
Julian dan Bia pun bermain layaknya teman sebaya.
Ya Tuhan, betapa besar dosa ku, karena telah mengabaikan keponakan ku yang lucu dan cantik ini, maafkan om Bia, karena om kau jadi terpisah dengan ibu mu, om berjanji akan menebus semua kesalahan yang om lakukan di masa lalu pada mu, itulah yang ada dalam benak Julian.
Ia bertekad mengganti seluruh waktu yang hilang dengan mencurahkan kasih sayang penuh pada sang ponakan.
Selama Bia berada di rumah kakek neneknya hari itu, Julian selalu lengket padanya, tak memberi Beeve celah, walau mengambilkan nasi untuk makan.
Setelah Bia dan Beeve sampai ke rumah, Bia langsung membawa mainan pemberian Julian ke kamar penyimpanan mainannya.
“Ma, om Julian baik banget ya sama Bia, kapan-kapan kita main kesana lagi ya ma,” ucap Bia.
“Insya Allah sayang, kalau papa sudah pulang kita main kesana, sekarang Bia istirahat ya, karena besok Bia harus sekolahkan?” ucap Beeve, lalu Bia pun menganggukkan kepalanya.
“Iya ma.” Sebelum masuk ke kamarnya, Bia mencium dan memeluk tubuh Beeve.
_____________________________________
Keesokan harinya, di dalam penjara, Lilis yang tidur di lantai semalaman di bangunkan oleh Dewi.
“Hei! Bangun kau! Sudah siang masih tidur saja kerjaan mu!” pekik Dewi.
Arinda yang tahu kalau Lilis tak baik-baik saja, tak mau menyentuh tubuh besar wanita itu.
“Hei, dasar gentong! Cepat bangun!” Dewi menggoyang-goyang tubuh Lilis dengan kakinya.
Namun Lilis tak kunjung bangun, Dewi yang polos pun menyentuh tubuh Lilis, dan mencoba melihat wajahnya.
“Akhh!!” Dewi berteriak dengan keras, sebab bibir Lilis telah membiru dan badannya pun kaku.
“Ada apa?” tanya salah seorang teman mereka dalam sel.
“Sepertinya Lilis mati!” ucap Dewi dengan perasaan ngeri.
“Masa sih???” ucap Marna, kemudian semua orang pun berkerumun mengelilingi Dewi.
Sementara Arinda menggunakan kesempatan itu untuk membuat jemari Marna yang lengah menyentuh kotak kecil racunnya, selanjutnya, Arinda menaruh sisa racun yang ia miliki ke dalam gulungan ****** ***** Marna, tanpa menyentuh kotak pembungkus racun tersebut secara langsung dengan tangannya.
Di rasa semua aman, Arinda baru ikut bergabung dan pura-pura heboh.
“Bagaimana ini? Masa dia mati hanya karena kita pukuli?” ucap Marna.
“Iya juga, apa mungkin dia mengalami luka dalam?” timpal Dewi.
__ADS_1
Sipir yang melewati sel mereka pun mendekat, karena kerumunan yang mereka lakukan.
“Ada apa ini.” tanya sang sipir. Mendengar suara dari sipir pria yang bertugas, mereka semua jadi ketar ketir.
Sang sipir pun membuka gembok sel, lalu masuk, “Minggir biar ku periksa!”
Dengan terpaksa, para tahanan wanita itu bubar, saat sang sipir melihat Lilis yang terbujur kaku, ia pun menjadi panik.
“Kenapa bisa terjadi?! Apa dia sakit?” tanya sang sipir pada mereka semua.
Mereka yang ikut andil dalam penganiayaan Lilis pun menjadi takut.
Selanjutnya, sang sipir menghubungi rekannya untuk membantu pengurusan jenazah Lilis.
“Persiapkan alasan kalian sebagus mungkin, kalau tidak, rasakan hukuman berat yang akan kalian terima!” pekik sang sipir.
Masing-masing dari mereka takut bukan main, pasalnya jika mereka kedapatan melakukan tindak kekerasan hingga menghilangkan nyawa, hukuman mereka akan bertambah, bahkan hal-hal yang tidak di inginkan bisa terjadi.
Berbeda dengan Arinda, ia nampak tenang, sesekali malah senyum-senyum sendiri.
Hahaha... untung aku cerdas! Siap-siap Marna, karena setelah ini, mungkin kau akan menyusul Lilis ke Neraka, batin Arinda.
Mayat Lilis pun di bawa ke rumah sakit untuk di autopsi, dan tak perlu menunggu waktu lama, saat tubuh Lilis telah berhasil di bedah, pihak rumah sakit pun menemukan penyebab kematiannya, karena di dalam tubuh Lilis di temukan ion radikal bebas reaktif yang merusak sel-sel dan organ vitalnya, yang merusak hati dan ginjalnya.
Rambut Lilis juga banyak rontok, sehingga para dokter menyimpulkan, yang di konsumsi dari Lilis adalah jenis racun polonium.
