Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 119 (Kelicikan Beeve)


__ADS_3

Setelah diskusi rumah tangga selesai, Beeve berinisiatif mengajak Andri masuk kamar.


“Mas, kita ke kamar sekarang yuk, aku lelah.”


“Ayo sayang,” ucap Andri.


Arinda yang belum dapat perhatian dari Andri sejak ia tiba di rumah itu pun meminta haknya.


“Mas, Beeve kan sudah ketemu, harusnya malam ini kau bersama ku, selama dua bulan perhatian mu hanya tertuju padanya, bukan pada ku.” ucap Arinda. Beeve yang tak mau kalah pun membela diri.


“Walau perhatian mas Andri tertuju pada ku selama dua bulan lamanya, tapi kami kan enggak bertemu satu sama lain, beda dengan mu,” ujar Beeve.


“Aku juga jarang kok bertemu mas Andri, jadi malam ini kau tidur dengan ku ya mas, karena ini juga kemauan anak kita.” Arinda yang pintar menggunakan anaknya sebagai alasan.


Andri yang di himpit dua istri menjadi bingung harus tidur dengan siapa, batinnya menginginkan Beeve, sedangkan rasa iba nya pada anak Arinda.


“Enggak bisa ya, malam ini milik ku dengan mas Andri.” Beeve yang tak kalah pintar menyusupkan tangannya ke punggung Andri.


Deg! Jantung Andri berdetak dengan kencang, bulu kuduknya pun ikut merinding, saat Beeve menyentuhnya setelah sekian lama.


“Maaf Nda, malam ini aku akan bersama Beeve, bagaimana pun, ia sudah lama jauh dariku,” terang Andri.


Arinda tertawa getir, saat Andri lebih memilih Beeve, dari pada dirinya yang mengandung anak Andri sendiri.


“Hah! Baiklah, besok malam kau harus bersama ku mas, aku enggak mau tahu, dan enggak ada alasan!” pekik Arinda seraya meninggalkan Beeve dan Andri di ruang tamu.


Beeve tersenyum puas, dan itu di saksikan oleh Andri sendiri.


“Kau sengaja membuat dia panas?”


“Bukannya aku sudah memperingatkan mu mas? Kalau aku akan membuat kekacauan disini? Aku enggak ikhlas, bila suami yang ku cintai bersentuhan dengan wanita ular itu, meski pun dia mengandung anak mu, tapi caranya salah masuk ke dalam kehidupan kita.” terang Beeve, Andri yang lelah tak mau banyak debat dengan istrinya lagi.


“Baiklah, asal jangan saling melukai fisik saja,” ujar Andri.


“Soal itu aku enggak janji mas.” Beeve yang kesal meninggalkan Andri menuju kamar.


Sesampainya Beeve ke dalam kamar, ia membuka lemarinya, lalu menurunkan satu persatu piyama yang pernah Arinda berikan padanya.


“Mau kau apakan baju mu?” tanya Andri.


“Ku buang mas! Ini pemberian ular itu!” setelah selesai mengangkut semua piyama pemberian Arinda, Beeve memasukkannya ke dalam tong sampah.


“Kau lucu sekali, pada hal piyama-piyama itu kan enggak bersalah,” ujar Andri.


“Memang enggak salah, cuma aku jijik memakai pemberian darinya, dan lagi, apa dia pernah memakai pakaian haram seperti ini di hadapan mu mas?” Beeve bak kompor yang setiap detiknya berapi-api.


“Eng-enggak pernah Bee,” ucap Andri.


“Jujur mas, jangan bohong pada ku!” Beeve mulai mengintimidasi Andri.


“Serius sayang,” ucap Andri.


“Oke, tapi apa tubuhnya lebih menggoda dari ku mas?” Andri menggelengkan kepalanya.


“Kau lebih panas, meski pun sedang mengandung.”


“Apa punyanya lebih besar dan tebal dari ku?”

__ADS_1


“Bee, kau...” Andri kewalahan dengan pertanyaan konyol istrinya.


“Apa dia lebih mahir dari ku di ranjang? Hah? Katakan mas!”


“Beeve! Apa pertanyaan itu pantas kau lontarkan?”


“Apa pantas kau menikah tanpa persetujuan ku?” tanya Beeve kembali.


“Kenapa kau baru ribut sekarang? Semua sudah terjadi, jangan marah-marah Bee, kasihan anak kita.” ucap Andri menenangkan istrinya.


“Mas.”


“Iya?”


“Mulai sekarang, jangan panggil nama ku.”


“Loh, kenapa?”


“Enggak apa-apa, mulai sekarang panggil aku sayang, dan panggilan itu hanya untuk ku, bukan orang lain,” terang Beeve.


Andri tertawa melihat sikap Beeve yang kekanak-kanakan.


