
Beeve menepuk-nepuk pipi suaminya, namun Andri Han tak kunjung membuka matanya.
Emir sendiri meminta bantuan pada para perawat yang sedang lalu lalang.
Kemudian Andri di bawa kembali ke ruang rawatnya untuk di periksa lebih lanjut oleh dokter yang menanganinya.
Beeve dan Emir yang berada di luar ruangan, tak hentinya berdo'a, mereka terus berharap kalau Andri dapat bertahan.
Sang dokter dan perawat Yang ada dalam ruangan pun memutuskan untuk menggunakan alat defribrilator (alat kejut jantung) di dada Andri.
Namun berulang kali telah lakukan, Andri tak kunjung sadarkan diri.
Karena sudah tak ada harapan lagi, sang dokter keluar dari dalam ruangan dengan raut wajah sedih.
“Bagaimana dok keadaannya?” sapa Emir.
“Suami saya baik-baik sajakan dok?” tanya Beeve dengan berlinang air mata. Rahma dan Yudi yang baru tiba pun menanyakan hal yang sama.
“Ehm, mohon maaf, kami sudah berusaha maximal, namun pak Andri tidak bisa di selamatkan,” ucap dokter dengan suara redup.
“Allahu Akbar!" teriak Rahma, ia yang belum di persilahkan masuk pun menerobos pintu.
Saat ia melihat wajah putra pertamanya di tutup dengan selimut putih, tangisnya makin pecah.
“Andri!!! Anak ku!!!” teriak Rahma. Ia pun membuka kembali selimut yang menutupi wajah putranya.
“Ini ibu nak, bangun sayang, bangun anak ibu, kau masih kecil kenapa begitu cepat meninggalkan kami, hiks...” kehilangan Andri membuat Rahma lepas kendali, pikirannya seolah sakit, karena tak siap di tinggal sang putra terkasih.
Ia pun membayangkan, Andri yang ada di hadapannya masih balita, lalu Rahma menyingkap bajunya, berniat ingin memberi ASI pada Andri.
“Ayo nak, minum susunya, jangan tidur terus...” ucapnya.
Yudi yang menyaksikan hal tersebut mencoba menghentikan kegilaan Rahma, namun Rahma malah mengamuk dan makin tak terkendali.
“Apa sih yah! Andri haus! Ayah enggak lihat apa! Tega banget sama anak sendiri! Dia lagi nangis, pengen *****!” pekik Rahma pada suaminya.
“Bu, tenangkan dirimu, istighfar bu, jangan begini!!” Yudi pun berusaha menyadarkan istrinya.
Sedangkan Beeve yang masih berada di luar ruangan bersama Emir malah termenung, kakinya seolah tak berdaya untuk bangkit.
“Bee, ayo kita masuk.” ujar Emir yang berdiri di sebelah Beeve. Gadis cantik itu pun mendongak, dan Emir dapat melihat buliran air mata mengalir tiada henti dari sudut mata istri abangnya.
“Ayo, ku bantu.” Emir menuntun Beeve untuk masuk ke dalam ruangan.
Perlahan ia bangkit dari duduknya setalah mereka berada dalam ruangan, Beeve melihat wajah tampan suaminya yang telah keriput begitu pucat, tubuh jenjangnya pun kini terbujur kaku setelah hilang nyawanya.
__ADS_1
“Ma-maaass!!!” ucap Beeve dengan suara bergetar, kemudian ia pun memeluk Andri, dan menggenggam tangannya yang masih tersisa suhu panas sisa kehidupannya beberapa menit yang lalu.
“Kenapa kau tinggalkan aku secepat ini mas, bangun mas Andri, buka mata mu, bicaralah, aku rindu mendengar suara mu, mas!” Beeve pun mencium kening Andri berulang kali, di hatinya penuh harap, Allah memberi keajaiban, atau setidaknya itu adalah mimpi.
“Aku ingin tua bersama mu, kenapa kau pergi dalam keadaan diam, bangun... bicara pada ku mas!!!” Beeve dan Rahma sama-sama tak bisa menerima kenyataan, dan itu membuat semua orang kesulitan memisahkan keduanya dari Andri yang mereka peluk erat.
12 Desember, tercatat hari berpulangnya Andri Han ke Rahmatullah.
Jasat Andri pun segera di kirim kekediaman orang tuanya. Selama orang-orang melayat Rahma terus bersikap sama, yaitu menganggap Andri masih bayi, ia yang stress tanpa malu membuka baju bagian atasnya, dan menurun Andri untuk meminum ASI-nya.
Karena kondisinya makin mengkhawatirkan, terpaksa Yudi mengutus dokter untuk menyuntikkan obat penenangah pada Rahma, selanjutnya tubuh Rahma di bawa ke kamar.
Baiknya, Beeve masih bisa menjaga kesadarannya, ia dan beserta para pelayat lainnya membaca surat Yasin untuk Andri.
Menjelang sholat Zuhur, Jasat Andri di antar dengan kreta kencana termewah menuju rumah Allah untuk di sholat kan.
