
Sementara Beeve yang baru selesai mandi meraih handphonenya yang ada di atas kasur lantai.
“Hah? Kok mati?” Beeve memencet tombol on off handphonenya berulang kali.
“Hmm, habis baterai nih.” kemudian Beeve mencari-cari charger di dalam kopernya.
“Hah? Mana sih charger nya?” Beeve sibuk menggeledah kopernya yang tak banyak barang itu.
“Yah, enggak ada, apa mungkin tinggal di rumah mas Andri? Mana mungkin aku kesana untuk mengambil chargernya ” gumam Beeve.
Ia pun memutuskan untuk membeli charger baru. Namun ketika ia mengingat harganya, ia hampir pingsan.
“Bodoh, itu kan harganya Rp. 400.000, Ya Allah, mahal banget sih, Ya kalau di ingat, harganya memang segitu, aku saja yang miskin, coba kalau handphone ku bukan merek buah, pasti hanya Rp. 25.000.” karena kekurangan dana, akhirnya Beeve mengikhlaskan handphonenya tak menyela.
Hari itu agenda Beeve adalah mencari kerja, sebelum berangkat, ia sempatkan untuk sarapan di rumah makan Feni.
“Bu, saya mau makan,” ucap Beeve.
“Iya neng, mau pakai lauk apa?” tanya Feni.
Beeve yang tak memiliki uang banyak berusaha membeli lauk yang paling murah.
“Nasi setengah, lauknya tempe goreng saja bu," ucap Beeve.
Lalu Feni pun menyiapkan pesanan Beeve, setelah itu ia memberikannya pada Beeve.
Ketika Beeve memasukkan nasi putih dan tempe goreng polos tanpa sambal itu ke mulutnya. rasanya begitu luar biasa.
Enggak enak, pantas saja rumah makannta sepi, batin Beeve.
Beeve yang jago masak merasa masakan Feni hambar tak ada rasa sama sekali.
Namun karena sudah lapar, Beeve melahap semua yang tersedia di dalam piringnya.
Setelah selesai, ia pun ingin membayar. “Berapa bu?” tanya Beeve.
“Rp. 5000 neng,” jawab Feni. Beeve terkejut, karena harganya sangat murah.
Alhamdulillah, ternyata di kota metropolitan begini masih ada yang membandrol harga miring, batin Beeve.
Kemudian, Beeve memberikan uang pas, setelah itu ia keluar dari rumah makan Feni.
Ia pun berjalan menuju pusat kota yang kebetulan tak jauh dari kosannya.
Terik matahari yang begitu menyengat membuat Beeve merasa terbakar.
“Ya Allah panas banget.” karena lelah Beeve menepi di bawah pohon ceri yang ada tempat duduk bambunya. Kemudian ia menyeka keringat yang mengucur di dahinya.
“Haus,” gumamnya.
Beeve yang kini harus menanggung jawabi dirinya sendiri baru sadar kalau mencari uang begitu sangat sulit.
“Ternyata berjuang itu berat ya, aku baru tahu, andai aku mengalami susah sedari kecil, pasti aku enggak minta yang aneh-aneh pada ayah dan ibu dulu,” ucap Beeve.
__ADS_1
Ia yang mengingat orang tuanya kembali berduka, rasa rindunya kian memuncak, namun apa daya, jika ia pergi berziarah, maka uangnya akan habis di ongkos. Belum lagi ia harus membeli baju tambahan, sebab ia hanya memiliki satu setel pakaian saja.
Kepala Beeve kian berat kalau memikirkan semuanya.
Ia dengan sisa tenaganya bangkit dari duduknya.
“Kita harus kuat ya nak, do'akan mama, biar segera dapat kerjaan.” ucap Beeve seraya mengelus perutnya.
Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya, setelah berjalan selama 3 menit, akhirnya Beeve sampai di sebuah mall besar.
Ia pun masuk, seraya memperhatikan toko satu persatu, menatap dengan seksama mana tahu ada kertas info lowongan kerja.
Ia yang sudah berkeliling di 2 lantai, tak melihat satu pun info lowongan kerja.
“Apa aku tanya langsung saja ya?” gumam Beeve. Kemudian ia masuk ke sebuah toko baju. Dan karyawati penjaga toko pun menyapanya.
“Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?”
“Siang juga mbak, maaf saya mau tanya, apa disini ada lowongan kerja?”
