Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 138 (Demi Kau)


__ADS_3

“Mas! Buka pintunya!!!” Beeve terus menggedor tiada henti.


Arinda yang ternyata menguping pembicaraan antara Andri dan Beeve tertawa di ruang tamu.


“Untung aku cepat lari, jadi mas Andri enggak melihat ku, hahaha, aku harus semakin lemah, agar mas Andri enggak jadi melepas ku, enak saja dia mau menceraikan ku setelah aku pulih, itu enggak bisa mas! Hati mu yang lemah merupakan senjata ampuh ku, dan Beeve, kau enggak boleh pergi dari rumah ini, karena aku akan memberi balasan besar pada mu!” Arinda yang ingin menyiksa Beeve menyiapkan sebuah rencana maha dahsyat.


“Hukuman yang pas untuk mas Andri adalah dengan memberi ku anak lagi, bagaimana pun, aku ingin menjadi menantu permanen, dan kau Beeve, tidak ada bahagia di hidup mu, selama aku masih eksis, setelah kau membunuh anak ku, kau juga harus merasakan hal yang sama, pedih, harus sakit!” hati Arinda yang tamak akan harta mengubur kemanusiaannya sampai ke dasar tanah.


Sementara di kamar, Beeve mencari handphonenya, karena ia ingin meminta tolong pada Winda untuk di bukakan pintu.


“Handphone ku! Mana handphone ku?!” Beeve tak dapat menemukan telepon genggamnya dimana pun, sebab Andri ternyata membawa ke ruang kerjanya.


Di lantai 2, Andri memikirkan perkataan ayah dan ibunya untuk kembali bekerja ke perusahaan.


“Enggak ada pilihan lain, bagaimana pun aku butuh uang banyak untuk menambah satpam di rumah ini, enggak mungkin Beeve ku kurung lama-lama, setidaknya 30 satpam cukup untuk mengunci pergerakannya.” gumam Andri, ia yang terdesak pun menelepon Yudi.


📲 “Halo ayah,” Andri.


📲 “Iya, ada apa Ndri? Semua baik-baik sajakan?” Yudi.


📲 “Iya ayah, begini yah, Andri sudah memikirkan tentang tawaran ayah untuk kembali ke perusahaan,” Andri.


📲 “Iya, bagaimana nak?” Yudi.


📲 “Andri bersedia yah, asal ayah mau menaikkan gaji ku 50%,” Andri.


📲 “Kau mau memeras ayah ya Ndri?” Yudi.


📲 “Terserah ayah sih mau apa enggak, karena saat ini, aku butuh uang yang yang banyak untuk menggaji pekerja ku,” Andri.


📲 “Berarti kau mau gaji 750 juta sebulan?” Yudi.


📲 “Iya yah,” Andri.


📲 “Ayah bisa memberikannya,” Yudi.


📲 “Serius yah?” Andri.


📲 “Bahkan 1 milyar sekali pun,” Yudi.


📲 Ck, ayah jangan bercanda deh, enggak lucu,” Andri.


📲 “Sunggug, tapi enggak cuma-cuma,” Yudi.

__ADS_1


📲 “Maksudnya gimana yah?” Andri.


📲 “Kita akan membuka cabang di Mexico, kau akan ayah tugaskan membantu para pekerja disana, untuk mengembangkan produk-produk kita, ya... intinya karyawan kita yang ada disana, cukup paham dalam pengelolaan bisnis yang kita terapkan disini, enggak lama, hanya 6 bulan saja,” Yudi.


📲 “Baik, aku setuju yah,” Andri.


📲 “Dengar baik-baik, kau pergi tanpa Beeve, atau pun Arinda di sisi mu,” Yudi.


📲 “Apa yah?! Mana mungkin aku tinggalkan Beeve disini sendirian,” Andri.


📲 “Kalau kau menurut, ayah akan merestui mu dengan Beeve, anak Beeve pun akan ayah anggap sebagai cucu kandung, dan mendapat hak waris, masalah ibu mu, biar ayah yang atur, semua akan seperti semula, jika kau mau kesana bersama beberapa orang kantor,” Yudi.


📲 “Ayah, ini berat untuk ku, beri aku waktu berpikir,” Andri.


📲 “Tentu, kalau kau setuju, datanglah besok pagi ke kantor, kalau enggak, kau akan keluarkan dari penerima warisan ayah, serta jabatan mu akan di turunkan, dari Presdir ke karyawan biasa, pikirkan baik-baik Ndri, ini kesempatan terakhir mu bekerja sama dengan ayah,” Yudi.


Setelah sambungan telepon terputus, Andr pun berpikir dengan keras.


