Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 256 ( Pulang)


__ADS_3

“Itu memang kenyataan kan? Kakak gadis nakal! Jadi, apa ada yang salah dengan yang ku katakan?!” pekik Helena.


“Ternyata kau hanya baik di awal! Sikap mu terlalu buruk! Memangnya kau sendiri sudah lebih baik dariku? Tolong berhenti merendahkan ku, karena aku enggak sebodoh yang kau pikirkan! Aku diam bukan karena lemah atau takut pada mu, melainkan menghargai keluarga ini, aku malu kalau harus bertengkar dan di nasehati oleh ibu dan ayah, harusnya, kau juga mengerti!”


“Banyak bacot! Kau memang pengacau di keluarga ini, pokoknya jangan pernah menggoda suami ku!” Helena memelototi Beeve.


“Aku enggak pernah menggodanya!” pekik Beeve.


“Aku sudah lihat dengan mata kepala ku sendiri, kau sok lemah di hadapan suami ku, harusnya kau menghargai dirimu sebagai wanita, dan menghormati suami ku sebagai ipar, ku yakin pasti kau sengaja duduk larut malam di ruang tamu, untuk mencari perhatian suami ku kan?!” Helena yang cemburu buta meluapkan apa yang ada dalam pikirannya, dan tanpa ia ketahui, suaminya Emir Han menyaksikan semua itu.


“Ngomong apa sih kau?! Aku juga punya suami, jadi jangan ngawur kalau bicara, bikin kesal saja!” ucap Beeve dengan memutar mata malas.


“Sudahlah, aku mau ke kamar ku, lama-lama lihat wajah mu, hati ku rasanya ingin remas perut buncit mu sampai rata!”


“Apa!” netra Beeve membulat sempurna mendengar penuturan Helena yang begitu kejam, Emir sendiri dengan langkah kasar mendatangi istri dan iparnya di ruang tamu.


“Ada apa ini?” ia masih bertanya meski sudah tahu yang terjadi. Lalu Helena dengan santai menjawab.


“Bukan apa-apa bang!” Helena pun beranjak dari rumah tamu menuju kamarnya.


“Kau enggak apa-apa Bee? Maaf atas kelakuan kasar Helena ya.” Emir mewakili istrinya untuk memohon maaf secara langsung pada Beeve.


“Urus istri mu dengan benar! Jangan kurang ajar! Kalau bukan karena keluarga ini, sudah ku robek-robek mulutnya!” pekik Beeve seraya meninggalkan Emir menuju dapur.


Emir yang berulang kali di buat malu oleh istrinya, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


Helena... kenapa kau enggak bisa berubah? batin Emir. Ia pun naik ke kamar mereka yang berada di lantai dua.


Ceklek!!


Emir membuka pintu dengan kasar, Helena yang berdiri di badannya dengan wajah masam.


Plak!!


Plak!!


Dua tamparan mendarat di wajah mulus Helena. Dan tamparan itu membuat Helena merasakan sakit yang luar biasa.


“Bang!” ucapnya dengan nada suara tinggi.


“Diam! Kau enggak berhak bicara!” Emir memeras mulut pedas Helena.

__ADS_1


“Bang! Lepaskan! Kenapa kau jadi kasar begini pada ku?” Helena mencoba melepas tangan Emir dari mulutnya.


“Akh! Belum puas kau memperlakukan ku?! Apa sampai aku tak punya harga diri lagi?” Emir melepas kasar tangannya dari Helena.


“Dia duluan bang, bukan aku!” Helena yang tak mau mengakui kesalahannya malah menjadikan Beeve sebagai kambing hitam.


“Aku sudah lihat dengan mata kepala ku sendiri, dan di hadapan ku juga kau berlaku sama, cemburu mu ini benar-benar gila! Enggak masuk akal, sampai hati kau berbuat keji pada ipar mu sendiri?”


“Bela terus, kelihatan banget kalau kau masih menyukainya bang!”


“Astaga, makin hari kau semakin menyebalkan, pada hal sudah janji akan berubah, tapi lagi dan lagi kau mengingkarinya! Sekarang juga kemas pakaian mu, lebih baik ku pulangkan kau ke rumah orang tua mu! Kalau enggak mau nurut dan di didik suami, lebih baik kita enggak usah bertemu!”


Darah Helena seakan mau pecah, ketika suaminya berkata akan memulangkannya ke rumah orang tuanya.


Apa kami akan cerai? batin Helena.


“Aku enggak mau bang!” Helena menolak rencana Emir.


