
Semua orang menjadi heboh karena kondisi Arinda.
“Bawa ke rumah sakit!” ucap Rahma yang merasa khawatir.
Ketika Dimas akan menggendong anaknya, mereka baru dapat melihat, darah mengalir di kedua kaki Arinda.
“Darah! Darah! Ya Allah, cepat bawa ke rumah sakit!” ucap Yudi.
Andri yang melihat hal tersebut juga ikut panik, begitu pula dengan Beeve , “Arinda!” teriak Andri.
Seketika timbul rasa bersalah dalam hatinya, karenanya Arinda mengalami pendarahan.
“Berikan dia pada ku!’' Andri merebut Arinda dari tangan ayah mertuanya, dengan tergesah-gesah Andri menggendong Arinda menuju mobil.
Beeve yang juga ikut khawatir berniat ikut ke rumah sakit, namun Elia mencegatnya.
“Kau bukan bagian keluarga ini! Kalau sampai putri dan cucu ku kenapa-napa, ku bunuh kau!” ancam Elia.
Beeve pun memilih diam, karena situasinya tidak memungkinkan untuk adu mulut. Setelah itu keluarga Andri dan Arinda segera menuju rumah sakit.
Andri yang duduk di belakang bersama Arinda tak hentinya berdo'a, agar anak yang di kandung Arinda baik-baik saja.
“Cepat yah! Darahnya makin banyak!” desak Andri pada Yudi.
“Ini juga sudah cepat Ndri, sabarlah,” ucap Yudi.
“Ayo yah,” Andri terus mendesak Yudi.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Andri menggendong Arinda keluar dari dalam mobil.
“Dokter, tolong! Tolong istri saya!” pinta Andri.
Lalu para perawat yang ada bertugas pun membantu Arinda untuk di telentankan di atas ranjang dorong pasien, kemudian membawanya ke ruang rawat, yang di ikuti oleh Andri dan kelurganya.
Saat Arinda sudah masuk ke dalam ruangan, para perawat menyuruh semua orang menunggu di luar.
“Dokter akan memberi penanganan, tolong tunggu di luar.” Kedua belah pihak keluarga merasa sedih atas peristiwa malang yang menimpa Arinda.
Dimas yang merasa geram pun mengancam Andri.
“Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa pada putri dan cucu ku! Ku habisi kau! Suami macam apa kau keparat!” pekik Dimas.
Andri yang merasa bersalah menundukkan kepalanya.
“Maafkan aku yah,” ucap Andri.
“Lebih baik kita erdo'a, semoga Arinda dan bayinya baik-baik saja,” ucap Rahma.
__ADS_1
Ya Allah maafkan aku, tolong selamatkan keduanya, batin Andri.
Setelah 20 menit menunggu, dokter pria paruh baya pun keluar dengan raut wajah sedih.
“Bagaiman dok? Istri dan calon bayi ku baik-baik saja kan dok?” tanya Andri.
“Ehemm, si ibu baik-baik saja pak, tapi mohon maaf, untuk anak bapak kami tidak bisa terselamatkan,” ucap sang dokter.
“Apa!” Elia yang tak dapat menerima kenyataan seketika kehilangan kesadarannya.
“Bu-bu!” Dimas memapah tubuh istrinya untuk tiduran di kursi tunggu. Sedangkan Rahma tak dapat berdiri dari tempat duduknya karena tak bertenaga.
Yudi sebagai kakek pun terdiam, karena semua yang terjadi begitu tiba-tiba.
Sedang Andri merasa bak tersambar petir, anak kandungnya telah tiada, dan penyebabnya adalah dirinya sendiri.
“Kau bercanda kan dok?” ucap Andri dengan pikiran melayang-layang.
“Maaf pak, tapi itulah kenyataannya, hamil muda memang rentan keguguran, kalau tidak di jaga dengan baik, atau pun jika si ibu mengalami stres berat, sekarang kami ingin meminta tanda tangan bapak untuk melakukan kuret, karenakan usia janinnya sudah melebihi 12 minggu, takutnya ada jaringan janin atau plasenta yang tertinggal,” terang sang dokter.
“Ini semua karena mu!” Dimas yang emosi memukul wajah dan tubuh Andri.
“Pembunuh! Kau telah menghancurkan putri ku untuk yang kedua kalinya!! Ayah macam apa kau! Itu anak kandung mu! Pembunuh!!” teriak Dimas.
