
Pukul 17:30, Bia yang merasa ayahnya terlalu lama menjaga ibunya pun berpikir, kalau ayahnya telah lelah.
Ia yang memiliki niat baik pun menuju kamar kedua orang tuanya.
Ceklek! Krieett... Andri yang tak mengunci pintu memudahkan putrinya untuk masuk.
Ya Tuhan papa, bukannya jaga mama, papa malah tidur, batin Bia.
Ia pun mendekat ke ranjang, lalu mengelus rambut ibunya.
“Mama sakit apa sih? Kok tidurnya lama banget ma?” Bia yang rindu suara ibunya menginginkan agar Beeve segera membuka mata.
Bia terus mengelus puncak kepala Beeve seraya mengecup keningnya berulang kali. Tak lama Beeve pun bangun dari tidurnya.
Saat ia membuka mata, orang yang pertama kali ia lihat adalah putrinya.
“Nak?” sapa Beeve pada putrinya.
“Mama sudah bangun?” tanya Bia dengan penuh senyum.
“Iya sayang, kau sedang apa disini?”
“Jaga mama dan papa, kata papa mama sakit, pada hal sudah janjian sama papa, kalau lelah kita gantian, malah papa tidur di sebalah mama, tanpa bilang ke Bia untuk gantian,” terang Bia.
Lalu Beeve melihat ke sebelahnya, Andri yang lelah masih memejamkan matanya dengan rapat.
Mas Andri pasti kelelahan banget, batin Beeve.
Karena hari telah sore, Beeve berniat ingin memandikan putrinya. Perlahan ia pun turun dari ranjang, namun gerakan yang ia timbulkan malah membangunkan suaminya.
“Eh sayang! Kau sudah bangun?” ucap Andri yang langsung bangkit dari tidurnya.
“Iya mas, sudah kau tidur saja lagi,” ujar Beeve.
Kemudian Andri melihat ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 19:20 malam, ia pun mengurungkan niat untuk menyambung tidur.
“Tanggung sayang, oh ya, kau mau kemana?” tanya Andri.
“Aku ingin memandikan Bia mas,” ucap Beeve.
“Ya Allah, kau belum sembuh sayang, jadi jangan banyak kerjaan dulu ya, Bia biar aku yang mandikan,” terang Andri.
“Enggak usah mas, biar aku saja.” Beeve menolak kebaikan Andri, karena takut terjadi apa-apa pada putrinya.
“Sudah sayang, biar aku saja.” namun Andri yang baik hati berniat ingin meringankan tugas istrinya.
“Enggak boleh mas, Bia kan perempuan, sudah usia 4 tahun lagi, nanti saja kau mandikan anak mu.” ucap Beeve.
“Kapan?”
“Kalah aku sudah melahirkan anak laki-laki!” terang Beeve.
“Kapan kejadiannya, kau saja enggak bersedia buat mengandung!”
“Nanti-nanti, sudah ah! Keburu sore, kasihan Bia kalau mandi terlambat.” Beeve dan Bia pun buru-buru keluar kamar, menuju kamar Bia.
__ADS_1
“Kenapa sih dia, makin hari, ada saja aturan baru,” gumam Andri.
__________________________________________
Helena yang baru tiba di kediaman calon suaminya, mendapat sambut hangat oleh Rahma.
“Selamat datang sayang!” Rahma memberi pelukan pada calon menantunya.
“Tante... Helena rindu banget loh pada tante, apa kabar...” Helena memberi kecupan pada pipi calon mertuanya.
“Baik nak, eh.. kalau kau rindu, sering main engak apa-apa kok nak,” ujar Rahma.
“Aku sih mau banget tan, tapi... nanti bang Emir marah pada ku lagi, hehehe.”
“Kalau soal Emir, kau enggak perlu pikirkan, diakan memang selalu galak dan enggak jelas orangnya.” terang Rahma, lalu keduanya masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu.
Saat Rahma dan Helena sibuk berbincang, Emir pun pulang dari kampus, ia yang melihat wajah calon istrinya menelan salivanya.
“Bang Emir sudah pulang?” sapa Helena yang masih duduk di atas sofa.
“Iya.” jawab Emir singkat.
“Skripsinya sudah sampai mana bang, apa semuanya lancar?”
“Ya, besok aku sidang,” ucap Andri.
“Wah! Benarkah?” Rahma begitu bahagia, karena sebentar lagi putranya akan jadi Sarjana.
“Iya bu.” sahut Emir.
“Belajar yang rajin, tenang saja, kami enggak akan menggangu mu," ujar Rahma
Helena yang sebenarnya sangat rindu pun mengurungkan niatnya untuk menggangu calon suaminya.
