
Beeve yang ingin melaporkan semua perbuatan Emir suaminya berpikir dua kali, mengingat kalau ia bukanlah wanita baik-baik pada suaminya.
Beeve takut kalau Andri akan berpikir, ia lah yang menggoda adik iparnya, terlebih suaminya pernah berkata kalau dirinya menggoda Ali juga.
Beeve memeluk erat tubuh suaminya, rasa rindu, takut dan marah menjadi satu.
“Apa kau sudah makan sayang?” tanya Andri.
“Belum mas,” jawab Beeve.
“Ayo kita makan sayang, kasihan dedenya kalau kau telat makan.” ujar Andri, lalu keduanya turun dari ranjang menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Andri menuntun Beeve untuk duduk di kursi.
“Duduklah sayang, biar aku ambil nasi untuk mu,” ucap Andri.
“Enggak usah mas, biar aku saja yang ambil nasi untuk kita berdua.” ucap Beeve, namun Andri menolak.
“Sudah, biar aku saja, istri ku duduk saja ya.” Andri membantu Beeve untuk duduk, setelah itu ia mengambil piring dari lemari.
Tanpa sengaja ia melihat piring yang di tandai Beeve dengan namanya.
Hati Andri menjadi sesak, ia merasa bersalah pada istri yang pernah ia sakiti hanya karena sebuah kesucian.
Aku jauh lebih menjijikkan dari apa yang aku lontarkan pada mu dulu Bee, aku telah mengotori pernikahan kita, mungkin kalau kau tahu tentang kebejatan ku, kau takkan mau lagi melanjutkan pernikahan kita, batin Andri.
Ia pun mengambil piring milik Beeve, dan memenuhinya dengan nasi.
Setelah itu, ia membuka tudung yang di dalamnya ada ikan panggang, terong balado dan juga sup daging sapi.
“Piring mu mana mas?” tanya Beeve, karena ia melihat suaminya hanya menggenggam satu piring yang nasinya menggunung.
“Hari ini kita makan sepiring bersama.” ucap Andri yang mulai menyiram nasi dengan kuah sup, lalu mengambil 1 ekor ikan panggang dan meletakkannya ke piring lain.
Selanjutnya Andri menyuap sang istri dengan tangannya.
“Mas, tumben hari ini kau menyuap ku, ada apa?” ucap Beeve dengan perasaan aneh.
“Karena aku ingin melakukannya saja sayang, kau makanlah yang banyak, agar anak kita tumbuh dengan sehat.” terang Andri menahan tangis, ia sangat iba pada Beeve yang tak tahu kalau dirinya telah mempoligaminya.
Andri terus menyuap istri malangnya, hingga nasi di piring tak tersisa.
“Katanya sepiring bersama, kenapa kau enggak makan mas?”
“Aku tadi sudah makan, maaf sudah berbohong.” ucap Andri.
“Hem..., ada-ada saja kau mas.” setelah selesai makan Beeve mulai bertanya lagi pada Andri.
“Kenapa kau enggak pulang tadi malam mas?”
__ADS_1
“Aku ada urusan sayang.”
“Urusan apa mas? Sudah 2 kali kau melakukannya, urusan apa sehingga kau tak bisa pulang ke rumah?”
Andri bingung untuk menjawab apa, terlebih sorot mata Beeve begitu mengintimidasinya.
“Tentu saja urusan pekerjaan.” jawan Andri.
“Dengan mas Arman?”
“Iya sayang, dengan dia.” ucap Andri seraya menundukkan kepala, ia tak mau menatap mata Beeve yang begitu menusuk jantungnya.
“Karena itu mas juga enggak bisa mengangkat telepon ku?”
“Iya sayang, maafkan aku,” ucap Andri gugup.
“Apa boleh aku tanyakan langsung pada mas Arman?” mata Andri membulat, saat Beeve berkata demikian, karena Arman sendiri belum tahu perihal pernikahan keduanya yang telah resmi.
Dan di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba handphone Andri berdering.
Andri dengan hati-hati melirik ke handphonenya, ternyata yang mendial nya adalah istri barunya Arinda.
Ngapain si jalan*g ini menelepon! batin Andri.
“Kok enggak di angkat mas?” tanya Beeve, karena Andri hanya menatap layar handphonenya.
“Pekerjaan lagi sayang, hehehe,” Andri tertawa kaku.
