Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_6


__ADS_3

Rafael bingung saat mendengar Sila menjerit, dan setelah ia sadari, kalau ternyata Rafael masih bertelanjang dada.


Dengan segera ia masuk ke ruang ganti untuk memakai pakaian.


Selesai berpakaian, Rafael segera keluar untuk menemui istrinya.


Rafael melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti, dan berjalan menghampiri sang istri yang masih menutup matanya dengan telapak tangannya.


"Buka matamu sekarang, udah selesai kok, maaf ya, udah bikin kamu kaget," ucap Rafael, lalu duduk di sampingnya.


Perlahan Sila membuka matanya, dan dilihatlah sang suami yang sudah duduk di sampingnya.


"Kamu sudah makan apa belum?" tanya Rafael, sembari melipat lengan kemejanya.


Sila hanya menggelengkan kepalanya, raut wajahnya begitu lesu dan juga pucat.


Melihat itu, Rafael bergegas keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur.


Selang beberapa menit, Rafael kembali ke kamar sembari membawa nampan yang berisi sepiring nasi dengan lauk, dan segelas air putih.


"Kamu makan dulu ya," ujar Rafael, lalu duduk di samping Sila, dan bersiap untuk menyuapi istrinya itu.


"Buka mulutnya, a," pinta Rafael, sembari menyodorkan sendok yang berisi nasi.


Sila termenung, ia merasa sangat gugup dengan sikap suaminya itu, baru pertama kalinya Rafael bersikap seperti itu.


"Sila, kok malah ngelamun sih," ujar Rafael, seraya mengernyitkan keningnya.


Sila sedikit tersentak, ia pun berniat ingin makan sendiri, tapi Rafael menggelengkan kepalanya, dan tetap memegang sendok tersebut.


Dengan terpaksa, Sila pun membuka mulutnya, dan menerima suapan demi suapan yang suaminya berikan.


"Aku minta maaf ya, selama kamu tinggal di sini, aku nyuekin kamu, tapi aku seperti itu ada alasannya," terang Rafael. Sila mengernyitkan keningnya, ia tidak tau apa yang tengah suaminya katakan.


Rafael mengambil nafas sejenak, setelah selesai menyuapi sang istri, Rafael kembali bercerita.


"Perusahaan aku lagi banyak masalah, itu sebabnya aku sering pulang malam, seperti tadi sore juga, aku minta maaf telat jemput kamu, kamu mau kan maafin aku," sambung Rafael, mata elangnya menatap lekat wajah sang istri.


Sila terdiam, ia mencoba mencerna setiap perkataan suaminya itu, dan sekarang Sila mendapat jawabannya, kenapa suaminya bersikap seperti itu, dan itu karena ada masalah dengan pekerjaannya.


"Iya Kak, aku mengerti kok, untuk yang tadi sore, lupakan saja Kak," jawab Sila yang membuat Rafael tersenyum.


Baru pertama kali ini Sila melihat suaminya tersenyum, ternyata manis juga jika sedang tersenyum.


Mengalahkan manisnya madu, senyumannya membuat setiap wanita meleleh bila melihatnya.


"Oya, besok aku harus ke Batam, kamu enggak papa kan aku tinggal," ucap Rafael, yang membuat wajah istrinya sedikit muram.


"Memangnya ada apa Kak?" tanya Sila, yang tak mengerti.


"Proyek yang ada di sana ada sedikit, jadi aku harus menyelesaikannya, kamu enggak apa-apa kan aku tinggal, lagian di rumah ada Aldo," jelas Rafael.


"Lama apa enggak Kak?" tanya Sila.


"Paling seminggu, tapi mudah-mudahan sih, sebelum seminggu sudah selesai, karena di sini juga pekerjaan aku masih banyak," jawab Rafael.


"Iya Kak, di sana kak Rafael hati-hati ya," sahut Sila, dan dibalas senyuman oleh Rafael.


"Ya sudah, aku ke bawah dulu ya, kamu di sini saja," ujar Rafael, lalu bangkit dan beranjak turun ke bawah.


