
Rafael hanya menggelengkan kepalanya, ternyata istri kecilnya tengah tertidur, seulas senyum melintas di bibir Rafael saat memandang wajah gadisnya.
Karena tidak tega, akhirnya Rafael membopong tubuh Sila masuk ke dalam rumah.
Setibanya di kamar, Rafael langsung merebahkan tubuh Sila di atas ranjang, setelah itu, ia memutuskan untuk turun.
"Bi, Bi Inah," panggil Rafael.
Dengan tergopoh-gopoh perempuan paruh baya itu menghampiri majikannya.
"Iya Tuan, ada yang bisa bibi bantu?" tanya bi Inah.
"Sekarang saya harus ke kantor, nanti kalau Sila bangun, tolong layani dia," jelas Rafael.
"Baik Tuan," jawabnya, menundukkan kepalanya.
Setelah itu Rafael pun bergegas keluar.
Pukul 11 siang Sila terbangun dari tidurnya, merasa silau dengan cahaya mentari yang tembus dari jendela kaca kamar.
Perlahan Sila membuka kelopak matanya, diregangkan otot-ototnya.
Seketika Sila terbangun saat melihat suasana yang menurutnya aneh.
"Hah, aku di mana," pekiknya, lalu bangkit dan duduk.
"Kok aku bisa ada di kamar sih, ini kamar siapa," ujarnya, seraya mengedarkan pandangannya.
Perasaannya lega saat melihat baju yang Sila kenakan masih utuh.
Ia takut kalau-kalau ada yang berbuat tidak-tidak pada dirinya.
"Untung masih lengkap bajunya, atau jangan-jangan ini kamar kak Rafael, tapi di mana orangnya," ujarnya menerka-nerka, lalu bangkit dari tempat tidur.
Sila turun dari ranjang, ia melihat sekeliling kamar tersebut, kamar yang sangat luas, melebihi kamarnya.
Rapi dan letak barang-barangnya sangat strategis, Sila merasa takjub melihat kamar tersebut.
"Luas banget kamarnya, ada ruang gantinya juga, kamar mandinya juga luas," ucap Sila, yang merasa sangat takjub.
Kemudian Sila berjalan keluar dari kamar, rumah yang bak istana, seketika membuat Sila diam terpaku, tapi lamunannya buyar, saat sosok yang ia cari tidak terlihat.
Siapa lagi kalau bukan Rafael, suaminya sendiri, yang super dingin dan jutek.
"Kak, kak Rafael," panggil Sila.
Bi Inah yang mendengar suara tersebut, segera berlari menghampirinya.
"Non Sila sudah bangun, ada yang bisa bibi bantu?" tanya bi Inah.
"Kamu siapa?" Sila balik bertanya, dan menatap heran ke arah wanita yang berdiri di depannya.
"Saya bi Inah Non, pembantu di rumah ini," jawab bi Inah.
"Oh, oya bi, kak Rafael mana, kok nggak kelihatan?" tanya Sila kemudian.
"Tuan pergi ke kantor Non, mungkin nanti malam baru pulang," jawab bi Inah.
Sila terdiam setelah mendengar jawaban dari pembantunya itu.
__ADS_1
Ia tidak habis pikir, Rafael yang meminta pindah rumah, tapi dengan begitu saja pergi tanpa pamit.
"Hah, aku heran dengan manusia yang satu ini, dalam hidupnya hanya kerjaan terus yang di urusin," gumam Sila dalam hati.
"Ya sudah, bibi boleh pergi," ucap Sila.
"Baik Non," jawabnya, lalu berjalan menuju ke belakang.
Sila pun kembali ke kamar, merasa bosan dan kurang nyaman dengan kondisi kamarnya, Sila mendapat ide untuk meralat kamar yang ia tempati.
Dari mulai mengganti gorden, seprei, selimut, dan masih banyak lagi.
***
Seperti biasa pukul 11 malam Rafael baru tiba di rumah, suasana sudah sepi, ruangan pun sudah gelap, hanya satu kamar yang masih terang, yaitu kamarnya.
Rafael pun bergegas naik ke atas dan
langsung menuju ke kamar.
Rafael pun membuka pintu kamarnya ini secara perlahan, nampak seorang gadis tengah tertidur di atas meja belajar.
Mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya, tertidur saat belajar.
Rafael hanya menggelengkan kepala, setelah ia meletakkan jas dan melepas dasi, Rafael berjalan mendekatinya dan membopong tubuh istrinya lalu ia baringkan di atas ranjang.
Setelah itu, Rafael pun bergegas untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Selesai mandi dan memakai pakaian, Rafael baru sadar jika ada yang berubah di kamar ini, letak barang pun ada yang bergeser, tapi menurutnya ini lebih nyaman dari sebelumnya.
Hanya saja, kenapa nuansanya menjadi warna pink, dari gorden, seprei dan selimut berwarna pink.
