
Keesokan harinya, pengerjaan renovasi restoran Bia Food pun di laksanakan.
Andri yang mendampingi Beeve begitu sibuk memantau pembangunan yang sedang berlangsung.
Mas Andri benar-benar berusaha melakukannya dengan sepenuh hati, batin Beeve.
Siang harinya, Andri yang berkeringat mendatangi Beeve yang menunggu di sebuah kafe yang ada di seberang jalan restoran istrinya.
“Sayang, kau pasti cape ya?” ucap Andri seraya duduk si samping Beeve.
“Enggak kok mas, justru kau yang paling cape.” Beeve yang pengertian langsung memesan minuman segar untuk suaminya.
“Kau sudah makan sayang?”
“Belum mas, aku sengaja menunggu mu, agar makan bersama,” ungkap Beeve.
“Ya sudah kalau begitu, kita makan disini saja.” Andri pun memanggil pramusaji, lalu memesan makanan untuk mereka berdua.
“Mas, hari ini kau enggak kerja ya?”
“Aku izin sayang, semua kerjaan ku serahkan pada Arman,” terang Andri.
“Oh begitu rupanya?”
“Iya, aku mau memastikan, kontraktornya melakukan dengan benar, karena aku enggak akan bisa sering kesini untuk melihat langsung.”
“Besok juga bisa mas, kan hari minggu.”
“Kalau besok kita harus pergi melihat rumah baru kita sayang.”
“Rumah baru mas?”
“Iya sayang, karena sekarang aku sudah sehat, aku ingin segera pindah dari rumah ibu, enggak enak numpang lama-lama di rumah orang tua.”
“Ya, kau benar juga sih mas, tapi kita mau pindah kemana?”
“Aku lihat di online, 15 menit dari sini, ada sebuah perumahan baru, ku rasa itu cocok untuk kita berdua, rumahnya juga luas, ya... meskipun enggak sebesar rumah kita yang dulu, 4 kamar dan memiliki lantai 2, ku rasa sudah cukup untuk kita sayang, menurut mu sendiri bagaimana?” Andri sengaja membeli rumah yang lebih kecil, agar Beeve tak terlalu kerepotan.
“Aku setuju dengan mu mas, besar juga hanya menyisakan banyak ruangan kosong,” ucap Beeve.
“Ya sudah, berarti sepakat ya, besok kita kesana untuk lihat-lihat.”
“Iya mas.” Beeve menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Beeve dan Andri pun pergi melihat perumahan yang mereka ingin tempati.
Sekali lihat, Beeve sudah langsung suka, karena tempatnya begitu nyaman dan asri, banyak pepohonan dan rumput hijau di sekitar jalan aspal perumahannya.
Perumahan yang Andri ambil, letaknya paling pinggir, yang memiliki tanah hook, dan di tanah hook itu telah di tanami dengan buah lengkeng, mangga, dan juga jeruk yang tiap ukuran pohonnya hanya setinggi orang dewasa. Dan yang paling penting, jaraknya tak terlalu jauh dari tempat kerja Beeve dan Andri.
“Aku suka mas rumahnya,” ucap Beeve dengan tersenyum lebar.
“Alhamdulillah kalau begitu, bagaimana kalau kita pindah besok saja? Mumpung kau enggak kerja, nanti kita panggil tukang dekorator interior rumah untuk membantu mu menata barang-barang.”
“Besok juga boleh mas.” karena keduanya telah sepakat, mereka pun langsung membayar rumah itu secata lunas. Selanjutnya, Beeve dan Andri pulang ke rumah.
Pada saat makam malam, Andri pun mengutarakan niatnya pada seluruh keluarganya.
“Kita sudah dapat rumah yang akan kita tempati bu, yah.”
“Kalian mau pindah?” tanya Yudi.
“Iya yah,” jawab Andri.
Emir melirik Beeve, saat tahu kekasih hatinya akan pergi.
“Baguslah kalau begitu, kapan kalian pindah?” tanya Rahma.
Uhuk uhuk uhuk!!
“Pelan-pelan Mir!” Rahma mengelus punggung Emir.
“Mendadak banget.” ucap Emir dengan mimik wajah tak terima.
“Mendadak atau tidak, itu bukan urusan mu!” respon Andri begitu pedas pada sang adik.
