Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 88 (Bara Api)


__ADS_3

Arinda menggenggam erat handphonenya, “Harusnya mas Andri bersama ku, aku ini adalah istrinya yang sebenarnya, anak yang di kandungan ku adalah anak biologisnya, kenapa dia enggak menemani ku? Kenapa harus bersama si Beeve wanita kotor, gatal dan pembohong itu? Kenapa? Pada hal aku lebih baik dari Beeve, bisa menjaga mahkota ku untuk suami ku, bukan seperti dia, tapi mengapa selalu Beeve yang paling beruntung selama ini? Akh!!!” Arinda melempar handphonenya ke sembarang arah.


“Aku akan menyingkirkannya!” gumam Arinda.


__________________________________________


Sedangkan Emir yang melihat status Beeve bertambah gundah, ia sangat menyesal atas perbuatannya, ia pun lebih memilih mengunci diri di kamar dari pada pergi ke kampus.


“Kalau aku enggak mabuk, pasti semua masih berjalan dengan lancar,” gumam Emir.


Emir kembali membuka galeri photo pada handphonenya, dan membuka potret masa kecilnya bersama Beeve.


“Andai saja dulu aku enggak keluar negeri, mungkin aku yang bersama mu saat ini, kini semua hanya tinggal harapan tak berujung semata dalam hati, parahnya aku malah menyakiti mu, Bee, maafkan aku.” perasaan Emir begitu tak karuan.


Ia yang merana memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Emir yang turun ke lantai satu melihat kehadiran ibu Arinda di rumahnya.


Mau apa mereka kemari? batin Emir. Ia yang penasaran pun mendekat untuk mendengarkan percakapan antara orang tuanya dan orang tua Arinda.


“Barusan Arinda menelepon, katanya nak Andri meninggalkannya sendiri di rumah mereka, dan malah pergi liburan dengan Beeve, ini gimana ya bu kalau begitu? Kasihan Arinda, dia kan sedang hami muda, tapi tinggal sendirian disana,” terang Elia.


“Jadi anda datang kemari hanya untuk mengatakan hal itu?” ucap Rahma dengan sinis.


“Iya bu, karena sayakan enggak punya kontak ibu atau pun pak Yudi.” terang Elia.


“Haduh, kalau soal itu, biar Andri dan anak mu yang urus, saya enggak mau ikut campur ya, lagi pula itu resiko menjadi istri kedua, apa lagi tanpa restu dari istri pertama, ya harus terima apapun yang menjadi keputusan suaminya,” ucap Rahma kesal.


“Ya saya tahu kalau Arinda itu istri siri, tapi kasihan bu, dia tinggal sendiri disana.”


“Ya kalau kasihan, anda temani saja, begitu saja kok harus repot datang kesini,” ucap Rahma.


“Saya enggak mungkin menemaninya, karena ayahnya juga butuh saya bu, jadi maksud saya begini, bagaimana kalau Arinda tinggal di rumah ini saja, ayolah bu, kasihan, dia sedang hamil, mana bisa mengurus diri sendiri.” pinta Elia yang menginginkan putrinya tinggal bersama keluarga Andri.

__ADS_1


“Oh, enggak bisa begitu, rumah ini hanya menerima satu menantu, yaitu Beeve, kalau masalah hamil, Beeve juga sedang hamil muda, dan putri mu tahu itu, tapi malah menjebak anak ku, lucunya kalian merasa kalau seolah-olah dia yang paling malang nasibnya? Hei anda, disini yang paling memprihatinkan itu ya Beeve, kalau bukan karena anak ku menginginkan keselamatan anaknya yang ingin kalian gugurkan, sudah pasti aku enggak akan mau merestui hubungan anak mu dan anak ku! Telinga mu sudah dengar jelaskan, rumah ini enggak menerima putri mu yang gatal itu! Ayo angkat kaki dari sini, aku muak dengan kalian sekeluarga!” pekik Rahma.


Elia yang terusir menjadi kesal dan sakit hati, ia pun keluar dari rumah orang tua Andri tanpa muka dan harga diri.


Emir yang menyaksikan amarah ibunya hanya bungkam, karena jujur ia pun tak setuju bila Arinda tinggal di kediaman mereka.


