Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_14


__ADS_3

Sekarang mereka sudah berada di RS, Rafael juga langsung di bawa ke ruang UGD.


Sila terus saja menangis, ia merasa jika dirinya yang telah membuat suaminya bernasib seperti itu.


Sementara Aldo masih mondar-mandir di depan ruang UGD.


20 menit kemudian, Maya datang bersama dengan Aurel, dua wanita itu berjalan begitu cepat menghampiri Sila.


Tanpa di duga, Maya menarik kasar tangan menantunya itu, sampai Sila meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.


"Gara-gara kamu anak saya jadi seperti ini! Ingat! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rafael, kamulah orang pertama yang aku salahkan, mengerti!" Bentak Maya dengan menatap tajam ke arah Sila, tangannya yang sudah terangkat hendak menampar pipi menantunya itu, terhenti saat seorang wanita tua mencekal tangan Maya.


"Stop Maya, kamu tidak berhak menyalahkan Sila, dia tidak bersalah," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Tapi Bu, gara-gara perempuan ini Rafael jadi celaka," tandas Maya yang memang tidak mau kalah.


"Ingat Maya, ini RS, lebih baik kamu diam, kalau tidak, ibu tidak segan-segan memanggil scurity untuk menyeret kamu keluar dari sini," tegasnya. Seketika Maya terdiam, dia pun memilih mundur.


Ya, wanita tua itu adalah Sukma, nenek dari Rafael dan juga Aldo.


Aldo telah memberitahu ibunya setelah ia tiba di RS, dan setelah itu tak lupa Aldo juga memberi kabar pada nenek tercintanya.


Sukma menuntun Sila untuk duduk, wanita tua itu tau, jika cucu menantunya sangat sedih.


"Sabar ya Sayang, kamu jangan pikirkan omongan Maya, dia memang seperti itu orangnya," ucap Sukma dengan lembut, tangan mengelus lembut rambut Sila.


"Yang mama katakan memang benar Nek, semua ini terjadi gara-gara Sila, kalau saja .... " ucapan Sila terhenti, ia merasa sangat sedih dengan keadaan suaminya sekarang, perlahan Sila menyeka air matanya.


"Kamu jangan merasa bersalah seperti itu, seorang suami sudah berkewajiban menjaga dan melindungi istrinya, jadi ini semua bukan kesalahan kamu," tutur Sukma dengan lembut, Sila merasa tenang saat mendengar penuturan wanita tua itu.


Sementara itu, Maya dan Aurel terlihat sangat kesal dengan keadaannya yang sekarang, andai saja Sukma tidak datang, pasti Maya sudah membuat perhitungan kepada menantunya itu.


Aldo sedari tadi hanya diam, jika Neneknya tidak datang, pasti pria itu yang akan membela Sila.


Selang beberapa menit, pintu ruangan UGD terbuka, seketika semuanya beringsut menghampiri Dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan cucu saya?" tanya Sukma, dengan wajah yang khawatir.


"Keadaan Rafael kritis, dan sekarang kita harus melakukan tindakan operasi, untuk menghentikan pendarahan di kepalanya, untuk itu kami meminta persetujuan dari keluarga," jelas Dokter tersebut.


Seketika semua terdiam, bahkan Sila yang sedari tadi menangis, wajahnya pucat, persendiannya terasa lemas.


Perlahan Sila memundurkan langkahnya, dan detik itu juga tubuhnya ambruk, dengan sigap Aldo menahannya.


Keadaan menjadi panik, terutama Aldo dan Sukma, tetapi berbeda dengan Maya dan Aurel, mereka sama sekali tidak memperpedulikan keadaan Sila.


"Aldo, tolong kamu urusi Sila dulu, urusan Rafael biar Nenek saja," pinta Sukma, dan dibalas anggukan oleh Aldo.


Sukma segera bangkit, dan mendekati Dokter tersebut.


