
Beeve jadi bimbang harus berbuat apa, terlebih saat ia dengar alasan kepergian Andri demi dirinya dan si buah hati.
Jangan-jangan ini mirip dengan kisah Yalisa lagi, Riski berjanji pergi selama 1 tahun, namun nyatanya ia ingkar janji, apa nasib ku juga akan sama dengan kisah Save Yalisa? batin Beeve.
“Kau mengizinkan ku pergi kan?” tanya Andri.
Beeve menatap lekat wajah Andri yang membuat ia panas dingin selama ini.
“Ceraikan aku dulu, baru kau pergi,” ucap Beeve.
“Sayang! Berhenti mengatakan cerai terus, ku mohon, please... kau juga tahu semua yang terjadi bukan kehendak ku, jangan melihat dari satu sisi saja, kalau aku bisa menuliskan suratan takdir ku, aku ingin hidup damai dengan mu, hanya kau dan aku, aku juga akan menuliskan, kita berjodoh dunia dan akhirat, memperoleh anak-anak yang lucu, tapi apa? Aku hanya manusia biasa sayang, ku tahu kau tak paham sepenuhnya, dan aku juga enggak bisa menyalahkan mu, karena sebenarnya kau masih anak-anak,” terang Andri.
Beeve yang mendapat penerangan dari sang suami menutup rapat mulutnya.
“Aku juga sudah bicara dengan Arinda, dia mengizinkan ku pergi.”
“Dan dia masih berada disini setelah kau pergi?” tanya Beeve
“Bagaimana aku bisa mengusirnya? Coba kau bayangkan, ku beri talak satu saja ia langsung keguguran, apa lagi ku cerai saat dia dalam kondisi tak stabil, kemarin saja, aku tak menemaninya tidur ia langsung nekat bunuh diri, untung aku ada disana, apa harus ada nyawa yang melayang lagi sayang, baru kau dapat mengerti? Beban ku itu sangat besar, sejujurnya aku tak mampu menghadapi semua ini,” terang Andri.
“Kau juga enggak mengerti aku mas,” balas Beeve.
“Sudahlah, aku enggak mau berdebat dengan mu, sekarang buka mulut mu,” titah Andri.
“Enggak mau!”
“Aku memberi makan anak kita, bukan kau! Selama dedenya masih ada dalam perut mu, kau harus makan, apapun masalahnya, kalau sudah lahir terserah, mau kurus kering juga aku enggak perduli!” pekik Andri yang khawatir tentang kondisi anak Beeve.
“Sok baik, pada hal bukan anaknya juga,” gumam Beeve.
“Bee! Anak mu anak ku juga, ya sudah!” Andri meletakkan nasi yang ia bawa ke atas meja persegi empat yang ada di sebelah ranjang mereka.
“Kalau kau belum merubah sikap mu, kau enggak akan pernah keluar dari kamar ini, kalau di hatimu masih ada rasa untuk bercerai, jangan harap bisa menghirup udara bebas, kaki mu hanya bisa berkeliaran di area rumah, jangan buat aku gila untuk yang kedua kalinya, mencari mu itu sangat menguras energi ku!” terang Andri.
“Mas!”
“Sayang! Aku sudah katakan pada mu semua alasan dari sikap ku, enggak ada satu rahasia pun yang ku sembunyikan dari mu, jadi kalau kau enggak bisa mengerti, menetap lah di rumah ini selama aku pergi.”
__ADS_1
“Aku kan kuliah mas," ucap Beeve.
“Akan ku urus, lagi pula sebentar lagi kau akan melahirkan,” timpal Andri.
“Mas, kau enggak bisa berbuat begini pada ku.”
“Kau yang meminta, sudah! Aku mau pergi!” Andri mengunci kembali Beeve dalam kamar. Beeve pun menatap nanar ke arah pintu.
“Sebenarnya yang egois itu siapa, aku atau kau mas?” gumam Beeve.
Ia pun mulai memikirkan kembali tentang perasaannya pada Andri.
“Memang sih aku sayang, dia juga terang-terangan pada ku, tak menyembunyikan apapun, sudah banyak konflik yang terjadi pada rumah tangga kami, tapi ujung-ujungnya selalu kembali bersama, hal wajar sih dia marah saat aku berbohong 2 kali padanya, tapi mas Andri tak pernah mau melepas ku.” Beeve teringat akan kebaikan Andri selama ini padanya.