Mesjid berlantai 2 yang ada di dekat rumah keluarga Han pun penuh, banyak yang bersedih atas kepulangan Andri, sebab Andri adlah pemimpin yang tegas dan ramah di mana semua karyawan dan rekan bisnisnya, sebagai sahabat, Arman tak hentinya menitihkan air mata.
Ya Allah kenapa orang sebaik Andri begitu cepat kau jemput? batinnya.
Selesai di sholatbkan, jasad Andri di bawa ke tempat pemakaman umur yabg berjarak 300 meter dari rumahnya.
Emir, Yudi dan juga Arman memikul keranda kencana Andri di bagian depan, sedang Beeve yang di larang ikut, tak mau menuruti saran orang-orang, karena ia ingin menghantar suaminya dengan selamat, ke peristirahatan terakhirnya.
Sesampainya di pemakaman, tubuh kaku Andri di turunkan ke liang lahat, lalu Beeve mengepal tanah liat sebagai pengganjal tubuh suaminya, tak lupa ia memanjatkan do'a dalam setiap kepalan yang ia beri pada Emir yang berada dalam liang lahat suaminya.
Tenang di sisi yang kuasa, aku ikhlas kau pergi mas, Tuhan, tolong jodohkan aku dengan suami ku kembali di surga, aamiin, batin Beeve.
1 bulan setelah kepergian Andri, Beeve yang telah memasuki usia kandungan 38 minggu pun merasakan kontraksi.
Ia yang berjalan ke arah dapur merasakan kalau cairan keluar dari alat vitalnya, yang di susul rasa nyeri.
“Akh! Tolong aku!!” ia pun berteriak kencang, agar ada yang mendengar.
Emir yang baru pulang kerja pun melihat Beeve dengan keadaan kesakitan, ia pun menoleh ke lantai, yang telah di basahi air ketuban.
“Bee!!” ia berlari kencang menuju Beeve yang tengah meringis.
Emir dengan segera menggendong sang kakak ipar ala bridal style menuju mobil.
Selanjutnya Emir meluncur menuju rumah sakit Harapan Bunda.
Sesampainya mereka, Beeve segera di bawa ke ruang UGD, saat para perawat mencek tensi Beeve, mereka tersentak, sebab tensi darahnya mencapai 195, ia juga tiba-tiba seakan nafas, sehingga bernafasannya harus di bantu dengan oksigen.
Sang Bidan pun memasukkan jemarinya ke dalam kemalua* Beeve, untuk mencek sudah sampai pembukaan Berapa.
__ADS_1
“Ibu Beeve sudah pembukaan 7!” ucap sang bidan, yang segera di catat oleh rekannya.
Karena sudah terdesak, dan tensi darah Beeve tak kunjung turun, maka pihak yang menangani Beeve menyarankan agar di tindak lanjuti.
“Pak, kami ingin meminta tanda tangan bapak sebagai suami, untuk memenuhi persetujuan di lakukannya operasi sesar, sebab tensi Bu Beeve, di atas 120, sangat berbahaya bila di paksakan melahirankan normal, karena banyak resiko yang akan terjadi,” terang sang bidan.
“Baik, lakukan yang terbaik.” tanpa pikir 2 kali, Emir pun menandatangani surat-surat yang di berikan padanya.
Setelah selesai, para perawat yang bertugas memasang sejumlah alat medis di tubuh Beeve, termasuk infus, oksigen, dan juga kateter.
Beeve yang baru pertama kali merasakan tubuhnya di tusuk di berbagai tempat merasakan sakit bukan main.
Inikah yang kau rasakan mas, batin Beeve. Ia pun teringat akan almarhum suaminya.
Selesai memasang alat medis, Beeve yang berbaring di atas ranjang dorong, di bawa ke ruang operasi.
Di dalam ruang operasi, punggung bawahnya di suntik dengan obat bius agar tak merasakan sakit saat di bedah.
Perlahan Beeve tak bisa merasakan tubuhnya dari bagian perut hingga ujung kaki.
Efek obat bius yang ia terima pun sungguh nikmat, dimana ia merasa sesak nafas batuk dan juga mual.
“Bu, tahan ya, jangan batuk, nanti perut ibu lompat-lompat, itu menyulitkan kami untuk mengambil bayi ibu,” terang petugas operasi.
Namun Beeve yang tak tahan, memegang ujung baju salah satu petugas tim operasi.
“Tolong saya, sakit, saya enggak bisa napas.” ucapnya dengan suara lemah
“Tahan bu, atur nafas ya.”
Ya Allah, apa ini adalah waktu ku? batin Beeve.
Beeve yang merasa sakit bukan main berpikir ia akan tiada. Antara tidur dan tidak, tiba-tiba ia mendengar suara tangis bayi.
“Apa sudah lahir?” tanyanya pada salah satu tim operasi.
“Iya Bu,” jawab sang petugas
“Jenis kelaminnya apa?” tanya Beeve.
“Ketiganya laki-laki.” ucap sang petugas.
“Alhamdulillah, Beeve yang mengantuk pun terlelap, saat ia terbangun ternyata proses operasinya telah selesai, selanjutnya tubuhnya di angkat ke ranjang lain untuk di bawa ke ruang khusus setelah operasi di laksanakan.
...Bersambung......
__ADS_1