“Iya sayang, panggilan itu hanya untuk mu, puas.” ucap Andri.


“Awas saja kalau kau panggil orang lain dengan kata itu.” Beeve mengancam suaminya.


“Sudah ya, aman ya sayang, biar kita mandi sekarang.” Andri pun menggendong Beeve menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Andri mengguyur tubuhnya dan Beeve dengan shower. Keduanya saling memandang satu sama lain.


“Maklum mas, bersahabat dengan kompor membuat ku berkeringat lebih,” terang Beeve.


“Pasti hidup mu berat selama ini.”


“Lebih berat saat aku tak melihat mu mas.” Beeve yang semakin jago merayu membuat jantung Andri berdebar tiada henti.


“Apa benar?”


“Tentu, untuk itu maafkan aku jika banyak egois, mungkin ke depan, kau akan banyak dosa pada dia, karena aku akan menahan mu di kamar bersama aku setiap waktu senggang mu.” terang Beeve.


Andri menatap lekat wajah istrinya, “Kau benar-benar nakal ya sekarang.”


“Tapi aku nakal hanya untuk mu mas, sungguh!”


Andri menggigit bibirnya, untuk menahan birahinya yang telah memuncak.


Ia pun lanjut menyikat tubuh istrinya sampai bersih, selanjutnya Beeve memandikan Andri dengan penuh cinta.


Setelah selesai, keduanya keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih.


“Mas.”


“Hum?”


“Kau tunggu apa lagi sih?” Beeve memberi kode pada Andri dengan membuka penutup tubuhnya. Lalu Andri memeluk tubuh Beeve, serta mengucap bibir sang istri dengan mesra.


“Aku sangat ingin sayang, tapi kau belum lupa apa yang pernah ku katakan kan?” Seketika Beeve sadar akan status mereka.

__ADS_1


“Sebelum anak mu lahir, kita enggak bisa melakukannya,” ujar Andri.


Beeve tertunduk lesu, lalu Andri meletakkan kepala Beeve ke dadanya.


“Sabar ya, sebentar lagi kau akan melahirkan sayang, setelah nifas mu, kita akan bulan madu kemana pun kau mau.” bujuk Andri pada istrinya.


“Apa kau akan melakukannya dengan Arinda?” tanya Beeve penasaran.


“Enggak akan.” jawab Andri.


“Yang benar mas? Memangnya kau tahan?”


“Demi kau, aku akan bersabar, aku janji.” ucap Andri.


Kalau aku enggak bisa, ku usahakan Arinda juga enggak akan bisa melakukannya dengan mas Andri. batin Beeve.


“Janji ya mas.”


“Iya sayang.”


_____________________________________________


Pagi harinya, ketika mereka bertiga sedang sarapan bersama di atas meja makan, Beeve mengambil duduk tepat di sebelah kanan Andri, Arinda yang tak mau kalah juga merapatkan bangkunya ke sebelah kiri Andri, yang membuat suami mereka tak bisa bergerak bebas.


“Heh! Kau geser bangku mu! Mas Andri enggak bisa gerak!” pekik Beeve.


“Kau sendiri bagaimana?” ucap Arinda.


“Aku kan masih ada jarak dengan mas Andri, sementara kau, lihat! Lengan mu sampai menyentuh baju mas Andri!”


“Mana! Enggak ada tuh, ini masih pagi kenapa kau cari gara-gara sih!” ucap kesal Arinda.


“Geser, atau kau pindah dari situ!” gertak Beeve.


“Enggak mau, tempat duduk ku ini sudah pas!” ucap Arinda.


“Cukup kalian berdua, jangan ribut-ribut.” Andri melerai kedua istrinya.


“Mas bela wanita ini!” Beeve menunjuk wajah Arinda.


“Bu-bukan begitu sayang!” Andri jadi serba salah.


“Kalau dia enggak mau pindah, kau saja yang pindah mas!” Beeve menyuruh Andri bertukar kursi dengannya, jadinya ia dan Arinda bersebelahan.


“Nih, lihat! Kulit ku dan kulit mu sampai bersentuhan, geser bongsor!” Beeve yang kekuatannya bagai turbo mendorong tubuh Arinda, dan hampir saja terjatuh ke lantai.


“Kau! Beraninya menyakiti ku!” pekik Arinda. Andri memijat pelipisnya karena pusing.


“Jangankan mendorong mu, menguliti mu saja aku berani, dasar jelek!” Beeve mengejek madunya.


“Kau yang jelek!” balas Arinda.


“Ya Allah kalian berdua! Tolong jangan ribut-ribut lagi, aku pusing! Sayang ku, dan kau Arinda, tolong jangan bertengkar lagi!” Beeve dan Arinda sontak terdiam setelah Andri membentak mereka berdua.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2