
Arinda melempar piring berisi nasinya ke wajah Siska yang berada tepat di hadapannya.
“Kak!” teriak Sinta dan Resti, mereka pun sigap membersihkan nasi yang ada di wajah Siska.
“Begini kalau seorang rendahan di biarkan berkembang, pada hal aku sudah mentolerir mu dari tadi, tapi sungguh enggak ada rasa syukur di hatimu orang jelek, mulut mu benar-benar kotor!”
“Kau yang lebih kotor!” balas Siska.
“Oh, kau masih berani melawan ku lagi?!”
Saat Arinda ingin menampar Siska, Siska dengan sigap menangkap tangannya.
Plak!! Siska memberi sebuah tamparan di pipi kanan Arinda.
Sinta dan Resti seakan mau pingsan, karena keduanya tak ada yang mau mengalah.
“Beraninya kau rendahan! Manusia laknatt!” teriak Arinda.
“Kau yang memulai lebih dulu jalan*, istri yang tak di anggap, sudah begitu masih bertahan di rumah nyonya Beeve, asal kau tahu, ini rumah nyonya Bee, bukan tuan, nyonya besar saja sopan pada kami, tapi kenapa kau yang bukan siapapun malah bersikap seenaknya!” Siska yang tak perduli akan pekerjaannya pun terus melancarkan hinaan pada Arinda.
“Aku ini istri sahnya mas Andri! Apa kau lupa binatan*! Dasar pembantu! Otak mu kau taruh di mana? Di lantai? Hum? Pantas tolol!” pekik Arinda.
“Kau yang tolol! Dasar betina murahan!” Siska yang tak sungkan-sungkan lagi, mengambil sayur sop yang ada di atas meja.
Surrrr..., tanpa pikir dua kali, atau merasa takut, ia menumpahkannya ke kepala Arinda.
“Hah!!! Siska! Mau cari mati kau ya!!!” teriak Arinda yang mulai menggila.
Sinta dan Resti mencoba melerai keduanya yang kini telah melakukan pertempuran jambak menjambak. Namun mereka harus gagal, karena kekuatan Antara Arinda dan Siska di luar kemampuan mereka.
Sedangkan Beeve yang lapar keluar dari dalam kamarnya.
Kriett...
Ia pun tiba-tiba mendengar suara gaduh dari arah dapur, sontak Beeve bergegas menuju sumber suara.
“Dasar sialan!” ucap Arinda.
“Kau murahan!” balas Siska.
__ADS_1
Beeve yang melihat keduanya menghina satu sama lain dengan posisi saling menarik rambut pun melerainya.
“Ngapain kalian berdua?!”
“Ini bukan urusan mu!” pekik Arinda.
“Ini urusan ku, karena semua kekacauan ini terjadi di rumah ku, Arinda! Mbak Siska! Hentikan!!” keduanya pun berhenti setelah mendapat teguran dari Beeve.
“Gila ya kalian, bisa-bisanya bertengkar!”
“Itu karena dia! Dia merendahkan ku, segala macam kata dari A-z dia lontarkan pada ku!” ucap Arinda.
“Bohong nyah, dia yang menghina dan main tangan duluan!” terang Siska memberi pembelaan.
“Kau yang duluan, datang-datang mencampuri urusan ku, pada hal jelas-jelas si Resti yang salah, mengotori makanan ku, apa karena suami ku enggak disini, kalian jadi enggak menghormati ku?!”
“Aduh, sudah cukup!!!” pekik Beeve.
“Gimana bisa cukup? Ini juga karena mu Bee, kau terlalu memanjakan mereka, dan mereka semua membenci ku karena mu, mentang-mentang aku istri kedua dan suami ku pergi, tak ada satu pun yang menghormati ku lagi, kejam!”
“Kau ngomong apa sih! Sembarangan!” ucap Beeve.
“Apa-apaan kau! Mereka pekerja ku, bukan kau! Jadi aku yang berhak menentukan,” ujar Beeve.
“Enggak bisa, pokoknya pecat! Keluar kalian!!!” teriak Arinda dengan suara melengking.
“Enak saja! Enggak ada yang boleh keluar, lagi pula yang gaji mereka itu mas Andri, jadi yang berhak muat memberhentikan mereka ya mas Andri juga, jangan mengada-ngada deh, asal buat keputusan,” ujar Beeve.
