Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 52 (Di Terpah Gosip)


__ADS_3

Setalah mobil Andri hilang dari pandangan Beeve, ia pun kembali ke dalam rumah, dan tanpa sengaja berpapasan dengan Emir yang ingin ke dapur untuk sarapan.


“Aduh, malas banget kalau harus ketemu sama Emir, dia kapan pulang sih?? Auranya kok enggak enak bangat,” batin Beeve.


Namun karena Beeve ingin menjaga image, ia pun menyapanya.


“Pagi,” sapa Beeve dengan senyuman.


“Pagi juga, apa kau sudah makan?” tanya Emir.


“Sudah, tadi dengan mas Andri.” jawab Beeve, ketika Beeve ingin masuk ke kamarnya, Emir berkata.


“Ayo, kita makan lagi,”


“Hmm.... tapi aku masih kenyang mas.” ucap Beeve menolak dengan halus.


“Ibu hamil itu harus banyak makan, agar bayinya sehat, ayo temani aku,” ujar Emir.


“Ih, ngotot banget sih dia, pada hal aku masih kenyang,” batin Beeve.


“Ayo Bee.” Beeve yang ingin menjaga perasaan adik iparnya pun menurut untuk ikut ke dapur.


Sesampainya di dapur, Beeve berniat mengambil piring, namun Emir menghentikannya.


“Kau duduk saja, biar aku yang melayani mu,”


“Hah?? Enggak usah mas, aku bisa sendiri kok.” ucap Beeve dengan perasaan canggung.


“Sudahlah, kau sedang hamil, jadi enggak boleh cape,” ucap Emir.


“Kenapa dia jadi tambah aneh sih? Apa pantas Emir melakukan ini semua di saat suami ku enggak ada di rumah? Atau memang orang hamil selalu mendapat perlakuan istimewa seperti ini?” batin Beeve.


Beeve semakin tak nyaman akan sikap baik Emir, namun berbeda dengan Emir, ia malah santai.


“Ini.” Emir menyodorkan piring ke hadapan Beeve, yang berisi setengah sendok nasi, kemudian Emir meletakkan di hadapan Beeve 1 mangkuk besar sup daging sapi.


“Nasinya dikit banget mas?”


“Iya, karena kau kan baru makan, oh iya ke depan juga harus begini, nasinya setengah sendok saja, lauknya baru boleh banyak, kau mengerti?” terang Emir, seraya menaruh 1 gelas air putih besar di hadapan Beeve.


“Baik mas,” sahut Beeve.


“Ya sudah, ayo kita makan.” mereka berdua pun makan dengan lahapnya.


Emir sesekali curi pandang pada Beeve yang sedang fokus menikmati jatah makannya.


“Katanya enggak lapar, tapi makannya lahap, Beeve... Beeve.” batin Emir seraya tersenyum tipis.


Seusai makan, Emir menaruh peralatan makan mereka yang kotor ke wastafel, setelah itu kembali duduk di hadapan Beeve.


“Bee, maaf ya kemarin aku sudah membuat mu hampir celaka,” ucap Emir


“Oh, karena itu dia berbuat baik pada ku?” batin Beeve.

__ADS_1


“Iya mas, enggak apa-apa kok,” sahut Beeve.


“Lain kali, aku enggak akan bawa motor kalau keluar bersama mu,” ujar Emir.


“Iya mas, terimakasih banyak ya atas pengertian dan perhatiannya.” ucap Beeve dengan tersenyum tipis. Melihat senyum Beeve Emir merasa lega.


“Baiklah, kau boleh tidur sekarang, karena nanti sore seluruh keluarga akan datang kemari untuk menengok mu,” terang Emir.


“Hah? Masa sih mas, kok aku enggak tahu?”


“Sekarangkan sudah tahu, sudah kau kembalilah ke kamar mu san,” titah Emir.


Akhirnya Beeve kembali ke kamarnya untuk beristirahat meninggalkan Emir sendirian di meja makan.


“Bee, kenapa kau harus mengandung secepat ini sih? Belum usai rasa kecewa ku karena kau menikahi Andri,” gumam Emir dalam hati.


________________________________________________


Andri yang telah duduk di meja kerjanya pun mengeluarkan photo pernikahannya yang berukuran 10x10 dari dalam tasnya.


“Cocok sekali di pasang disini.” ucapnya seraya meletakkan bingkai photo itu tepat di sebelah kanan mejanya.


