Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_9


__ADS_3

Tubuh Sila bergetar hebat, lidahnya pun terasa kelu, bibirnya gemetar tidak dapat bersuara, persendiannya terasa lemas, ingin melangkah pergi, tapi kakinya tidak dapat Sila gerakan.


Setelah itu, Rafael mendekati sang istri yang masih terdiam mematung di ambang pintu, lalu menuntunnya masuk ke dalam.


"Sila kamu baik-baik saja kan?" tanya Rafael yang terlihat sangat panik, melihat keadaan istrinya.


Mata Sila menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya, lelaki yang selama ini ia anggap memiliki sikap dingin dan juga cuek, ternyata bisa menakutkan jika sedang marah.


"Rafael, siapa dia?" tanya Aurel, wanita yang berada di ruangan Rafael, yang tak lain adalah mantan kekasih Rafael.


"Dia istriku," jawab Rafael, tanpa menolehnya.


Aurel tidak percaya dengan pengakuan yang Rafael katakan, tapi melihat bagaimana Rafael memperlakukan gadis yang ada dihadapannya, membuat Aurel semakin panik.


"Sila, kamu enggak apa-apa kan?" tanya Rafael lagi, kali ini tangan Rafael menangkup wajah sang istri dengan kedua telapak tangannya.


Seketika air mata Sila luruh, Rafael yang melihat istrinya menangis, saat itu juga tangannya menarik tubuh Sila dan membawanya dalam pelukannya.


Sila pun membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, air matanya terus menetes, hingga membasahi kemeja Rafael.


Aurel semakin geram melihat adegan di depan matanya, tangannya tiba-tiba meraih lengan Rafael, namun dengan kasar Rafael mengibaskan tangan Aurel.


"Cepat pergi, atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari sini," tegas Rafael, dengan tatapan tajam yang mematikan.


Mendengar itu, nyali Aurel menciut, dengan perasaan yang amat kesal dan juga marah, Aurel melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rafael.


***


Kini Rafael dan Sila tengah duduk di sofa, keadaan Sila pun mulai tenang, meski dalam pikirannya masih berlarian pertanyaan demi pertanyaan, masih bersarang di otaknya.


"Kamu minum dulu ya," ucap Rafael, sembari menyodorkan segelas air putih.


Sila menerima gelas tersebut, dan meneguknya, setelah itu, ia letakkan lagi di atas meja.


Nafas Sila masih memburu, antara rasa takut, kesal, dan mungkin cemburu.


Bagaimana tidak cemburu saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain dalam satu ruangan.

__ADS_1


"Perempuan tadi siapa Kak?" tanya Sila dengan ragu-ragu, ia pun tak berani menatap mata Rafael.


"Hanya masa lalu," jawab Rafael santai. Rafael tidak ingin terlihat gugup ataupun panik, karena itu bisa menimbulkan rasa curiga.


"Masa lalu? Apa dia perempuan yang pernah kak Rafael cintai?" tanya Sila, kali ini ia memelankan suaranya.


"Iya, tapi itu tiga tahun yang lalu, dan setelah itu, aku sudah melupakannya, aku sudah membuang jauh dari hati dan pikiranku," tutur Rafael, dengan menatap lekat wajah sang istri.


"Apa benar yang kak Rafael katakan, aku tidak mau kecewa Kak," ucap Sila, dengan wajah sendunya.


Mendengar itu, Rafael sedikit tersentak, apa mungkin gadis yang duduk di sampingnya tidak percaya.


Lalu kedua tangan Rafael terulur, dan menangkup wajah sang istri, pandangan mereka saling beradu.


"Apa kamu ingin bukti?" tanya Rafael, dan dibalas dengan anggukan oleh istrinya.


"Kita memang menikah karena dijodohkan, tapi aku sudah memilihmu untuk menjadi bagian dari hidupku, menjadi semangat dalam setiap langkahku," tutur Rafael yang membuat Sila tertegun.


Kemudian, Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah Sila, ia menghapus jarak antara dirinya dan sang istri, kini hidung Rafael dan Sila saling bersentuhan, deru nafas Rafael pun dapat Sila rasakan, dan detak jantung keduanya semakin tak beraturan.


Kini Sila memilih untuk memejamkan matanya, dan detik itu juga, benda kenyal itu saling bersentuhan, Rafael langsung ******* bibir ranum sang istri, tapi entah tidak bisa, atau belum tau, Sila hanya diam, tanpa memberinya balasan.


