Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_15


__ADS_3

Keesokan harinya, Sila nampak tengah duduk di atas brangkar, kondisi tubuhnya sudah mulai membaik.


Sila masih kepikiran soal semalam, saat Aldo mengatakan jika dirinya tengah hamil.


Ada getir bahagia dalam hati Sila, tapi saat mengingat kondisi Rafael yang sekarang, air matanya seketika luruh, rasa tak sanggup melewati cobaan yang tengah mengujinya.


Andai Sila bisa memilih, pasti ia akan memilih untuk menggantikan posisi suaminya.


Selang beberapa menit, Aldo masuk ke ruang rawat Sila, tampak Sila masih terduduk sembari memegang kertas hasil pemeriksaan dirinya.


Namun air matanya terus saja menetes, Aldo yang melihatnya bergegas menghampirinya.


"Sila, kamu kenapa? Kok nangis?" tanya Aldo, yang merasa heran dengan kakak iparnya itu.


Mendengar suara Aldo, Sila segera menghapus air matanya, meski hatinya terasa sangat sedih, tapi Sila tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain.


"Aku enggak apa-apa kok Do, aku bingung aja, aku bahagia atas kehamilanku, tapi aku juga sedih dengan kondisi kak Rafael yang sekarang," pungkas Sila.


"Iya aku tau, kita berdo'a saja, semoga kak Rafael cepat sembuh," sanggah Aldo. Sila hanya tersenyum dan mengangguk.


***


Sementara itu, saat ini Aurel berada di ruang rawat Rafael, ia nampak sendiri, padahal biasanya Aurel selalu bersama dengan Maya.


Aurel terlihat tengah duduk di samping Rafael, sorot matanya menunjukkan rasa kebencian.


"Rafael, aku bisa saja melenyapkan kamu sekarang juga ... tapi aku belum puas melihat wanita yang kamu cintai itu menderita, jadi kamu tunggu saja ya," ucap Aurel dengan senyum liciknya.


Rasa benci dan dendam telah menguasai Aurel. Bukankah dia yang lebih dulu meninggalkan Rafael, saat Rafael yakin jika Aurel adalah gadis baik-baik.


Namun Aurel lebih memilih pergi dengan laki-laki lain, tanpa adanya penjelasan.


Namun setelah Rafael benar-benar melupakan cinta masa lalunya, dan berhasil membuka hati untuk wanita lain, justru Aurel datang lagi.


Kedatangan Aurel hanya untuk membuat hancur hubungan Rafael dan Sila.


Tak lama kemudian, Sila dan Aldo tiba di depan ruang rawat Rafael, saat hendak masuk, tiba-tiba Aurel keluar.


Hal itu membuat Aldo merasa curiga, tapi tidak bagi Sila, ia sama sekali tidak menaruh rasa curiga terhadap wanita liar seperti Aurel.


Justru Sila tersenyum ramah, tapi hanya tatapan sinis dan meremehkan yang Sila dapat.


Sila tau jika Aurel sangat membencinya, dan hal itu wajar ia dapatkan, karena secara Aurel masih tidak rela Rafael menikah dengan dirinya.


Setelah di dalam, Sila segera duduk di samping Rafael, meski sedih, tapi Sila berusaha untuk tetap tegar.


Sila kembali menggenggam erat tangan Rafael, lalu menempelkannya di pipi mulusnya.


"Kak Rafael harus kuat ya, Sila yakin kalau Kakak bisa melewati ini semua, Sila akan tetap di samping Kakak, apapun yang akan terjadi," lirih Kaysila, air matanya seketika menetes.


"Kakak harus berjuang untukku dan juga untuk calon anak kita," ucap Sila, lalu berdiri dan menempelkan tangan Rafael di perutnya yang masih datar.


"Kakak tau enggak, di sini ada calon anak kita, meski sebelumnya kita belum pernah merencanakan untuk segera memiliki momongan, tapi Sila yakin, kak Rafael pasti bahagia dengan kabar ini ... jadi Sila mohon, kak Rafael harus berjuang," ungkap Kaysila dengan air mata yang semakin deras.


Aldo hanya bisa menatap iba terhadap dua insan yang ada di hadapannya itu.


Aldo tau, dulu mereka memang saling mencintai, tapi atas kesalahannya sendiri, kini Aldo kehilangan wanita yang pernah mengisi hari-harinya.


"Sil, aku keluar dulu ya, mau cari makan," pamit Aldo, seraya berjalan menghampiri Kaysila.


"Iya Do," sahut Sila.


Aldo pun bergegas keluar dari ruangan tersebut, dan seperginya Aldo, Maya dan Aurel tiba-tiba datang.

