
Decak!! Decak!! Detcak!! Bunyi air kian bertambah dari hasil tekanan yang Andri berikan.
Perlahan awan gelap mulai menyelimuti langit, semenit kemudian rintik gerimis turun membasahi bumi, namun dua insan yang melakukan penyatuan di sungai nan jernih itu belum menyelesaikan hajatnya.
Andri semakin tak bisa melupakan Beeve, terlebih raut wajah Beeve begitu menggodanya.
“Kenapa mata mu selalu menatap ku mas?” tanya Beeve.
“Aku enggak tahu sayang, yang jelas kau sangat mempesona,” jawab Andri.
“Kalau begitu, jadikan aku seorang di hati mu selamanya mas.”
“Itu sudah jelas, jangan ragukanagu,” ucap Andri.
“Jangan kau berikan tubuh mu pada orang lain, biar hanya aku pemilik mu seutuhnya, ku mohon tepati itu.” pinta Beeve seraya mempagut bibir Andri.
Fokus Andri jadi buyar, mengingat hal itu benar-benar tak mungkin ia lakukan.
“Aku mau keluar!!” ucap Andri.
“Aku juga mas!” setelah keduanya mencapai puncak, mereka membersihkan diri.
Beeve juga tak hentinya melempar senyum pada Andri.
Dengan berpegangan tangan di bawah guyuran hujan yang semakin kencang mereka kembali ke dalam villa dengan perasaan bahagia.
Kebersamaan kali ini adalah yang paling indah terimakasih suami ku. ucap Beeve dalam hatinya.
Liburan telah usai, Beeve dan Andri pulang setelah Magrib.
Andri sibuk menyetir, sedangkan Beeve terlelap di sebelahnya.
Setelah menempuh perjalanan lewat tol selama 2 jam, akhirnya mereka tiba di rumah.
Andri membuka pintu mobil dengan perlahan, lalu ia turun, selanjutnya membuka pintu dari arah Beeve sepelan mungkin, agar istrinya tak terbangun.
Dengan tubuh kekarnya, ia menggendong Beeve ala bridal style menuju rumah.
Winda sang asisten yang tahu majikannya telah kembali membukakan pintu.
Andri dengan penuh cinta menggendong Beeve sampai ke dalam kamar.
Perlahan ia rebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, ia buka sepatu ceper yang Beeve kenakan, selanjutnya ia menyelimuti tubuh istrinya yang tertidur lelap.
Pasti ia lelah karena ulah ku, batin Andri.
__ADS_1
Andri yang masih memiliki pekerjaan, bergegas menuju ke ruang kerjanya di lantai 2.
Ceklek!!
Setibanya Andri di ruang kerja, ia duduk di atas kursi empuknya, tak lupa ia mengeluarkan handphone dari sakunya.
“Pasti sudah banyak pesan masuk.” gumam Andri, sebab dari Arinda mengganggunya, ia mensetting handphonenya jadi mode pesawat.
Ketika ia mengubah menjadi mode normal, benar saja dugaannya, 3000 panggilan telepon Arinda masuk tanpa jeda sedetik pun. Tak sampai disitu, segala aplikasi Andri di penuhi pesan masuk dari Arinda, mulai dari pesan kontak handphone, Whats*pp, Insta*ram sampai dengan pesbuk page Andri.
Kau dimana mas? Cepat aktifkan handphone mu, pulanglah secepatnya, ✉️Arinda.
Satu isi pesan yang sama, di kirim ratusan kali ke seluruh media sosial Andri.
“Dasar wanita gila!” pekik Andri. Tak lama panggilan dari Arinda kembali masuk.
📲 “Halo mas, kau dimana sih? Kenapa nomor mu enggak aktif-aktif?” Arinda.
📲 “Kemana pun aku pergi, bukan urusan mu,” Andri.
📲 “Mas, sekarang aku ini istri mu, walau hanya siri, tapi aku juga berhak dapat keadilan yang sama dengan Beeve,” Arinda.
📲 “Sudahlah, jangan bawa-bawa Beeve, lagian itu resiko jadi istri kedua, kalau bukan karena anak ku, pasti kau sudah ku buang jauh-jauh,” Andri.
📲 “Kau dapat lebih banyak darinya loh, salah satu contohnya, mengambil yang bukan hak mu, sedangkan dia tak pernah mengusik mu, sudahlah, aku ingin bekerja, jangan ganggu aku,” Andri.
