
Andri yang telah melepas jasnya, segera menuju laci meja rias istrinya.
Mau apa dia? batin Beeve.
Setelah menemukan yang ia cari, Andri pun kembali pada Beeve yang tidur di atas ranjang.
“Itu apa mas?” tanya Beeve.
“Minyak angin.” ucap Andri, kemudian ia pun menyingkap baju Beeve hingga perut mulus istrinya terbuka lebar, setelah itu Andri menepuk-nepuk perut rata milik Beeve.
Pluk pluk!!
“Mas kau mau apa sih?” tanya Beeve kembali.
“Sudah ku duga.”
“Apa mas?”
“Kau masuk angin,” ujar Andri.
“Apa?” Beeve mengernyit, ia yang awalnya berpikir mereka akan berbagi kasih sayang, malah berujung ke pijat memijat.
“Kita buka bajunya sayang.” Andri pun dengan telaten membuka baju Beeve, kemudian ia melumuri perut istrinya dengan minyak angin.
Apa-apaan ini? Dasar mas Andri! batin Beeve.
Andri pun mulai mengurut perut istrinya dengan perlahan, Beeve sendiri bukannya senang malah menunjukkan ekspresi muka masamnya.
“Ayo tengkurap.” titah Andri.
“Mas, harusnya panggil tukang pijat saja, kenapa harus kau sih yang melakukannya?” ucap Beeve dengan perasaan jengkel.
“Nanti tukang urutnya keenakan kalau menyentuh tubuh mu,” terang Andri.
“Ngomong apa sih mas? Itukan untuk kesehatan,” ujar Beeve.
“Kalau hanya sekedar memijat, aku juga bisa.” ucap Andri seraya memijat punggung istrinya.
“Dasar, kurang kerjaan!” pekik Beeve.
“Pekerjaan suami itu ada 2, mencari nafkah dan juga mengurus keluarga, termasuk merawat istri yang sedang sakit, lagi pula aku sudah meninggalkan mu seminggu, jadi wajar kalau aku harus mengurus mu sendiri dengan tangan ku, walau untuk hari ini saja.” terang Andri, yang membuat Beeve menghela nafas panjang, usai mengurut punggung, Andri pun berniat pindah ke area kaki.
“Sudah ah mas!” Beeve menarik kakinya.
“Loh, tanggung sayang.”
“Biar saja!” saat Andri ingin memegang kaki istrinya, Beeve malah menghindarinya.
“Jangan lagi mas, badan ku jadi bau minyak angin semua, lagi pula aku sudah sehat kok!” ucap Beeve dengan wajah jutek.
“Kenapa wajah mu jadi galak begitu sayang?”
“Enggak kenapa-napa mas!” sahut Beeve seraya membuang muka.
“Apa aku berbuat salah pada mu?” tanya Andri yang pura-pura tak tahu alasan istrinya mengamuk.
“Enggak ada mas, aku yang salah, karena terlalu berharap pada mu.” Beeve yang kesal memakai kembali bajunya.
__ADS_1
“Pfft... kau lucu!” Andri mencubit pipi Beeve.
“Lucu dari mana sih mas? Ngeselin banget deh!” Beeve memutar mata malas melihat sang suami yang sok asyik.
“Coba katakan pada ku, apa yang membuat mu marah?”
“Jadi mas enggak tahu alasannya?” Andri menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Luar biasa! Baiklah akan ku beri tahu, biar ingatan mas Andri sehat, tadi di pintu mas sendiri yang mancing-mancing buat masuk kamar, dan enggak cuma itu, di telepon juga sok-sok mesra, mau melalukan itu dengan ku, sekarang pas aku sudah siap, mas malah ngelakuin hal-hal yang tidak perlu, aduh mas! Kau benar-benar menguji kesabaran ku!”
“Maksudnya apa sih sayang?? Melakukan apa?" Andri terus memancing amarah Beeve.
“Iih! Mas Andri! Benar-benar deh, jangan bikin aku tambah kesal!” Beeve saat itu ingin sekali menelan Andri hidup-hidup.
“Sungguh sayang, aku enggak mengerti, mungkin kalau kau bilang, aku bisa menebus kesalahan ku itu,” ucap Andri.
“Kalau enggak ngerti ya sudah, aku mau keluar!” Beeve yang hampir menangis turun dari atas ranjang, namun Andri langsung menangkap tubuhnya, dan menarik Beeve untuk duduk di pangkuannya.
“Lepas! Aku mau nonton tv!” pekik Beeve.
“Tunggu dulu, kau belum jawab pertanyaan ku.” Andri mengelus rambut Beeve yang matanya kini berkaca-kaca.
“Buat apa ku jawab, mas kan tahu maksud ku, kalau memang enggak mau begituan dengan ku, harusnya jangan mancing dong! Dasar pemberi harapan palsu!” Beeve menangis, sebab Andri telah berkali-kali menolaknya.
“Ssstt... jangan nangis, aku kan hanya menyesuaikan situasi, mana mungkin aku menggauli mu saat kau masih sakit, yang ada aku bisa berdosa sayang, yang paling benar ya merawat mu, menunggu kau sampai sembuh total.” Andri mengecup pipi Beeve yang telah basah oleh air mata.
