Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 248 (Kompor)


__ADS_3

Ini benar-benar kebetulan yang tak di sangka-sangka, bisa-bisanya aku bertemu teman sekolah kak Beeve di masa lalu, batin Helena.


“Kenapa enggak mungkin? Mungkin saja wanita itu memang berbobot untuk di sukai?” ucap Helena.


“Hum, wanita gatal dan penggoda seperti itu, paling hanya jadi pelampiasan semata, ku dengar dia hamil di luar nikah, dan yang menikahinya bukan orang yang menghamilinya, dia sih terkenal karena mau di pakai orang lain, baru tamat SMA saja sudah bunting.” Yezi semakin mempengaruhi Helena agar membenci Beeve


Jadi Bia bukan anak kandung bang Andri? batin Helena.


“Kau tahu banyak juga ternyata soal wanita itu,” ucap Helena.


“Ya.. begitulah.” jawab Yezi, yang ternyata adalah Arinda.


Ia mengganti identitasnya dengan teman semasa sekolahnya yang telah meninggal dunia.


FLASHBACK


Dimas dan Arinda yang telah sampai ke bandara pun saling berpamitan.


“Hati-hati nak, semoga kau sehat selalu,” ucap Dimas.


“Terimakasih ayah atas bantuannya, maaf sudah banyak merepotkan,” Arinda menjabat tangan Dimas.


“Tak apa nak, kalau begitu ayah pulang dulu, enggak baik kalau ayah terlalu lama pergi.”


“Iya yah.” Dimas pun meninggalkan putrinya di di pintu masuk ke berangkatkan.


Saat Arinda ingin check in, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya.


Aku kan sudah dapat identitas baru, untuk apa aku lari jauh-jauh? Meninggalkan para musuh ku dengan keadaan berbahagia? batin Arinda.


Akhirnya Arinda memutuskan untuk tetap di Indonesia, tanpa mengikuti arahan kedua orang tuanya.


Flashback Off


Helena yang baru tiba di rumah begitu tak bersemangat, ia mulai membayangkan, bagaimana suaminya ketika bersama dengan Beeve.


“Helena, kau darimana saja?” sapa Beeve yang duduk di ruang tamu.


Helena yang melihat wajah Beeve pun menunjukkan wajah masam.


“Dari luar!” sahut Helena dengan suara tinggi.


“Oh, tadi ibu mencari mu.” Beeve memberi tahu jika Rahma mencari Helena yang menghilangkan seharian tanpa pamit.


“Ya!” Helena yang terpengaruh akan Yezi mulai panas dingin. Ia dengan langkah yang kasar beranjak menuju kamarnya.


“Dia kenapa? Apa lagi datang bulan?” gumam Beeve.


“Enggak ku sangka kak Beeve begitu murahan! Menjijikkan, pantas saja bang Emir begitu membelanya, ternyata ada perasaan di masa lalu!” gumam Helena.


Sejak hari itu, Helena selalu bersikap dingin pada Beeve setiap kali mereka bertatap muka, Helena juga enggan berbicara dengan kakak iparnya, walau hanya sekedar basa-basi.


Emir yang memperhatikan perubahan istrinya mulai bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi.


“Dek, kau ada masalah dengan Beeve ya? Ku lihat akhir-akhir ini sikap mu berbeda padanya?”

__ADS_1


“Enggak, biasa saja kok," jawab Helena.


“Benarkah? Berarti aku yang salah paham dong?” Emir menggaruk-garuk kepalanya.


“Tentu saja, kalau soal kak Beeve, abangkan selalu di garda depan!” ucap Helena dengan memutar mata malas.


Emir mengernyitkan dahinya, karena istrinya mengatakan hal yang tak ia mengerti.


Helena yang ingin bekerja pun berangkat tanpa menjabat tangan Emir.


“Hei!” Emir mengejar Helena yang telah keluar dari dalam kamar. “Kenapa enggak jabat tangan dulu?” Emir memegang bahu istrinya.


Lalu Helena dengan wajah kecut mencium punggung tangan suaminya. Emir yang merasa ada suatu hal yang tak beres pun ingin segera meluruskan permasalahan yang belum ia tahu apa itu.


“Kau enggak boleh pergi, sebelum cerita, apa yang sebenarnya terjadi,” tanya Emir penuh selidik.


“Enggak ada bang.”


“Jujur dek, jangan bohong!” Emir mengencangkan genggaman tangannya pada bahu Helena.


“Oke, kalau aku jujur, apa abang akan jujur pada ku?” ucap Helena.


“Tentu saja, aku akan jujur, kau kan istri ku dek.”


“Apa benar, kau ada hubungan dengan kak Beeve?”


“Tentu saja!” jawab Emir.


“Ternyata benar?” Mata Helena memerah menahan air matanya.


