Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 127 (Rencana Masa Depan)


__ADS_3

Setelah sampai ke rumah sakit, Andri segera di tangani oleh dokter. Luka di tangannya cukup parah, karena banyak kaca dan beling yang menancap.


“Ssst, perih.” Andri mendesis, ketika sang dokter menyiram alkohol ke tangannya.


Beeve yang duduk di sebelahnya juga ikut mengerutkan wajah.


“Mas, sakit ya mas?” tanya Beeve seraya mengelus punggung suaminya.


“Enggak sayang, hanya sedikit perih,” ucap Andri.


Kampret! Perih banget Tuhan!!! Rasanya pipis ku mau keluar di celana!! gumam Andri dalam hatinya.


Ia yang ingin berteriak saat dokter mencabut satu persatu kaca dari tangannya harus meredamnya, sebab ia wajib menjaga harga dirinya di hadapan Beeve.


Bagaimana caranya agar Beeve keluar? Bisa-bisa aku kelepasan nih! batin Andri.


Andri menarik nafas panjang setiap dokter menarik kaca dari tangannya.


“Akhh!! Mas, sakit ya mas, dok tolong pelan-pelan, suami ku pasti kesakitan,” ucap Beeve.


Sang dokter tersenyum melihat Beeve sibuk sedari tadi memperhatikan pekerjaannya.


“Lain kali, kalau bertengkar jangan gegabah pak, karena tangan mu tak sekuat ego mu,” ucap sang dokter.


“Dokter jangan bicara begitu pada suami ku, yang ia lakukan memang enggak benar, tapi itu karena cinta,” Beeve membela Andri.


Sang dokter jadi tertawa, “Alasannya sih enggak salah bu, tapi jangan sampai berdarah juga dong.” saat sang dokter mencabut beling kaca yang tertancap paling dalam di telapak tangan Andri, tanda sadar Andri sang pasien histeris.


“Akhh!!!!” Mendengar Andri berteriak Beeve juga ikut berteriak.


“Akhh!!!!! Mas! Sakit ya mas! Dokter pelan-pelan, suami ku kesakitan!” hardik Beeve.


Sang dokter makin cekikikan melihat kedua pasangan muda yang masih kekanak-kanakan di matanya.


Setelah 1 jam, akhirnya tangan Andri bersih dari segala kaca yang sebelumnya bersarang di tangannya. Beeve yang perhatian meniup tangan Andri dengan penuh cinta.


“Huuuh... huuuh..., mas lain kali kalau marah banting bantal saja ya,” ucap Beeve. Andri hanya mengangguk, karena tak sanggup berkata-kata lagi, nafasnya juga ngos-ngosan.


Setelah dokter selesai melakukan pengobatan, keduanya pun pulang ke rumah. Saat masih dalam mobil, Andri mengecup pipi Beeve.


“Terimakasih sudah menemani ku sayang,” ucap Andri.


“Iya mas.”


Andri terdiam sejenak, yang membuat Beeve bertanya.


“Ada apa mas? Apa ada hal yang kau sembunyikan dariku?”


“Sayang, setelah ini aku enggak tahu, apa kau masih mau bersama ku,” ujar Andri.


“Kau bicara apa sih mas? Tentu saja aku akan dengan mu, selagi aku menjadi istri mu,” ucap Beeve.

__ADS_1


“Sayang, sebenarnya aku telah di coret dari harta warisan orang tua ku, sekarang aku juga pengangguran, aku mengundurkan diri yang dari perusahaan ayah,” terang Andri.


“Kok bisa mas? Apa yang terjadi?” tanya Beeve penasaran.


“Itu karena aku durhaka pada ibu, jadi ibu mengatakan demikian.” jawab Andri.


“Pasti karena aku kan mas?”


“Bukan, karena salah ku kok yang.” ucap Andri.


“Harusnya kau jangan menentang ibu mu cuma karena aku mas, aku hanya orang luar, sedangkan dia ibu kandung mu.” Beeve merasa bersalah, karena ia menyebabkan keretakan hubungan antara Andri dan Rahma.


“Jangan bahas lagi yang, yang penting aku bersama mu,” Andri memeluk Beeve.


“Aku akan mendampingi mu mas, mau susah atau pun senang,” ucap Beeve.


“Terimakasih sayang.” Setelah percakapan itu, Andri dan Beeve meluncur menuju rumah.


Sesampainya di tujuan Andri dan Beeve turun dari mobil.


Ketika keduanya masuk dalam rumah, ternyata Arinda sedang duduk termenung di atas sofa.


“Kau disini?” ucap Andri pada istri keduanya.


“Iya mas.” sahut Arinda dengan wajah resah. Lalu Andri dan Beeve pun ikut duduk di sofa.


Beeve yang masih kepikiran dengan keadaan ekonomi mereka pun bertanya pada Andri.


“Memangnya kenapa yang?”


“Ya buat modal usaha mas, kau kan punya 2 istri, aku juga sebentar lagi mau melahirkan, pasti butuh biaya banyak, belum lagi Arinda,” terang Beeve.


Apa sih dia, sok perduli banget pada ku, dasar perempuan bolong! batin Arinda.


