
Andri yang pada dasarnya berhati lembut, mulai kasihan pada Arinda, ia teringat akan Beeve yang manja.
“Apa aku harus menyuruh supir setiap kali aku ingin apapun mas? Ini anak mu, bukan anak supir, tolong tatap anak mu, walau kehadirannya bukan karena cinta, tapi benih mu telah tumbuh di rahim ku, hubungan kita bisa di putus, namun kau dan anak mu, sampai mati akan menjadi ayah dan anak.” terang Arinda membuat Andri menarik nafas panjang.
“Baiklah, aku akan kesana nanti, jadi tolong sekarang kau pulang, dan ini terakhir kali kau kemari,” ucap Andri.
“Baiklah mas, aku pulang, ku tunggu kau di rumah.” saat Arinda akan beranjak pergi, Andri mencegatnya.
“Tunggu.”
“Kenapa mas?” tanya Arinda.
Lalu Andri mengelus perut Arinda, seraya berkata dalam hati.
“Maafkan papa nak.” setelah itu Andri menyuruh Arinda pulang.
“Pulanglah, hati-hati di jalan,” ucap Andri.
“Baik mas.” Arinda pun keluar dari ruangan Andri. Setelah ia menutup pintu Yeni bertanya padanya.
“Apa urusannya sudah selesai Nda?”
“Kau enggak perlu tahu! Urus saja pekerjaan mu! Oh iya, kau harus tahu sopan santun yang banyak, jangan sembarangan memanggil nama orang lain, apa lagi orang itu enggak sederajat dengan mu.” ucap Arinda dengan angkuhnya.
Yeni yang merasa Arinda tak tahu diri pun mencibirnya.
“Ck, apa sih yang kau banggakan? Kau hanya mantan karyawan disini, malahan aku lebih berbobot darimu, tapi sombong mu minta ampun, sudah pantas sih kau di pecat oleh pak Andri.” Arinda yang sudah menjadi istri Andri jelas tak terima, dengan lancangnya ia menampar wajah Yeni.
Plak!!
“Berani mengulangi perkataan mu yang tadi, atau melakukan penghinaan yang sama, ku pecat kau sialan! Kau harus tahu kedudukan mu! Aku ini nyonya! Istri Presdir dan menantu sah pemilik perusahaan ini!” terang Arinda dengan percaya diri.
Yeni tak percaya begitu saja dengan pernyataan Arinda.
“Mimpi kau!” pekik Yeni.
Lalu Arinda menekan kuat kening Yeni dengan telunjuknya.
“Heh! Kau iri ya? Bahkan sekarang aku tengah mengandung anak mas Andri, jadi kau bersikap baiklah kedepannya, atau kau harus menyiapkan CV baru.” setelah puas merendahkan Yeni, Arinda beranjak pergi.
“Dia benar-benar berhasil mendapatkan pak Andri?” gumam Yeni.
___________________________________________
Sementara di rumah, Beeve yang tak ada kelas hari itu pun memutuskan untuk mencari bahan bacaan di ruang kerja suaminya.
Ting!
Ia yang telah sampai di lantai 2 keluar dari dalam lift.
__ADS_1
Ceklek!
Beeve membuka pintu ruang kerja suaminya, setelah itu ia langsung menyusuri rak-rak yang ada dalam ruangan itu.
Ketika ia sedang sibuk mencari buku novel atau cerpen tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
“Ehem... Bee.” sontak Beeve merasa takut, saat tahu bahwa ia tak sendiri disana.
“Apa kabar?” sapa Emir yang kini berdiri di sebelahnya.
“Ba-baik,” jawab Beeve kikuk.
Beeve yang tak ingin memiliki urusan baru bersama Emir memutuskan untuk keluar dari ruang kerja suaminya.
“Maaf, aku ada urusan.” ketika Beeve akan melintas dari sebelah Emir, namun Emir menggenggam lengannya.
“Apa kau masih marah pada ku?” tanya Emir.
“Enggak, aku enggak marah, maaf aku harus turun.” ucap Beeve dengan jantung yang berdebar kencang.
“Sekali lagi, maafkan aku, aku benar-benar khilaf.” Emir menurunkan genggamannya ke tangan Beeve.