Setelah Rafael keluar, Sila baru teringat jika dirinya mendapat surat dari kampus, dengan segera Sila pun mengambil surat tersebut dari dalam tasnya.


"Duh, gimana nih, bulan ini harus lunas, tapi aku enggak mungkin minta sama mama sama papa, sekarang aku kan tanggung jawab kak Rafael, tapi kalau langsung minta sama dia, aku enggak enak," keluh Sila, ia merasa bimbang sekarang.

__ADS_1


Karena sudah mengantuk, akhirnya Sila meletakkan surat tersebut di atas meja, setelah itu, Sila merebahkan tubuhnya dan tak butuh waktu lama, ia memejamkan matanya.


Selang 10 menit Rafael kembali ke kamar, dan dilihatnya sang istri yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Perlahan Rafael mendekati sang istri dan duduk di sampingnya.


"Ternyata kamu cantik juga ya," ucap Rafael, seraya memandangi wajah sang istri dengan lekat. Lalu menyelimuti tubuh istrinya.


Senyum terukir di bibir Rafael, ia baru menyadari jika istrinya memang cantik, dan baru kali ini Rafael memandang wajah istrinya dari dekat.


Setelah itu, Rafael ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


***


Pukul 5 pagi Rafael sudah terbangun, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai Rafael pun keluar dan mulai memakai pakaiannya.


Selesai berpakaian, ia langsung menyiapkan beberapa potong baju untuk Rafael bawa.


Setelah semuanya siap, Rafael tak sengaja melihat surat milik istrinya yang terletak di atas meja.


Rafael pun mengambil surat tersebut lalu ia buka dan membacanya.


"Sila, kenapa kamu enggak ngomong sih kalau kamu harus bayar biaya kuliah kamu," ucap Rafael setelah selesai membaca surat tersebut.


Lalu Rafael meletakkan surat itu kembali, dan kini ia berjalan menuju ke almari untuk mengambil dompetnya.


Kemudian Rafael mengambil kartu ATM lalu ia letakkan di atas surat tersebut.


"Maafin aku ya Sil, aku baru sempet ngasih ini ke kamu, seharusnya aku kasih ini saat pertama kali kamu di sini," ucap Rafael yang merasa menyesal.


Setelah Rafael meletakkan kartu ATM tersebut, ia segera menulis pesan di secarik kertas, lalu ia letakkan di samping surat tersebut.


Entah dapat dorongan dari mana, Rafael tiba-tiba mencium kening istrinya.


Dan ini adalah kali pertamanya Rafael mencium kening istrinya.


Setelah itu Rafael bergegas keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah.


"Aldo, aku pergi dulu ya, aku titip Sila," ucap Rafael, lalu berpamitan dengan adiknya itu.


Aldo yang tengah duduk di sofa bergegas bengkit dan menghampiri sang Kakak.


"Ya udah Kak, hati-hati di jalan ya Kak," ujar Aldo, sembari menepuk pundak sang Kakak.


Rafael hanya tersenyum dan mengangguk, lalu setelah itu ia segera keluar menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan setelah mobil yang Rafael tumpangi tak terlihat, Aldo kembali masuk.


Pukul 6 Sila baru membuka matanya, ia menggeliatkan tubuhnya yang masih di dalam selimut.


Setelah nyawanya terkumpul, Sila mulai bangkit dari tidurnya dan duduk, tatapan matanya mencari sosok lelaki yang semalam bersamanya.


"Kak Rafael kok enggak ada, apa sudah pergi," ucap Sila, seraya mengedarkan pandangannya.


Sila pun beranjak turun dari tempat tidur, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


20 menit berlalu, kini Sila sudah siap untuk pergi ke kampus, ia juga sudah membereskan buku-buku yang akan dibawa.


"Semua sudah siap, tinggal berangkat aja," ujar Sila, seraya merapikan rambutnya.


Saat Sila hendak mengambil handphonenya yang terletak di atas meja, ia melihat secarik kertas yang berisi tulisan, Sila pun langsung mengambil kertas itu, lalu membacanya.

__ADS_1


''Sila, maaf ya, mungkin saat kamu baca surat ini aku sudah pergi, maaf tidak bisa berpamitan secara langsung, karena aku pergi pagi-pagi sekali.