“Masih banyak sih sayang, tenang saja.” ucap Andri meyakinkan istrinya.


“Berarti kita harus memberhentikan para Art untuk menghemat pengeluaran, kalau pun harus ada, ku rasa cukup dua orang saja mas.”


“Begitu juga boleh, tapi nanti kalian jadi ikut kerja rumah dong sayang.”


Ogah, enggak banget, rencana apa sih itu, dasar pasangan bodoh! yang benar saja kalau aku harus mengerjakan rumah, issttt..., benar-benar menyusahkan mereka, batin Arinda.


“Enggak apa-apa mas, selagi kau mencari kerja, aku juga akan membantu,” terang Beeve bersemangat.


“Bantu do'a ya sayang?”


“Bantu do'a dan cari uang mas,” ujar Beeve.


“Jangan sayang, kau kan lagi hamil, serahkan saja pada ku, kau di rumah saja,” ucap Andri.


“Tenang saja mas, bagaimana kalau kita sewa ruko di tempat starategis, seperti pasar.”

__ADS_1


“Kau mau jualan apa di pasar?” tanya Andri.


“Aku mau buka rumah makan mas, dulu waktu aku jadi koki di tempat bu Feni, itu laris manis loh,” jawab Beeve.


“Enggak, kalian enggak boleh kerja,” ujar Andri.


“Ayolah mas, aku bisa kok, nanti aku yang jadi koki, Arinda jadi pelayan,” terang Beeve.


Sontak Arinda memutar mata malas, ia tak terima dengan kebaikan Beeve, yang ingin membatu sang suami mencari nafkah.


Kau saja sendiri! Dasar sifat miskin! Enak saja aku mau jadi pelayan di rumah makan! Hah! Dasar jelata! batin Arinda.


“Jangan sayang, uang kita masih banyak kok,” Andri kembali meyakinkan Beeve.


“Ayolah mas, ini hobi ku, nanti kalau aku melahirkan, Arinda yang melanjutkan, iya kan Nda?” Beeve menoleh ke Arinda dengan tersenyu.


Arinda pun mendengus, “Kau enggak dengar apa kata mas Andri, enggak usah! Kau jangan tambah beban mas Andri, apa lagi keadaan kita sedang hamil, kalau sakit bagaimana? Pakai akal sehat mu!” pekik Arinda.


“Bilang saja kau enggak mau repot!” ucap Beeve.


“Sudahlah, kalian jangan ribut, permintaan ku saat ini hanya satu, jangan bertengkar.”


Beeve dan Arinda terdiam, karena Andri telah menegur mereka.


“Ayo kita istirahat, ini sudah larut malam,” titah Andri. Kemudian Andri yang lelah pun beranjak terlebih dahulu ke kamarnya dan Beeve.


“Dasar! Kalau enggak mau hidup susah, sana ke rumah ibu mertua! Kau kan mengandung cucu kandung mereka, pastinya kau akan di terima,” ucap Beeve. Selanjutnya Beeve meninggalkan Arinda, menyusul suaminya ke dalam kamar.


Arinda yang di tinggal sendirian menjadi marah. “Aku harus cepat-cepat tinggalkan rumah ini,” gumam Arinda.


___________________________________________


Sementara di kediaman orang tua Andri, Rahma dan Yudi sedang adu mulut.


“Apa! Kau sudah gila ya bu! Kan sudah ku katakan, jangan ikut campur urusan rumah tangga Andri,” Yudi naik pitam pada Rahma.


“Habis Beeve menyebalkan yah, dia telah main tangan pada Arinda, itu di depan mata ku loh yah.” Rahma membela diri dengan mengatakan keburukan Beeve.


“Bukan urusan mu! Sekali lagi ku katakan, bukan urusan mu! Mau Andri mempertahankan Beeve atau enggak, diam! Kau diam! Biar dia urus sendiri, ini kau malah kasih surat cerai, parahnya kau malah katakan pada Andri kalau mau mencoretnya dari surat warisan, memangnya hanya kau yang memutuskan? Sekarang lihat, Andri mengundurkan diri! Kau pikir posisinya enggak penting di perusahaan?!” Yudi mengamuk hebat pada Rahman.


“Ayah, aku hanya memberi dia pelajaran, agar dia meninggalkan perempuan kotor itu!”


“Rahma! Sekotor apapun Beeve, dia adalah pilihan anak mu! Apa hasil pelajaran yang kau berikan? Hah! Dia berada di posisinya sekarang karena skillnya, bukan karena aku ayahnya, sekarang pada siapa harus ku serahkan posisi itu? Jawab!” pekik Yudi.


“Pasti masih banyak kandidat kan mas?” ujar Rahma.


“Arman?! Jadi maksud mu, lebih baik orang lain dari pada anak ku sendiri?” Mata Yudi membelalak pada istrinya.


...Bersambung......


...HAI READERS, ARINDA BIKIN SEBEL YAK! YUK TANPOL KEPALANYA RAME-RAME PAKAI BUNGA. YANG SAYANG PADA BEEVE BISA KASIH KOPI, BIAR DIA SELALU SIAP MENGHADAPI UJIAN DARI AUTHOR TERCANTIK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2