Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 63 (Ngidam)


__ADS_3

“Ayo sayang kita ke kamar.” ajak Andri pada istrinya. Beeve yang sudah puas Emir di marahi sang suami pun menurut. Sedang Emir masih mematung di posisi yang sama.


Di dalam kamar Andri menggiring Beeve menuju kaca besar lemari mereka.


“Lihat sayang, kau nampak cantik sekali dengan rambut baru mu.” ujar Andri agar Beeve tak bersedih lagi.


“Yang benar mas?”


“Benar dong sayang, mas suka loh model rambut mu yang sekarang, terlihat cocok, kau juga jadi semakin cantik dan rapi.” Beeve memperhatikan baik-baik penampilan barunya.


“Benarkan kata ku? Lagi pula kemarin aku meminta mu untuk potong rambut, tapi kau malah melupakannya,” ucap Andri.


“I-iya sih mas, tapi enggak sependek ini juga kan? ungkap Beeve.


“Sudahlah sayang, lagi pula sudah terjadi, dan sesekali kau harus merubah penampilan mu, mana tahu nasib mu jadi mujur, dan perlu kau tahu, aku suka gaya dan warna rambut mu yang sekarang, bukankah kau cantik untuk ku?” ucap Andri seraya mengecup pipi istrinya.


“Iya mas,”


“Kalau begitu enggak ada masalah lagi kan sekarang? Kau juga jangan terlalu marah pada Emir, toh dia lakukan itu karena ia tahu apa saja yang aku sukai, dan kami juga banyak menyukai hal yang sama,” terang Emir.


“Hmm..., baiklah mas, aku mengerti,” Beeve menganggukkan kepalanya.


“Nanti mas akan belikan vitamin dan sampo menumbuh rambut, agar rambut mu panjang dengan cepat,” ujar Andri.


“Terimakasih mas,” ucap Beeve.


“Ya sudah, aku mandi dulu ya sayang ” Andri pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beeve yang bosan pun duduk di pinggir ranjang seraya bermain handphone.


Ketika ia menonton video di youtube tiba-tiba muncul iklan mie instan goreng yang sangat menggiurkan perutnya.


Seketika Beeve menjadi ingin memakan mie instan goreng saat itu juga.


Ia pun bergegas ke dapur, berniat meminta Art nya untuk memasak mie instan.


Sesampainya ia ke dapur, ternyata ada Emir yang baru selesai memasak mie instan goreng pedas jumbo, di tambah telur dadar dan udang manis goreng di atasnya.


Sontak saliva Beeve menetes, ia amat tergiur dengan apa yang ada di piring besar Emir.


Belum lagi saat Emir membuka bungkus kacang atom sebagai pelengkap di hiasan piringnya, membuat suara perut Beeve berbunyi merdu.


Ruggg..


Enak banget, batin Beeve.


Emir yang baru selesai dengan hidangannya melihat kehadiran Beeve dengan tatapan aneh ke arah piringnya.


Sebenarnya Emir ingin menawarkan pada Beeve, tapi karena takut Beeve marah padanya, ia pun mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Ruggg... suara perut Beeve kembali berbunyi, “Duh, pengen banget.” Beeve pun beranjak ke lemari dinding yang ada di atas kompor.


Ia pun membuka lemari satu persatu, namun tak ada tanda-tanda sisa mie instan disana.


Ia yang ngidam pun semakin tak bisa menahan seleranya, terlebih bau mie instan Emir sangat memikat, melebihi pelet sambar mesem.


Dia beneran enggak ada niat menawarkannya pada ku? batin Beeve yang terus memperhatikan Emir yang duduk membelakanginya.


Ruggg... lagi-lagi perut Beeve berontak, seolah mendorongnya untuk segera meminta mie buatan Emir.


Ketika Emir ingin menggigit udang gorengnya, Beeve dengan menahan rasa malu dan menerima resiko terberat yang akan terjadi pun mendekat pada Emir.


“Ehemm..humm.” sontak Emir mendongak ke Beeve yang ada di sebelahnya.


“Apa mau mu?” tanya Emir.


“Hmm...” Beeve menggaruk-garuk kepalanya.


“Kau mau bicara? Kalau enggak pergilah, aku mau makan,” ujar Emir.


