Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 235 (Dendam)


__ADS_3

Iya, kau benar juga sayang, sini!” ucap Andri seraya membuka lebar kedua tangannya, lalu Beeve pun naik ke atas ranjang.


“Bagaimana hari ini? Apa si kembar kita buat kau kewalahan lagi?”


“Alhamdulillah, enggak mas, cuma lemas sedikit saja.”


“Nah, gitu dong anak-anak papa, enggak boleh bikin mama susah ya, kalian harus baik budi ya nak...” Andri berbicara pada perut istrinya seraya memberi sapuan lembut.


“Iya papa...” Beeve menjawab perkataan suaminya dengan nada suara anak bayi.


“Sayang, bagusnya kita kasih nama apa ya kalau laki-laki?”


“Oh iya, mas benar juga, kita belum siapkan nama ya,” ujar Beeve.


“Gimana kalau kita kasih nama, Angga, Anggi, Anjur, bagus kan?”


“Apaan sih mas! Kasih nama anak yang benar dong, enggak Anjur juga kan?! Lagian cari nama bayi itu yang artinya bagus, kalau bisa nama orang-orang yang beriman, kelak di akhirat, nama itu bisa membantunya masuk surga,” terang Beeve.


“Masa sih sayang?”


“Pokoknya gitu kata guru mengaji ku, contoh kasih nama Sulaiman, Ahmad, Nuh, Umar.”


“Tapi anak kitakan kembar 3 sayang, jadi namanya harus mirip-mirip juga dong,” ujar Andri.


“Tetap ada kemiripan kok mas, anak-anak kitakan nanti pakai nama belakang kakek moyang mas Andrikan,” terang Beeve.


“Oh, iya juga ya, aku lupa sayang.” Andri menganggukkan kepalanya.


“Lagian kalau di paksain mirip juga enggak bagus, kalau anak-anak kita perempuan, aku ingin kasih nama, Amina Han, Khadijah Han, dan juga Fatima Han.”


“Jadul banget sih namanya,” ucap Andri.


“Itu nama terkeren sampai ke surga loh mas, mulai dari ibu, istri dan anak perempuan Rasulullah, aku ingin anak-anak kita menjadi sholeh dan sholeha mas, jangan seperti kita, semoga nama itu bisa membawa mereka ke pribadi yang di ridhoi oleh Allah.” Andri tersenyum mendengar perkataan pada istrinya.


“Kalau menurut mu itu bagus, aku ikut saja yang.” ucap Andri, lalu keduanya pun berpelukan.


“Terimakasih ya mas, atas pengertiannya, dan sudah menerima pendapat ku.”


“Iya sayang ku.” setelah selesai mengobrol, mereka memutuskan untuk tidur.


__________________________________________

__ADS_1


Keesokan harinya, Arinda yang baru selesai mandi, di datangi oleh sipir.


“Arinda, ayo ikut!” titah sang sipir.


Teman-teman satu sel Arinda memberi pandangan penuh makna terhadapnya.


“Ada apa dengan kalian? Biasa saja dong kalau lihat orang cantik!” pekik Arinda dengan sombongnya.


“Arinda, kok akhir-akhir ini kau sering di panggil sipir sih?” tanya Dewi penasaran, yang diangguki oleh yang lainnya.


“Mau tahu saja urusan orang lain!” Arinda enggan memberitahu tentang dirinya yang harus melayani nafsu bejat sang kepala penyidik Leo.


“Kalau ada hal bagus, boleh dong bagi-bagi ke kita jangan pelit!” ujar Gina.


Enak saja, aku yang jadi korban, kalian mau ikut nikmati hasilnya? Jangan harap! batin Arinda.


“Kalau memang ada, pasti ku kasih cipratan pada kalian, kalau sekarang, aku hanya dapat apes dan sial!” terang Arinda seraya keluar dari selnya.


Setelah Arinda pergi jauh, teman-temannya mulai membuat teori konspirasi.


“Menurut kalian, apa yang dia kerjakan sekarang?” ucap Dewi.


“Paling jual diri!” ujar Gina.


“Kalau gratis pasti mau, bayar mungkin pikir 2 kali!” ucap Ani.


“Betul juga ya, Arinda memang cantik sih, tapi kira-kira siapa yang dia layani?” ucap Gina yang membuat mereka berpikir keras.


“Mungkin kepala penyidik Leo, karena aku pernah lihat, secarik kertas yang Arinda simpan, di antara tumpukan bajunya, pengirimnya pak Leo,” cetus Bela.