“Enggak ada kelonggaran kali ini, kau wajib di pulang! Kau selalu merasa paling benar!” Emir yang telah bosan dengan Helena tak mau merubah dengan keputusannya.


“Cepat! Ambil semua pakaian mu!”


“Enggak bang, maafkan aku!” Helena kembali meminta maaf. Emir pun menggelengkan kepalanya. Sebab ia tahu Helena akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


“Bang, jangan bang, aku enggak mau!” Helena memegang tangan Emir. Namun Emir yang kuat menghempaskan tangan istrinya.


“Diam kau!” dengan kasar Emir membuka pintu lemari, lalu mengambil semua baju-baju istrinya dengan sembarang.


“Kejam banget, kenapa kau berubah bang!” Helena menangis histeris.


“Hah! Kejam kata mu? Ini semua muasalnya darimu, aku sudah memberi mu banyak kesempatan, memaafkan mu berulang kali, bahkan aku enggak pernah memarahi mu di depan orang lain, tujuannya apa? Biar kau enggak malu, agar kau tetap berharga di mata keluarga ku, ku jaga harga dirimu sebagai istri ku, tapi dengan bodohnya kau malah menjatuhkannya sendiri! Ayo!!” Emir menarik paksa tangan Helena yang meronta-ronta tak ingin di pulang.


“Aku enggak mau bang! Maafkan aku! Hiks!!” air mata Helena kini tak mampu meluluhkan hati Emir lagi.


Sesampainya mereka di depan tangga, Emir melempar koper Helena.


Brak brak brak!! Koper berwarna hitam itu pun meluncur bebas hingga ke lantai satu, setelah itu, ia menggendong tubuh Helena dengan meletakkan dokter cantik itu di bahunya.


“Bang! turunkan aku, maafkan aku bang!” Emir tak menggubris perkataan istrinya, ia yang penuh tenaga dengan mudah mengangkat tubuh Helena hingga sampai ke lantai satu.


Rahma yang baru pulang kerja pun melihat hal tersebut.

__ADS_1


“Eh, ada apa ini?” ia mendadak panik lalu berdiri tepat di hadapan Emir yang masih menggendong istrinya.


“Mau kemana? Ada masalah apa Mir?!” tanya Rahma.


“Ibu, bang Emir mau memulangkan ku, Hiks...” Helena mengadu pada ibu mertuanya.


“Emir! turunkan Helena! Ayo!” suara nyaring Rahma membuat Emir patuh.


Ia pun menurunkan tubuh istrinya, Helena sontak menjauh dan memeluk tubuh mertuanya.


“Ibu, aku enggak mau pulang, hiks..”


“Enggak ada yang boleh kemana-mana, jangan buat malu! Apa kata keluarga mertua mu nanti Mir! Bagaimana kalau mereka berpikir kalau ibu tak mengajari mu dengan benar.” sebisanya, Rahma menggagalkan niat putranya.


“Aku bisa menjelaskan pada mereka tentang kelakuan putrinya yang begitu menjijikkan,” terang Emir.


“Memangnya Helena berbuat apa lagi sih? Sudahlah, suami istri itu lumrah kalau bertengkar, sudah-sudah, bawa lagi koper mu ke atas,” ujar Rahma.


Ketika Helena ingin mengambil kopernya, Emir memelototinya.


“Awas kalau kau berani membawanya kembali ke kamar!” Helena yang mendapat tatapan tajam dari suaminya, tak bernyali untuk mengambil kopernya yang tergeletak di lantai.


“Mir! Ada apa sebenarnya, coba ceritakan pada ibu,” ucap Rahma.


“Dia, kembali menyakiti hati Beeve, menghinanya, aku enggak terima dia melakukan itu, bukan haknya untuk menghakimi Beeve! Hanya karena cemburu buta, ia menghilangkan nurani dan akhlaknya pada kakak iparnya sendiri, pada hal sudah berulang kali ku ajari dan nasehati, tapi dia tetap bebal bu, biarkan dia di rumah orang tuanya, kalau dia belum berubah!”


Rahma yang mendengar penjelasan dari putranya menghela nafas panjang.


“Benar kau melakukannya?” Rahma melepas pelukannya dari Helena.


Tatapan penuh selidik sang mertua membuat Helena gelisah.


“Enggak, itu bohong bu, kak Beeve duluan yang memancing ku, makanya aku kelepasan!


“Ck!” Emir berdecak, kala melihat istrinya berbohong kembali.


“Pada hal aku lihat dan dengar sendiri, sungguh terlalu! Sudah bu, jangan hentikan aku lagi, selain masalah kemarin dan hari ini, dia sudah banyak membuat ku muak!”


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2