Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 192 (Putri Ku Sayang)


__ADS_3

Usai mereka berada di pinggir jalan, Andri memanggil taksi yang lewat dengan melambaikan tangannya. Bia yang berada dalam gendongan Beeve memeluk ibunya dengan sangat erat.


Taksi pun berhenti, dan keluarga kecil itu menaikinya. Selama perjalanan, Bia tak berhenti menangis.


“Sayang, semua sudah baik-baik saja, kau jangan menangis lagi ya nak.” ucap Beeve seraya memberi kecupan lembut pada rambut putrinya.


“Hiks... iya ma.” Bia pun menyudahi tangisnya, meski sesekali masih meneteskan air mata.


Andri yang merasa Beeve sudah terlalu la memeluk putri mereka, meminta bergantian.


“Sayang, sini aku yang pangku Bia, kau pasti sudah lelah.” ucap Andri.


“Enggak apa-apa kok mas, aku masih kuat.” Beeve tak mau memberikan Bia, karena trauma akan terpisah lagi.


“Cinta ku, kau kan baru sembuh dari demam, bagaimana kalau kau masih menyisakan sedikit panas pada badan mu? Nanti anak kita ketularan sakit lagi.” Andri mengusap puncak kepala Beeve dengan senyuman hangat.


Beeve yang berpikir perkataan suaminya ada benarnya, memberikan Bia pada Andri. Namun Bia tak mau melepaskan pelukannya.


“Bia maunya sama mama,” ucap putri kecilnya.


Lalu Andri yang lembut pun berkata, “Mama lagi sakit sayang, nanti kalau Bia juga sakit bagaimana? Memangnya Bia enggak takut di suntik pakai jarum?” Bia pun melirik Andri yang menakut-nakutinya.


“Bia enggak takut om, Bia kan biasa sering tusuk jarum.” terang Bia dengan polosnya, yang membuat Andri dan Beeve mengernyitkan dahi mereka.


“Apa aku sering sakit nak?” tanya Beeve.


“Enggak ma, tapi kalau Bia nakal, nenek sering menusuk Bia pakai jarum.” Andri dan Beeve melihat satu sama lain.


Brengsek! batin Beeve.


Andri yang tahu kalau Beeve telah emosi, segera menenangkannya.


“Sabar sayang, aku tahu apa yang kamu rasakan, kita urus perlahan, oke?” Beeve pun mengangguk, walau sebenarnya ia sudah ingin memakan orang saking kesalnya.


“Ayo nak, duduknya dengan papa,” ucap Andri dengan membuka lebar kedua tangannya.


“Papa?” Bia bingung, karena sepengetahuannya, ayahnya telah meninggal dunia.


“Iya sayang, ini adalah papa.” Andri menunjuk dirinya sendiri.


“Kata nenek papa sudah...”

__ADS_1


“Ssstt... papa ada disini, ayo sayang sama papa, masa kau dengan mama mu terus? Papa cemburu banget kalau kau berbuat enggak adil.” saat Bia masih bingung, Andri langsung memindahkan tubuh Bia ke atas pangkuannya.


“Papa?” ucap Bia.


“Iya sayang?” sahut Andri seraya mencium pipi Bia.


“Jangan tinggalkan Bia lagi.” Bia yang belum mengerti akan keadaan memeluk tubuh Andri, Andri pun membalas pelukan putri sambungnya seraya merangkul tubuh Beeve juga.


Sesampainya keluarga kecil di hotel, mereka langsung menuju kamar, karena hari sudah larut malam.


Bia yang matanya masih cerah terus mengajak Beeve dan Andri berbicara.


Ceklek!! Setelah pintu kamar terbuka, mereka pun masuk.


“Bia, ini sudah malam, kau tidur ya nak,” Beeve menuntun tubuh putrinya ke atas ranjang.


“Tapi Bia masih ingin ngobrol dengan mama dan papa,” ucap Bia.


“Iya sayang mama tahu, tapi anak manis enggak boleh begadang, mama dan papakan enggak kemana-mana.” wajah Bia langsung murung, ia takut nanti saat ia terbangun kedua orang tuanya meninggalkannya.


Andri sebagai kepala rumah tangga pun memegang bahu istrinya.


“Biarkan saja sayang, lagi pula sudah lama kita saling merindukan, mainlah bersamanya, aku mau cari makan dulu, kasihan putri kita, pasti dia lapar,” terang Andri.


