
“Aku sudah tahu semuanya Ndri! Apa lagi yang mau kau jelaskan!”
“Tenang dulu, kau pikir aku begitu saja mengkhianati Beeve? Aku di jebak Mir!” ucap Andri dengan nafas terengah-engah.
“Jangan banyak alasan kau! Aku dengar semua percakapan mu dengan Arinda!”
“Kalau kau dengar, harusnya kau mengerti situasinya, aku di jebak! Aku juga enggak suka wanita itu” terang Andri.
Andri pun mengajak Emir masuk ke dalam mobilnya, kemudian Andri menjelaskan semua kronologi yang terjadi.
“Apa kau sudah membunuhnya?” tanya Emir.
“Aku enggak sanggup melakukannya, bagaimana pun, dia mengandung anak ku,” jawab Andri.
“Gila ya! Terus mau kau apakan dia?”
“Akan ku asing kan ke tempat jauh,” ucap Andri.
“Kau enggak akan menikahinya? Apa kau mau anak mu hidup tanpa seorang ayah?”
“A-Aku bingung Mir! Aku juga enggak bisa menyakiti Beeve! Beeve juga mengandung anak ku! Aku mencintai dia, tapi takdir sedang mempermainkan ku saat ini, aku harus bagaimana? Akh!!”
“Jangan salahkan takdir, dari awal wanita itu memang sudah mengincar mu! Kau dan Beeve saja yang bodoh, membiarkan dia memanfaatkan celah yang ada, kau juga ceroboh, sudah tahu sempit, malah kau terobos, enggak tahu punya istri mu yang mana, menurut ku, ceraikan saja Beeve, nikahi Arinda,” ujar Emir.
“Dasar sinting! Kau pikir cerai itu seperti katakan putus? Beeve akan menjadi istri ku selamanya, hanya dia!”
“Enggak, kau hanya akan menyakiti dia lebih dalam, kau tahu tipe wanita seperti Arinda kasih hati minta jantung, sekarang kau beri dia kesempatan hidup, nanti pelan-pelan dia akan merayu mu, agar kau mau menikahinya, terlebih kalau kau sudah melihat anak mu lahir, dia akan memanfaatkan anak kalian untuk memperalat mu, sekarang saja kau bilang enggak cinta, paling setelah coba lubangnya beberapa kali lagi kau akan lengket! Kau pikir aku enggak tahu karakter laki-laki?” terang Emir, berharap Andri menceraikan Beeve.
“Enggak, itu enggak akan terjadi,” ucap Andri merasa yakin.
“Yakinlah, semua yang kau lalukan sekarang hanya akan menyakiti Beeve,” Emir terus mempengaruhi Andri.
“Mir, jangan ikut campur urusan ku, biarkan aku yang memutuskan,” uca0 Andri.
“Ya, tentu saja yang memutuskan itu adalah kau, tapi aku enggak mau melihat Beeve menangis lagi karena mu,” Emir memelototi Andri.
“Apa kau suka Beeve?” tanya Andri kesal.
“Ya, aku mencintai dia! Dari aku SMP sudah menaruh hati padanya! Entah kenapa Tuhan menjodohkannya dengan orang bodoh seperti mu!” pekik Emir.
Andri memejamkan matanya sejenak, lalu tersenyum sinis.
“Berhenti mencintai kakak ipar mu sendiri, cari yang lain, dan jangan bermimpi kalau aku akan menceraikannya! Dasar bejat!” hati Andri menjadi panas membara setelah tahu perasaan Emir.
“Kau enggak berhak melarang ku untuk mencintainya, ceraikan dia, karena aku siap menampungnya di hati ku bersama anak mu juga, aku sudah menahan ini sejak lama, kalau saja kau enggak selingkuh dengan Arinda, aku enggak akan terus terang begini pada mu,” ucap Emir.
Andri yang di bakar api cemburu meninju bibir Emir spontan.
__ADS_1
“Pergi kau dari rumah ku bangsa*! Jangan injak kan kaki mu kesini lagi, aku jijik melihat tampang enggak tahu malu mu itu! Mas mu sendiri ingin kau tikung!”