“Oh, kau membela mereka Bee? Pada hal mereka sudah merendahkan ku? Lihat!” Arinda menunjuk wajah dan rambutnya yang telah di guyur sayur sop.
“Ini buktinya! Aku yang sebagai nyonya di perlakukan seperti ini dan kau masih membelanya? Aku tahu kau enggak suka pada ku, tapi jangan begini dong! Meski aku benar, kau malah menutup mata.” Arinda benar-benar bertekad agar ketiganya di pecat.
“Semua ada sebabnya, mereka ini santun dan segan kok orangnya, pasti salahnya di kau! Pada ku juga kau suka semena-mena dan memberi fitnah, pokoknya enggak ada yang keluar!” keputusan Beeve membuat penyakit mental Arinda kambuh.
Dengan kesetanan ia membuka tudung nasi, dan melempar semua makanan yang telah terhidang dengan wadah kaca.
Prang!! Prang!!
“Kalau enggak keluar, ku hancurkan rumah ini, harga diriku lebih besar dan berharga dari mereka Bee!”
__ADS_1
Siska, Sinta dan Resti yang takut sang nyonya besar kena getah dari ulah mereka pun memilih untuk mengalah.
“Baik, kami akan keluar! Enggak usah heboh bagai orang sakit jiwa,” ucap Siska.
“Mbak, kalian enggak harus keluar.” pinta Beeve.
“Enggak apa-apa nyah, lagi pula kita sudah muak dengan betina murahan ini!” pekik Siska.
“Kan! Kau lihat sendiri mulut judesnya!” teriak Arinda.
“Diam kau Arinda! Kaulah yang salah!” hardik Beeve.
“Iya, benar nyah, enggak apa-apa kita berhenti, saya juga enggak terima atas fitnahan manusia sombong ini,” ucap Resti.
“Aku juga enggak apa-apa nyah, dari pada bertahan buat di remehkan dan di rendahkan, kami memang hanya seorang Art. Tapi kami ini punya hati nurani juga, kita manusia, kami juga bangga tas profesi kami, melayani para majikan dengan jujur, dan pekerjaan kami ini sangat halal nyah.” terang Sinta dengan menitihkan air mata.
“Aku tahu, tapi kalian enggak perlu pergi, kalian kan enggak salah, aku mohon jangan keluar ya, aku masih butuh kalian,” pinta Beeve.
“Masalah ganti, biar aku yang cari Bee! Lepaskan mereka, atau akan ku lanjutkan kegilaan ku ini!” ancam Arinda.
“Ya sudah nyah, kami akan berkemas, lama-lama disini takut khilaf, sayakan sangat jago dalam memainkan pisau,” terang Resti.
“Ya sudah sana! Kalian pergi!” Arinda pun mengusir para Art yang bermasalah dengannya.
Beeve sebisa mungkin membujuk ketiganya, namun mereka tak bersedia untuk mengabdi dengan keluarga kecil Andri lagi.
“Baiklah mbak, aku tunggu kalian di ruang tamu.” ucap Beeve, ketiganya pun beranjak ke kamar mereka mengemas baju.
Para Art lain yang melihat rekan kerja mereka keluar secara tiba-tiba pun kaget, namun karena masing-masing dari mereka sangat butuh uang, alhasil yang tak di pecat tetap bertahan.
Arinda dengan wajah sombongnya kembali ke kamarnya dengan meninggalkan dapur yang masih berantakan.
Sesampainya ia ke kamarnya, ia senang buka main.
“Hahaha, akhirnya aku berhasil menyingkirkan mereka, aku enggak nyangka, dalam satu dayungan, tiga pulau terlalui, hah! Setelah aku berhasil menyingkirkan semua Art, baru giliran mu Bee, perempuan bolong! Hahaha!!! Mumpung enggak ada yang akan menjaga mu, aku memang pintar.” Arinda jadi sangat bersemangat, ia pun bergegas mandi, karena ia ingin melihat wajah para Art nya keluar dari dalam rumah untuk yang terakhir kalinya.
“Pat cepat-cepat, ada tontonan bagus, hahaha.”
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...