Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 46 (Maaf)


__ADS_3

“Hah? Kuliah mas?”


“Iya sayang, bagaimana pun kau harus melanjutkan pendidikan mu, walau pun sekarang status mu sudah jadi istri, dan andai kata kau mengandung, itu bisa kita atur,” terang Andri.


“Oh... ya sudah kalau begitu, aku ikut apa kata mas saja,” ucap Beeve.


“Mmm... mas, bagaimana kinerja teman ku untuk hari ini?” mendapat pertanyaan Beeve, Andri jadi teringat akan peristiwa tadi pagi, saat ia memeluk Arinda.


“Aku belum periksa sayang, karena Ayu lah yang menangani kedua kandidat baru itu,” jawab Andri.


“Ayu? Ayu siapa mas? Maksud ku, apa posisinya di kantor mas?” tanya Beeve.


“Sekretaris sayang.” mendengar jawaban suaminya, hati Beeve menjadi ketar ketir, ia merasa apa yang di katakan ibunya ada benarnya sekarang.


“Jadi, Arinda adalah calon sekretaris mu nanti mas?” ucap Beeve dengan mimik wajah khawatir. Dan Andri dapat melihat dengan jelas semua itu.


“Apa, wanita itu cerita, kalau aku memeluknya tadi pagi?” batin Andri.


“Iya sayang, apa dia enggak bilang pada mu?”


“Enggak mas.” Beeve yang ingin suaminya memecat Arinda dengan segera tak tahu harus mengatakan darimana.


“Ada apa sayang? Kenapa kau resah begitu?” tanya Andri seraya menggenggam tangan istrinya yang ada di atas meja makan.


“Enggak kok mas, bukan apa-apa,”


“Oh iya sayang, aku lihat rambut mu sangat panjang, boleh enggak kira-kira kalau kau memotongnya lebih pendek? Setidaknya 10 cm saja, dan kasih sedikit modelnya, pasti kau terlihat semakin fresh.” pinta Andri, sebab ia tak ingin salah mengenali istrinya lagi.


“Apa gaya rambut ku jelek mas?”


“Bukan sayang, tapi agar kau tampak lebih cantik dari biasanya saja, lagi pula rambut mu panjangnya sepinggang, kalau di potong 10 cm, masih terlihat panjang juga kan?” ujar Andri.


“Ya sudah mas, besok setelah selesai mendaftar kuliah, aku akan ke salon,” ucap Beeve.


“Oke sayang, dan... satu lagi, maaf ya kalau mas menanyakan hal ini,”


“Ada apa mas?”


“Apa kau memberikan Arinda salah satu baju mu yang ada dalam lemari?” tanya Andri.


“Iya mas, maaf aku enggak tahu sebelumnya kalau itu hadiah mas untuk ku,”


“Ohh... ternyata benar,” batin Andri.


“Ya sudah sayang, enggak apa-apa kok, mas hanya ingin bertanya, sebab hari ini Arinda memakai baju itu ke kantor,” terang Andri.

__ADS_1


“Apa?Apa mungkin ini pertanda buruk? Atau hanya kebetulan Arinda pakai kesana?” batin Beeve.


“Mas, kalau kinerja Arinda kurang bagus, jangan memaksakan diri untuk meloloskannya, bagaimana pun yang di butuhkan perusahaan adalah orang yang professional.” ucap Beeve, dengan berharap suaminya akan segera memecat Arinda.


“Tentu saja,” sahut Andri.


Setelah percakapan di atas meja makan itu selesai mereka pun beranjak ke kamar untuk istirahat.


Pagi harinya, Andri terbangun dari tidurnya karena Alarm yang berdering nyaring.


“Hoamm!!!! Sudah pukul 04:30 ternyata.” gumam Andri seraya merenggangkan otot-ototnya.


Lalu ia menatap lekat istrinya yang masih terlelap.


“Telinga mu banyak kotorannya ya? Alarm sekeras itu enggak membuat mu bangun.” ucap Andri seraya mencium pipi Beeve.


“Hei sayang bangun, sudah subuh.” Andri terus saja mencium pipi istrinya, hingga Beeve pun membuka mata.


“Mas, kau sudah bangun?” ucap Beeve dengan suara serak.


“Ayo kita mandi, setelah itu sholat subuh," ujar Andri.