Rafael bergidik ngeri, saat membayangkannya, karena istrinya itu sifatnya masih seperti kekanak-kanakan.
Rasa lelah dan kantuk membuatnya ingin segera menjatuhkan bobot tubuh ini di atas ranjang, tapi niatnya ia urungkan, saat handphonenya tiba-tiba berbunyi, saat Rafael cek satu pesan masuk.
[ Kak, besok pagi jemput aku ya di bandara ]
Itulah isi pesannya, dengan segera Rafael membalas pesan itu.
Setelah membalasnya, Rafael pun segera merebahkan tubuhnya yang rasanya sudah sangat lelah, dan tak butuh waktu lama, Rafael mulai memejamkan matanya, dan mulai masuk ke alam bawah sadar.
***
Pukul 6 pagi, Rafael sudah bangun, ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dan berpakaian, Rafael segera turun ke bawah.
"Bi, bi Inah," panggil Rafael.
Perempuan paruh baya itu berlari kecil, menghampiri sang majikan.
"Iya Tuan, ada yang bisa bibi bantu?" tanya bi Inah.
"Saya mau pergi ke bandara Bi, nanti kalau Sila bangun, tolong bilangin ke dia ya," terang Rafael.
"Baik Tuan, bibi mengerti," jawab bi Inah.
"Ya sudah, saya pergi dulu ya Bi," pamit Rafael, dan beranjak keluar menuju ke garasi.
__ADS_1
Setelah mobil yang Rafael naiki pergi, Sila mulai menggeliatkan tubuhnya, diregangkan otot-ototnya, lalu perlahan kelopak matanya terbuka.
"Hoam, udah pagi rupanya," dengan sesekali menguap, Sila pun bangkit dari tidurnya.
Dengan rambut yang acak-acakan, mata yang belum sempurna terbuka, Sila turun dari ranjang, tapi seperti biasa, ia selalu mencari sosok Rafael, yang selalu pergi tanpa pamit.
"Kebiasaan banget sih tuh orang, pergi nggak bilang, enggak mau bangunin, untung aku kuliah siang, jadi masih ada waktu," gerutu Sila seraya berjalan masuk ke kamar mandi.
Sila telah selesai mandi, lalu bergegas berpakaian, setelah siap ia segera turun ke bawah, berharap suaminya masih berada di rumah, tapi hasilnya nihil.
Yang Sila lihat hanya para asisten rumah tangga Rafael yang sedang sibuk bekerja.
Dengan wajah yang ditekuk, Sila berjalan ke arah meja makan, di sana sudah tersedia makanan, tapi nafsu makannya hilang.
Gimana nggak hilang, sudah punya suami, tapi seperti masih single.
"Bi Inah," panggil Sila.
Bi Inah pun bergegas menghampiri majikannya, ia berjalan tergopoh-gopoh agar cepat sampai di mana majikannya berada.
"Iya Non, ada apa?" tanya bi Inah.
"Kak Rafael mana?" tanya Sila dengan wajah yang lesu.
"Tuan sedang pergi ke bandara Non," jelas bi Inah.
"Ke bandara? Ngapain Bi?" tanya Sila, dengan wajah keheranan.
"Bibi nggak tau Non," jawab bi Inah.
Sila hanya mengangguk, bibirnya seketika mengerucut, dalam hatinya ngedumel, sungguh kesal bin kecewa.
Sila tau, mereka menikah karena perjodohan, tapi seenggaknya Rafael bisa menghargainya sebagai seorang istri.
"Jadi nggak nafsu makan," ucap Sila, seraya melirik makanan yang berada di hadapannya itu.
Ingin rasanya Sila mengacak-acak meja makannya, sungguh kesal yang ia rasakan sekarang.
"Ya sudah, bi Inah boleh kembali ke belakang," pinta Sila. Bi Inah hanya mengangguk lalu kembali lagi ke dapur.
Sila pun mengambil benda pipih yang ia taruh di tasnya, merasa bosan, ia mulai membuka game kesukaannya sekedar untuk menghilangkan stres.
Namun belum sempat Sila membukanya, tiba-tiba suara deru mobil berhenti di halaman depan rumah.
Sudah pasti itu adalah mobil Rafael.
"Itu pasti kak Rafael," terka Sila. Tanpa menunggu lagi, Sila bangkit dari duduknya dan langsung menuju ke pintu utama.
Sila berjalan dengan wajah yang akan ia buat-buat untuk mengelabui suaminya.
Sesekali Sila tersenyum, ia sangat bersemangat untuk mengerjai Rafael, perlahan Sila membuka pintu rumahnya.
Dan setelah terbuka mata Sila membulat sempurna, mulutnya pun menganga tak percaya.
Jantungnya terasa berhenti berdetak, dunianya pun terasa berhenti berputar, ingatan masa lalunya terlintas kembali, entah apa yang kini Sila rasakna dengan keadaannya yang sekarang ini.
Dua lelaki berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1