“Oke aku akan pergi, tapi ingat untuk memperlakukan Beeve dengan baik.” Emir keluar dari dalam mobil Andri, dan ia pun langsung menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Andri yang tak habis pikir bertambah pusing, “Astaga Emir? Kenapa kau harus jadi lawan ku sekarang?” Andri menghela napas panjang, lalu keluar dari dalam mobil menuju kamar.
Sesampainya Andri, ia melihat Beeve masih tertidur lelap.
Andri naik ke atas ranjang, dan duduk di sebelah Beeve dan mengelus rambut istrinya.
Maafkan aku sayang, maaf atas kesalahan ku, kali ini aku benar-benar telah menyakiti mu, batin Andri.
Beeve yang merasakan sentuhan Andri pun terbangun dari tidurnya.
“Kau sudah pulang mas?” ucap Beeve dengan suara serak.
“Iya sayang.” Sahut Andri dengan tersenyum manis.
“Kau darimana saja mas? Kenapa pulangnya lama?” tanya Beeve seraya bangkit dari tidurnya, dan duduk di hadapan Andri.
“Ya bertemu Arman sayang, ternyata urusan yang kami tangani sangat rumit, makanya baru bisa pulang sekarang,” jawab Andri.
“Urusan apa sih mas?”
“Rencana pemasaran produk terbaru sayang,” ucap Andri gugup.
“Oh, begitu ya mas ” ujar Beeve menahan rasa penasarannya, lalu Beeve turun dari ranjang, karena hari itu ia ada kelas.
“Kau ke kampus hari ini?”
“Iya mas, karena aku ada kelas.”
“Aku antar ya sayang,” ucap Andri.
“Oke mas.” Beeve masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 10 menit kemudian, Beeve keluar.
“Kau enggak mandi mas?” tanya Beeve pada Andri.
“Iya sayang, ini aku akan mandi,” jawab Andri.
Setelah Andri masuk ke kamar mandi, Beeve buru-buru memeriksa handphone Andri. Ia membuka satu persatu aplikasi yang ada, namun tak ada satu pun percakapan dengan wanita lain, apa lagi Arinda.
Saat ia mencek mbanking suaminya, sayangnya ia tak tahu sandinya.
“Akh! Sial! Pada hal aku ingin lihat, pengeluaran mas Andri,” gumam Beeve.
Karena tak mendapatkan apapun, Beeve meletakkan kembali handphone Andri di atas meja, kemudian ia berdandan.
__ADS_1
Andri yang telah selesai mandi, keluar dengan memakai handuk putih.
“Masuk jam berapa sayang?” tanya Andri.
“Jam 10 mas,” jawab Beeve.
“Oke, berarti kita belum telat,” ucap Andri.
“Iya mas.”
Setelah selesai bersiap-siap, Andri dan Beeve pun menuju mobil yang terparkir di depan rumah, selanjutnya mereka melaju membelah jalan raya, yang padat akan kendaraan.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, keduanya pun sampai di kampus.
“Hati-hati sayang.” Andri mengecup pipi dan bibir istrinya.
“Iya mas, kau jaga hati-hati di jalan mas.” ucap Beeve mencium punggung tangan suaminya.
Kemudian Beeve keluar dari dalam mobil, dan melambaikan tangannya pada Andri.
Lalu Andri balas dengan senyuman, selanjutnya melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Ketika ia balik kanan, tiba-tiba ia di kaget kan oleh sosok Cristian yang berdiri di hadapannya.
“Astaga! Crist!”
“Do antar suami ya?”
“Apa urusannya dengan mu?!”
“Enggak ada sih, oh ya setelah kuliah kau mau kemana?”
“Bukan urusan mu aku mau kemana!” pekik Beeve.
“Jalan yuk, aku rindu pada mu,” ucap Cristian.
“Jalan mata mu! Jangan ganggu aku! Susah banget kalau melihat orang senang.” Beeve yang sudah emosi dari rumah pun meninggalkan Cristian di depan gerbang kampus.
Lalu Cristian yang tak tahu diri, menyusul Beeve.
“Ayolah, kita ke kafe, bagaimana pun aku ingin mengobrol seperti dulu dengan mu, aku tahu aku banyak salah pada mu, aku minta maaf, tolong berdamai lah dengan ku,” ucap Cristian.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1