
Sejak hari itu Andri mau pun Emir banyak memberi perhatian pada Beeve yang sedang mengandung.
1 Agustus 2020, hari pertama kuliah Beeve pun di mulai, ia mengambil jurusan seni rupa, ketika Beeve masuk ke dalam ruangan, dirinya terperanjat, ternyata sang mantan mengambil jurusan yang sama dengannya.
Pada hal baru hari pertama, tapi sudah sial begini, batin Beeve.
Cristian yang melihat kehadiran Beeve hanya melempar senyuman nakal.
Beeve tak menggubris kehadiran Cristian, ia mengambil kursi di bagian tengah, jauh dari tempat Cristian berada.
Harusnya aku ambil jurusan lain kalau tahu begini, semoga dia enggak mengganggu ku, batin Beeve.
Sedang Cristian yang penasaran pada Beeve malah berpindah duduk ke sebelah sang mantan.
“Selamat pagi Bee, apa kabar?” ucap Cristian.
Beeve yang tak ingin ada urusan dengan Cristian memilih bangkit dari duduknya.
“Kau mau kemana?” tanya Cristian.
“Tolong jangan ganggu aku, karena aku sudah bersuami,” jawab Beeve.
“Siapa juga yang mau ganggu mu? Aku hanya menyapa mu saja, duduklah kalau enggak mau aku teriaki wanita nakal,” ancam Cristian.
“Kau maunya apa sih? Tolong ya, jangan permainkan aku lagi.” ucap Beeve menahan kesal.
“Makanya duduk, aku hanya ingin bernostalgia dengan mu, enggak di sangka kita ambil jurusan yang sama ” sikap tak tahu malu Cristian benar-benar membuat Beeve muak, namun karena ia tak ingin aibnya tersebar, Beeve pun menuruti perkataan Cristian.
“Nah, begitu dong, duduk tenang di sebelah ku, oh ya? Bagaimana kabar anak haram mu?” bisik Cristian yang membuat Beeve memelototi mantannya.
“Jaga bicara mu ya, ini bukan anak haram, dia anak ku.”
“Iya, dia memang anak mu, tapi hamil di luar nikahkan sama dengan anak haram, kau ini berlagak enggak tahu saja.” ketika Cristian akan mengelus perut Beeve, sontak menepisnya.
“Jangan kau sentuh aku dengan tangan kotor mu, sebaiknya kau jaga sikap mu Crist, karena aku juga enggak minta apa-apa dari cowok banci seperti mu,” hardik Beeve.
Cristian menelan saliva nya, ketika ia ingin membalas pedasnya kata-kata Beeve, dosen mereka masuk ke dalam ruangan, Beeve pun mengambil kesempatan itu untuk berpindah tempat duduk.
Awas kau Bee, aku akan membalas semua sakit hati dan rasa kehilangan yang kau sebabkan pada ku, batin Cristian.
______________________________________________
Di kantor, Andri yang sedang senyum-senyum menatap photo Beeve di layar handphonenya harus terganggu karena suara ketukan pintu.
__ADS_1
Tok tok tok!
“Masuk.” saat pintu terbuka, ternyata yang datang adalah Yeni, sekretaris Andri.
“Ada apa Yen?” tanya Andri yang duduk di kursi kerjanya.
“Maaf menggangu pak, ada yang ingin bertemu bapak,” ucap Yeni.
“Oh ya? Persilahkan dia masuk,” titah Andri.
“Baik pak, ayo masuk.” ucap Yeni pada sang tamu.
“Selamat pagi pak Andri.” ucap Arinda yang hampir sebulan tak bertemu dengannya.
Yeni yang telah mempersiapkan Arinda masuk menutup pintu kembali.
Setelah pintu tertutup rapat, raut wajah Andri berubah menjadi masam.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Andri dengan wajah yang tegang.
“Saya enggak di persilahkan duduk nih pak?” Andri memutar mata malas melihat basa-basi dari Arinda.
“Jangan banyak gaya, katakan apa tujuan mu datang kemari?” ucap Andri seraya bangkit dari duduknya.
Kemudian Arinda mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di meja Andri.
“Bapak bisa buka sendirikan?” jawab Arinda.
Dengan menghela nafas panjang Andri mengambil amplop tersebut.
