
Dua minggu kemudian, Emir yang telah resmi menduda sekaligus kembali ke perusaan datang menjenguk Andri yang belum sadarkan diri.
“Assalamu'alaikum Ndri.” sejak Andri koma, Emir mulai berubah, ia juga lebih dewasa dari sebelumnya.
“Sedang apa kau sekarang? Apa kau enggak rindu pada kami? Bangunlah mas.” Emir mengajak Andri mengobrol, meski pria tidur itu tak merespon.
“Beeve, sangat cemas pada mu Ndri, apa kau enggak ingin melihat wajah cantiknya lagi?” ucap Emir seraya menyeka tubuh Andri dengan tisu basah berbentuk sarung tangan.
“Anak-anak mu juga sebentar lagi akan lahir, kau tahu mas, mereka bertiga jenis kelaminnya laki-laki, hidup mu telah sempurna, selain punya istri cantik, kau juga punya putra putri yang sehat, kau akan segera jadi ayah, jadi kau harus semangat, lawan penyakit mu, demi keluarga mu.” tanpa sengaja Emir melihat air mata Andri menetes, saat ia akan membersihkan wajahnya.
“Kami semua menyayangi mu Ndri, jadi cepat pulang.” setelah selesai membersihkan tubuh Andri, Emir pun berniat keluar ruangan.
Tab!
Tiba-tiba tangannya di genggam oleh Andri yang kesadarannya mulai pulih.
“E..mir...” ucapnya dengan suara tak redup.
“Andri! Kau sudah sadar?!” Emir senang bukan main, dengan segera ia memanggil dokter untuk memeriksa kondisi saudaranya, tak lupa ia juga menghubungi seluruh keluarganya, untuk segera datang.
Dokter yang telah selesai memeriksa Andri pun menjelaskan kepada Emir terkait kondisi saudaranya saat ini.
“Alhamdulillah, ada peningkatan, semoga ini menjadi awal yang baik ya pak, tolong jangan buat pasien resah, jangan ceritakan ha-hal yang membuat ia panik, meski kesadarannya telah pulih, namun bukan tak mungkin jika pak Andri akan koma kembali ,” terang sang dokter.
“Baik dok, terimakasih banyak,” ucap Emir.
Setelah sang dokter pergi, Emir pun duduk di sebelah ranjang Andri.
“Syukurlah, kau sudah baikan, semangat terus ya Ndri, agar cepat pulang,” ujar Emir.
“Terimakash banyak, Beeve mana?” tanyanya yang merasa rindu.
“Lagi dalam perjalanan.” jawab Emir.
“Oh,” Andri mengangguk.
“Sudah di bilang, usia Allah yang tentukan, kau percaya saja apa kata dokter.”
“Kau benar, sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?”
“2 minggu.”
“Apa saja yang terjadi saat aku koma?” tanya Andri penasaran.
“Aku menggantikan mu di perusaan, dan...” Emir menundukkan kepalanya.
“Dan apa?” ucap Andri penuh selidik.
“Aku dan Helena sudah berpisah,” ujar Emir.
“Cerai?” netra Andri pun membulat.
“Iya.” angguk Emir
__ADS_1
“Karena apa?”
“Enggak cocok, terlalu banyak perbedaan di antara kami, ya... begitulah, intinya sudah selesai.” Emir pun curhat pada Andri mengenai apa saja yang Andri lewatkan selama ia koma secara detail.
“Mir.”
“Iya??”
“Apa aku bisa minta tolong pada mu?” ucap Andri dengan wajah serius.
“Mau minta tolong apa Ndri?” sahut Emir.
“Seandainya aku tiada, maukah kau menjaga anak dan istri ku?” Andri berharap adiknya mau menggantikan dirinya untuk menjadi pendamping hidup Beeve.
“Maksudnya bagaimana?” Emir tak mengerti arah pembicaraan Andri.
“Meski aku tak suka mengatakan ini pada mu, tapi aku lebih tak rela, bila Beeve menikah dengan orang lain, kau tahu sendiri, tidak semua orang mau menerima kita apa adanya, apa lagi Beeve dengan 4 anak, kalau dia salah pilih laki-laki, bisa-bisa anak-anak ku terlantar, tak jelas kemana rimbanya, meski Beeve mampu dan punya banyak harta, belum tentu dia berpihak pada anak ku, jika dia sangat mencintai suami barunya, makanya aku ingin kau, menikahi Beeve, ku tahu hati mu tulus padanya, aku akan tenang jika kau yang menjadi suaminya,” terang Andri.
“Jangan berkata begitu, kau pasti sembuh!” pekik Emir.
