Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 151 (Mandi)


__ADS_3

Pukul 00:15, Beeve dan anaknya masih sama-sama menangis, ia yang merasa udara malam itu sangat dingin turun dari ranjang untuk mengambil selimut tambahan. Ia yang punya cukup tenaga berjalan perlahan menuju lemari.


Setelah selimut berhasil Beeve ambil, ia kembali lagi ke ranjang.


“Kok dingin sih,” gumam Beeve.


Kemudian ia juga menyelimuti anaknya, perlahan tangisan sang bayi kecil itu pun berkurang, hingga terdiam manis.


Beeve pun baru menyadari, kalau anaknya selama beberapa jam ini menangis karena kedinginan.


“Ya Allah, aku kok bodoh banget sih, kalau tahu dia kedinginan pasti sudah cepat-cepat ku selimuti.” Beeve yang ingin anaknya hangat, kembali lagi menuju lemari untuk mengambil hijab segi empat polosnya.


“Ini bahannya lembut, pasti cocok di kulitnya.” gumam Beeve, tak lupa ia membawa beberapa baju dan celana gantinya yang bersih, agar ia tak bolak-balik ke lemari.


Kemudian Beeve kembali ke ranjang, dan dengan lembut ia membalut kepala bayi kecilnya, agar tak masuk angin.


“Kasihan kau nak, semua barang mu ada di kamar mu, harusnya kau sudah pakai baju baru, topi baru, aroma tubuh mu juga selayaknya mirip bayi lain, yang di balut hangatnya minyak telon, tapi... hiks.. maafkan mama, kalau sekarang kau berbau amis, hiks...” Beeve menangis meratapi nasib putrinya yang begitu malang.


“Mama gagal menjaga mu sayang, maafkan mama.” Beeve terus meminta maaf pada putrinya, yang membuat ia tambah resah, darah nifasnya terus mengalir, sementara ia tak punya stok pembalut di kamarnya, alhasil ranjang yang mereka tiduri semakin memerah.


__________________________________________


Andri yang baru saja keluar meeting dari kantor kembali mendial nomor Beeve, namun sayangnya, nomor sang istri belum kunjung aktif, seluruh akun media sosialnya juga tak online.


“Kenapa dia enggak aktif sih? Dari tadi pagi dia enggak menyalakan ponselnya?” gumam Andri. Ia yang khawatir pun menghubungi Arinda.


📲 “Halo Nda,” Andri.


📲 “Iya mas? Tumben menelepon?” Arinda.


📲 “Iya, maaf baru bisa mengabari, apa kau sudah sehat?” Andri.


📲 “Alhamdulillah, sudah mendingan mas,” Arinda.


📲 “Syukurlah kalau begitu, oh iya, apa kau tahu Beeve ada dimana?” Andri.


📲 “Beeve?” Arinda.


Arinda yang ingin membuat Andri marah pun membuat cerita palsu soal madunya.

__ADS_1


📲 “Dia dari kemarin pergi dari rumah mas, dan sampai sekarang masih belum pulang juga,” Arinda.


📲 “Hah? Kau serius Nda? Mana mungkin sih Beeve pergi?” Andri.


📲 “Dia memang sudah pergi mas, dia juga membawa kopernya, saat ku tanya dia mau kemana, katanya itu bukan urusan ku,” Arinda.


📲 “Kau jangan bercanda Nda, enggak mungkin dia meninggalkan rumah, apa lagi dengan pengawasan ketat dari para satpam yang menjaga rumah, aku sudah berpesan, agar Beeve tak boleh keluar dari pekarangan rumah,”


Andri.


Bisa dong mas, kan para satpam yang kau pekerjaan sudah ku ganti satpam baru semua, batin Arinda.


📲 “Ya ampun mas, kau pikir aku berbohong? Kalau kau enggak percaya, kenapa enggak telepon dia saja? Kenapa harus bertanya pada ku? Kau ini bikin kesal mas! Tiba-tiba menelepon hanya untuk menanyakan dia ada dimana pada ku yang statusnya istri mu juga, sementara aku selama kau pergi tak dapat kabar sedikit pun, jangan kau hubungi aku kalau hanya untuk bertanya soal dia!” Arinda.


