Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 95 (Lancang)


__ADS_3

Arinda yang seakan memberi kode pada Beeve dengan terus mengelus perutnya.


“Perut mu sakit?” tanya Beeve.


“Bukan.”


“Lalu?”


“Aku hamil!” ucap Arinda dengan suara tegas, Beeve tentu tak percaya begitu saja.


“Kau bercanda ya? Nikah saja belum,” ucap Beeve.


“Aku sudah menikah Bee,” ujar Beeve.


“Yang benar?! Apa itu sebabnya Sinta memanggil mu nyonya? Selamat ya Nda, semoga rumah tangga mu sakinah mawadah warohmah, tapi kenapa kau enggak mengundang ku?” tanya Beeve.


“Karena kita nikahnya dadakan, nanti kalau sudah resepsi pasti ku undang, tapi kau wajib datang ya!”


“Tentu saja! Kau ini, mana mungkin aku enggak datang.” seru Beeve dengan perasaan bahagia.


“Janji ya.” ucap Arinda dengan wajah datar.


“Iya, maaf Nda kalau aku salah bicara, tapi kenapa kau sampai nikah dadakan begini?”


“Aku hamil di luar nikah.” jawab Arinda tanpa berpikir dua kali.


Seketika hati Beeve tersentak, ia tak menyangka nasibnya akan sama dengan sang sahabat.


“Kau bisa serius enggak sih?” ucap Beeve yang merasa kalau Arinda mempermainkannya.


“Aku serius, aku hamil di luar nikah, makanya nikahnya dadakan,” terang Arinda.


Wajah Beeve berubah jadi datar, ia merasa aneh akan sikap Arinda yang menggambarkan bahagia atas kehamilannya.


“Kau hamil dengan siapa? Setahu ku kau enggak punya pacar?”


“Dia bukan pacar ku, hanya sekedar kenal saja, ya.... walau pun aku menyukainya sejak lama, tapi enggak di sangka, kecelakaan ini membuat aku menjadi istrinya.” terang Arinda dengan perasaan bangga.


Beeve tak dapat berkata apapun, sebab ia sendiri kondisinya sama dengan Arinda.


“Semoga pernikahan mu langgeng, aku ikut bahagia, kalau kau bahagia,” ucap Beeve.


“Ya, aku termasuk beruntung sih, karena dia mau menikahi ku, bahkan sangat sayang pada anak yang ada dalam kandungan ku.” perkataan Arinda membuat Beeve tersindir, sebab ia sendiri adalah kebalikannya.


“Baguslah, kau mendapatkan orang yang benar-benar tepat,” ujar Beeve.


“Iya, aku sih kalau misalkan dapat yang seperti Cristian, akan ku pepet, bagaimana pun dia harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.” kata-kata Arinda sungguh menyakiti hati Beeve, namun ia tak ingin adu mulut dengan sang sahabat, Beeve hanya melempar senyuman pada Arinda.

__ADS_1


“Dia kerja dimana? Usianya berapa?” tanya Beeve sebagai pengalih topik pembicaraan.


“Di salah satu perusahaan ternama, usia 26 tahun, tinggi kekar dan tampan,” terang Arinda.


“Boleh aku lihat photonya?” pinta Beeve penasaran.


“Nanti, pasti kau akan berkenalan dengannya,” ucap Arinda.


“Oh, begitu ya.” Beeve menganggukkan kepalanya.


“Tapi Bee, dia malam ini enggak bisa pulang ke rumah, boleh enggak sih, kalau aku menginap disini? Karena aku kangen pada mu.” pinta Arinda yang sudah membuat rencana.


Beeve menarik nafas panjang, hatinya menolak permintaan Arinda, entah mengapa ia kali ini tak suka akan kehadiran sahabat lamanya itu.


“Bagaimana? Boleh ya? Please....” Arinda terus memohon seraya menggenggam kedua tangan Beeve, yang membuat Beeve sulit menolak.


“Hem, begini Nda, jujur aku sih mengizinkan mu untuk tidur disini, tapi...., mas Andri enggak memberi izin orang lain untuk itu,” terang Beeve.


“Ya ampun Bee! Aku kan biasa menginap di rumah mu dulu? Kita juga sahabat lama, mas Andri yang enggak kasih izin, atau kau yang takut aku menggodanya?” Arinda yang kesal tak berbasah-basi lagi.


“Bu-bukan begitu.” Beeve jadi tak enak akan perkataan Arinda.


