Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 269 (Rahma)


__ADS_3

“Aku pasti bisa masuk, biarkan aku ikut dengan mu, bagaimana pun, kita perlu mengobrol bang,” ujar Helena.


Meski tak ingin, namun sulit bagi Emir untuk menolak, akhirnya ia mengizinkan Helena untuk ikut bersamanya.


Sesampainya mereka ke ruang bayi, Helena melihat ketiga anak kembar Beeve di dalam inkubator.


“Kasihan sekali mereka bertiga, semoga lekas sembuh,” ucap Helena dengan perasaan iba. “Kok Sampai operasi bang?”


“Tensinya sangat tinggi, jadi enggak bisa melahirkan normal,” terang Emir.


“Ya Allah, semoga kak Beeve dan anak-anaknya cepat sehat,” ucap Helena.


“Aamiin,” sahut Emir.


Lalu Emir memberikan 2 botol susu yang baru mereka pompa, pada perawat yang berjaga pagi itu.


Lalu dengan sigap perawat wanita itu menuang air susu Beeve ke dalam spuit berukuran 10 CC, yang tersambung dengan selang kecil, yang terhubung sampai ke pangkal lidah bayi Beeve, alat itu, untuk memudahkan bayi yang di inkubator menerima Asi atau pun susu formula.


Setelah selesai, Emir dan Helena pun keluar dari dalam ruangan, dan memilih mengobrol di taman rumah sakit.


“Mungkin aku enggak berhak menanyakan ini, tapi... kalau aku pendam, rasanya aku akan penasaran seumur hidup ku,” ucap Helena.


“Mau tanya soal apa?”


“Apa, kau dan kak Beeve sudah menikah?” pertanyaan Helena hampir membuat Emir tertawa.


“Apa kau enggak baca nama di sebelah inkubator si kembar?” tanya Emir.


“Enggak.” Helena yang selalu buruk sangka tak teliti sebelum bertanya.


“Kau belum berubah ternyata, ck!” decak Emir.


“Jangan ungkit masa lalu bang!” pekik Helena.


“Aku enggak ada niat untuk mengungkit hal apapun, harusnya sebelum bertanya, gunakan mata mu dengan benar, nama ku atau Andri sebagai ayah si kembar! Astaga...” Emir tertawa karena kekonyolan mantan istrinya.


Ia tak sadar, senyum yang ia berikan, membuat hati Helena sakit bertubi-tubi, pasalnya Helena hingga kini masih berharap bisa kembali bersama Emir. Air matanya pun menetes, saat semua penggarapannya takkan jadi nyata.


“Kau kenapa? Apa mata mu sakit?” Emir mengusap air mata mantan istrinya.


“Iya bang, mata ku sakit setiap kali melihat mu, bayang-bayang kebersamaan kita selalu terlintas di hati ku, tak pernah aku melupakan mu, dari awal kita bertemu hingga di perpisahan kita, aku masih berharap untuk kita bersama lagi.” kejujuran hati Helena membuat Emir tertegun.


“Helena, jangan harapkan aku lagi, sebab aku sudah menutup pintu hatiku untuk mu, kau harus bisa melupakan ku, agar kau menemukan bahagia mu, percayalah, masih banyak pria lain, di luar sana yang lebih baik dari pada aku.” Emir yang tak memiliki perasan lagi pada Helena, menyemangati mantan istrinya agar segera melupakannya.


“Apa benar-benar tak ada aku dalam ruang hati mu lagi bang?”


“Enggak ada.”

__ADS_1


“Baiklah.” Helena menyeka setiap buliran air mata yang berderai di pipinya.


“Helena, kau adalah wanita yang kuat, yakinlah, akan datang lelaki baik, di kirimkan Tuhan untuk mu.”


“Apa kau masih mencintai kak Beeve?” Emir terdiam sejenak dengan pertanyaan Helena.


“Ya, tapi perlu kau tahu, aku menceraikan mu, bukan karena dia, itu murni atas kesalahan kita berdua.” Hati Helena hancur lebur mengetahui Emir masih mencintai Beeve.


“Apa aku pernah ada dalam hatimu bang?”


“Tentu, sejak kau resmi menjadi istri ku, semua jiwa dan raga ku, ku persembahkan untuk mu, dan jujur saja, aku sempat mencintai mu, namun sayang, rasa cinta ku yang belum kokoh kau robohkan begitu saja, tapi kita tak usah bahas masa lalu, karena sudah jelas, itu takkan bisa di ulang lagi,” ujar Emir.


Helena menutup wajahnya dengan kedua tangannya ia sangat menyesal, telah menghancurkan rumah tangganya sendiri.


“Jangan menangis dokter, banyak pasang mata disini.” ucap Emir.


Emir yang telah terlalu lama meninggalkan Beeve memutuskan untuk kembali, ia pun berpamitan pada Helena, yang masih terisak di taman.