"Maya, kamu tetap di sini, urusan Rafael adalah tanggung jawab saya," ujar Sukma dengan tegas, Maya dan Aurel hanya mendengus kesal.


Setelah itu, Sukma mengikuti langkah perawat untuk mengurus administrasi dan tanda tangan surat persetujuan.


***


Sementara itu, Aldo masih menunggu Sila yang tengah mendapat pemeriksaan.


Selang beberapa menit, seorang Dokter perempuan keluar, dengan segera Aldo bangkit dan menghampiri Dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan Kakak saya Dok?" tanya Aldo dengan raut wajah yang panik.


"Untuk saat ini kondisinya masih sangat lemah, terlebih dalam keadaan hamil muda, jadi saya harap jaga kesehatannya ya, jangan terlalu banyak pikiran," jalas Dokter tersebut.


"Baik Dok, terima kasih," sahut Aldo.


Dokter itu pun pergi, setelah itu Aldo pun masuk ke dalam.


Aldo melihat Sila masih terbaring lemah di atas brangkar, tangannya terpasang jarum infus.


Perlahan Aldo pun mendekat dan menarik kursi, lalu duduk di samping brangkar tersebut.


"Aku seneng kamu hamil Sil, semoga kamu bahagia hidup bersama kak Rafael, meski aku tidak bisa memilikimu, tapi aku cukup bahagia, jika melihatmu bahagia," ungkap Aldo, dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Andai saja Aldo yang menjadi suami Sila, pasti kabar tentang kehamilan gadis itu, akan menjadi kabar terbahagia buat Aldo.


Namun meski begitu, Aldo tetap merasa bahagia, karena sebentar lagi dia akan memiliki keponakan.


***


Sukma tengah duduk di kursi tunggu yang terdapat di depan ruangan operasi, meski hati dan pikirannya tengah kacau, tetapi sebagai orang tua, ia akan bersikap setenang mungkin.


Lain halnya dengan Maya, wanita itu terlihat sangat mencemaskan putranya.


"Mereka tidak tau jika semua ini aku yang telah merencanakannya, kalau aku tidak bisa mendapatkan Rafael, maka tak ada seorangpun yang boleh mendapatkannya, termasuk kamu Sila," gumam Aurel dalam hati, dengan senyum liciknya.


Selang beberapa menit, pintu ruangan operasi terbuka, seorang Dokter keluar, Sukma segera bangkit dan mendekat, begitu juga dengan Maya dan Aurel.


"Bagaimana Dok operasinya?" tanya Sukma.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar ... tapi untuk saat ini kondisi Rafael masih kritis, dan Rafael juga mengalami koma, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," terang Dokter tersebut, dan segera beranjak pergi.


Sukma hanya mengangguk, meski penyataan Dokter sangat mengiris hatinya, tapi ia berharap agar cucunya cepat di beri kesembuhan.


Sementara itu, Maya selaku ibunda Rafael terlihat sangat sedih dengan keadaan putranya itu, dan orang yang akan dia salahkan tak lain menantunya sendiri.


Merasa geram, Maya beranjak pergi dan mungkin untuk menemui Sila. Sementara itu Sukma masih berdiri di tempat, ia akan menunggu Rafael untuk di pindahkan ke ruang rawat, tentunya ruangan VIP.


***


Maya sudah tiba di ruangan di mana Sila di rawat, tanpa permisi Maya masuk ke dalam dan tentunya diikuti oleh Aurel.


Terlihat Sila masih terbaring lemah di atas brangkar, sedangkan Aldo tengah duduk di sofa.


Maya menatap tajam ke arah Sila, tapi niatnya ia urungkan, lantaran menantunya itu belum sadar dari pingsannya.


Aldo yang melihat kehadiran ibunya, merasa heran, ia pun bergegas bangkit dan menghampiri ibunya.


"Mama, ada apa mama ke sini?" tanya Aldo, dengan tatapan mengintimidasi.


"Tidak ada, mama cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik saja," sahut Maya, matanya terus menatap tajam ke arah Sila.


