
“Hai Bee, ini makanlah! Aku sudah bawakan untuk mu,” ucap Arinda.
“Enggah ah, entar yang ada aku kejang-kejang setelah makan itu,” ungkap Beeve dengan perasaan was-was.
“Astaga Bee, pikiran mu benar-benar kotor banget ya.”
“Yang buat pikiran dan hati ku kotor sekaligus kan kau! Masa sudah lupa?” ucap Beeve.
“Ya Allah, memang ya, kau itu keras kepala nih lihat!” Arinda pun mengambil potongan apel tersebut dengan garpu, lalu meletakkannya ke mulutnya, selanjutnya ia meminum jus miliknya dan juga Beeve.
“Lihat! Kau masih berpikir aku ada niat jahat pada mu?” Beeve yang melihat tak ada yang mencurigakan pun, mulai mengambil apel yang Arinda bawakan.
“Baiklah, aku makan, tapi kau benar-benar sangat aneh,” ucap Beeve.
“Sudahlah Bee, lagi pula semua orang bisa berubah, Allah saja maha pemaaf, masa kau yang sebagai hamba tidak bisa memberi maaf pada orang lain?”
“Jangan samakan aku dengan Tuhan, Tuhan itu tiada kurangnya, sementara aku hanya baharu, ya kalau di sakiti masih mengingat hal tersebut sampai aku tua!” pekik Beeve.
“Terserah kau saja, yang jelas, aku hanya ingin kau dan anak mu baik-baik saja," ujar Arinda.
Beeve yang tak ingin lebih lama bersama lawannya pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Sedangkan Arinda sendiri menuju dapur karena lapar.
“Hei Resti! Cepat ambilkan aku nasi,” titah Arinda.
“Baik nyonya.” Resti pun menjalankan titah nyonya keduanya.
Setelah itu, ia menaruh piring berisi nasi di hadapan Arinda.
“Ada lagi yang bisa saya bantu nyah?” tanya Resti dengan sopan.
“Hem, buatkan aku segelas jus jeruk dingin, karena tenggorokan ku lagi panas,” pinta Arinda dengan wajah judesnya.
“Baik nyonya.” sahut Resti, ketika sang Art sedang sibuk membuat jus pesanannya.
Arinda dengan sengaja, mencabut 3 helai rambutnya, lalu mengaduknya ke dalam nasi yang Resti berikan padanya. Selanjutnya Arinda menuangkan kuah sop ke piringnya.
“Sst, ck, Resti!!” teriak Arinda. Sontak Resti buru-buru menghadap Arinda.
“Iya nyah? Apa ada yang kurang?” tanya sang art.
“Ada yang kurang kata mu? Nih lihat pakai mata mu!” Lalu Resti pun menoleh ke nasi yang ada di sendok Arinda.
“Loh, kok ada rambutnya?” gumam Resti.
__ADS_1
“Ya mana aku tahu sinting!”
“Tadi seingat saya enggak ada nyah, nasinya juga bersih kok,” ucap Resti.
“Oh, jadi maksud mu ini kerjaan ku? Begitu? Hum?!” mata Arinda mulai melotot.
“Bu-bu-bukan begitu nyah maksud ku,” ucap Resti gelagapan.
“Terus bagaimana? Hah?!”
“Tadi memang enggak ada rambutnya, sungguh.”
“Terus ini apa? Bukti sudah ada dalam piring ku, dan yang mengambil nasi ku itu adalah kau!” pekik Arinda yang semakin menyudutkan Resti.
“Maaf nyah, kalau saya salah.” Resti memilih mengalah, meski tak merasa melakukannya.
“Enak saja bilang maaf, apa maksud mu berbuat lancang begitu pada ku? Kau dendam pada ku babu?” tanya Arinda.
“Bukan nyah, mana mungkin aku dendam pada nyonya.”
“Lalu ini apa?” Arinda menunjuk kembali ke sendok yang ada rambutnya.
“Aku..., aku...”
“Aku, aku! Gunakan bahasa yang formal! Kau pikir aku ini teman mu? Derajat kita berbeda konyol!” kegaduhan yang Arinda buat memancing perhatian Siska dan Sinta yang akan menuju dapur.
“Apaan sih! Jangan pegang-pegang, ih kotor!” Arinda beranjak dari duduknya untuk mencuci tangan ke wastafel.
