
Selesai membuat segelas susu, Emir pun meletakkannya di hadapan Beeve.
“Harus habis ya busui,” ucap lembut Emir.
“Iya mas.” sahut Beeve yang masih mengunyah mie gorengnya.
“Apa masih ada yang kau perlukan?” tanya Emir penuh perhatian.
“Enggak mas, terimakasih banyak,” ucap Beeve.
“Kalau begitu ku tinggal ya, aku masih ada kerjaan di kamar.”
“Iya mas.” Emir pun beranjak meninggalkan dapur.
Dari dulu mas Emir enggak pernah berubah, selalu baik pada ku, batin Beeve.
Beeve yang baru selesai makan pun mendapat panggilan telepon dari Julian.
“Tumben Abang menelepon,” gumam Beeve.
📲 “ Halo bang?” Beeve.
📲 “Halo Bee, maaf ya abang belum bisa menengok mu dan si kembar,” Julian.
📲 “Iya, enggak apa-apa bang,” Beeve.
📲 “Bee, abang menelepon mu untuk meminta pendapat,” Julian.
📲 “Soal apa bang?” Beeve.
📲 “Andri kan sudah tiada, artinya kau sudah tak ada hubungan pernikahan dengan mereka, meski pun kita tetap saudara,” Julian.
📲 “Maksudnya gimana bang? Aku enggak ngerti,” Beeve.
📲 “Bagaimana kalau kau pulang ke rumah, bawa semua anak-anak mu, kau bisa untuk pergi kapan saja Bee, karena sudah tak ada kewajiban lagi untuk tinggal disana,” Julian.
📲 “Tapi bang, aku enggak enak sama yang lainnya,” Beeve.
📲 “Pulanglah, kita juga masih mampu untuk merawat anak-anak mu, jujur aku rindu masa-masa kita tinggal di rumah ini dek, abang juga ingin membalas semua hal yang abang abaikan selama ini, kau berhak memilih, tapi ku harap, kau pulang ke rumah,” Julian.
📲 “Akan ku pikirkan bang,” Beeve.
📲 “Baiklah kalau begitu, abang tutup dulu ya, karena masih ada meeting,” Julian.
📲 “Iya bang,” Beeve.
Setelah sambungan telepon terputus, Beeve memikirkan kembali perkataan Julian.
“Betul juga, sebenarnya aku sudah enggak ada hak untuk tinggal disini, karena suami ku sudah meninggal, terlebih ibu sedang sakit, pasti aku hanya menambah beban untuk mereka, ya.. walau pun aku tahu sih... anak-anak ku dapat warisan dari papanya, tapikan... enggak enak juga selalu merepotkan mereka.” Beeve pun berpendapat sama dengan Julian, kalau ia harus kembali ke rumah orang tuanya.
Malam harinya, ketika keluarga Han sedang makan malam, Beeve pun mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
“Ehm, ayah, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian,” ucap Beeve.
“Apa nak? Katakanlah,” ujar Yudi.
“Aku, ingin minta izin untuk pulang ke rumah orang tua ku,” ungkap Beeve.
“Oh, pulanglah, besok Emir akan mengantar mu, ” ujar Yudi.
“Aku ingin tinggal disana selamanya ayah.” cetusnya yang membuat Emir dan ayahnya menaruh pandangan bersamaan pada Beeve
“Kok begitu? Apa kami berbuat salah pada mu?” ucap Yudi.
“Enggak ayah, kalian semua baik kok pada ku,” terang Beeve
“Lalu apa alasannya? pokoknya kau enggak boleh kemana-mana, sampai kau tua, kau tetap tinggal di rumah ini,” terang Emir.
“Mas, aku bukan menantu rumah ini lagi, suami ku sudah tiada,aku enggak pantas disini lagi, dan aku hanya membuat kalian repot,” terang Beeve.
“Siapa bilang kau buat repot? Justru kami bahagia kalau kau ada disini,” terang Emir.
“Betul Bee, dan ibu mu juga jauh lebih sehat berkat kehadiran cucunya, sebelumnya kau lihat sendiri, kerjaannya hanya menangis dan bicara sama tembok, apa kau tega meninggalkan dia?” ucapan Yudi membuat Beeve bimbang, satu sisi ia ingin mengikuti permintaan saudaranya, di sisi lain, ia tak dapat menolak permintaan mertuanya.
“Tapi, bang Julian mau aku pulang, dan aku juga inginkan itu, aku juga rindu rumah masa kecil ku yah, mas,” terang Beeve.
“Pokoknya kau enggak boleh keluar dari rumah ini, anak-anak mu kan termasuk pewaris ayah,” ujar Emir.