__ADS_1


Hal itu membuat Sila terlonjak kaget, ia masih ingat kejadian semalam, di mana ibu mertuanya melarang Sila untuk menemui sang suami.


Kedua wanita itu perlahan masuk ke dalam, seketika Kaysila bangkit dari duduknya.


Tubuhnya terasa gemetar, ia takut jika mertuanya akan berbuat yang tidak-tidak lagi padanya, apa lagi melihat tatapan dari dua wanita itu yang sangat tajam.


Benar saja, amarah Maya kembali memuncak, sorot matanya yang tajam, menunjukkan rasa kebencian yang teramat dalam pada diri Sila.


Dengan cepat Maya berjalan menghampiri Sila, lalu menarik tangannya dan mendorong tubuh Sila agar menjauh dari putranya.


Kaysila hanya bisa meringis menahan sakit, sakit di badan dan juga di hatinya.


Kemudian Maya kembali mendekati Sila dengan sorot mata yang sangat tajam, bak singa yang siap menerkam mangsanya.


"Kamu itu punya telinga atau tidak sih, saya sudah peringatkan kamu untuk menjauhi putra saya, tapi kamu masih berani menunjukkan muka kamu ini di hadapan saya," tandas Maya, seraya menoyor-noyor kepala Kaysila dengan kasar.


"Sila minta maaf ma ... Sila hanya .... " ucapan Sila terpotong, lantaran Maya langsung mendorong tubuh Sila hingga jatuh tersungkur.


"Pergi dari sini! Jangan pernah temui anak saya lagi, mengerti!" Bentak Maya. Emosinya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.


Kaysila hanya bisa menangis, ia rela di seperti itu, asalkan Sila diperlakukan seperti itu, asal ia masih  diperbolehkan bertemu dengan suaminya.


Laki-laki yang sangat Kaysila cintai, laki-laki yang dengan tulus mencintainya.


"Kalau aku jadi kamu, mending pergi aja lah, tapi sepertinya perempuan tidak tau diri kayak kamu, mana tau rasa malu, sudah di larang tetap saja ngotot," sindir Aurel, seraya menatap sinis ke arah Sila.


Kaysila pun bangkit, meski hatinya hancur tapi ia harus tetap tegar.


Sebelum Sila melangkah pergi, ia menoleh ke arah Rafael yang masih terbaring lemah.


Air mata luruh semakin deras, setelah itu Sila melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat suaminya.


Maya dan Aurel tersenyum puas melihat Sila menderita seperti itu, dan itu baru awal saja, jika Sila masih ngotot untuk menemui Rafael lagi, mereka akan melakukan hal yang lebih kejam dari itu.


***


Aldo takut jika nanti di rumah ibunya berbuat yang tidak-tidak, soalnya Aldo tau jika ibunya tengah berada di rumah.


Sebelum Sila pulang, ia meminta pada Aldo untuk menemaninya ke ruang rawat Rafael terlebih dahulu.


Sila takut jika sendiri, nanti ibu mertuanya akan marah-marah lagi padanya, karena ia masih ingat betul seperti apa perlakuan mertuanya itu.


Perlahan Sila membuka pintu ruang rawat suaminya, ia pun berjalan masuk ke dalam.


Kini Sila tengah berdiri di samping Rafael, perlahan Sila meraih tangan suaminya itu lalu dicium punggung tangan Rafael, lagi-lagi air mata Sila menetes.


"Kak, Sila pulang dulu ya, nanti Sila balik lagi, semoga kak Rafael cepat sadar, Sila udah rindu dengan Kakak," lirih Sila seraya menggenggam erat tangan suaminya.


Setelah itu, Sila membungkukkan badannya, lalu perlahan ia mencium pipi Rafael.


Entah dapat keberanian dari mana, sehingga Sila mampu melakukan itu, padahal sebelumnya ia tidak pernah berani.


"Iya love you Kak," bisik Kaysila. Tiba-tiba ekor mata Rafael berembun, hanya saja Sila tidak menyadarinya.


Setelah itu, Sila beranjak bangkit dan tak lupa ia menghapus air matanya.


Lalu Aldo dan Sila bergegas keluar, dan melanjutkan tujuannya untuk pulang ke rumah, meski terasa berat bagi Sila, tapi ia ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Dalam perjalanan pulang, Aldo dan Sila sama-sama diam, mereka ada pada pikirannya masing-masing.


Aldo lebih fokus menyetir, sedangkan Sila lebih suka memandang ke luar jendela, melihat kendaraan yang berlalu-lalang membelah jalanan ibu kota.


Hanya butuh waktu satu jam, mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di halaman depan rumah.