“Kalau aku bersedia, maka anak Beeve akan di akui, dan mendapat warisan dari ayah, kalau enggak, semua yang ku miliki akan hilang, kalau aku enggak memiliki apapun, bukankah akan membuat Beeve sengsara?” dalam hati kecil Andri, ia ingin sekali membalas segala kesalahannya pada Beeve dengan memberi kehormatan serta mengangkat derajat Beeve dan anaknya.


“Apa semua akan baik-baik saja kalau aku pergi selama itu?” Andri terus mempertimbangkan, langkah apa yang akan dia ambil.


Ia yang merasa perutnya keroncongan melihat ke jam dinding yang telah menunjukkan pukul 13:00 siang.


Saat Andri keluar dari dalam ruang kerjanya, ia tak sengaja berpapasan dengan Arinda.


“Kau mau turun?” tanya Andri.


“Tentu, apa mas lapar?” tanya Arinda kembali.


“Iya, ayo sama-sama turun, ada yang mau ku bicarakan dengan mu,” ucap Andri.


Kemudian Andri dan Arinda pun turun bersama menuju lantai satu.


Saat keduanya telah di meja makan, Andri pun mengatakan rencana perjalanan bisnisnya pada Arinda.


“Pergilah mas, aku mendukung mu, kerjakan secepat mungkin, jangan khawatir tentang kami disini, aku dan Beeve akan hidup rukun,” terang Arinda.


Andri mengangguk, sebenarnya ia tak masalah dengan apapun pendapat Arinda, hanya saja Andri merasa perlu untuk menyampaikannya.


“Jangan lakukan hal bodoh selama aku enggak ada, jangan usik Beeve juga,” ucap Andri.


“Tenang saja mas, aku ingin hidup damai, dulu juga aku bersahabat dengan Beeve, jadi enggak sulit bagi ku untuk membinanya kembali,” terang Arinda.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu.” Resti yang telah selesai menghidangkan makanan untuk Andri dan Arinda pun beranjak dari dapur.


“Ayo kita makan mas.” ujar Arinda. Keduanya pun mulai makan siang dengan tenang.


Mau pergi 6 bulan atau 60 tahun pun aku enggak perduli, yang jelas aku tetap jadi istri mu, dan kepergian mu, akan menjadi malapetaka untuk istri yang kau sayangi itu, wahaha! Batin Arinda.


Setelah selesai makan siang, Andri membawa sepiring nasi untuk Beeve.


“Aku duluan Nda,” ucap Andri.


“Oke mas,” sahut Arinda.


Andri pun beranjak dari meja makan menuju kamar, Sesampainya di depan pintu, ia pun membuka pintu yang terkunci rapat tersebut.


Retek! Kriett...


Mendengar suara pintu terbuka, Beeve yang rebahan di atas ranjang pun bangkit. Andri yang tak ingin ambil resiko Beeve kabur, mengunci pintu kembali.


“Makan dulu sayang.” ucap Andri seraya mendekat ke Beeve. Namun Beeve memalingkan wajahnya dari Andri.


“Hei, jangan begitu, maaf karena aku telah mengurung mu,” ucap Andri.


“Aku hanya ingin pergi, itu saja,” ungkap Beeve.


“Kalau aku yang pergi, apa kau mau tetap disini?” tanya Andri.


Sontak Beeve menoleh ke wajah Andri, “Maksud mu apa mas?” tanya Beeve kembali.


“Aku di tugaskan ayah untuk pergi ke luar negeri, karena perusaan kita membuka cabang disana,” terang Andri.


“Kalau mau pergi, pergi saja!” pekik Beeve.


“Iya, aku akan pergi, manfaatkan kepergian ku untuk menata hatimu,” pinta Andri.


“Enggak perlu, karena keputusan ku sudah bulat,” ungkap Beeve.


“Sebenarnya, aku juga enggak mau pergi, kalau pergi juga harus membawa mu, tapi ayah enggak kasih izin, dan kalau aku menolak, aku akan di hapus dari hak waris, tapi kalau aku menurut, kita akan dapat restu, semua akan kembali seperti semula, dan enggak cuma itu, anak kita,” Andri memegang perut Beeve.


“Akan di akui cucu, dan mendapat hak waris dari ayah.” Beeve terengah mendengar penjelasan Andri.


“Ayah juga bilang, semua akan ia bereskan, aku ingin menebus kesalahan ku, semua karena aku yang kekanak-kanakan dan bermulut besar, sehingga membuat mu menderita, maaf aku enggak bisa menjaga martabat mu selama ini,” Andri menundukkan kepalanya di hadapan Beeve.


...Bersambung......

__ADS_1


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2