“Aku juga ingin sembuh, tapi yang ku katakan jika aku tiada Mir, tolong jangan abaikan wasiat ku ini, sayangi istri dan anak-anak ku Mir, layaknya anak kandung mu sendiri, ku mohon.” Andri yang merasa umurnya tak panjang, terus meminta kerelaan adiknya. Namun Emir begitu sulit untuk setuju, sebab ia yakin, jika Andri bisa bertahan.
“Aku enggak bisa.”
“Baiklah, sebagai gantinya, tolong jaga anak-anak ku, pantau mereka, andaikan Beeve lupa akan tugasnya demi cintanya yang baru, tampung mereka, lagi pula mereka punya warisan dari ku, ambil bagian mu, sebagai upah merawat anak-anak ku” ucap Andri.
“Kau pikir aku gila harta? Kalau soal menampung mereka, kau tak bilang pun akan ku lakukan,” ujar Emir.
Dari balik pintu, ternyata Beeve mendengarkan percakapan suami dan adik iparnya.
“Assalamu'alaikum mas.” Beeve memberi senyum lebar pada suaminya yang baru pulih.
“Walaikumsalam,” sahut Andri dan Emir.
“Mas...” Beeve memeluk suaminya yang masih terbaring di ranjang.
Emir yang tak ingin mengganggu pun memilih undur diri.
“Aku pulang dulu ya, nanti malam aku kesini lagi,” ucap Emir.
“Iya mas,” sahut Beeve.
“Hati-hati Mir,” Andri melambaikan tangannya pada adiknya.
Setelah Emir pergi, Beeve naik ke atas ranjang, “Eh, mau ngapain?” tanya Andri.
“Mau tidur di sebelah mu mas.” jawab Beeve, ia pun merebahkan tubuhnya, lalu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
“Memangnya boleh?” ia takut kalau mereka dapat teguran dari pihak rumah sakit yang mengontrol dirinya.
“Boleh, itu gunanya kita pesan ranjang lebar,” terang Beeve.
“Baiklah.” lalu Andri mengelus perut Beeve yang telah berusia 5 bulan.
__ADS_1
“Halo anak-anak papa, apa kabar sayang? papa rindu loh pada kalian bertiga.” saat Andri mengajak bayinya mengobrol, air mata Beeve menetes.
Cepat sehat sayang, jangan tinggalkan kami semua, aku sangat mencintai mu, dan ingin menua bersama mu, batin Beeve.
Ketika Andri menoleh ke wajah Beeve, ia pun melihat buliran air mata keluar dari pangkal mata istrinya.
“Sayang, jangan menangis...” Andri mengusap air mata Beeve.
“Sayang, kenapa kau mudah sekali menyerah, aku enggak suka kau begitu, kau pasti bisa sembuh, jangan pernah katakan pergi lagi, aku enggak suka mas!” air mata Beeve pecah, tak dapat menahan kesedihan di hatinya lagi.
“Maafkan aku sayang, aku salah.” Andri yang ingin memeluk Beeve begitu kesusahan, sebab alat medis yang ada di tubuhnya mengunci pergerakannya.
“Satu lagi, jangan serahkan aku pada mas Emir, memangnya aku barang! Untuk pertama dan terakhir, kau adalah suami ku,” ucap tegas Beeve.
”Kau mendengarnya?”
“Tentu saja! Jangan paksa dia atau pun aku untuk bersatu!” Beeve menolak keras keinginan suaminya.
“Kau tahu, alasan ku mengatakan demikian pada Emir?”
“Memangnya apa?” Beeve melirik wajah suaminya.
“Dokter memvonis usia ku, paling lama satu tahun lagi,” ucap Andri.
“Dan kau percaya mas?”
“Entahlah, aku hanya pasrah,” ucap Andri.
“Jangan percaya, aku yakin, kita masih bisa bersama sampai tua.” Beeve menyemangati suaminya, meski di hatinya penuh bimbang.
“Aamiin, tapi sayang, apa aku bolehkan memberi nama anak-anak kita?” Andri mengalihkan topik pembicaraan agar lebih santai.
“Boleh mas.”
“Yang tertua, namanya Nuh Han, kedua Ibrahim Han, ketiga Saleh Han.”
“Kenapa nama Nabi semua mas?” tanya Beeve.
“Aku berharap mereka berjihad di jalan Allah, sama seperti para nabi, pokoknya kasih nama itu sayang,” pinta Andri dengan bersemangat.
“Baiklah mas, kalau itu memang mau mu.” Beeve menerima nama pemberian suaminya tanpa penolakan, meski ia telah punya nama yang telah di siapkan sebelumnya.
“Kalau mas sudah sembuh, kita jalan-jalam yuk.”
“Kemana sayang?”
“Ke taman bunga, aku ingin berphoto dengan mu disana,” ucap Beeve.
“Insya Allah ya sayang.” Andri mengecup mesra kening istrinya.
Aku mencintai mu, Beeve An Mahveen, sayang ku, batin Andri.
...Bersambung......
__ADS_1