__ADS_1


Sila bergegas keluar dari mobil, begitu juga dengan Aldo.


Keduanya segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Belum sempat masuk ke dalam, mereka berpapasan dengan Sukma, Neneknya.


"Loh, kalian sudah pulang?" tanya Sukma, yang merasa sedikit terkejut.


"Iya Nek, Nenek mau kemana?" tanya Sila.


"Nenek mau ke RS, Do kamu bisa nggak anterin Nenek dulu," jawab Sukma. Lalu meminta tolong pada Aldo, untuk mengantarnya ke RS.


"Ya udah ayo Nek," sahut Aldo.


"Sayang, Nenek ke RS dulu ya, kamu istirahat dulu saja di rumah," pesan Sukma, pada cucu menantunya itu.


"Iya Nek, hati-hati ya Nek," balas Sila, dengan tersenyum.


Setelah itu, Aldo dan Sukma bergegas keluar dan menuju ke mobil.


Sementara Sila langsung naik ke atas menuju ke kamarnya, tapi belum sempat ia masuk ke dalam, Maya dan Aurel sudah menghadangnya di ujung tangga.


Sila pun menghentikan langkahnya, tetapi tidak untuk ibu mertuanya, Maya bergegas turun ke bawah dan langsung menghampiri Kaysila.


Namun ada yang berbeda dengan Maya hari ini, biasanya ia akan selalu memasang wajah garangnya setiap kali bertemu dengan Sila, tetapi sekarang tidak.


"Kamu sudah pulang ya?" tanya Maya dengan senyum terpaksa.


"I-iya ma," jawab Sila gugup. Sila benar-benar merasa heran dengan sikap mertuanya itu.


"Kamu pasti capek kan? Apa lagi kalau harus bolak-balik dari RS, terus pulang ke rumah, mama punya saran untuk kamu biar enggak capek," ungkap Maya dengan begitu meyakinkan. Hal itu membuat Sila sedikit tersenyum.


"Apa itu ma?" tanya Sila dengan sangat antusias.


"Aurel, ke sini Sayang," panggil Maya. Tak lama kemudian Aurel turun dengan membawa koper, lalu ia lempar ke arah Kaysila.


Sila yang awalnya tersenyum, kini senyuman itu meredup, terlebih ia sangat mengenal jika koper yang Aurel lempar adalah koper milik Kaysila.


Dalam hati Sila bertanya-tanya, apa maksud dari kedua wanita itu.


"Biar kamu tidak capek bolak-balik lagi, sekarang kamu pergi dari sini, bawa barang-barang murahan kamu itu, dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini, mengerti," tutur Maya dengan suara yang penuh penekanan.


Bagai di sambar petir di siang hari, Sila tidak pernah menyangka jika ibu mertuanya akan berbuat setengah itu terhadapnya.


Seketika air mata Sila menetes, sakit hati dan pikiran yang kini ia rasakan.


"Salah Sila apa ma?" tanya Sila dengan air mata yang terus mengalir.


"Salah kamu adalah, telah masuk ke dalam keluarga saya, dan telah masuk ke dalam kehidupan anak saya, itu adalah kesalahan terbesar kamu, jadi sebelum kesabaran saya habis, silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini," papar Maya, dengan menahan emosinya.


Sila hanya bisa menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya, mertuanya benar-benar sudah sangat tega.


Hancur sudah impiannya untuk hidup bahagia bersama dengan Rafael, lelaki yang sangat Sila cintai.


Merasa geram, Aurel menarik tangan Sila dengan kasar, lalu menyeretnya keluar dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur.


Begitu juga dengan Maya, ia melempar koper milik Sila, tepat ke arahnya.


"Sekarang cepat angkat kaki dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi ke sini," usir Maya. Lalu kedua wanita itu masuk ke dalam dan membanting pintu rumahnya dengan sangat kasar.


Dengan mengumpulkan sisa tenaganya, Kaysila mencoba untuk bangkit, perlahan Sila melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah itu, rumah yang memiliki banyak kenangan bersama dengan suami tercintanya.


Pernikahan yang belum genap satu tahun itu terancam berpisah.

__ADS_1


Seharusnya bahagia yang Kaysila dapatkan, tapi semua itu hanya impian belaka.


"Maafin Sila Kak, Sila tidak bisa bertahan lagi di rumah ini, tapi Sila janji, Sila akan tetap mencintai kak Rafael, karena Kakak adalah suami sah Sila, dan ayah dari anak yang Sila kandung," ratap Sila, seraya mengelus perutnya yang masih datar, matanya menatap nanar ke rumah yang akan ia tinggalkan.


__ADS_2