Selesai dengan analisisnya, para dokter membuat laporan untuk di serahkan pada pihak berwenang.
Setalah polisi yang mengantar mayat Lilis mendapatkan surat hasil autopsi, ia pun menyerahkan pada atasannya.
Alhasil, semua teman satu sel Lilis di periksa satu persatu, yang di lakukan langsung oleh penyidik khusus.
Semua mengakui kesalahan mereka pada Lilis, namun tak lupa masing-masing mengatakan untuk membela diri dari keberingasan Lilis.
Sampai pada saat giliran Arinda di periksa, ia nampak tenang masuk ke dalam ruangan interogasi.
Lilis yang baru pertama kali bertemu dengan pak penyidik yang sudah berkepala 5 memiliki ide brilian.
Akan ku gunakan kecantikan ku, untuk menggoda bapak ini, kalau beruntung kan lumayan, mana tahu aku bisa keluar sari sini, hehehe... batin Arinda.
“Nama mu Arinda Putri?”
“Benar pak.”
__ADS_1
“Ku dengar kau yang paling sering berkelahi dengan Lilis,” ucap sang penyidik.
“Betul pak.” jawab Arinda dengan tenang.
“Alasannya?”
“Karena dia melakukan tindak kekerasan pada ku pak, pertama kali masuk saja, dia memukuli ku, hingga aku babak belur, memangnya bapak enggak melihat bekas biru-biru di wajah ku?” Arinda menunjukkan lebam biru yang masih ada di wajahnya.
“Dan, bukan hanya itu pak, dia juga membuat bekas lebam di seluruh tubuh ku, mungkin bapak enggak percaya pada ku, biar ku tunjukkan.” Arinda pun melucuti semua pakaiannya di hadapan sang penyidik, yang membuat sang penyidik yang ternyata mata keranjang menelan salivanya.
“Ini semua kerjaannya pak, bahkan kalau bapak tahu, dia mengeluarkan air seninya di wajah ku, dan... hiks...” Arinda yang licik dan ratunya drama kehidupan memulai aktingnya. “Dia membuat ku bagai babu pak, jadi wajar saja kalau aku melawan, kalau enggak, dia akan selalu menganiaya ku, tolong bapak mengerti, tak mungkin aku diam saja saat di perlakukan keji.” Arinda menangis dengan tersedu-sedu, sementara sang penyidik malah fokus ke lekuk tubuhnya yang sangat menggoda iman.
“Sudah, kenakan kembali pakaian mu.” titah sang penyidik dengan jantung berdebar-debar.
Setelah memakai kembali baju warna kulit pinangnya, ia pun di hadapkan dengan mesin pendeteksi kebohongan, Arinda yang jago main drama, tak sulit untuk mengalahkan alat canggih tersebut.
Hingga akhirnya, ia lolos dari kecurigaan penyidik.
Sementara mereka masih menunggu hasil pemeriksaan mereka di luar ruangan interogasi, salah seorang polisi memberi laporan pada sang penyidik, bahwasanya telah di temukan sisa racun di tumbukan baju salah satu tahanan.
Polisi tersebut juga membawa barang bukti. Kemudian sang penyidik kembali mengumpulkan mereka semua di ruang interogasi.
“Ini milik siapa?” tanya sang penyidik, menunjukkan celana dalamm motif bunga mawar biru. Sontak semuanya menunjuk ke arah Marna.
“Ini milik mu?” sang penyidik bertanya kembali pada Marna.
“I-iya pak, memangnya kenapa pak?” tanya Marna gelagapan.
“Baik, karena kau telah mengaku, maka akan aku katakan, kalau di dalam gulungan pakaian dalam mu ini, terdapat racun dengan senyawa yang dapat mematikan seseorang dengan waktu perlahan.” lalu sang penyidik mengeluarkan sisa racun dengan menggunakan sarung tangan khusus agar tak terpapar radikal bebas dari bahaya racun tersebut.
“Kami menemukan ini, sisa racun yang kau gunakan untuk menghabisi nyawa Lilis!”
Semua orang syok dan tak menyangka, Marna dapat melakukan hal itu, pasalnya Marna masuk penjara karena tertangkap basah mencuri beras, bukan kasus kekerasan.
“Pak, itu bukan punya saya, saya enggak tahu apa-apa, sungguh pak!” Marna menangis ketakutan, karena ia merasa tak melakukan hal tersebut.
“Bukti sudah ada disini, dan kau juga sudah mengaku!” hardik penyidik.
“Tolong percaya pada ku pak, bukan saya pelakunya, itu fitnah! Hiks...” Marna menangis histeris.
Maaf ya Marna, kau harus jadi korban, karena kaulah di antara semua yang paling bodoh, dan... untung saja, saat kau tak sadar, aku sudah membuat jemari mu menyentuh kotak racunnya hehehe... batin Arinda.
...Bersambung......
__ADS_1