“Alasan, bilang saja mas, kau balas dendam atas apa yang ku lakukan pada mu, apa kau belum puas mengerjai ku?” Beeve menekan giginya kuat-kuat untuk menahan emosinya yang telah memuncak.
“Sayang, aku enggak sejahat itu, aku punya alasan kuat kenapa belum menyentuh mu, maafkan aku yang, kalau telah menyakiti hati mu.” Andri memeluk Beeve seraya menyeka air matanya.
“Lepas mas.” pinta Beeve.
“Mas! Lepas dulu, aku sudah enggak marah lagi pada mu.” Beeve terus meronta dari dekapan Andri.
“Enggak boleh!” Namun Andri malah mengencangkan pelukannya pada sang istri, hingga terdengar bunyi, puuuttt!!!!
Beeve buang angin karena terdesak ingin buang air besar.
“Sayang...” sontak Andri pun melepas pelukannya.
Suami kurang ajar, kalau memukul mu enggak berdosa, sudah ku lakukan! batin Beeve.
“Sayang kau baik-baik saja?!” Andri memutar wajah Beeve jadi menghadap wajahnya.
“Jahat!!!” Beeve yang malu bangkit dari pangkuan Andri, lalu berlari ke dalam toilet untuk buang hajat.
“Astaga, aku sudah buat dia malu untuk yang kedua kalinya,” gumam Andri.
Andri pun tiba-tiba teringat kenangannya bersama Beeve 4 tahun yang lalu, saat mereka bercinta di tengah alam.
“Apa Beeve ku ajak liburan lagi ya? Mungkin keluar negeri? Paris? Swiss? Atau... Kutub Utara? Tapi dapat izin dari ayah enggak ya? Apa lagi aku kan baru masuk kerja, hum...” Andri yang ingin berbulan madu dengan istrinya pun membuat ancang-ancang kemana mereka harus pergi bertolak.
“Sudah waktunya, aku dan Beeve memiliki anak,” gumam Andri.
Sementara Beeve yang ada di kamar mandi menangis tanpa henti, ia teramat malu buang gas di hadapan suaminya.
“Suami gila, enggak berperasaan, aku 2 kali kentut di hadapannya, putus sudah harga diri ku di hadapannya, hiks...”
__ADS_1
Andri yang menunggu Beeve dalam kamar merasa istrinya terlalu lama di kamar mandi.
“Hum... jangan-jangan seperti dulu lagi, karena malu dia enggak mau menampakkan wajahnya pada ku,” gumam Andri.
Khawatir dengan istrinya, Andri pun menuju ke kamar mandi.
Tok tok tok!
“Sayang, kau belum selesai?”
Beeve yang mendengar suara suaminya jadi salah tingkah.
Malunya ketemu mas Andri, batin Beeve.
“Sayang, buka pintunya, kau sudah 1 jam di dalam, ayo gantian!” Tok tok tok! Andri terus mengetuk pintu kamar mandi.
Hingga Beeve yang berada di dalamnya merasa keberatan.
Ceklek! Ia pun keluar dengan menundukkan kepala.
“Ya ampun, kau mau jadi penunggu kamar mandi ya?” ucap Andri seraya mengusap puncak kepala Beeve.
“Hei! Lihat aku.” Andri memegang dagu istrinya.
“Apa?” ucap Beeve, lalu Andri pun dapat melihat mata istrinya yang masih basah.
“Ya ampun, kau masih saja cengeng, pada hal sudah jadi ibu-ibu, malu sama Bia tahu!” Andri meledek Beeve yang tak ada perubahan dari 4 tahun yang lalu.
“Ini semua kan karena mu mas.”
“Iya sayang, aku yang salah, untuk itu, mohon maafkan aku ya, lagi pula untuk apa malu hanya karena kentut sih? Itukan hal yang wajar, dan tandanya sehat, lagi pula aku baru saja mengurut mu, kalau sudah buang gas, artinya anginnya telah keluar,” terang Andri.
“Tapi tetap buat malu tahu mas,” ucap Beeve.
“Untuk apa malu sih? Tahu enggak, ada yang bilang kentut di depan pasangan itu menandakan hubungannya akan awet!” Andri pun membantu menaikkan kepercayaan Beeve.
“Tapi, mas enggak pernah kentut di hadapan ku tuh!” ucap Beeve.
“Ya, kau juga sebenarnya enggak pernah kalau itu di sengaja kan? Sudahlah sayang, masa hanya karena kentut kita jadi bertengkar?!” Andri pun menuntun Beeve kembali ke ranjang.
“Kepala mu masih sakit enggak?” tanya Andri.
“Sudah sembuh mas,” jawab Beeve.
“Kalau begitu entar malam kita begituan ya,” ucap Andri.
“Enggak mau!”
“Kok enggak mau?”
“Entar bohong lagi.”
“Enggak sayang.” Andri pun mengecup pipi Beeve, “Ih, bau minyak angin!” Andri mengajak Beeve bercanda.
“Inikan ulah mu mas.”
“Tapi aku suka, hehehe.”
__ADS_1
...Bersambung......