Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 65 (Jangan Melewati Batas)


__ADS_3

HARAP BIJAK MEMBACA, INI HANYA NOVEL FIKSI BELAKA, PLEASE!


Mata Andri membulat sempurna, darahnya seakan pecah dan jantungnya berdegup dengan kencang.


“Kau!” pekik Andri yang masih berada di atas tubuh Arinda.


Ia pun dengan cepat mencabut miliknya dari liang sorga Arinda.


Arinda yang tak tahu harus berkata apa memilih untuk menangis.


“Hiks..., kenapa mas Andri tega melakukan ini pada ku?” ucapnya dengan suara lirih, Andri yang naik pitam menarik kasar tangan Arinda dari ranjang.


“Turun kau jalan*g!! Dasar perempuan pembawa sial!” Dan seketika darah segar mengalir di antara kedua kaki jenjang Arinda.


Andri yang menyaksikan itu di depan matanya seakan mau gila.


Anjin*!! Ternyata dia masih perawan! teriak Andri dalam hatinya.


Namun Andri tak perduli, ia pun menghempaskan tubuh wanita ular itu hingga tersungkur ke lantai.


“Akhh!!! Sakit mas!” teriak Arinda.


“Heh! Pelan kan suara mu sialan! Dan, kenapa kau berada di kamar ku dengan keadaan tak berbusana!” Andri menunjuk tajam wajah Arinda.


“Aku... hiks..., aku....,”


Plak!! Andri yang tak sabaran menampar wajah Arinda.


“Akhhh!!” Arinda menjerit kesakitan.


“Aku aku aku! Jawab yang benar pelacu*! Akh!!!” Andri menarik rambutnya karena emosi.


“Kau! Benar-benar ya!!”


“Maafkan aku mas, tapi mas sendiri kenapa tega melakukan itu padaku? Hiks... hiks...” Arinda yang licik malah menyalahkan Andri.


“Karena ku pikir kau istri ku!”


“Kenyataannya aku bukan Beeve kan mas, hiks...”


“Ya, memang kau bukan Beeve, tapi pertanyaan terbesarnya adalah, kenapa kau dengan tak tahu malu dan sopan santun masuk ke kamar seseorang yang sudah menikah! Jawab!!” hardik Andri.


“Itu..., itu karena Beeve menyuruh ku untuk mengambil bajunya di kamar ini,” ucap Arinda.


“Apa? Kau pikir aku akan percaya! Istri ku itu enggak bodoh!”


Plak!! satu tamparan lagi mendarat di pipi Arinda yang terduduk di lantai.

__ADS_1


“Kalau bukan karena dia, mana mungkin aku berani mas, hiks...”


“Heh! Kau jangan bawa-bawa Beeve atas kesalahan mu ya! Dasar jalan*!”


“Tapi itu kenyataan mas!” ucap Arinda meninggikan suaranya.


Plak!!


Plak!!


Plak!!


Plak!!


Empat tamparan beruntun mendarat di pipi kiri dan kanan Arinda sekaligus.


“Akhh... sakit!!!” ia pun meringis.


“Masih syukur kau mendapatkan itu dari ku, seharusnya kau itu di bunuh!! Enam tamparan yang kau terima, karena kau menyalahkan istri ku atas kegatalan mu! Dari awal aku tak pernah menyukai mu! Sejak pertama kali bertemu di pernikahan ku! Harusnya aku enggak mengikuti kata istri ku untuk menerima mu bekerja di perusahaan ku!” emosi Andri sungguh tak dapat ia kendalikan lagi, rasanya ia benar-benar ingin menghabisi Arinda saat itu juga, dan ini pertama kali tangannya mengenai seorang wanita.


“Tapi aku benar-benar jujur mas,hiks, Beeve...!”


Andri menyatukan giginya lalu dengan lancar menampar bibir Arinda.


Plak!


Arinda yang masih duduk di lantai mencoba bangkit sekuat tenaganya.


Dengan langkah terpingkal ia mengambil baju Beeve yang tercecer di lantai.


“Heh!” Andri merampas baju milik istrinya.


“Jangan kau pakai baju istri ku! Kenakan kembali baju basah mu konyol!” Andri melempar baju basah Arinda yang ada di atas meja tepat ke wajahnya.


Andri pun dengan buru-buru melepas seprei bekas perzinahan nya dengan Arinda setelah itu ia menyeka darah Arinda yang tercecer di lantai.