“Pak, mohon tenang, jangan melakukan keributan disini.” ucap sang dokter.
Dimas pun melanjutkan pukulannya pada Andri, Andri hanya menerima tanpa melawan, Meski sudah di lerai dokter dan Yudi, namun kebrutalan Dimas tak dapat di hentikan.
Alhasil sang dokter meminta beberapa satpam untuk mengamankan kegaduhan yang terjadi.
Dimas sebagai pelaku, di bawa keluar dari area rumah sakit, sementara Elia, di bawa ke ruangan rawat lain.
“Bagaimana pak? Kami butuh persetujuan bapak,” tanya sang dokter kembali. Andri dengan berat hati, akhirnya memberikan tanda tangannya.
“Terimakasih banyak pak.” sang dokter pun ke ruangan untuk melakukan kuret.
“Ya Allah, apa yang ku lakukan, anak ku tiada karena ulah ku sendiri.” Andri menangis sesungukan menyesali keputusannya yang terburu-buru.
Yudi dan Rahma memeluk putra sulung mereka yang terpuruk.
“Sabar nak, bagaimana pun semua telah terjadi,” ucap Yudi.
“Ini salah ku, tak mendengar perkataan kalian, maafkan aku bu, yah, sudah melawan kalian semua.” hati Andri sangat sakit atas kehilangan anaknya.
“Sudah Ndri, perbanyak istighfar, mungkin ini teguran dari Allah untuk kita semua,” ucap Rahma.
5 jam kemudian, setelah kuretase selesai, sang dokter keluar ruangan.
“Bagaimana dok keadaan Arinda?” tanya Andri.
__ADS_1
“Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar, dan bu Arinda baik-baik saja, tapi tolong jangan membuat bu Arinda resah, hibur dia, karena keadaan psikisnya sangat terguncang saat ini.” terang sang dokter.
“Baik dok,” ucap Andri. Setelah itu, Andri dan kedua orang tuanya masuk ke ruangan Arinda.
Wajah Arinda yang tak sadarkan diri nampak pucat, Andri benar-benar merasa bersalah melihat kondisi istri keduanya.
Ia pun mendekat, dan duduk di sebelah ranjang Arinda.
“Maafkan aku Nda, maafkan aku.” ucap Andri seraya mengelus puncak kepala Arinda.
Sentuhan dari sang suami, membuat Arinda terbangun.
“Dimana aku?” tanya Arinda linglung.
“Kau sudah bangun Nda?” Andri memeluk Arinda.
“Mas, kenapa aku ada di rumah sakit?” Andri tak mampu mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada Arinda.
Kemudian Arinda ingat kalau ia mengalami pendarahan.
“Mas, anak ku, anak ku baik-baik saja kan?” tanya Arinda.
“Itu..., Arinda, sebaiknya kau tidur kembali.” ujar Andri yang tak bisa jujur.
Rahma hanya bisa menangis, sebab ia juga pernah mengalami keguguran, ia tahu persis rasanya kehilangan.
“Mas! Katakan pada ku! Anak ku baik-baik saja kan?!” Arinda memegang perutnya yang kini datar.
Ia juga melihat raut kesedihan di wajah suami dan kedua mertuanya.
“Hah! Katakan! Bicaralah! Anak ku..., anak ku..." Arinda yang terbaring di atas ranjang terus memegang perutnya dengan menangis histeris.
“Arinda tenang, kita harus tabah.” ucap Andri yang ikut menangis.
“Enggak, anak ku... ini semua karena mu mas! Kau bunuh anak mu sendiri, aku benci kau mas, hiks... ya Allah, kenapa nasib ku malang begini, anak mama... kau dimana sayang, sini mama peluk!” Arinda yang tak dapat menerima kenyataan, mulai berhalusinasi.
Andri pun menekan tombol yang ada di ranjang Arinda, untuk memanggil dokter.
Setelah beberapa saat, sang dokter dan suster pun tiba.
“Tolong dok, istri ku sangat histeris, tolong dok,” pinta Andri.
Andri dan para suster pun memegangi tubuh Arinda yang meronta-ronta. Kemudian sang dokter memberi suntikan bius, agar Arinda tertidur kembali.
“Mas, kau pembunuh, ingat itu baik-baik, anak mu pasti sangat membenci mu, kau telah merenggut kehidupannya.” perlahan-lahan pandangan Arinda mengabur, seiring dengan itu, ia pun tak sadarkan diri.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1