📲 “Kapan kau kemari mas? Anak mu sangat rindu,” Arinda.
📲 “Aku enggak bisa bilang kapan, yang jelas lihat situasi, jaga anak ku baik-baik,” Andri.
📲 “Mas! Aku juga rindu pada mu, aku membutuhkan mi di samping ku,” Arinda.
📲 “Terserah kau mau bilang apa, yang jelas jangan dial handphone ku seperti orang gila, kau bisa mengganggu pekerjaan ku kalau tetap begitu, dan kalau kau masih mengulanginya, ku blokir kau dari segala akses,” Andri.
Dengan memutar mata malas, Andri menutup teleponnya.
“Baru juga jadi istri, tapi tabiatnya sudah kelihatan,” gumam Andri kesal.
Karena ingin melanjutkan pekerjaan yang sempat ia tinggalkan, seprofesional Andri bisa, ia menyampingkan masalah rumah tangganya yang membuat ia pusing.
___________________________________________
Arinda yang di perlakukan tak pantas oleh Andri tambah emosi.
“Aku enggak pantas di perlakukan begini, harusnya aku yang di tempat Beeve, karena apa? Karena aku adalah gadis suci untuk mas Andri, dan anak yang ada dalam kandungan ku adalah anak biologisnya, tapi kenapa Tuhan begitu enggak adil? Beeve..., sudah enggak perawan, berbohong, membawa anak lagi untuk mas Andri, ya Tuhan! Kenapa orang baik dan lugu seperti ku selalu kurang beruntung?” Arinda mengoceh sendiri di dalam kamarnya.
__ADS_1
“Ini enggak bisa di biarkan, aku harus mengambil apa yang harusnya menjadi milik ku, akan ku singkirkan semua benalu yang menghalangi jalan ku, akulah istri resmi mu yang sah mas! Bukan pelacu* itu!” pekik Arinda.
_______________________________________________
Keesokan harinya, Andri yang baru tiba di kantor dengan senyum ceria menyapa Yeni sang sekretaris.
“Selamat pagi Yen.” lalu Yeni bangkit dari duduknya.
“Selamat pagi juga pak,” sahut Yeni.
Ketika Andri membuka pintu ruangannya, ia kaget bukan main, sebab Arinda telah berdiri di depan meja kerjanya.
Andri pun buru-buru mengunci pintu, dan mendekat ke istri keduanya itu.
Arinda yang tahu Andri telah datang melempar senyuman manis.
“Selamat lagi mas,” ucap Arinda.
Sapaan ramah arinda mendapat respon pedas dari Andri.
“Mau apa kau kesini?!”
“Aku rindu mas.” ucap Arinda yang ingin memeluk Andri, namun Andri menepis tangan Arinda.
“Pulang kau sekarang!” hardik Andri.
“Mas, aku baru saja sampai, masa aku harus pulang, dari rumah kesini kan jauh, aku cape, dan anak mu juga cape mas,” terang Arinda.
“Sudah tahu jauh, kau masih nekat! baru jam 08:00 pagi kau sudah sampai kantor? Kau ini! Benar-benar ya!” emosi Andri kian berkobar.
“Habis kau tak memberi ku kepastian, kapan akan pulang,” ucap Arinda.
Andri memijat pelipisnya, baru saja ia keluar dari surga, kini harus masuk dalam neraka.
“Huufff!!! Pulanglah, jangan kau berkeliaran di kantor, kau kan bukan karyawan sini, yang ada nanti kau malah di terpah gosip,” ujar Andri.
“Aku akan pulang, kalau kau janji akan datang ke rumah setelah pulang bekerja, bagaimana pun, aku dan anak mu membutuhkan mu mas, kau boleh membenci dan mengabaikan ku, tapi jangan lakukan ini pada anak kita, kerinduan yang kurasakan bukan semata-mata karena keinginan ku saja, tapi anak mu juga, kau enggak tahu rasanya mas, mengandung tanpa di temani seorang suami, kadang aku menginginkan sesuatu tengah malam, tapi tak mungkin aku keluar sendiri, kalau menyetir aku takut kenapa-napa, karena usia kandungan ku masih sangat muda, kalau mobil aku enggak bisa bawa,” terang Arinda.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1