Rahma yang melihat kehadiran putranya di dekat tangga mulai mengoceh kembali.


“Ini gara-gara mas mu yang bodoh itu! Urusan jadi runyam, kau dengar ya Mir, ingat baik-baik, walau pun kau suka pada Beeve, jangan coba-coba menjadi pebinor, kalau sampai kau lakukan itu, ku kebiri kau! Hah!! Seumur hidup baru kali ini aku marah-marah lahir batin, sepertinya aku harus ke salon meluruskan otot-otot di wajah ku, pasti banyak yang telah kendur gara-gara si Arinda dan Andri yang bodoh itu!” setelah puas mengeluarkan isi hatinya, Rahma bergegas untuk perawatan ke salon langganannya.


Emir mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Ibu sudah seperti dukun, tahu segala hal yang ada di otak ku, batin Emir.


__________________________________________


Pada pukul 19:00 malam, akhirnya Beeve dan Andri sampai juga kepuncak.


Mereka pun menyewa sebuah private Vila indah, yang di suguhkan pemandangan hutan dan perairan jernih tepat di sebelah Vila.


“Seram apanya sih sayang? Toh kita hanya berjarak 500 meter dari villa lainnya,” ujar Andri.


Andri pun menurunkan 1 buah koper besar berisi barang-barang mereka dari bagasi mobil.


“Kalau ada hantunya gimana mas? Mana pohonnya tinggi-tinggi lagi.” ucap Beeve seraya menggandeng lengan suaminya.


“Katanya kau suka tempat yang tenang dan sunyi, yang jelas saja aku pilih tempat ini, lagi pula ada keamanan yang patroli 24 jam sayang, jadi enggak usah takut.” Andri menenangkan istrinya.


Mereka pun mulai masuk ke dalam villa, dan seketika Beeve senyum sumringah, karena di dalam villa begitu nyaman dan bersih, perabotannya juga lengkap, dan disana juga banyak tersedia bahan-bahan makanan.


Beeve yang haus membuka kulkas yang ada di ruang tamu villa.

__ADS_1


“Wah, variasi minumannya banyak banget mas,” ucap Beeve.


“Iya sayang, sebelumnya aku suruh mereka untuk memenuhinya, dan juga meminta agar dapur di sediakan beras dan daging dan bahan masak lainnya, karena aku mau kita benar-benar liburan berdua, dan aku juga ingin mencicipi masakan mu, karena sejak menikah, kau belum pernah memasak apapun untuk ku,” terang Andri.


Beeve tersenyum pada Andri yang begitu romantis padanya.


“Jadi ceritanya, hari ini sampai besok kita main drama kisah rumah tangga sederhana mas?” tanya Beeve.


“Iya sayang, sesekali aku juga ingin tinggal berdua dengan mu, tanpa Art.” Andri memeluk tubuh Beeve dengan mesra.


“Tapi mas, kita kan enggak berdua,” ucap Beeve.


“Oh iya! Maksud ku, bersama anak kita juga.” Andri berlutut dan mencium perut Beeve yang mulai buncit.


“Maaf ya nak, kalau papa lupa sama dede, ummuach, anak papa lagi apa di dalam? Hum? Dede udah lapar ya sayang?” Andri berulang kali mencium perut Beeve dan mengajak anaknya mengobrol. Beeve tertawa geli melihat aksi Andri. Setelah itu Andri berdiri kembali dan mencium lekat kening Beeve.


“Sayang, makan yuk!”


“Iya mas.” Andri dan Beeve pun menuju meja makan yang ada di dapur villa, lalu Andri membuka bungkusan nasi dan ayam goreng panas yang mereka beli di gerbang masuk villa.


Keduanya makan dengan lahap, setelah itu Beeve dan Andri mencuci wajah sebelum menuju kamar.


Udara hutan yang sedingin es membuat keduanya tak membutuhkan bantuan Ac.


“Mas! Apa-apaan ini?” tanya Beeve, karena saat ia membongkar isi koper tak ada satu pun piyama halal atau jaket tebal yang di bawa oleh suaminya.


“Hah? Hehehe,” Andri tertawa cengengesan di depan pintu kamar.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....

__ADS_1




__ADS_2