Itu ada ATM buat kamu, buat beli semua keperluan kamu, dan untuk biaya kuliahmu, kalau kurang kamu tinggal bilang saja, tidak usah sungkan, jangan lupa sarapan, belajar yang rajin, i love you istriku''


Sila merasa tersentuh setelah membaca surat dari suaminya itu, ada getar-getar di dalam dadanya.


Perasaan yang bahagia, yang belum pernah Sila rasakan.


Setelah itu Sila bergegas keluar dari kamar dan menuju ke meja makan.


Langkah Sila terhenti saat melihat Aldo sudah ada di meja makan.


Terlihat ia tengah menikmati sarapan paginya.


"Rasanya malas sekali kalau harus sarapan berdua dengan Aldo," ucap Sila, lalu membalikkan badan dan beranjak pergi, tapi suara Aldo mengehentikan langkahnya.


"Sila tunggu," ucap Aldo, dan beranjak dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Sila.


"Kamu mau kuliah kan, kita berangkat bareng ya," ajak Aldo, dengan penuh harap.


"Enggak usah deh Do, aku bisa naik taksi kok, atau diantar supir," jawab Sila, yang membuat Aldo sedikit kecewa.


"Kak Rafael udah nitipin kamu ke aku, jadi aku harap kamu mau berangkat bareng aku," jelas Aldo.


Sila terdiam sejenak, ia mencoba memikirkan ucapan dari Aldo.


"Ok, ini demi kak Rafael, bukan karena kamu," putus Sila dengan sangat terpaksa.


Aldo tersenyum kecil, ia merasa senang meski Sila terlihat karena terpaksa.


Keduanya pun bergegas keluar dan segera menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.


Di dalam mobil, Sila memilih diam, ia pun lebih melihat pemandangan ke luar jendela.


Namun tidak bagi Aldo, sesekali ia melirik gadis yang tengah duduk di sampingnya.


"Hubungan kamu sama kak Rafael gimana Sil?" tanya Aldo, yang membuat Sila terkejut, dan memilih diam.


"Aldo ngapain sih tanya-tanya tentang hubungan aku sama kak Rafael, kurang kerjaan banget," batin Sila, ia merasa tidak suka dengan pertanyaan yang Aldo berikan.


"Hubungan aku sama kak Rafael baik-baik saja," jawab Sila berbohong, dan itu membuat Aldo sedikit kecewa.


"Apa kamu bahagia hidup dengan kak Rafael?" tanya Aldo lagi, dan itu membuat Sila menahan emosi.


"Bahagia, aku sangat bahagia hidup bersama kak Rafael. Kamu bisa enggak sih nggak usah ngurusin urusan orang lain, kamu urus saja hidup kamu sendiri," seru Sila, yang sudah tersulut emosi. Sila benar-benar merasa geram dengan sikap Aldo.


"Sekarang berhenti, Aldo berhenti," tegas Sila, dan dengan sangat terpaksa Aldo menepikan mobilnya.


Sila bergegas turun, setelah mobil yang ia tumpangi berhenti.


Aldo mencoba mencegah Sila untuk turun, tapi semua itu sia-sia.


"Sila, aku minta maaf ya, kamu jangan turun, aku menyesal sudah bertanya seperti itu sama kamu, Sila, kamu mau kan maafin aku," bujuk Aldo, dengan harapan yang penuh, tapi Sila sama sekali tidak merespon ucapan Aldo.


Sila langsung turun dan tak lupa tas dan beberapa buku yang ia bawa, Sila berjalan tanpa memperpedulikan omongan dan teriakan Aldo.


"Sila tunggu, kamu jangan pergi, aku minta maaf ya, sila!" Teriak Aldo, tapi semuanya tidak ada gunanya.


Sila semakin menjauh, dan terlihat di depan Sila menyetop taksi.


Aldo terus memandangi kepergian Sila, sampai akhirnya taksi yang Sila tumpangi tak terlihat.


"Arrrgghht, sial," erang Aldo yang merasa sangat frustasi. Aldo pun memukul setir mobilnya depan tangannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2