“Wah! Gila sih kalau benar! Apa lagi kalau pak Leo sudah candu padanya, bisa untuk banyak si Arinda!” ucap Dewi. Semua pun mengangguk setuju. Lalu Gina mengeluarkan rahasia yang selama ini ia pendam.


“Tapi, kalian tahu hal yang enggak kalah gilanya?” semua mata tertuju pada Gina saat ia mengatakan hal itu.


“Apa?” ucap semuanya dengan serempak.


“Aku kurang tahu sih kebenarannya, tapi... Arinda pernah mengatakan pada ku, kalau dia akan membunuh Lilis!” semua orang tercengang dengan pernyataan Gina.


“Serius Gin?!” ucap mereka semua bergantian.


“Iya, hanya saja aku heran, kenapa malah Marna yang melakukannya, apa mungkin Marna juga mempunyai dendam kesumat pada Lilis, sampai-sampai ia gelap mata?” ujar Gina.

__ADS_1


“Atau, Marna hanya kambing hitam Arinda?” celetuk Dewi.


“Wah! Benar-benar licik sih kalau itu benar! Pada Marna saja dia bisa melakukannya, apa lagi dengan kita, sebaiknya kita harus jaga jarak dengannya, dan selalu waspada.” ucap Ani.


“Aura Arinda makin lama memang bikin merinding sih! Aku saja takut dekat-dekat dengannya!” Gina gemetaran saat mengatakan pendapatnya.


“Kau benar Gin, kasihan Marna, di tempatkan di penjara pengasingan, apa enggak ada yang bisa kita lakukan untuknya?” Ani begitu iba pada Marna yang tak bersalah.


“Kalau enggak ada bukti yang kuat, sebaiknya kita diam saja! Apa lagi Arinda saat ini sedang dekat dengan para sipir dan juga pak Leo, bisa-bisa kita jadi korban selanjutnya lagi,” ujar Gina.


“Tapi Gin, kita bisa mengatakan apa yang pernah Arinda sampaikan pada mu.” Bela masih berharap kebenaran di tegakkan.


“Bel, jangan cari perkara saat dia lagi jaya-jayanya, nanti saja, kalau dia lengah, kita serang bersamaan!” Gina yang ingin menyingkirkan Arinda mulai memikirkan rencana bagus. Mereka berempat pun sepakat bekerja sama demi melindungi diri mereka dari kelicikan Arinda Putri.


Arinda yang telah sampai di ruangan khusus pun bertemu dengan Leo.


Awas saja, kalau si tua bangka ini masih membohongi ku, ku gorok juga dia kalau ada kesempatan, dia pikir aku haus sek* apa! Sesukanya memakai ku 2 bulan lebih! Cuihhh menjijikkan! batin Arinda.


“Halo sayang, kau sudah datang?” sapa Leo dengan wajah hidung belangnya.


”Halo juga pak Leo, senang bertemu dengan mu.” sahut Arinda dengan memberi senyum palsu.


“Bagaimana, apa kau sudah siap untuk keluar pagi ini?” tanya Leo, sontak netra Arinda membelalak tak percaya, akhirnya impiannya tercapai juga.


“Yang benar pak?!” ucap Arinda seraya menggenggam kedua tangan Leo.


“Tentu saja sayang ku, aku sudah mengurus surat izin keluar mu, mulai pagi sampai malam kita bersenang-senang, aku juga baru gajian! Hahaha!” bisik Leo ke telinga Arinda.


“Aahh... pak Leo, aku senang banget!!!” Arinda pun memeluk tubuh pria hidung belang tersebut.


Cih! Menjijikkan, pokoknya hari ini adalah peluang besar ku untuk kabur! batin Arinda.


Ia yang telah menyiapkan strategi pelarian pun tak sabar ingin melaksanakannya.


“Maaf ya manis, kalau aku terlalu lama untuk tepat janji, itu semua karena aku perlu menguji kesetiaan mu.” terang Leo, yang takut Arinda berkhianat selama ini.


“Berarti sekarang aku sudah lulus uji dong pak?” Arinda mengecup pipi berkerut Leo.


“Tentu, untuk itu aku membawa mu menghirup udara segar, sekaligus kita ganti suasana tempat bercinta!” Leo pun menggigit kecil bibir montok Arinda.


Dasar sampah! Bikin muak banget sih orang tua ini! Enggak sadar umur! Oke... hari ini adalah hari terakhir kita melakukannya, sekaligus hari terakhir ku melihat penjara ini, kalau berhasil kabur, aku akan pergi keluar negeri, atau kemana saja, asal tidak kembali ke penjara busuk ini! batin Arinda.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2