“Hah? Mandi sekarang mas? Nanti ya mas, kan masih dingin,” pinta Beeve manja.


“Ayolah sayang, mandi saat subuh itu menyehatkan tubuh,l.” dengan bibir memancung, Beeve bangkit dari tidurnya begitu pula dengan Andri.


“Bersama?” Beeve mengernyit.


“Ya, cepatlah, nanti waktu subuh habis.” Andri pun menarik tangan Beeve menuju kamar mandi.


Dan di dalam kamar mandi, Andri dan Beeve membuka pakaiannya masing-masing, kemudian Andri menyuruh istrinya duduk di atas kursi, setelah itu Andri memandikan Beeve bak anak kecil.


Beeve yang menerima perlakuan istimewa itu tak dapat menolak, sebab ia harus menjadi istri yang patuh pada suami.


Andri dengan telaten membersihkan tubuh istrinya, setelah itu ia mengeringkan tubuh Beeve dengan handuk berwarna putih.


“Ayo sekarang kau istinja dan ambil wudhu,” titah Andri.


“Iya mas.” jawab Beeve dengan tubuh gemetaran.


Lalu Beeve melakukan segala hal yang di perintahkan Andri, setelah itu ia kembali keluar dan memakai baju dress berwarna lilac, tak lama Andri pun keluar dari kamar mandi, dan memakai baju setelan kantornya.


Setelah keduanya rapi mereka pun beranjak ke mushola untuk sholat subuh.


Pukul 07:00 pagi setelah selesai sarapan, Andri dan Beeve pun berangkat, di dalam perjalanan Beeve tak hentinya mengoceh dalam hatinya

__ADS_1


“Yang benar saja, aku ke kampus sepagi ini? Dosennya saja pasti baru bangun tidur,” batin Beeve.


“Mas, kenapa berangkat sepagi ini sih?” ucap Beeve.


“Karena aku ada pekerjaan penting sayang, dan aku mau hari ini mengantar kan mu ke kampus, maaf ya kalau pagi-pagi kau sudah ku buat repot,” ujar Andri.


Mendapat perlakuan manis dan tulus dari sang suami, membuat Beeve merasa bersalah karena telah sempat mengeluh.


“Iya mas, maaf ya mas, kalau aku salah,” ucap Beeve.


15 menit kemudian mereka pun sampai di Universitas I, dan benar saja, keadaan kampus masih sepi, hanya terlihat satu dua orang yang lalu lalang.


Andri pun hanya mengantar istrinya sampai gerbang.


“Maaf sayang, hanya bisa antar sampai sini, karena aku buru-buru,” ucap Andri.


“Iya mas, enggak apa-apa,” ketika Beeve akan keluar, Andri menahannya.


“Ini untuk mu,” Andri menyodorkan black cart untuk Beeve.


“Apa ini mas?”


“Untuk mu, belilah apapun yang kau mau sayang,” ucap Andri.


Beeve di buat makin tak enak dengan kebaikan Andri.


“Mas, aku enggak perlu ini, cukup kau beri aku kartu debit biasa saja, ini berlebihan sekali,” ujar Beeve.


“Sayang, ini hak mu kok, rumah yang ku beli juga hadiah pernikahan untuk mu, maaf kalau aku terlambat mengatakan dan memberikannya pada mu, maaf juga keegoisan ku selama ini,”


“Tetap saja aku enggak bisa terima mas.” ucap Beeve, sebab menjadi ayah untuk anaknya saja ia sudah bersyukur, meski beban bersalah di hatinya tak bisa hilang selamanya.


“Kau harus terima, jadilah yang paling terbaik di lingkungan kampus mu, dan cara membayarnya untuk ku, cukup kau jadi istri yang setia dan jujur, cintai hanya aku seorang mulai dari sekarang, hingga maut memisahkan kita.” terang Andri mencium kening dan bibir istrinya yang menahan tangis sedari tadi.


“Mas, terimaksih banyak sudah menerima ku dalam hatimu, ku harap kau juga akan terus mencintai ku, aku berjanji akan setia pada mu.” ucap Beeve, lalu memeluk Andri.


“Ya sudah, ingat janji itu ya,” ucap Andri.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, KARENA 1 KONTRIBUSI DARI MU ADALAH PENYEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


...Instagram :@Kissky_muchu...


...Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya....

__ADS_1



__ADS_2