Helena menatap lekat kepergian Emir dari celah jemarinya.


Kini, aku sama dengan yang lainnya, status ku tak lebih dari seorang penggemar biasa. Andaikan waktu bisa di putar, aku akan memperbaiki segala faktor yang membuat kita berpisah, batin Helena.


Emir yang baru tiba di ruang rawat Beeve pun melihat, wanita cantik itu sedang memompa asinya.


“Rajin banget.”


“Hei, pelankan suara mu, nanti luka operasi mu terbuka! Sudah di bilang juga,” ujar Emir.


“Makanya, kalau masuk ketuk pintu dulu, jangan main terobos,” ucap Beeve.


“Iya bu, maaf saya salah...” Emir pun duduk di sebelah ranjang Beeve.


“Mas! Kapan aku dan si kembar bisa pulang?” Beeve yang tak betah di rumah sakit, meminta pulang pada Emir.


“Mungkin besok,” ucap Emir.


“Oh, gitu ya.” lalu Beeve yang telah selesai memompa asi memberikannya pada Emir.


“Tolong antar ya mas.”


“Nanti ya, aku masih cape.” Emir yang takut bertemu Helena kembali, membuat alasan demikian, agar Beeve tak memaksanya.


“Ya sudah kalau begitu.” ucap Beeve.


Lalu, Emir yang melihat masih ada sisa makanan di piring Beeve, mulai menasehati.


“Hei, makanan jangan di buang-buang, ayo lanjutkan!” Emir mengambil piring Beeve lalu mengarahkan sendok yang berisi bubur ke mulut wanita itu.

__ADS_1


“Aku sudah kenyang mas!" Beeve memalingkan wajahnya.


“Ayolah, aku ingin kau cepat sembuh,” pinta Emir.


“Nanti lagi ya.”


“Kalau tunggu nanti, buburnya akan basi! Ayolah, kau harus sembuh, agar bisa mengurus si kembar, orang operasi itu harus banyak makan bergizi, agar lukanya cepat kering.” berkat bujukan Emir, Beeve pun bersedia menghabiskan makanannya.


Emir yang telah berjanji pada Andri akan menjaga Beeve, melakukan segala yang terbaik demi kebahagiaan Beeve.


Meski dalam hatinya, ia ingin memiliki Beeve, namun ia tak berani mengatakan itu pada janda mati saudaranya.


3 Hari kemudian, Beeve dan ketiga bayinya telah di izinkan untuk pulang, Rahma yang pertama kali melihat wajah cucunya tertawa girang.


“Ayah! Andri! Andri ada disini! Hehehe..” ucapnya cengengesan.


Ia pun menggendong Nuh, si anak sulung dari Andri dan Beeve.


“Andri... anak ibu... apa sayang... mau minum susu ya?” Rahma yang ingin memberi asi pun di cegah oleh Yudi.


“Bu, ini bukan Andri, tapi Nuh, cucu kita, anak Andri,” terang Yudi.


“Apa sih yah! Ini Andri! ayah enggak lihat?! Masa anak sendiri enggak kenal?” Rahma memarahi suaminya, karena dalam penglihatan dan ingatannya, Nuh adalah putranya, ia juga merasa kalau dirinya ada di masa lalu, saat ia melahirkan anak pertamanya.


“Ibu, Andri sudah tiada, jangan begini ya, kasihan Nuh, dia baru dari rumah sakit, perlu istirahat.” terang Yudi.


“Ini Andri! Ayah gimana sih! Ini Andri kita.” suara Rahma yang melengking membuat ketiga bayi kembar Beeve menangis.


Rahma pun menoleh ke bayi Beeve lainnya yang saat itu di gendong oleh para suster, yang telah di pekerjakan Yudi untuk membantu Beeve merawat anak-anaknya.


“Eh... kok ada tiga Andri? Yah, memangnya aku melahirkan anak kembar?”


Beeve yang takut anaknya kenapa-napa tak bisa berbuat apapun, sebab ia tak enak kalau setiap tindakan yang ia lakukan, menyakiti hati keluarga suaminya.


Lalu Emir yang mengerti perasan Beeve mulai menenangkan ibunya.


“Iya, ibu melahirkan anak kembar, tapi karena air susu ibu kering dan ibu kurang sehat jadi ayah menyuruh perawat untuk mengurusnya, sekarang ibu istirahat ke kamar ya, karena kata dokter ibu perlu tidur yang cukup, kalau belum pulih, enggak boleh pegang Andri,” Emir pun terpaksa mengelabui ibunya.


“Kau siapa? Apa kau dokternya?”


“Iya, aku dokter yang merawat ibu,” ucap Emir.


Berkat bujukan Emir, Rahma mau mengembalikan Nuh pada suster yang menggendongnya sebelumnya.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2