"Oh Tuhan, perasaan apa ini, seumur hidup aku baru pertama kali merasakan ciuman, ya Tuhan, jangan biarkan jantung ini loncat, enggak lucu kan, jika nanti ada berita, seorang istri meninggal gara-gara dicium suaminya," batin Sila, yang merasa tidak karuan, dengan perasaannya sekarang.


Dari kejauhan, ada sepasang mata yang menyaksikan adegan itu.


Kalau Rafael tau, mungkin orang itu akan ia lempar dengan sepatu, agar tidak mengintip.


"Sial, kenapa aku datang disaat yang tidak tepat sih, kenapa juga aku harus melihat adegan kayak gini, bikin orang iri aja," umpatnya, yang tidak lain adalah Aldo.


"Pantesan aja lama, ternyata mereka sedang mesra-mesraan, huh membosankan," sambung Aldo, setelah itu, ia memutuskan untuk menunggu Sila di mobil.


Setelah hampir 10 menit bibir Rafael membungkam bibir istrinya, akhirnya Sila mulai membalasnya, dan itu membuat hasrat Rafael meningkat, dengan perlahan ia pun merebahkan tubuh istrinya di sofa, kini posisi Sila berada di bawah.


Namun tiba-tiba handphone Rafael berdering, dan dengan terpaksa, Rafael harus melepaskan bibirnya, lalu ia pun bangkit dan mengambil handphonenya, tertera di layar satu pesan diterima.


'Kak, buruan Sila suruh turun, aku udah capek nunggu dari tadi'

__ADS_1


Pesan dari Aldo, Rafael tersenyum, ia mengingat kejadian tadi, mungkin sekarang adiknya tengah ngomel-ngomel nggak jelas, lantaran yang ia tunggu tidak datang-datang juga.


Kening Sila berkerut, saat melihat suaminya tersenyum seperti itu, karena Sila akui, sangat sulit melihat lelaki yang berada di hadapannya tersenyum.


"Ada apa Kak?" tanya Sila, yang kini tengah merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kamu kuliah dulu sana, nanti malam kita lanjut lagi ya," ujar Rafael, dengan menggoda sang istri, dan menaik-turunkan alisnya.


Sila merasa ngeri mendengar godaan dari sang suami, bagai mimpi, tapi semua itu kenyataan.


"Ya udah, Sila kuliah dulu ya Kak," ujar Sila, yang merasa sedikit gugup.


"Iya, hati-hati di jalan ya," balas Rafael, dan Sila hanya menganggukkan kepalanya.


Rafael terus tersenyum, baru kali ini, ia merasa sangat bahagia, setelah bertahun-tahun merasakan hati yang sangat hampa, dan dengan hadirnya gadis cantik yang telah sah menjadi istrinya itu, kini hati yang pernah layu dan mati, sekarang bisa segar kembali.


***


Kini Aldo dan Sila tengah dalam perjalanan menuju ke kampus, dalam perjalanan, Sila memilih untuk diam, sementara Aldo, ia selalu melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya.


"Sila, bibir kamu kenapa? Kok kayak bengkak gitu?" tanya Aldo, yang membuat Sila sedikit terkejut.


Merasa heran dengan pertanyaan yang Aldo lontarkan, Sila langsung mengambil kaca yang ada di dalam tasnya, ia langsung melihat bibirnya melalui pantulan kaca tersebut, ia pun merabanya, dan merasakan, tapi menurutnya tidak ada yang aneh dengan bibirnya.


"Bibir aku biasa aja kok, enggak ada yang berubah," ujar Sila, yang terus meraba bibirnya.


"Bibir kamu habis digigit lebah ya, sampai bengkak gitu," ujar Aldo, dan itu berhasil membuat Sila salah tingkah,


Aldo terkekeh melihat ekspresi wajah Sila, wajahnya langsung memerah, terlihat jika Sila tengah menahan malu.


"Lebahnya kan kak Rafael, kena kamu sekarang," gumam Aldo dalam hati, ia terus tersenyum seraya melirik ke arah Sila.


Sementara itu, Sila memilih memalingkan wajahnya ke luar jendela, ia ingat, jika tadi habis berciuman dengan sang suami, dan itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang lelaki.


Sila merasa beruntung karena suaminya sendiri yang telah pertama kali menyentuh bibir mungilnya itu.


Dalam raut wajahnya, Sila menahan malu, dengan perkataan yang Aldo lontarkan, tapi dalam hatinya, ia merasa bahagia bisa dekat dan bermesraan dengan lelaki yang telah sah menjadi suaminya.

__ADS_1


Senyum pun terukir manis di bibirnya yang mungil itu.


__ADS_2