
Karena Andri terus mendial nomornya akhirnya Beeve melepaskan kepala Arinda.
“Hah!! hah!!” Arinda menghirup oksigen dalam-dalam, ia tak menyangka kalau dirinya hampir mati di tangan yang ia anggap si bodoh dan lemah selama ini.
“Berterimakasihlah pada Tuhan, karena ia masih memberikan ku kesadaran, untuk tidak menghabisi mu malam ini!!” ucap Beeve seraya beranjak dari hadapan Arinda.
Setelah keluar dari rumah Arinda, Beeve pun mengangkat telepon Andri.
📲 “Halo, Assalamu'alikum mas?” Beeve.
📲 “Wa'alaikum salam, sayang kenapa kau tiba-tiba pulang ke rumah ibu mertua?” Andri.
📲 “Aku hanya rindu mas, makanya aku pulang,” Beeve.
📲 “Harusnya kau kabari aku dulu kalau mau pergi, agar kita sama-sama kesana,” Andri.
📲 “Maaf ya mas, aku takut mengganggu pekerjaan mu, makanya aku pergi begitu saja,” Beeve.
📲 “Baiklah, lain kali jangan begini lagi ya, kalau mau pergi kemana-mana, harus izin dulu pada ku,” Andri.
📲 “Baik mas, maafkan aku ya mas,” Beeve.
📲 “Iya sayang, cepat pulang, aku rindu kalau di tinggal terlalu lama oleh mu,” Andri.
📲 “Siap suami ku,” Beeve.
📲 “Ya sudah kalau begitu, istirahatlah, makan yang banyak ya sayang,” Andri.
📲 “Iya, mas juga istirahatlah, jangan main handphone lagi,” Beeve.
📲 “Oke sayang, Assalamu'alaikum,” Andri.
📲 “Wa'alaikum salam mas,” Beeve.
Setelah sambungan telepon terputus, Beeve masuk ke dalam mobilnya.
“Aku harus bagaimana Tuhan?” Beeve yang merasa pusing, menyandarkan keningnya ke setir mobil.
Hatinya teramat kecewa, karena keluarga suaminya juga merestui hubungan antara Arinda dan Andri.
Ia pun teringat akan Emir, yang ingin mengatakan sesuatu padanya di ruang kerja suaminya dulu.
“Apa sebenarnya dia ingin mengatakan hal ini pada ku?” gumam Beeve.
Beeve yang merasa lelah memutuskan untuk beranjak dari rumah Arinda.
Karena tak ingin pulang ke rumah orang tuanya, Beeve memilih istirahat di hotel malam itu.
____________________________________________
Arinda yang telah berhasil keluar dari dalam kolam segera menuju kamarnya.
Tubuhnya gemetaran karena kedinginan. Saat ia ingin masuk ke dalam kamar, ia bertemu dengan Sri sang Art.
Plak!! Arinda menampar wajah Sri dengan keras.
“Kurang ajar! Bisanya kau berpihak pada wanita kotor itu! Pada hal aku adalah majikan mu Sri!" pekik Arinda.
__ADS_1
“Ma-maafkan saya nyonya, saya hanya takut padanya.” ucap Sri dengan suara bergetar.
“Jadi kau takut si jalan*?! Sedangkan pada ku tidak?” mata Arinda melotot seakan mau keluar.
“Bu-bukan begitu nyo-nyonya.” suara Sri bergetar karena takut.
“Halah, sudahlah! Karena kau telah bodoh! Maka bulan ini, kau enggak akan gajian! Berani kabur atau mengundurkan diri ku tuntut kau ke yayasan mu!” setelah mengancam Sri, Arinda masuk ke dalam kamarnya.
“Akhh! Sialan kau Bee!” Arinda menggila di dalam kamarnya.
“Akan ku balas, pasti akan ku beri kau balasan yang lebih dahsyat! Tunggu saja tanggal mainnya!” Arinda pun segera mengganti bajunya yang basah.
Setelah itu ia mendial nomor Andri, namun sayangnya Andri tak pernah mengangkatnya.
“Angkat mas! Angkat please!!” Arinda berteriak pada handphonenya.
“Akkhh! Lihat saja! Akan ku bongkar semuanya! Kau harus hancur di tangan ku, karena orang jahat seperti mu harus menyingkir dari kehidupan ku dan suami ku!”
_____________________________________________
Pagi harinya, Beeve yang telah berada di kantor ISF menemui Yeni yang kebetulan datang pagi.
“Kau Yeni?” ucap Beeve yang berdiri di hadapan sekretaris suaminya.
“Iya, adik ini siapa ya?” tanya Yeni yang belum pernah melihat wajah Beeve.
“Aku Beeve, istrinya pak Andri,” jawab Beeve.
Sontak Yeni berdiri dari duduknya dan menyodorkan tangannya pada Beeve.