“Lagi pula, tempatnya dekat dengan kantor mas Andri dan juga restoran ku, selain menghemat waktu, kita juga hemat tenaga, kalau dari sini kan lumayan, dan buat cape banget, pergi pulangnya,” terang Beeve.
“Iya, kau betul Bee, ibu setuju dengan pendapat kalian berdua,” ucap Rahma.
“Memangnya sudah beli property?” tanya Yudi.
“Sudah yah, Andri beli online semuanya, paling besok akan sampai, jam 10:00 pagi.”
“Oh, semoga betah di rumah barunya,” ucap Yudi.
“Tapi kalau kau pindah besok, ibu enggak bisa membantu kalian Bee.”
__ADS_1
“Enggak apa-apa bu, karena kita akan sewa jasa interior rumah bu,” ucap Beeve.
“Oh iya, sekarangkan sudah serba praktis, ibu sampai lupa.”
Emir mengendus dan menelan salivanya, karena kesempatannya untuk terus dekat dengan Beeve makin tak ada.
Beeve dan Andri yang telah selesai makan terlebih dahulu, memutuskan untuk kembali ke kamar mereka.
Setelah keduanya telah luput dari pandangan mata, Rahma pun mulai menegur Emir.
“Heh! Masih belum berubah juga ya!”
“Apa sih bu?! Ibu tiap hari marah-marah mulu, kalau bicara ngegas terus! Sudah mirip motor!”
“Dasar bocah tengil! Ayah!”
“Hem?”
“Nasehati anak mu ini, jangan mengejar-ngejar Beeve terus!”
“Emir.”
“Iya yah?” sahut Emir.
“Sekali lagi kau ketahuan menaruh perhatian atau curi-curi kesempatan mendekati Beeve, jangan salahkan ayah, kalau ayah akan menikahkan mu dengan Helena, meski pun kau tak setuju.”
Yudi yang jarang memberi komentar atas tingkah laku anak-anaknya selama ini membuat Emir jadi bungkam.
“Benar banget yah! Ibu sangat setuju dengan yang ayah katakan, tidak ada penolakan! Kalau main kabur-kaburan lagi, kita coret dari KK (Kartu Keluarga), biar deh dia hidup sebatang kara tanpa keluarga.” Rahma yang telah selesai makan meninggalkan Yudi dan Emir di meja makan.
“Emir, ayah enggak main-main, kelakuan mu jangan melewati batas, kau boleh menyukai wanita mana pun, kecuali Beeve, karena dia adalah kakak ipar mu, perbesar malu mu, jangan membuat malu keluarga, ayah sudah membebaskan mu soal masa depan apa yang kau inginkan untuk hidup mu, jadi jangan membuat ulah!” nasehat Yudi membuat Emir tak berkutik.
Cinta yang ia miliki benar-benar terlarang, tak ada satu orang pun yang mendukungnya, karena itu, Emir merasa gundah dan merana.
“Aku juga ingin melupakannya yah, tapi aku enggak bisa, ayah pikir ini mudah untuk ku?” setelah mengatakan isi hatinya Emir beranjak menuju kamarnya.
Ia yang melewati kamar Andri yang separuh pintunya terbuka melihat, saudaranya tiduran di ranjang, seraya kepalanya di letakkan di atas pangkuan Beeve.
Harusnya aku yang ada disana, andaikan kau bersama ku, pasti Bia masih bersama kita, kenapa Bee? Seperti apapun Andri menyakiti mu, hatimu tetap utuh padanya, andai saja dulu aku tahu kau butuh suami, pasti aku berada di garis depan, menerima mi tanpa syarat, dan tentunya Bia pun masih ada disini, batin Emir.
Emir benar-benar kecewa dengan takdir yang di berikan Tuhan padanya. Ia pun beranjak menuju kamarnya dengan perasaan panas dingin.
“Tuhan, bila memang Beeve bukan jodoh ku, tolong buat aku melupakan dia dengan segera, tapi jika ia memang tulang rusuk ku yang hilang, berikan kemudahan agar aku dengannya bersatu, ku mohon Tuhan, tunjukkan aku jalan yang benar, karena kalau begini terus, aku bisa gila, perasaan ini sungguh menyiksa ku!” mata Emir berkaca-kaca, karena tak dapat menahan penderitaannya.
__ADS_1
...Bersambung......