“Kalau kau macam-macam, ku pastikan hari ini tamat riwayat mu!” pekik Andri, Arinda hanya membalas dengan senyuman.
Ketika Andri membuk isi dalam amplop tersebut, ia di buat jantungan.
Deg deg deh deg!!
“Bangsat!” umpat Andri, karena isi amplop tersebut adalah sebuah tespek digital bergambar hati, dan juga photo hitam putih hasil USG, serta surat keterangan dokter bahwasanya Arinda Hamil 4 minggu.
Andri mencengkram leher Arinda yang ada di hadapannya, “Kau bercanda!” hardik Andri tak percaya.
“Ku rasa kau belum lupa pak, apa yang kita lakukan malam itu, dan kau pun tahu betul kalau aku masih suci untuk mu!” terang Arinda seraya menahan sakit di lehernya.
“Haah!!! kau gila! Sekarang juga kau pergi dari hadapan ku! Lagi pula aku sudah memberi mu 4 milyar, enyalah dari kehidupan ku!” Andri menghempaskan tubuh Arinda, beruntung ia tak tersungkur ke lantai.
__ADS_1
“Kau enggak bisa sekejam ini pada ku pak, bagaimana pun, aku mengandung benih mu, anak sah mu! Aku enggak meminta kau melakukan itu pada ku, semua terjadi karena kesalahan mu! Uang yang 4 milyar masih utuh! Enggak ku sentuh sedikit pun, sekarang yang aku inginkan adalah, kau menikahi ku! Tanggung jawab dengan apa yang kau tanam! Anak ini enggak bersalah!” terang Arinda.
“Aku enggak mau, jangan memaksa ku, tanggung sendiri apa yang kau lakukan,enggak ada yang mengundang mu ke kamar ku! Hem! Keji sekali permainan mu! Ternyata kau sudah merencanakan ini semua, hahaha,” Andri tertawa getir.
“Dengar ya, aku enggak akan masuk ke dalam jebakan mu untuk yang kedua kalinya, aku enggak akan menikahi mu, belum tentu itu anak ku!” ucap Andri dengan wajah dingin.
“Akan segera terbukti pak, dan kalau kau enggak mau menikahi ku, maka siap-siap masuk penjara, karena yang kau lakukan waktu itu pada ku telah di visum oleh dokter, dan sisa sperm* mu sidik jari mu, semuanya sudah ku simpan dengan rapi, sebagai penguat untuk menjebloskan mu ke penjara.” Arinda membalas mutlak yang Andri lakukan padanya.
“Apa?” Andri yang sudah tak tahan mendaratkan tamparan di wajah kiri dan kanan Arinda berulang kali.
Plak! Plak! Plak!
Namun bukan menangis atau takut, justru Arinda tertawa terbahak-bahak.
“Ahahahaha, hanya ini yang kau bisa? Aku lebih nekat dari mu pak, lakukan apa yang kau mau, karena itu akan memperburuk situasi mu!”
“Laknat! Yang ada di perut mu bukan anak ku! Sekarang juga tinggalkan ruangan ku!” Andri mengusir Arinda yang membuatnya marah.
“Cepat atau lambat kau akan menikahi ku, dan hanya itu pilihan mu pak Andri,” ucap Arinda dengan percaya diri.
“Itu enggak akan terjadi, sebab aku mencintai Beeve, dan hanya Beeve yang boleh melahirkan anak ku!”
“Ahahahaha.” Arinda tertawa geli, di matanya Andri terlihat bodoh.
“Kau salah pak, bukan dia tapi aku,” ucap Arinda.
“Hentikan omong kosong mu dan keluar dari ruangan ku!”
Arinda yang merasa ancamannya cukup untuk saat itu memutuskan keluar.
“Ya sudah, jangan marah-marah begitu dong pak, kasihan kalau nanti kau sakit, karena anak kita masih membutuhkan mu.” ucap Arinda seraya meninggalkan ruangan Andri dengan rambut urakan dan sudut bibirnya yang berdarah.
Yeni yang melihat penampilan kacau Arinda bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa yang terjadi di dalam atasannya.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
Nama : Arinda Putri
Usia : 18 Tahun
Tinggi : 162 Cm
__ADS_1
Pasangan : On Proses