Mendengar pertanyaan dari putranya, Maya segera mengalihkan pandangannya ke arah Aldo.


Namun raut wajahnya menunjukkan kebencian, mengingat jika gara-gara menyelamatkan Sila nasib Rafael jadi seperti sekarang.


"Operasinya berjalan dengan lancar, tapi kondisi Kakak kamu masih kritis, dan sekarang Rafael mengalami koma ... dan perempuan itu penyebabnya," jawab Maya. dengan menatap tajam ke arah Sila.


Lalu tangannya menunjuk ke arah menantunya itu.


"Ma, Sila tidak bersalah, jadi mama jangan menyudutkan Sila terus dong," bela Aldo, ia merasa tidak suka jika Sila di salahkah atas kejadian yang menimpa Rafael.


"Aldo! Buat apa kamu bela perempuan itu, udah jelas-jelas dia yang salah, dia udah buat Rafael celaka!" Bentak Maya yang memang sudah sedari tadi menahan emosinya.


Aldo hanya menghela nafas, andai saja yang ada di hadapannya bukan ibunya, pasti sudah Aldo maki-maki.


"Lebih baik sekarang mama keluar, jangan bikin ribut ma, ini RS," ujar Aldo, dengan menahan emosinya.


Mendengar itu, Maya semakin emosi, tapi dengan cepat Aurel menarik lengan wanita itu, dan membawanya keluar dari ruangan Sila.


"Tante yang tenang ya, mungkin sekarang kita kalah, tapi Aurel yakin, kita bisa membuat perempuan itu pergi dari kehidupan Rafael dengan sendirinya," tutur Aurel, yang mencoba menenangkan Maya. Maya hanya mengangguk, dan setelah itu keduanya bergegas pergi.


***


Satu jam kemudian, Sila mulai sadar, kelompok matanya mulai terbuka, meski kepalanya masih terasa berat, tapi Sila mencoba untuk bangkit.


Aldo yang melihatnya segera menghampirinya.


"Sila, kamu sudah sadar," ucap Aldo, seraya berjalan menghampirinya.


"Aku di mana Do?" tanya Sila, seraya memegangi kepalanya.


"Kamu masih di RS," sahut Aldo, ia pun membantu Sila untuk duduk bersender.


Mendengar kata RS, Sila teringat suaminya, ia ingat apa yang menyebabkan dirinya tak sadarkan diri.


"Aldo, sekarang keadaan kak Rafael gimana, aku harus melihatnya Do," ujar Sila panik. Sila berniat untuk bangkit dari duduknya, tapi dengan cepat Aldo mencegahnya.

__ADS_1


"Sila, kamu tenang dulu, kondisi kamu masih lemah, sekarang kamu istirahat dulu ya," cegah Aldo, dan mencoba untuk menenangkan Sila.


"Gimana aku bisa tenang Do, sedangkan aku sendiri tidak tau bagaimana keadaan suami aku sendiri," seru Sila, ia merasa emosi sendiri.


Belum sempat Aldo menjawab, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


Dilihat Sukma Nenek berjalan masuk ke dalam.


Sila yang awalnya terus memberontak, kini mulai tenang setelah melihat sang Nenek.


Sukma pun berjalan mendekati cucu menantunya itu.


"Kamu sudah sadar Sayang," ucap Sukma, seraya mengelus bahu Sila.


"Nek, Sila ingin melihat kak Rafael, Sila ingin tau keadaannya sekarang gimana," pinta Sila pada wanita tua itu.


"Iya Sayang, nanti biar Aldo yang nemenin ya, soalnya Nenek mau pulang dulu," jawab Sukma dengan lembut. Sila tersenyum mendengar jawaban dari Neneknya itu.


"Ya sudah, Aldo Nenek pulang dulu ya, kamu temenin Sila untuk ke ruangan Rafael," pinta Sukma pada cucunya itu.


"Iya Nek, Nenek hati-hati di jalan," sahut Aldo, dan dibalas anggukan oleh sang Nenek.