“Tapi, aku enggak enak pada bang Julian,” Beeve yang juga menghargai abangnya, ingin mengikuti sang abang tercinta.
Karena keluarga suaminya bersikeras untuk ia tinggal, alhasil Beeve tak bisa berbuat apapun.
Malam harunya, atas permintaan Yudi langsung, Julian datang bertandang ke kediaman keluarga Han.
“Malam om! Mir,” Emir menjabat tangan Yudi dan Emir.
“Malam juga Jul, apa kabar?” sapa Yudi.
“Aku baik om, kalian sendiri?” tanya Julian.
“Kami sehat, oh ya silahkan duduk!” ucap Yudi, mereka bertiga pun duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.
“Ada apa om memanggil ku kemari?” tanya Julian basa-basi meski pun ia sudah tahu.
“Terkait Beeve yang aku suruh pulang,” jawab Yudi.
“Oh, itu...” Julian menggaruk alisnya.
“Iya, kenapa kau minta dia pulang?” sapa Emir.
“Karena suaminya sudah tak ada lagi, aku sebagai abang merasa punya kewajiban untuk mengurusnya,” terang Julian.
“Oh, jadi karena Andri sudah meninggal, kau merasa Beeve bukan menantu rumah ini lagi?” ujar Emir.
__ADS_1
“Ya, begitulah, lagi pula aku ingin merawatnya, rasa bersalah ku selama ini masih melekat di hatiku, karena aku belum berbuat apapun untuknya,” terang Julian.
“Jadi, kalau misalnya aku menikahi Beeve, dia tetap boleh disini kan!”
“Apa?!” Julian terperanjat, ia tak tahu kalau selama ini Emir menyimpan rasa pada adiknya.
“Kau gila ya? Janda abang mu mau kau nikahi? Apa tak ada wanita lain selain Beeve?” ujar Julian.
“Banyak, tapi yang di hatiku selalu dia, atas izin mu atau tidak, jika Beeve setuju, maka aku akan meminangnya, dari pada suatu saat dia menikah dengan orang tak jelas, lebih baik dengan ku, agar keluarga Han tetap utuh,” terang Emir.
Ternyata Beeve yang berada di dekat ruang tamu mendengar pembicaraan 3 pria dewasa itu.
Kenapa jadi mereka yang memutuskan masa depan ku? batin Beeve.
Ia merasa kalau tak ada keadilan dan kebebasan berpendapat untuknya.
Julian yang melihat kehadiran adiknya pun memberi sapaan.
“Bee! Kenapa berdiri disitu? Kemarilah!”
Beeve pun mulai mendekat dan duduk bersama mereka bertiga.
“Bagaimana dek?”
“Soal apa bang?” tanya Beeve.
“Apa kau ingin tetap disini, atau ikut abang pulang?” ujar Julian.
Lalu Beeve menoleh ke Emir dan juga Yudi, yang menampilkan wajah kecewa dan sedih.
“Aku, tetap disini.” Beeve memutuskan untuk tetap tinggal, sebab ia merasakan kasihan pada keluarga mertuanya, ia juga merasa berhutang budi, sebab keluarga Han begitu baik padanya dan anak-anaknya, terutama Bia.
“Bee, apa kau yakin?” tanya Julian memastikan.
“Iya bang, maaf kalau aku enggak bisa ikuti kemajuan abang.” ucap Beeve.
“Kalau kau tetap ingin disini, berarti kau harus menikah dengan Emir.” pinta Julian, yang tak ingin adiknya menjanda terlalu lama, apalagi sampai pacaran tak jelas dengan orang lain.
“Bang, jangan paksa aku untuk melakukan semua yang kalian mau!” pekik Beeve.
“Maaf Bee, tapi abang hanya mau yang terbaik untuk mu, saat ini di hatimu memang masih ada Andri, tapi besok siapa yang tahu? Abang enggak mau kau seperti sebagian janda aneh pada umumnya, yang pergi kesana kemari mencari kesenangan,masuk clubs, dan asal di celup pria lain!”
“Mana mungkin aku begitu!” Beeve menentang perkataan Julian.
“Buktinya dulu kau sampai salah jalan, dengarkan nasehat abang, meski kau sudah beranak 4, tapi kau masih sangat muda, pikiran mu masih labil, mudah di pengaruhi, setelah ayah dan ibu tiada, aku adalah orang tua mu, jangan membangkang!”
Yudi dan Emir tak berani ikut campur atas perdebatan Beeve dan Julian, keduanya hanya menyimak, karena mereka dan Julian satu pendapat.
...Bersambung......
__ADS_1