“Benar bang, kau fokus saja belajar, kami enggak akan mengganggu mu, semangat!” Helena mengedipkan mata kirinya pada sang calon suami tercinta.
“Apa kau sudah makan?” tanya Emir pada Helena, yang membuat Rahma dan melihat satu sama lain.
“Belum bang.” jawab Helena dengan jantung berdebar-debar.
“Ayo makan dengan ku.” sungguh di luar dugaan, Emir yang biasa sedingin es di kutub Utara tiba-tiba jadi hangat seperti Arab Saudi.
“Ayo bang.” tanpa menunggu lama, Helena mengikuti langkah Emir menuju meja makan, Rahma sendiri merasa senang bukan main, karena putranya perlahan membuka hati pada calon menantunya.
Sesampainya mereka ke meja makan, keduanya pun mengambil nasi masing-masing, selanjutnya mereka duduk bersebelahan.
Entah jenis angin apa yang menerpa Emir, hingga ia mau repot menaruh lauk ke piring Helena.
“Bang, kau kerasukan setan apa? Kok tiba-tiba berubah?” tanya Helena penasaran.
“Jadi kau lebih suka aku mengabaikan mu?” ucap Emir seraya melihat wajah Helena, yang membuat jantung Helena makin kejang-kejang.
Deg deg deg...
”Bang...”
__ADS_1
“Ya?”
“Jangan melihat ku begitu, nanti aku bisa pingsan.” Helena menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apa sih? Biasa saja dong! Jangan seperti anak puber begitu!” pekik Emir.
“Bang... lebih baik kau seperti biasa dari pada begini, aku benar-benar enggak tahan kalau kau seperti itu lebih lama, bisa-bisa seluruh jiwa dan raga ku, ku berikan untuk mu!” Helena tertawa cengengesan tak jelas.
“Dasar sinting! Terserah kau sajalah!” Emir pun mengunyah nasi yang ada di piringnya tanpa menunggu Helena yang masih di kuasai rasa bunga-bunga asmara.
Aku harus membuka hatiku pada Helena dengan benar, mungkin memang ia yang terbaik, batin Emir.
Helena yang merasa malu-malu kucing menyantap makanannya dengan senyum tak menentu.
Selesai makan, Emir pun pamit kembali ke kamarnya.
“Aku duluan, lanjutkan obrolan mu dengan ibu, tapi jangan terlalu larut, karena ini sudah malam,” terang Emir.
“Bang, kalau aku menginap boleh?” tanya Helena.
Emir terdiam, karena ragu untuk mengizinkan atau tidak.
“Gimana bang?” Helena mencolek tangan Emir.
“Tanya ibu saja, dan izin dulu pada orang tua mu.”
Malam itu Helena bagai ketiban Emas runtuh, karena sang calon suami mengizinkannya untuk menginap.
“Oke bang, kalau begitu, aku ke depan dulu!” Helena berlari menuju ruang tamu untuk menemui Rahma.
Emir tersenyum tipis saat melihat Helena terlihat begitu bersemangat.
Meski aku belum merasakan perasaan yang sama, setidaknya ada seseorang yang bersedia mencintai diriku dengan setulus hatinya, batin Emir.
Rahma yang ada di ruang tamu di buat heran, sebab Helena melompat-lompat tak jelas.
“Kau kenapa Helena?” tanya Rahma.
Lalu Helena menarik tangan Rahma untuk berdiri dari atas sofa, ia pun mengajak calon mertuanya untuk loncat bersama dengan berpegangan tangan.
“Bang Emir tan, dia mengizinkan ku untuk menginap disini, dan dia juga begitu perhatian pada ku saat makan tadi,” terang Helena.
Rahma yang kelelahan karena Helena pun menghentikan aksi kekanak-kanakan calon menantunya.
“Aku lelah, berhenti.”
“Aku bahagia banget tan!” Helena memeluk tubuh Rahma berulang kali.
“Baguslah kalau begitu, kalau kalian sudah ada kemajuan, pandai-pandailah mengambil hatinya,” ucap Rahma.
“Iya tan, semoga bang Emir betah dengan ku, ya Tuhan, aku enggak sabar menunggu hari pernikahan kami tante, boleh besok saja enggak sih tan? Enggak usah tunggu 3 minggu lagi?” tanya Helena.
“Jangan aneh-aneh, yang minta saat hari ulang tahun mu kan kau dan keluarga mu sendiri,” jawab Rahma.
“Oh, iya juga ya, hehehe.” keceriaan Helena dan Rahma di saksikan Emir secara langsung, ia pun turut bahagia, jika keluarganya merasa senang.
__ADS_1
Setelah itu Emir kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dari aktivitasnya seharian di luar rumah.
...Bersambung......