Arinda menutup panggilan dari Andri, “Yang kau ingat hanya dia, dia dan dia! Apa bagusnya sih si Beeve itu?! Semoga kau lama di Meksiko mas! Agar aku bisa leluasa menyiksa Beeve, setelah aku puas, aku akan membuangnya sejauh mungkin! Hahaha.” Arinda yang telah menyusun banyak rencana merasa tak sabar untuk menjalankannya.


__________________________________________


“Enggak mungkin banget kalau dia pergi, coba aku tanya kepala satpam.” Andri pun mencoba mendial kontak kepala satpamnya, status berdering namun tak kunjung di angkat, meski Andri telah berkali-kali mendialnya.


“Ada apa ini?” Andri bingung karena tak biasanya sang kepala satpam tak mengangkat teleponnya.


Ingin menelepon para Art, sayangnya Andri tak memiliki kontak mereka satu pun.


“Baiklah, aku akan menyuruh Arman saja yang ke rumah,” gumam Andri.


Tanpa berlama-lama, Andri pun mendial kontak sahabatnya tersebut.


📲 “Halo Man,” Andri.


📲 “Iya Ndri, ada perlu apa? Aku sedang sibuk,” Arman.


📲 “Aku mau minta tolong, untuk melihat Beeve ke rumah,” Andri.


📲 “Hah? Apa enggak salah? Urusan rumah tangga mu aku turun tangan juga?” Arman.


📲 “Kalau enggak genting, aku takkan minta tolong,” Andri.


📲 “Memangnya ada apa dengan Beeve?” Arman.

__ADS_1


📲 “Kata Arinda, Beeve kabur dari rumah, tapi rasanya aku enggak percaya, aku sudah menghubungi kepala satpam di rumah, tapi enggak pernah di angkat,” Andri.


📲 “Baiklah, besok setelah pulang dari kantor, aku langsung ke rumah mu,” Arman.


📲 “Terimakasih banyak Man,” Andri.


📲 “Sama-sama,” Arman.


Setelah panggilan telepon terputus, Andri merasa sedikit lega, setidaknya ada orang yang bisa ia andalkan untuk memantau keberadaan Beeve.


____________________________________________


Pagi harinya, Beeve yang baru bangun tidur merasa sangat keroncongan, sebab dari kemarin siang ia tak makan. Beeve pun beranjak dari ranjang menuju pintu.


Tok! tok tok tok!!


“Tolong buka pintunya!! Desi!!! Zaskia!! Tolong buka!! Aku lapar!! Arinda! Tolong... Aku lapar.” Beeve terus mengetuk pintu, namun tak ada yang bersedia menolong dirinya.


Cukup lama Beeve meminta untuk di bukakan pintu, hingga ia merasa lelah, karena tak ada pilihan lain, akhirnya Beeve beranjak menuju dispenser.


Gluk gluk gluk!!


Ia pun mengisi perutnya dengan air untuk mengganjal rasa laparnya.


Setelah itu, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai mandi Beeve menggendong putrinya menuju wastafel, dan menutup lubang saluran wastafelnya, agar air menggenang, karena suhu air masih terasa dingin, Beeve mengambil air panas dari dispenser untuk di campur ke air dingin yang berada di wastafel.


“Sayang, kita mandi ya.” Beeve membuka gaun pembalut bayinya, kemudian dengan lembut meletakkan tubuh bayinya di atas wastafel.


Oek.. oek... oek..., bayi kecil Beeve menangis saat pertama kali berkenalan dengan air.


“Kok nangis sayang?? Jangan nangis ya, anak perempuan itu harus sering mandi sayang, biar cantik, oke.” Beeve pun memandikan putrinya dengan memakai sabun cair yang ia pakai sehari-hari.


Setelah selesai, Beeve membalut kembali putrinya dengan gaun bersih miliknya. Selanjutnya, ia memberi asih pada sang buah hati.


Beeve pun menatap lekat wajah sang buah hati, “Wajah mu, mirip sekali dengan Cristian, kenapa enggak mirip mama saja sih sayang.” Beeve yang berkata demikian membuat sang buah hatinya menangis.


“Hei sayang, apa mama berkata salah pada mu?” Beeve kembali memberi asi pada sang buah hatinya.


Bisa-bisanya kau membelanya, pada hal dia saja enggak pernah perduli pada mu nak, batin Beeve.

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2