“Mas Emir, apa boleh aku minta mie goreng mu?” ucap Beeve, yang membuat Emir sedikit senang, sebab Beeve telah kembali seperti sedia kala.


“Kau mau?” tanya Emir.


“Iya mas.” jawab Beeve dengan mata berbinar.


“Apa mas?”


“Kau harus memaafkan ku, dan jangan menangis seperti anak kecil lagi,” ucap Emir.


Beeve yang telah memaafkan Emir pun menyanggupi syarat itu.


“Baiklah mas.” ucap Beeve, ketika Beeve akan mengambil piringnya, Emir menghentikannya.


“Hei, ini semua untuk mu saja,” ucap Emir.


“Yang benar mas, tapi kau kan belum makan,”


“Enggak apa-apa, nanti kalau di bagi, kau kekurangan lagi, karena kalian yang makan kan ada dua orang,” terang Emir.


Menerima kebaikan adik iparnya, Beeve merasa bersalah atas kata-kata kasarnya tadi siang pada Emir.


“Terimakasih ya mas Emir, dan maaf karena aku sudah kasar pada mu tadi siang,” ucap Beeve seraya tersenyum.


Melihat Beeve telah baik lagi padanya, hati Emir yang terluka seketika sembuh, lalu Beeve pun duduk di sebelah Emir, dan mulai mencicipi masakan adik iparnya itu.


“Ummm, enak bangat mas! Aku enggak sangka, mas Emir bisa memasak.” seru Beeve yang kembali memasukkan mie goreng itu ke mulutnya. Tak lama, Andri pun masuk ke dapur.


“Ternyata kau disini sayang?” ucap Andri.

__ADS_1


“Mas, masakan mas Emir enak bangat loh, aku sampai ketagihan makannya.” ucap Beeve memuji keahlian Emir.


“Wah, ternyata kalian sudah baikan ya.” lalu Andri pun duduk di sebelah Beeve.


“Apa aku boleh coba sayang?” ucap Andri seraya membuka lebar mulutnya.


“Ini mas, cobalah enak sekali,” lalu Beeve menyuap suaminya.


Emir yang baru saja merasa bahagia kembali di buat merana, pasalnya kedua pasangan itu sangat mengganggu mata dan juga hatinya.


Aku yang masak, aku yang enggak dapat, si tua bangka ini tiba-tiba muncul seperti genderuo lagi, merusak suasana, batin Emir.


Lalu Emir yang ingin mengacaukan kemesraan pasangan halal itu pun berkata.


“Kau kenapa jadi ikut makan Ndri? Sudah tahu dia lagi hamil, kalau dia minta tambah, aku enggak mau masak lagi ya!” pekik Emir.


“Oh iya aku lupa, maaf ya sayang, kau teruskan makan mu,” ucap Andri.


“Oke mas!”


Lalu Andri pun mengambil nasi dan lauk untuk ia makan.


______________________________________________


Keesokan harinya, Beeve yang sedang asyik melihat photo-photo Andri Insta*ram tanpa sengaja melihat ada akun yang menandai photo ulang tahun pada suaminya, dengan hastag, “Selamat ulang tahun pak Andri,”


“7 Juli?” sontak Beeve teringat, kalau hari ini adalah tanggal 7 Juli 2020.


“Sekarang ulang tahun mas Andri? Hah!!!” Beeve yang baru tahu tanggal lahir suaminya pun menjadi gaduh sendiri, terlebih ia melihat ke jam handphonenya sudah menunjukkan pukul 17:00 sore.


“Aku harus siapkan kejutan, aduh masak apa ya.” Beeve segera keluar dari dalam kamar, dan di ruang tamu ia bertemu dengan Emir.


“Mas, antar kan aku ke supermarket dong,”


“Art saja yang kesana,” ucap Emir.


“Aku mau beli kue mas, karena mas Andri hari ini ulang tahun!” ujar Beeve dengan suara mendesak.


“Ya ampun, kau baru tahu dia ulang tahun sore ini?” ucap Emir.


“Mas, ngocehnya nanti saja, ayo kita pergi!” Beeve pun menarik tangan Emir, yang membuat jantung Emir jadi dag dig dug.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....



__ADS_1


__ADS_2