“Iya, aku sudah memaafkan mu, bisa sekarang lepaskan aku?” pinta Beeve.
“Tentu, tapi aku ingin memberitahukan sesuatu pada mu.” ucap Emir yang berniat membongkar pernikahan siri Andri.
“Aku enggak mau mengobrol dengan mu lebih lama, tolong lepaskan tangan ku!” hardik Beeve yang memberikan tatapan mata tajam pada Emir.
“Tapi ini penting.”
“Kau enggak ngerti juga? Lepaskan aku, lagian kau kenapa sih datang terus ke rumah ini? Aku enggak nyaman tahu!” ucap Beeve.
“Aku datang hanya untuk mengambil mobil ku," terang Emir.
“Ya sudah, kau tinggal bawa mobil mu, dan jangan kembali lagi kesini, aku enggak mau melihat wajah mu lagi.” hati Emir bagai di sayat sembilu mendengar ucapan Beeve.
“Bee, jangan minta hal itu, karena itu enggak mungkin ku lalukan, aku...., aku mencintai mu!” Emir kembali menyatakan cintanya pada Beeve.
“Apa kau gila?!” Beeve terus menghempaskan tangannya, namun genggaman Emir kian erat.
“Aku ini istri mas Andri! Aku mencintai dia! Kami saling mencintai! Tolong jangan ganggu hubungan kami, karena aku enggak mencintai mu sama sekali, ku mohon sadarlah, pergilah yang jauh.” Beeve benar-benar tak menginginkan kehadiran Emir.
“Apa kepergian ku akan membuat mu bahagia?” tanya Emir dengan menahan sakit di hatinya.
“Ya, akan lebih baik untuk kita semua,” jawab Beeve.
Emir kembali menelan pil pahit, karena pada kenyataannya, ia takkan mampu menggapai Beeve.
Ia yang telah pasrah pun melepaskan tangan Beeve, dan tentunya Beeve buru-buru keluar dari ruang kerja suaminya.
__ADS_1
“Dasar gila!” gumam Beeve.
Emir berdiri kaku bagai patung, hatinya benar-benar runtuh, tiada celah baginya untuk bersama Beeve, walau sekedar ipar lagi sekarang.
Ketamakan serta kekhilafannya membuat ia tak memperoleh apapun.
Perlahan ia melangkahkan kakinya, keluar dari ruang kerja Andri.
Raganya bagai tak bernyawa, ia pun pulang dengan penuh kehampaan.
Sesampainya ia ke rumah orang tuanya, Emir naik ke kamarnya yang ada di lantai 2.
Rahma yang melihat kejanggalan pada putra sulungnya mulai bertanya-tanya dalam hati.
Kenapa lagi dia?
Emir yang telah sampai ke kamarnya mengambil koper. Kemudian ia membuka lemarinya, dan menyusun baju-bajunya ke dalam koper.
Setelah itu ia turun kembali ke lantai satu, kebetulan Rahma sedang duduk santai di atas sofa.
Melihat putranya mendorong koper membuatnya bingung.
“Kau mau kemana?” tanya Rahma.
“Pulang ke London bu.” jawab Emir, yang kini duduk di hadapan Rahma.
“Kau sudah gila? Untuk apa kesana? Dan kuliah mu masih berjalan, belum liburan semester kan? Ayo cepat naik! Enggak ada acara ke London sebelum libur!” terang Rahma.
“Emir mau ambil cuti bu,” ucap Emir.
“Cuti apanya sih?! Baru masuk beberapa hari juga!”
“Tapi Emir ada job disana, kontrak 7 bulan, gajinya lumayan besar, jadi Emir mau ambil bu.” terang Emir.
“Berapa sih gajinya? Apa uang bulanan yang ayah mu kasih enggak cukup? Lebih baik kau fokus kuliah, kalau mau uang tambahan, ambil iklan atau endorse yang enggak mengganggu kuliah mu, sempat kau keluar dari rumah ini, ku kuliti kau! Cukup selama 3 tahun kau jauh dari ayah dan ibu!” pekik Rahma.
“Aku pergi bukan hanya untuk itu bu,” ucap Emir.
“Alasan apa lagi yang mendorong minat mu untuk cuti kuliah?” tanya Rahma.
“Beeve, dia ingin aku pergi,” jawab Emir.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1