Siska yang melihat tingkah kasar Arinda pun mulai menegur sang nyonya.
“Ada apa ini? Nyonya kenapa?”
“Aku kenapa? Coba lihat piring ku, ada rambut disana! Dan ini karena si babu Resti yang enggak becus bekerja,” terang Arinda.
“Benar Rest?” tanya Siska.
“Saya juga enggak ingat kak, setahu ku enggak ada rambut di piring nyonya pada saat saya hidangkan,” ucap Resti.
“Jangan bersilat lidah pembohong! Atau ku robek mulut mu!” ancam Arinda.
Siska yang merasa tak terima rekan kerjanya di hina pun mulai membela Resti.
“Saya percaya pada Resti nyonya, karena saya sudah kenal dia selama 3 tahun, kita juga dari yayasan yang sama, dan tak ada satu majikan pun yang mengeluh soal dirinya, terakhir dia keluar dari tempat kerjanya, karena sang majikan pindah ke luar negeri, hum... apa mungkin itu rambut nyonya?”
“Apa?” Arinda yang tak terima mulai maju ke hadapan Siska.
__ADS_1
“Mungkin rontok? Dan nyonya enggak sadar itu, bisa jadikan nyah?” ujar Siska.
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Siska. Sinta dan Resti jadi syok atas perbuatan kasar sang nyonya galak.
“Jahanam, beraninya kau yang seorang babu, pembantu, melawan ku, berucap semau mu, padahal kau tak punya bukti, benar-benar biadab, kau bukan manusia!”
“Kau yang bukan manusia!” ucap Siska seraya memegang pipinya yang masih panas akan tamparan Arinda.
“Berani bicara satu kata lagi, ku robek-robek mulut busuk mu itu!” pekik Arinda.
“Kak sudahlah.” bisik Sinta yang ada di sebelah Siska.
“Iya kak, jangan di lawan lagi,” ucap Resti.
“Benar kata dua teman babu ini, enggak usah melawan, karena kalian itu manusia kualitas rendahan.” Siska yang tak terima memberi tatapan mata tajam pada Arinda.
“Ck, apa sih yang kau banggakan? Hah! Mata mu tolong di kendalikan ya, sudah jelek, malah makin jelek, cepat minta maaf pada ku, kalau enggak ku lempar wajah mu pakai piring ini!!” pekik Arinda seraya berkacak pinggang.
Siska yang merasa benar hanya bungkam tak mau meminta maaf, dan matanya masih memandang tajam Arinda, Sinta dan Resti yang takut masalah makin rumit pun mewakili Siska untuk minta maaf.
“Maaf nyonya, kami minta maaf ini adalah kesalahan kami,” ucap Resti.
“Iya nyonya, saya juga minta maaf, untuk kak Siska, tolong jangan di perpanjang lagi masalahnya,” pinta Sinta.
“Kalian memang harus minta maaf pada ku, tapi dia!” Arinda menunjuk tajam ke arah Siska.
“Harus secara langsung minta maaf kepada ku, dengan mencium telapak kaki ku, kalau enggak, ku pecat!” Sinta dan Resti saling melihat satu sama lain, kesombongan Arinda benar-benar di luar nalar.
“Aku enggak mau murahan.” ucap Siska dengan nada yang tenang namun menyebalkan di telinga Arinda.
“Mu-murahan kau bilang? Kau sebut aku murahan?”
“Iya, kau murahan, sialan! Perebut suami orang, sok berkuasa, sombong, tukang drama, jahat, tidak tau diri, lupa dasar, pada hal kau juga orang miskin, kalau bukan karena kebusukan mu, kau tetap sama dengan kami, manusia melarat! Bedanya kami memiliki attitude, kau tidak, benar-benar memalukan!”
“Kak, cukup!” Resti benar-benar takut, terlebih aura Arinda begitu mencekam.
“Biarkan saja! Apa karena kita pembantu, kita tak punya hak untuk membela diri? Huh! Kita lebih mulia dari perempuan gatal tak tau budi ini!”
“Kak, cukup kak, sudah, sudah!” pinta Sinta ketakutan.
“Apa masih ada yang ingin kau katakan manusia rendahan?” tanya Arinda.
“Tentu, kau lont*! Lont* gratisan! Dasar parasit! Manusia lemas! Pembawa sial! ” pekik Siska.
Prang!!!
__ADS_1
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...