“Beeve.”
“Apa ada yang bisa saya bantu bu?” tanya Yeni berbasa-basi.
“Ada,” jawab Beeve.
“Apa kira-kira bu? Kalau memungkinkan pasti saya akan laksanakan,” ucap Yeni.
“Kita bicara di dalam ruangan suami ku saja,” ujar Beeve.
“Tentu saja bu, mari.” Yeni pun membukakan pintu untuk istri atasannya.
“Silahkan duduk bu.” Yeni menuntun Beeve ke sofa yang ada dalam ruangan Andri.
“Ibu mau minum apa? Biar saya buatkan.”
“Enggak perlu, kau duduklah.” titah Beeve. Yeni pun duduk di hadapan Beeve.
“Oke, saya akan langsung ke intinya, kau kenal Arinda kan?” ucap Beeve.
“Iya, saya kenal bu,” sahut Yeni.
Wah, petaka apa nih? Batin Yeni.
“Ku rasa kau juga sudah tahu apa yang terjadi.” Yeni menggelengkan kepala, karena tak mau ikut campur.
“Oke, ku anggap kau belum tahu apapun, tapi sekarang kau akan tahu, bahwasanya Arinda memiliki hubungan dengan suami ku, untuk itu, aku ingin minta tolong pada mu, kalau dia datang kemari, jangan izinkan perempuan itu masuk ke dalam ruangan suami ku, apa kau paham? Ku lihat ada juga satpam di lift bawah, informasikan ke satpam tersebut, kalau wanita itu tak boleh naik ke atas, dan jangan sampai suami ku tahu," terang Beeve.
__ADS_1
“Baik bu, saya akan melakukannya,” ucap Yeni.
Ya Tuhan, kenapa aku harus ikut dalam masalah mereka sih, salah sedikit aku akan di pecat, batin Yeni.
“Baiklah, terimakasih sebelumnya, dan kau boleh keluar sekarang,” ucap Beeve.
Yeni pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Beeve di ruangan Andri sendirian.
15 menit kemudian Andri yang telah tiba di kantor. Ia yang melihat Beeve ada di ruangannya merasa sedikit aneh.
“Sayang?” sapa Andri.
Beeve yang melihat kehadiran Andri pun mencoba bersikap biasa, walau dalam hatinya ingin menerkam Andri juga.
“Mas!!” Beeve bangkit dari duduknya lalu memeluk Andri.
“Tumben kau ke kantor sayang?”
“Iya mas, aku hanya ingin melihat tempat kerja mu,” ujar Beeve.
“Benarkah?”
“Iya, aku juga rindu, makanya aku kesini, kalau ke rumahkan, otomatis harus menunggu malam baru bertemu kau mas,” ucap Beeve.
“Umm, kau pasti belum makankan.”
“Tepat sekali mas, belikan aku sarapan ya,” ucap Beeve manja.
“Iya sayang, ayo kita turun bersama, di dekat gedung kantor ada restoran bubur yang enak banget sayang,” ujar Andri.
“Aku cape mas, kau saja ya yang beli,” pinta Beeve.
“Baiklah kalau begitu, aku keluar sebentar ya sayang.” sebelum pergi, Andri meletakkan tas dan handphonenya di atas meja kerjanya.
Setelah itu Andri bergegas untuk membeli bubur untuk istrinya.
Setelah Andri pergi, Beeve pun segera membuka handphone milik Andri.
Pada saat ia mengecek panggilan suaminya, tiba-tiba Arinda mendial Andri.
“Setan!” pekik Beeve.
Beeve pun mematikan panggilan Arinda tersebut, lalu memblokir kontak Arinda.
Tak cukup sampai disitu, Beeve juga memblokir Arinda dari segala media sosial suaminya.
Meski ia tahu itu tak sepenuhnya berhasil, namun ia ingin berusaha menjauhkan Andri dan Arinda.
“Setelah ini apa lagi yang harus ku lakukan? Apa aku bisa selamanya begini? Apa mas Andri yang mengaku selalu mencintai ku akan menerima anak ku juga kalau Arinda membongkar aib ku?” gumam Beeve.
Ia tak tahu harus bercerita pada siapa, terlebih kalau Beeve mengadu pada ibunya, sudah pasti ia akan mendapat amukan, karena sebelumnya sang Jane telah memperingatinya.
“Ya Allah, aku harus bagaimana? Aku takut kalau mas Andri marah, dia juga pasti sadar kalau orang tua ku ikut andil dalam masalah ini.” kegelisahan menyelimuti hati Beeve, ia yang pesimis akan hubungannya dengan Andri pun menjadi tertekan.
...Bersambung.......
...Tinggalkan dukungan pada novel ini, agar author makin semangat update untuk kalian....
__ADS_1