
“Tapi bang, aku...”
“Lagi pula biasa kok, kalau adik suami menikahi istri abangnya, kalau masih disini, nikah! Yakinlah, kau enggak akan menyesal.” Beeve yang pada dasarnya anak yang patuh tak dapat menolak keinginan abangnya.
Dengan menahan air mata, Beeve mengangguk, “Baiklah bang.”
Emir sendiri terperanjat, saat Beeve setuju akan menikah dengannya.
“Selesai masa Iddah, kau wajib menikah dengan Emir, mengerti!” titah Julian.
“Iya bang,” jawab Beeve.
“Jul, kau jangan paksa Beeve begitu, kalau dia memang tak siap.” ujar Emir yang tak ingin pernikahannya gagal lagi karena adanya unsur pemaksaan.
“Tenang saja, mungkin sekarang hatinya berontak, tapi nanti dia akan sadar, semua yang ku lakukan demi kebaikannya,” terang Julian.
5 bulan kemudian, setelah selesai masa Iddah, Beeve dan Emir pun menikah, untuk pernikahan mereka hanya di hadiri oleh sanak saudara terdekat. Kabar bahagia itu pun sampai ke telinga Helena.
Pada akhirnya, mereka bersatu juga, andai dulu aku tak salah kaprah, pasti semua ini takkan terjadi, tanpa sadar aku memberi peluang untuk mereka bersatu, batin Helena.
Bia yang mendapat ayah baru merasa senang, karena sang ibunda kini ada yang mendampingi.
“Mulai sekarang, panggil om papa ya Bia.” ucap Emir seraya memangku Bia.
“Iya pa, Bia enggak nyangka, dalam waktu dekat punya 3 papa,” ujar Bia.
Beeve yang mendengar, merasa malu, pasalnya ia seperti suka gonta ganti pasangan.
“Enggak apa-apalah, itu artinya mama punya rezeki banyak,” terang Emir.
“Iya pa, kalau gitu Bia mau main dulu ya pa.” Bia pun meninggalkan Beeve dan Emir di kamar pengantin yang penuh akan dekorasi indah.
Beeve yang duduk di pinggir ranjang diam tak mau bicara, sebab ia merasa canggung dengan status mereka yang sekarang.
Begitu pula dengan Emir, ia tak berani mengajak Beeve untuk berbicara.
Semoga dia enggak minta jatah, batin Beeve.
Aku harus bicara apa padanya? batin Emir.
Untuk mencairkan suasana, Emir pun memiliki ide brilian.
“Ikut aku ke dapur,” ajak Emir.
“Untuk apa mas?” tanya Beeve.
“Kita masak mie goreng pedas!” jawab Emir.
“Enggak ah mas, aku lelah,” Beeve menolak rencana Emir.
“Kalau begitu, tidurlah Bee.”
“Memangnya boleh mas?”
“Kenapa enggak, tidurlah, aku enggak akan mengganggu mu.” Emir yang ingin Beeve merasa nyaman, keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Maafkan aku mas, aku enggak bisa! batin Beeve.
Lalu ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Emir yang duduk di kursi santai kolam berenang menerima sebuah pesan dari Helena.
Selamat menempuh hidup baru bang, semoga langgeng dengan kak Beeve, ✉️ Helena.
Apa perlu ku balas? batin Emir.
Namun ia yang tak ingin di bilang sombong pun mengirim balasan pada mantan istrinya.
Aamiin, terimakasih banyak, ✉️ Emir.
“Semoga ini pernikahan terkahir ku, terimakasih Tuhan, telah menjodohkan ku, dengan cinta pertama ku,” gumam Emir.
Pukul 01:00 dini hari, Emir kembali ke dalam kamar, ia pun melihat Beeve tengah tertidur lelap.
Emir yang tahu Beeve kedinginan, menarik selimut, agar istrinya merasa hangat. Setelah itu, ia mengelus lembut wajah Beeve.
“Semoga kau segera mencintai ku, karena aku juga mencintai mu, lahir dan batin.” perlahan Emir mengecup kening Beeve.
“Mas Andri...” Beeve yang bermimpi pada suaminya pun mengigau.
Ternyata tak mudah menyingkirkan Andri dari dalam hatimu, bahkan saat tidur pun, kau ingat dirinya, batin Emir.
Keesokan harinya, saat Beeve baru bangun, ia tak melihat Emir di sebelahnya.
“Apa dia tidur di luar tadi malam?” Gumam Beeve.
