuat perutnya terasa mual. “Sejak kapan Andri jadi alay begitu?” batinnya.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Kissky_muchu
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.
Yalisa adalah siswi SMK yang kerap mendapat bullyan dari teman-teman sekelasnya, bullyan yang ia terima bukan sekedar ejekan melainkan tindakan fisik.
Hanya Mei sahabat yang membelanya di dalam kelas.
Sekolah yang tahu akan masalah Yalisa juga tidak perduli, malah menutup-nutupi agar sampai tidak di ketahui orang di luar sekolah.
Karena kemiskinan lah yang membuat Yalisa bungkam.
Perasaan Yalisa campur aduk, marah,emosi,benci,stres, pecundang, dan tak berarti membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya.
Apakah Yalisa akan mati begitu saja?
Atau rasa dendam dan benci akan menjadi cinta?
Atau malah membawa pertumpahan darah?
Manakah yang akan terjadi?
__ADS_1
Ikuti terus alur cerita Save Yalisa.