“Kau cantik sekali Bee,” ucap Andri.


Ia yang masih mengagumi photo istrinya harus terganggu karena ada yang mengetuk pintu dari luar.


Tok tok tok!!!


Saat pintu terbuka, yang datang ternyata adalah Arinda dengan membawa kopi di atas nampan.


“Ada apa kau kemari?” tanya Andri.


“Maaf pak, saya hanya ingin membawa kan bapak kopi,” ucap Arinda dengan tersenyum manis.


“Ini terakhir kali kau menyediakan ku kopi, karena tugas mu bukanlah ini, kerjakan saja apa yang Ayu berikan pada mu.” terang Andri dengan perasaan jengkel.


Arinda tersentak dengan ucapan ketus atasannya.


“Maaf pak kalau saya salah, tapi... saya hanya...”


“Sudah letakkan kopinya, dan kau boleh kelur,” titah Andri.


Arinda yang gentar pun mengikuti titah Andri, lalu saat ia akan keluar, Arman masuk ke dalam ruangan.


“Hahahaha... selamat ya Ndri, brother ku! Akhirnya kau sebentar lagi akan jadi seorang ayah,” seru Arman seraya memeluk Andri.


“Terimakasih man, aku bahagia sekali,” ucap Andri dengan haru.


Arinda yang mendengar percakapan itu pun tidak menyangka, kalau rencana kehamilan yang Beeve pernah katakan padanya berjalan dengan lancar.


“Beruntung sekali hidup mu Bee, bisa dengan mulus menipu mas Andri.” batin Arinda seraya keluar dari dalam ruangan Andri.


“Untung kemarin kau enggak gegabah Ndri, kalau enggak kau akan menyesal, karena menelantarkan anak dan istri mu,” terang Arman.

__ADS_1


“Kau benar Man, aku sangat merasa bersalah, terlebih karena telah menyakiti hatinya,”


“Sudahlah Ndri, kau masih punya banyak waktu untuk menebus kesalahan mu, manjakan dia yang sedang hamil, beli apa yang ia mau, bereskan! Menaklukkan hati wanita itu enggak susah Ndri, cukup kau beri uang dan sedikit gombalan, hatinya pun akan luluh, hahahaha.” Arman begitu bersemangat karena Andri akan menjadi seorang ayah.


“Siap, saran mu akan ku laksanakan,” ucap Andri.


“Enggak di sangka ya, benih mu topcer juga,”


“Jangan di tanya, untung selama ini aku pakai pengaman,” ujar Andri.


“Dasar lakna*t!” pekik Arman.


______________________________________________


Di dalam toilet, Arinda yang teringat akan perkataan pedas Andri pun merasa sakit hati.


Terlebih saat Arinda memikirkan nasib Beeve yang sangat mujur.


“Bee, aku juga ingin seperti dirimu, yang di cintai banyak orang, keturunan orang kaya, dapat suami konlongmerat, sejak SMP aku hanya jadi bayangan mu, lelaki yang aku sukai juga selalu menyukai mu, akh... aku ini kenapa sih?? Mendadak kok kesal pada Beeve.” Arinda mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Iya yang duduk di atas toilet sit pun mulai mendengar ada orang yang masuk ke dalam toilet.


“Hei, kau sudah tahu belum?” ucap karyawati Y.


“Apa?” sahut karyawati X.


“Itu, rekan kerja ku, Arinda,” ucap karyawati Y.


“Yeni?” batin Arinda.


“Ada apa dengan wanita itu?” tanya karyawati X.


“Kak Ayu, senior kami menegurnya kemarin,” jawab Yeni.


“Memangnya dia buat salah apa?” tanya karyawati X kembali.


“Cari muka di hadapan pak Andri, sok rajin antar kopi, pagi sekali juga sudah masuk kantor,” terang Yeni.


“Mungkin dia mau dapat penilaian bagus,” ujar karyawati X.


“Kalau mau dapat penilaian bagus, ya harus kerja maksimal, tunjukkan kemampuan, kak Ayu langsung enggak suka padanya, karena kata kak Ayu, dia itu bibit-bibit wanita penggoda atasan,” terang Yeni.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, KARENA 1 KONTRIBUSI DARI MU ADALAH PENYEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


...Instagram :@Kissky_muchu...


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.



__ADS_1


__ADS_2