Sukma pun keluar dari ruangan Sila, sementara itu Aldo segera membantu Sila untuk turun dari brangkar, dan membantunya berjalan menuju ke ruangan di mana Rafael di rawat.


***


Kini Sila dan Aldo sudah tiba di depan ruan rawat Rafael, dengan perlahan Sila berjalan masuk ke dalam.


Perlahan Sila membuka pintu ruangan tersebut, setelah di dalam mata Sila tertuju pada seorang lelaki yang terbaring lemah dengan berbagai alat RS yang terpasang di tubuhnya.


Seketika air mata Sila menetes, ia merasa sangat sedih melihat kondisi suaminya yang seperti itu.


Aldo pun menuntun Sila untuk mendekat.


Aldo langsung menarik kursi, lalu dengan perlahan Sila pun duduk.


Tangan Sila terangkat lalu meraih tangan lemah Rafael, Sila menggenggam erat tangan suaminya dan menempelkan telapak tangan Rafael di pipinya, seketika air mata Sila menetes lagi, rasa sedih yang ia rasakan begitu menyayat hati.


Sila benar-benar tidak tega melihat suaminya terbaring tak berdaya seperti itu.


"Maafin Sila ya Kak, gara-gara Sila Kakak jadi begini, Sila memang jahat Kak," ucap Sila dengan isakan tangisnya.


Aldo hanya bisa diam, ia juga merasa sedih melihat kondisi Kakaknya seperti itu.


Meski ingin menangis, tapi sebagai lelaki Aldo harus kuat.


Selang beberapa menit, Maya dan Aurel masuk, melihat Sila berada di samping Rafael, dengan kasar Maya menarik tangan menantunya itu.


"Beraninya kamu ke sini ya, lihat! Gara-gara kamu anak saya jadi begini, belum puas kamu membuat Rafael menderita hah!" Hardik Maya dengan emosi yang sudah memuncak.


Aldo yang melihat itu, dengan segera menarik tangan Sila, agar terlepas dari ibunya itu.


Mata Maya menatap tajam ke arah Sila, matanya pun memerah, dadanya naik-turun menahan emosi.


Sementara Aurel hanya diam menyaksikan tontonan yang dia anggap sangat menyenangkan.


"Ma, ini RS, mama bisa jaga sikap nggak sih, mama itu cuma bikin malu saja," tukas Aldo, yang merasa malu dan marah atas sikap ibunya itu.


"Kamu berani ngelawan mama, kamu sama Rafael sama saja, sudah berani melawan ibunya sendiri," seru Maya dengan emosi yang sudah meluap.


Sila hanya bisa menangis melihat adik iparnya dan mertuanya adu mulut, ia merasa jika kehadiran dirinya yang sudah membuat hubungan ibu dan anak menjadi renggang, dan tidak akur.


"Sila mohon ma, untuk malam ini biarkan Sila berada di dekat kak Rafael, Sila janji setelah ini .... " ucapan Sila terpotong, lantaran Maya langsung menarik tangan Sila lalu mendorongnya.


"Pergi dari sini! Aku muak melihat wajah kamu, pergi!" Bentak Maya dengan sorot mata yang tajam.


Aldo membantu Sila untuk berdiri, dalam hati Aldo ia merasa iba melihat Sila di perlakukan seperti itu.


Namun untuk saat ini, Aldo memilih untuk mengalah, karena ia tau saat ini mereka tengah berada di RS, Aldo tidak ingin membuat keributan.


"Sudah Sil, kita keluar dulu ya, besok kita bisa ke sini lagi, kamu harus jaga kesehatanmu, dan juga janin yang ada di perutmu itu," tutur Aldo. Seketika mata Maya dan Aurel membulat sempurna.


Mereka sangat terkejut mendengar penuturan Aldo. Begitu juga dengan Sila, tapi dalam hatinya gadis itu merasa sangat bahagia, jika yang Aldo katakan adalah kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2