“Apa saja Bia suka ma,” jawab Bia.


“Enggak ada makanan lainnya yang kau inginkan saat ini?” tanya Andri.


“Hem, memangnya boleh pa, aku minta lebih dari satu makanan?” tanya Bia kembali.


“Tentu saja sayang, banyak pun tidak masalah, asal anak cantik papa menghabiskannya, enggak boleh di buang sedikit pun,” terang Andri.


“Memangnya boleh begitu?” gumam Bia, yang biasanya hanya di beri makan seadanya oleh keluarga Cristian.


Sebab semenjak kepergian sang ayah kandung, Bia menjadi target balas dendam keluarga Celine. Mereka menyalahkan Bia yang masih berusia 1 tahun, atas berpulangnya Cristian pada sang pencipta.


Hidup Bia juga di penuhi kekerasan setiap harinya, beruntung ia masih di beri umur panjang oleh maha kuasa.


“Bia... Bia...” Beeve dan Andri bergantian memanggil nama putri mereka yang melamun.


“Iya ma, pa?” Bia mendongak seraya meneteskan air mata, meski ia masih belia, namun perlakuan buruk yang ia peroleh membekas kuat di hatinya, sepanjang ingatannya, ia tak pernah lupa dengan kelakuan para nenek dan omnya.

__ADS_1


“Ada apa sayang? Kenapa kau menangis?” tanya Beeve penasaran.


“Enggak ada ma, Bia hanya lapar.” Bia yang takut, memilih tak menceritakan apa yang ia rasakan saat itu.


“Ya ampun nak, maafkan papa ya, malah berlama-lama disini, ya sudah, papa turun dulu, kau dan mama main saja ya sayang.” Andri pun buru-buru keluar kamar menuju restoran yang ada di depan hotel.


Bia yang tadinya banyak bicara mendadak diam seribu bahasa, suasana hatinya tiba-tiba jadi muram, karena teringat akan kenangan masa lalunya.


“Sayang, ada apa lagi? Kenapa kau jadi diam?” Beeve mengelus rambut putrinya.


“Bia hanya ngantuk ma.” jawab Bia dengan tersenyum tipis.


“Oh, begitu ya nak.” lalu Beeve merebahkan tubuhnya dan Bia ke atas ranjang yang empuk, Beeve yang ingin dekat-dekat dengan sang putri tercinta, menaruh kepala Bia ke atas lengannya, selanjutnya ia memeluk Bia seraya menepuk-nepuk kecil bokong putrinya.


“Tidurlah nak, nanti kalau papa sudah kembali, mama akan membangunkan mu.” Bia mengangguk, kemudian memejamkan matanya.


Tubuh mama wangi, ranjangnya juga empuk, jangan tinggalkan Bia ya ma, Bia enggak mau kembali ke rumah nenek lagi, disana Bia hanya tidur di atas tikar, dan juga sering kena marah dan pukul, kalau dengan mama aku yakin, aku akan di sayang, seperti tante Angel yang selalu memanjakan Zea, batin Bia.


Tanpa sadar, Bia telah tertidur lelap dalam pelukan sang ibunda.


Andri yang baru kembali dengan bersemangat memanggil nama putri sambungnya.


“Bia sayang papa bawa makanan banyak nih!”


“Sssttt!!” Beeve menempelkan telunjuknya ke bibirnya.


“Anak kita sudah tidur mas.” ucap Beeve dengan suara yang sangat pelan.


“Oh.” Andri mengangguk, ia pun dengan sangat hati-hati menaruh makanan yang ia bawa ke atas meja yang jaraknya tak jauh dari ranjang.


Setelah itu, Andri naik ke atas ranjang, tepatnya di sebelah Bia. Lalu Andri ikut mengelus rambut Bia yang terlelap.


“Tapi Bia lagi lapar, apa enggak masalah kalau dia tidur dengan keadaan perut kosong?” tanya Andri dengan berbisik.


“Tunggu sebentar lagi mas, aku kasihan kalau di bangunkan sekarang, karena dia baru tidur,” terang Beeve.


“Oh, baiklah kalau begitu, tapi... aku sudah sangat lapar, apa aku boleh makan duluan sayang?” tanya Andri.


“Makan saja mas,” jawab Beeve.


“Kau juga harus makan, nanti sakit mu kambuh lagi,” ujar Andri.

__ADS_1


“Iya mas.” Beeve


...Bersambung......


__ADS_2