“Kita berdua ini sama-sama hamil, jarak dari rumah ku kemari makan waktu 4 jam di jalan, aku juga cape banget sekarang, kau kan sahabat ku, dan mana mungkin aku merayu yang bukan suami ku, aku juga tahu tata kerama Bee, takkan ku lakukan hal selicik itu, lagi pula aku juga sudah punya suami,” terang Arinda.


“Maaf Nda, kau enggak bisa menginap disini,” ucap Beeve.


“Aku tidur di kamar mana saja bolehkan? Sudah ya, jangan ganggu aku, aku ngantuk!” setelah berkata demikian, Arinda meninggalkan Beeve di ruang tamu.


“Apa-apaan dia,” gumam Beeve.


Rasa kesal bersarang di hati Beeve, namun tak logis baginya jika ia mengusir paksa Arinda saat itu juga.


“Baiklah, hanya satu malam,” gumam Beeve.


Arinda yang telah sampai ke lantai 2 melihat Siska yang sedang mengepel lantai.


“Hei, siapa namu?” Arinda menegur Siska, ketika Siska melihat wajahnya, seketika Siska merinding.


Untuk apa pelakor ini ada disini? batin Siska.


“Kau tuli? Kemari kau!” pekik Arinda. Dengan langkah tak ikhlas Siska pun mendekat.


“Ada yang bisa saya bantu non?” tanya Siska.


“Panggil aku nyonya! Karena aku ini sudah resmi menjadi istri mas Andri,” ucap Arinda dengan wajah sinis.


“Apa?” gumam Siska.

__ADS_1


“Kenapa? Enggak suka?” Arinda memukul kepala Siska yang jelas lebih tua darinya.


“Bukan begitu nyah.” ucap Siska seraya menundukkan kepala.


“Bagus, memang seharusnya kau melihat ke bawah, ck, apa kamar yang ada di lantai 2 ini sudah bersih semua?” tanya Arinda yang bagai pemilik rumah.


“Sudah nyah,” jawab Siska.


“Tunjukkan pada ku, mana kamar yang paling besar, luas dan mewah! Lebih bagus dari kamarnya si Beeve,” pinta Arinda.


Dengan perasaan jengkel, Siska menuntun Arinda menuju kamar yang ada di sebelah ruang kerja Andri.


“Ini nyah,” Siska membuka pintu kamar.


Arinda menganggukkan kepala, “Bagus juga, hemmm, ngomong-ngomong apa pekerjaan mu sudah selesai?” tanya Arinda.


“Sudah nyah,” jawab Siska.


“Kalau begitu, waktunya kau memijat tubuh ku, rasanya pegal sekali.” Arinda masuk ke dalam kamar, yang di ikuti oleh Siska.


“Aku membawa minyak aroma terapi, tolong pijat yang benar,” titah Arinda.


Siska benar-benar muak dengan gaya sombong Arinda, namun ia yang hanya sebagai Art tak dapat menolak perintah majikannya.


Kok bisa perempuan iblis ini menikah dengan tuan? Pada hal jelas-jelas waktu itu tuan ingin membunuhnya, batin Siska.


Pukul 19:00 malam, Andri yang baru pulang kerja di sambut oleh Beeve di ruang tamu.


“Assalamu'alaikum sayang.” Andri mengecup pipi dan bibir Beeve, tak lupa ia mencium perut istrinya juga.


“Wa'alaikum salam mas.” Beeve menjabat tangan suaminya.


Arinda yang memantau dari lantai 2 pun merasa cemburu.


“Harusnya aku yang di perlakukan begitu, tapi tak apa, karena sebentar lagi aku akan mendapatkan tempat ku yang seharusnya,” gumam Arinda.


“Ayo kita makan mas, aku dan mbak Resti sudah siapkan makanan enak,” ajak Beeve.


“Wah! Rasanya aku makin lapar sayang, pasti enak.” dengan bergandengan tangan Andri dan Beeve menuju dapur.


Setelah sampai di meja makan, Beeve yang baik hati pun mengambilkan untuknya dan sang suami nasi.


Andri terlebih dahulu mencuci tangannya di atas wastafel, setelah itu ia duduk di kursi yang telah Beeve sediakan.


Ketika keduanya akan makan, tiba-tiba Arinda muncul di hadapan mereka.


...Bersambung.......

__ADS_1


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


__ADS_2