“Kenapa kau enggak angkat mas? Bukannya pekerjaan mu akhir-akhir ini sangat penting? Itukan yang membuat mu melupakan ku?” ujar Beeve, yang membuat Andri mati kutu.
“Iya sih, tapi.... hari ini aku enggak ingin di ganggu.” ucap Andri seraya menonaktifkan handphonenya.
“Besok minggu, sebagai penebus dosa yang telah ku lakukan, bagaimana kalau kita ke puncak?” Amarah Beeve mendadak hilang mendengar rencana suaminya.
“Beneran mas?”
“Iya, sudah lama juga kita enggak begituan, kangen.” bisik Andri ke telinga Beeve, yang membuat Beeve merasa geli.
“Ahh..., mas nakal deh.” ucap Beeve seraya mengecup bibir Andri.
“Toh nakal dengan istri ku sendiri, enggak salahkan?”
“Iya deh mas, terserah kau saja, yang penting jangan nakal ke siapa pun, selain pada ku.” ucap Beeve. Andri merasa tersindir atas perkataan istrinya.
“Oh iya sayang, Emir mana?” tanya Andri sebab ia melihat mobil adiknya terparkir di depan pintu utama.
“Emir?”
“Iya, mobilnya ada di depan, apa dia ada di lantai 2?” pertanyaan Andri membuat Beeve teringat akan peristiwa yang ia alami tadi malam.
__ADS_1
“Dia enggak ada disini, aku hanya meminjam mobilnya,” jawab Beeve.
“Oh ya?”
“Iya mas, ngomong-ngomong mas, kita berangkat jam berapa ke puncak?”
“Sebentar lagi sayang.” Lalu Andri memegang kening Beeve.
“Tadi panas, sekarang sudah adem, sebelum berangkat kita ke rumah sakit dulu ya sayang, takutnya nanti kau demam lagi,” ujar Andri.
“Enggak perlu mas, aku sudah sehat kok,” ucap Beeve seraya memeluk Andri.
“Ya sudah, kalau begitu kau mandi sekarang.”
“Mas enggak mandi?”
“Enggak, kau saja, sementara kau mandi, aku akan siapkan baju kita.” ujar Andri. Lalu keduanya pun kembali ke kamar mereka.
____________________________________________
Arinda yang sedari tadi sibuk mendial nomor Andri meski sudah tak aktif menjadi geram.
“Akhhh! Sial! Di hari pertama aku menjadi seorang istri, malah di tinggal bersama pembantu di rumah ini?”
Arinda yang telah resmi menjadi istri Andri, mendapat hadiah rumah berlantai 1 yang jaraknya 4 jam dari rumah Andri dan Beeve.
Awalnya Andri ingin mengirim Arinda ke Irian Jaya, namun karena pihak keluarga Arinda menolak, akhirnya rencana itu batal.
Dan rumah yang di tempati Arinda sekarang terbilang mewah, tapi masih kalah jauh dari rumah yang Andri belikan pada Beeve.
Dan itu juga alasan kegusaran Arinda pada suaminya.
“Sialan, pada hal aku adalah istri resminya, kenapa harus di kasih rumah sekecil ini? Setidaknya kasih rumah yang sama besar dengan Beeve, bahkan aku lebih layak mendapatkan rumah yang 2 kali lebih besar dari punya Beeve, karena apa? Karena anak ku lah satu-satunya, anak biologis dari mas Andri!” Arinda begitu tak terima akan perlakuan Andri padanya.
“Tapi untuk saat ini okelah, tapi perlahan-lahan aku akan mengambil tempat ku yang sebenarnya, karena aku lebih berhak dari pada dia, selain aku perawan untuk mas Andri, aku juga mengandung anaknya, hahaha, seluruh harta yang di miliki keluarga mas Andri, harus jatuh ke tangan ku.” Arinda yang tamak ternyata telah mempersiapkan rencana, untuk menguasai seluruh harta suami dan mertuanya.
Ia yang lelah pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang, seraya membuka aplikasi Whats*pp nya.
Seketika bara dalam hatinya berkobar, saat melihat status Beeve yang baru saja di perbaharui, dimana madunya mengunggah photo bersama Andri di dalam mobil dengan tulisan.
“Bismillah, Otw bulan madu kedua.”
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1