“Bukan hubungan yang seperti itu yang ku maksud bang! Tapi... hubungan spesial!”


“Apa itu masih kurang spesial menurut mu?” ucap Emir.


“Bang, aku dapat cerita, kalau kau pernah menyukai kak Beeve, bahkan kalian pernah punya hubungan setelah bang Andri dan kak Beeve menikah!”


Deg!


Darimana dia tahu? batin Emir.


“Kenapa kau diam bang? Jawab! Katanya akan jujur?!” Helena mendesak Emir. Yang membuat pria tampan itu serba salah antara terus terang atau tidak.


“Aku memang menyukainya sejak lama, tapi... aku tak punya hubungan apapun dengannya.” ucap Emir.


Maaf Helena, kalau aku jujur sepenuhnya, pasti hatimu akan sakit, dan kau juga akan membenci Beeve, batin Emir.


“Sampai sekarang?” tanya Helena dengan berderai air mata cemburu.


“Enggak, karena sudah ada kau yang mengisi kekosongan itu,” jawab Emir.


“Bohong!”


“Untuk apa aku bohong? Bukti dari keseriusan lelaki yaitu dengan menikahi wanitanya, jika kau ingin menuntut ini dan itu, ku rasa kita sama-sama tahu, kalau aku tak memiliki rasa pada mu awalnya, apa aku salah kalau mencintai orang lain sebelum kau hadir di hidup ku?” perkataan Emir membuat Helena bungkam. Sebab ialah yang mengejar-ngejar pria tampan itu.


“Tapi kenapa harus dia?!” Helena menghentakkan kakinya ke lantai

__ADS_1


“Karena aku suka dia saat itu, dan kau enggak bisa menyalahkan siapapun, termasuk Beeve, dia enggak mencintai ku, tapi akulah yang mengejarnya!” terang Emir.


“Akh! Bikin malas!” Helena melepas kasar tangan suaminya dari bahunya.


“Helena!” panggilan dari Emir di abaikan Helena begitu saja.


“Egois, sampai kapan kau seenaknya Helena?” gumam Emir.


Helena yang baru memijakkan kakinya ke lantai 1, bertemu Beeve kembali.


“Sudah mau berangkat?” sapa Beeve.


“Apa urusan mu! Dasar murahan!” ucap Helena seraya melangkah keluar rumah.


Andri yang menyaksikan istrinya di hina, jelas tak terima begitu saja.


“Apa kau ada masalah dengannya sayang?” tanya Andri pada Beeve.


“Enggak mas, dia memang sudah aneh selama 2 minggu ini,” jawab Beeve.


Lalu Emir yang baru turun dari tangga di cegat oleh Andri.


“Emir, barusan istri mu menghina Beeve! Tolong ajari dia sopan santun! Jangan sampai aku yang turun tangan! Baru beberapa bulan masuk rumah ini, gayanya sudah enggak karuan!” pekik Andri.


“Maaf atas kebodohan istri ku, pasti akan ku nasehati.” ucap Emir, setalah itu ia menyusul Helena.


Rahma yang melihat hal tersebut menebak, jika Helena tahu soal cinta segitiga di antara menantu dan anak-anaknya.


“Semoga semua baik-baik saja,” gumam Rahma.


“Sayang, kalau dia masih berani menghina atau berbuat tak mengenakkan pada mu, katakan pada ku, agar ku beri pelajaran, wanita itu lama-lama bikin kesal!”


“Iya mas, sudahlah lupakan saja, sebaiknya kau berangkat kerja,” ucap Beeve, yang tak ingin memperpanjang masalah.


Beeve pun mengantar suaminya ke pintu utama, ketika telah sampai, mereka di kejutkan oleh pasangan Emir dan Helena yang adu mulut.


“Jangan-jangan anak yang di kandungnya itu hasil benih mu bang!” ucap Helena sembarang tanpa adanya bukti yang kuat.


“Helena! Jaga omongan mu!” pekik Emir.


“Aku sudah tahu bagaimana kehidupan masa lalunya dari teman sekolahnya saat SMA, wanita murahan, mengandung anak haram, dan menikah dengan orang yang bukan ayah dari anaknya! Dan kau juga begitu membelanya, seolah aku bukan apapun untuk mu bang!” curahan hati Helena di dengar langsung oleh Andri dan Beeve.


Andri yang tahu, yang di maksudkan Helena adalah istrinya, melangkahkan kakinya dengan kasar menuju keduanya.


“Setan!” Buk! satu pukulan Andri mendarat di wajah mulus Emir, yang membaut Beeve dan Helena berteriak histeris.


“Akhh!!”


“Andri tenang dulu!” Emir menangkis pukulan kedua yang akan Andri layangkan padanya.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2