Lalu ia pun turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ketika ia membuka pintu, ia melihat Emir sedang siaran langsung di akun yutubnya.
“Hai teman-teman, perkenalkan ini anak-anak ku, namanya, Nuh, Ibrahim dan Soleh.” Emir sangat antusias memperkenalkan anak-anak sambungnya ke media sosial.
Helena yang memantau setiap postingan dan perkembangan akun Emir pun menonton siaran langsung tersebut.
“Perlakuan mu pada ku dan kak Beeve benar-benar beda, dulu kau tak mengekspos ku karena privasi, terus yang ini apa namanya?” gumam Helena.
Emir yang melihat Beeve berdiri di depan pintu pun memanggilnya.
“Bee, kemarilah!”
“Enggak usah mas!” Beeve yang takut akan menimbulkan kebencian di hati netizen menolak ajakan Emir.
Lalu Emir yang ingin mengatakan pada dunia, bahwasanya Beeve adalah istrinya mendekati wanita cantik itu.
“Yang ini istri ku, namanya Beeve An Mahveen! Ucapkan salam sayang!” netra Beeve membuat sempurna, saat Emir memanggilnya sayang.
“Ayo.” bisik Emir ke telinga Beeve.
“Halo semuanya.” sapa Beeve singkat.
Para warga net yang tahu pernikahan Emir yang dulu menjadi heboh, keduanya pun mendapat banyak ragam komentar, pastinya semua mengarah ke negatif. Namun Emir tak perduli.
__ADS_1
Akun Ista*ram Beeve pun mendadak mempunyai ratusan ribu pengikut, banyak yang ingin tahu sosok Beeve wanita seperti apa.
Netizen yang maha benar tak sedikit yang mencaci Beeve, mereka mengatakannya perebut suami orang dan lainnya.
“Lihat hasil ulah mu mas, mereka semua memberi komentar jahat di photo-photo ku.” ucap Beeve dengan perasaan marah.
“Abaikan saja, seiring waktu, mereka akan menerima mu,” ujar Emir.
“Aku tutup akun saja deh, malas juga di serang enggak jelas begini,” terang Beeve.
“Ya sudah, terserah kau saja,” ucap Emir.
Untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan, akhirnya Beeve menutup permanen akun media sosialnya.
Malam harinya, setelah Beeve memberi asi pada ketiga putranya, ia kembali ke kamar.
Deg deg deg... jantungnya kembali berdetak, karena takut dan grogi, apabila Emir meminta haknya.
Ceklek!! Suara pintu terbuka mengundang perhatian Beeve. Ternyata benar, yang datang adalah Emir. Beeve yang canggung tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Tidurlah, jangan tunggu aku, karena aku akan tidur di kamar anak-anak,” ungkap Emir.
Ia mengerti, jika Beeve belum siap tidur bersebelahan dengannya.
Apa dia menghindari ku? batin Beeve.
“Baiklah mas.” Beeve menganggukkan kepalanya.
Setelah meminta izin pada istrinya, Emir keluar dengan membawa bantalnya.
Beeve menatap lekat Emir, setelah itu ia merebahkan tubuhnya dengan perasaan campur aduk.
Dosa enggak ya, aku berbuat begini padanya, batin Beeve.
Keduanya pun pisah ranjang sampai satu bulan lamanya.
Suatu malam, di iringi hujan yang deras, Emir yang baru saja selesai berpakaian, melihat istrinya masuk kamar.
“Kau sudah selesai kasih asi pada anak-anak Bee?” sapa Emir.
“Iya mas.” sahut Beeve. Emir yang rutin keluar kamar setelah Beeve kembali pun mengambil bantal dan selimutnya.
Sampai kapan kami begini terus? Ini enggak benar, batin Beeve.
Emir yang akan melintasi dirinya yang berdiri di dekat pintu pun mencegat dengan menggenggam tangan Emir.
“Ada apa Bee?” tanya Emir, sebab sikap Beeve tak seperti biasanya.
“Mau menemani ku tidur sampai hujannya reda mas?” tanya Beeve dengan tersenyum tipis.
“Apa? Tapi kenapa??” Emir tersentak dengan permintaan dadakan istrinya.
“Aku takut, kalau sampai petir datang, temani aku, sampai aku terlelap.” Beeve menggunakan petir sebagai alasan, karena tak tahu cara mengajak suaminya untuk mulai tidur dalam satu ranjang.
...Bersambung......
__ADS_1