Dan ia juga mengingat kembali kebohongan yang ia lakukan pada suaminya, terlebih masalah Emir yang hampir menodainya tak pernah ia ceritakan pada pada Andri.
“Kekurangannya hanya satu, tidak tegas, mungkin kalau ia tegas, kami takkan bersama sampai saat ini.” Beeve yang semula merasa tersakiti sadar, semua hal yang terjadi akar penyebabnya ialah dirinya yang ceroboh.
Andai ia pintar dan peka, pasti tak ada bunga bangkai yang masuk ke dalam rumah tangganya.
Apa dia masih marah pada ku? batin Andri.
Perlahan Andri mendekat pada Beeve, “Ehem!” Beeve menoleh ke arah Andri yang mendehem.
“Sayang, apa kau masih marah pada ku?” tanya Andri.
Beeve memutar mata malas sebagai responnya pada sang suami.
“Hei, jangan marah lagi ya.” Andri pun menoleh ke arah piring yang tadi siang ia bawa.
Ternyata ia makan dengan lahap, batin Andri.
Lalu Andri meletakkan piring yang baru ia bawa ke atas meja, selanjutnya ia melingkarkan kedua tangannya di perut Beeve yang besar.
“Sayang, mama mu jahat banget sama papa, belain papa dong nak, tendang perut mama mu yang kencang, katakan padanya, mama! Berani meninggalkan ayah, aku tendang sampai nangis!” ucap Andri dengan meniru suara anak bayi. Sontak Beeve tersenyum tipis.
“Auh!” tanpa di duga, sang buah hati menendang dengan sangat kuat sebanyak 3 kali, Andri yang meletakkan tangannya di perut Beeve pun merasakan hal yang sama.
__ADS_1
“Sayang! Sakit ya?!” tanya Andri seraya melepas pelukannya dan membalik tubuh Beeve menghadapnya.
“Apa sih mas!” wajah Beeve masih jutek pada Andri.
“Sayang, kau jangan marah-marah lagi, putri kita dapat merasakan suasana hati mu, kau belum sadar juga? Kalau dia enggak suka mamanya galak pada papanya, iya kan sayang?” ucap Andri pada bayinya.
“Itu hanya kebetulan, kalian kan enggak punya ikatan apapun!” baru saja Beeve berkata demikian putrinya malam menendang kembali.
“Ssst.” Beeve mendesis, sebab baru itu ia mendapat tendangan yang begitu keras.
“Ayo, ngomong pedas lagi kalau berani, aku sih enggak masalah, karena sekarang aku punya pembela.” Andri yang merasa bahagia berjongkok, kemudian mengecup perut Beeve.
“Nak, tendangnya jangan keras-keras ya, nanti mama mu benar-benar nangis lagi,” ucap Andri.
“Enggak lucu mas.” Beeve yang sebenarnya sudah luluh pun tak mau begitu saja memperlihatkan perasaannya pada Andri.
“Kau bicara pada ku?” tanya Andri.
“Terus?” Beeve mengangkat alisnya.
“Ih, enggak kenal juga, sok-sok akrab, iyakan nak? Ayo sayang kita makan.” Andri terus mengajak bayi yang ada dalam kandungan Beeve berbicara.
Beeve pun dapat merasakan, putrinya selalu bereaksi saat Andri melakukan interaksi.
Kau benar-benar menyayangi anak ku ya mas? Beruntungnya kau nak, meski ayah kandung mu tak menganggap mu, tapi Allah kirimkan sosok yang menganggap mu bagai darah dagingnya, batin Beeve.
Lalu Andri menuntun tangan Beeve untuk duduk di atas sofa, selanjutnya ia mengambil nasi yang baru ia bawa tadi.
“Ayo kita makan sayang.”
“Aku enggak mau kau suap mas!” pekik Beeve.
“Percaya diri banget sih kau! Aku bicara pada anak ku, bukan pada mu, dasar tante-tante galak!” hardik Andri. Beeve berusaha menahan tawanya, sebab Andri kali itu berusaha keras untuk mengambil hatinya.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1