Kemudian sang karyawati melihat Beeve dari ujung rambut sampai ujung kali.
“Ada sih bu.”
“Benarkah?” Beeve sangat senang mendengar kabar baik itu.
“Iya bu.”
“Ibu bawa CV?” jawab sang karyawati.
“Mm... maaf mbak, saya enggak punya CV." ucap Beeve.
“Gimana sih bu? Mau melamar kerja, tapi enggak bawa surat lamaran lengkap, kemana pun ibu pergi, mana ada yang mau terima, terlebih ibu dalam keadaan hamil, orang juga enggak akan mau ambil resiko,” terang sang karyawati.
“Oh, gitu ya mbak? Tapi saya rajin dan jujur kok mbak,” ucap Beeve.
“Yang penting itu CV bu, sebaiknya ibu siapkan C nya dulu baru datang lagi, tentunya bukan kesini, tapi ke tempat lain, yang menerima ibu hamil kerja.” karena telah di tolak mentah-mentah, akhirnya Beeve keluar dari toko tersebut.
“Gimana aku mau buat lamaran kerja, ijazah ku kan ada di rumah ayah,” gumam Beeve.
Tapi ia tak mau menyerah sampai disitu, ia pun mendatangi toko yang ada dalam mall itu satu persatu. Namun tak ada satu pun yang mau menerimanya.
“Huff...!!!” Beeve menghela nafas panjang, karena perjuangannya hari itu tak ada hasilnya. Karena sudah sore, Beeve memutuskan untuk kembali.
Ketika akan sampai ke kosannya, ia melihat banyak penjual baju rombengan di pinggir jalan.
“Alhamdulillah.” dengan semangat Beeve mendekat ke penjual rombengan tersebut. Kemudian ia mencari-cari baju yang muat untuk dirinya.
“Nah, ini bagus,” gumam Beeve. Lalu ia pun bertanya pada bapak penjual tentang harganya.
“Ini berapa pak?”
“20.000 bu,” jawab si penjual.
__ADS_1
“Mahal banget pak, enggak bisa 20.000 dapat 3?”
“Kalau gitu saya enggak dapat untung ibu,” ucap si penjual.
“Kalau 10.000 dapat 2 gimana pak?”
“Enggak bisa bu, nawarnya kok gitu banget sih bu.” ucap kesal si penjual yang belum buka dasar.
“Kalau dua 30.000 gimana pak?” Beeve yang tak pernah menawar seumur hidupnya, kini harus berjuang, agar si penjual mau mengurangi harganya.
“Ya sudah, ambil.” ucap si penjual yang pusing melihat Beeve lama-lama di hadapannya.
“Terimkasih banyak pak.” kemudian Beeve mengambil 4 pasang baju gaun yang masih layak pakai.
Setelah itu ia pun membayar pada si penjual yang raut wajahnya jutek melihat Beeve.
Selanjutnya Beeve pulang ke kosannya, karena ia merasa lapar, Beeve mampir lagi ke rumah makan Feni.
“Bu, saya mau makan,” ucap Beeve.
Namun karena banyak pembeli Feni menyuruh Beeve untuk mengantri.
Beeve yang melihat Feni kewalahan merasa kasihan, ia pun menawarkan diri untuk membantu.
Beeve masuk ke area dapur, karena saat itu Feni sedang ingin memasak mie rebus.
“Sini saya bantu bu,” ucap Beeve.
“Memangnya kau bisa masak neng?”
“Bisa dong bu, ibu ke depan saja, layani yang lainnya,” ujar Beeve.
“Ya sudah, tolong ya neng.” setelah menyerahkan dapur pada Beeve, Feni pun beranjak ke etalase yang menghidangkan berbagai macam lauk dan gorengan.
Beeve yang jago memasak mie rebus pun dengan sigap mengolahnya.
Setelah itu, Beeve memanggil Feni, untuk mengantar mie rebus buatannya pada pelanggan.
“Neng, tolong masak nasi goreng ya,” pinta Feni.
Baik bu,” ucap Beeve.
Lalu Feni meletakkan mie rebus buatan Beeve di hadapan sang pelanggan.
Ketika pelanggan itu mencicipi masakan buatan Bedve, pelanggan tersebut langsung memberi pujian.
“Mm... enak banget bu, ini siapa yang masak? Tumben rasanya benar.”
“Dia.” Feni menunjuk ke arah Beeve yang kini membuat nasi goreng.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1