Arinda yang telah selesai memakai kembali pakaiannya masih berada dalam kamar itu seraya menangis pilu.


Setalah Andri membereskan semuanya, ia pun memakai pakaiannya, kemudian ia mendorong tubuh Arinda keluar dari dalam kamar.


“Enyah dari rumah ku binatan*! Jangan kau tampakkan lagi batang hidung mu di depan mata ku, atau pun istri ku, kalau tidak, aku akan menghabisi nyawa mu! Dan mulai besok kau tak perlu lagi datang ke kantor, karena detik ini juga aku memecat mu! Gaji mu akan ku transfer langsung malam ini juga!”


“Ma-mas..., jangan pecat aku mas, aku masih butuh kerja mas!” Arinda memohon agar ia tak di pecat.


“Ssstt! Keluar kau dari rumah ku! Dan satu lagi, jangan panggil aku mas, karena kita enggak sedekat itu!”


“Maaas, aku mohon!” dengan emosi Andri menarik tubuh Arinda dari kamarnya hingga ke pintu utama, Arinda yang merasa tak terima terus-terusan memohon untuk tak di pecat.

__ADS_1


“Mas, jangan perlakukan aku begini, bagaimana pun juga kau telah merenggut kesucian ku, gimana aku hidup setelah ini? Aku telah hancur mas, hiks..., aku sudah enggak suci lagi,” Arinda meraung-raung dalam dukanya.


“Akan ku bayar 4 milyar untuk kesucian mu itu, yang penting kau jangan ganggu keluarga ku lagi!”


“Aku enggak mau uang mas, aku enggak butuh itu semua,”


“Terus kau mau apa, hah?!”


“Aku mu kau bertanggung jawab seutuhnya pada ku, hanya itu yang ku inginkan mas,” pinta Arinda.


“Maksud mu apa?” tanya Andri.


“Nikahi aku mas,” ucap Arinda.


“Cuih!! Jangan harap! Sana pergi kau!! Enyah!!” Andri mendorong tubuh Arinda hingga tersungkur ke tanah, dan di bawah derasnya hujan Arinda masih memohon-mohon untuk di nikahi.


“Mas, aku hanya ingin kau nikahi, aku bukan wanita mata duitan, tolong nikahi aku mas!!” tentunya ke gaduhan itu di saksikan oleh para Art yang ada di rumah itu, salah satunya ialah Winda.


“Kalau kau belum pergi juga, aku takkan segan-segan untuk membunuh mu!” Arinda yang bebal tak mau bergerak seinci pun, lalu Andri yang tak main-main akan ancamannya, bergegas menuju dapur.


Aku enggak tertarik dengan uang 4 milyar, karena dengan mendapatkan mu, semua akan menjadi milik ku, hahaha..., sedikit lagi, aku akan mencapai tujuan ku, batin Arinda.


Andri yang kembali ke teras membawa sebilah pisau tajam di tangan kanannya, dengan penuh amarah dalam hatinya melangkah menuju Arinda.


Astaga! Dia enggak akan benar-benar membunuh ku kan? batin Arinda.


Para Art berteriak histeris, mereka yang takut ada insiden pembunuhan di rumah itu pun langsung berlarian ke teras untuk menghentikan sang majikan.


Andri yang kini tepat di hadapan Arinda pun berjongkok.


“Tuan!! Tuan!!” Winda, Siska, Sinta dan Resti meneriaki majikannya.


“Jangan tuan! Ingat dosa tuan!” teriak Winda, ia yang ingin mendekat di hentikan oleh Andri.


“Jangan coba-coba maju dari tempat mu! Atau kau akan jadi yang selanjutnya!” Ancam Andri yang membuat Winda gentar.


Arinda yang melihat niat serius Andri pun mulai ketakutan.


“Ma-mas, kau enggak akan benar-benar membunuh ku kan? Aku ini baru kau perk*sa! Kalian dengar semuanya! Aku di perk*sa! Dan aku ini korban, tolong selamatkan aku!” teriak Arinda.


Semua yang menyaksikan tak ada satu pun yang berani mendekat.


“Ini bukan salah ku, tapi ini adalah mau mu! Ku tahu kau sengaja melakukan itu, sejak awal aku sudah melihat niat mu! Kalau kau masih melewati batasan setelah ini, ku pastikan kau menghilang dari muka bumi ini!”


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....

__ADS_1


__ADS_2