Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 94 (Ingkar Janji)


__ADS_3

“Beeve? Kau enggak beneran menyatakan perasaan padanya kan?” tanya Rahma.


“Aku... sudah melakukannya bu,” jawab Emir.


Seketika Rahma menepuk keningnya, “Allahu Akbar! Kau waras enggak sih Mir?!” Rahma tak habis pikir, karena Emir benar-benar melakukannya.


“Ibu kan sudah bilang kemarin! Jangan berniat jadi pebinor, kau pikir lucu ya! Andri nikah dengan Arinda, kau nikah dengan Beeve?! Benar-benar ya anak ini!” Rahma yang kesal bangkit dari sofa.


“Enggak ada acara ke luar negeri, kembali ke kamar mu!” pekik Rahma seraya meninggalkan Emir menuju kamarnya. Kepalanya teramat pusing akibat ulah kedua putranya.


Namun Emir yang berkepala batu tak menghiraukan perkataan ibunya, setelah Rahma masuk kamar, ia mendorong kopernya keluar dari dalam rumah.


____________________________________________


Sementara Beeve di rumah sibuk bersama Resti di dapur menata meja makan, sebab sebentar lagi Andri akan pulang.


Beeve berkeinginan untuk makan malam bersama sang suami, ia pun mengirim pesan pada Andri agar pulang cepat.


Mas, hari ini pulang cepat ya, aku tunggu, Beeve. ✉️


5 menit kemudian Beeve menerima pesan balasan dari Andri.


Insya Allah sayang, ✉️ Andri.


Wajah Beeve jadi sumringah, hatinya benar-benar bahagia, ia yang ngidam makan malam bersama suaminya sebentar lagi akan terwujud.


Setelah selesai menata makanan di atas meja Beeve kembali ke kamarnya untuk mandi, setelah selesai, ia memakai setelan dress indahnya, selanjutnya ia menuju meja makan.


Ia pun menunggu suaminya seraya bermain handphone.


Tepat pukul 17:31, akhirnya Andri tiba dalam rumah.


“Assalamu'alaikum sayang!” ucap Andri seraya menuju meja makan.


“Wa'alaikum salam mas.” Beeve bangkit dari duduknya dan menjabat tangan suaminya.


Kemudian Andri melirik ke arah meja makan yang telah di penuhi berbagai menu.


“Ada acara apa ini?” tanya Andri.


“Aku tiba-tiba ingin kita makan malam bersama mas, untuk itu aku menyiapkan semuanya.” terang Beeve, menuntun tangan suaminya untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


“Oh ya?” Andri pun meletakkan tas kerjanya ke kursi yang ada di sebelahnya.


“Iya mas.” Beeve yang masih anak online memotret kebersamaannya bersama sang suami.


“Mas, lihat sini mas!” Andri pun menoleh ke arah yang di suruh istrinya.


Cekrek!!! keduanya pun melakukan selfie bersama.


“Kau masih suka post photo ke media sosial ya,” ucap Andri.


“Enggak apa-apa kan mas, lagian aku bangga punya suami seperti mas Andri,” terang Beeve.


Andri yang ingin mengatakan tak perlu di posting di media sosial pun mengurungkan niatnya.


Ck, runyam nih urusannya, apa lagi kalau sampai Arinda lihat, batin Andri.

__ADS_1


Keduanya pun melakukan makan malam bersama dengan penuh canda dan tawa.


_____________________________________________


Ternyata di rumahnya Arinda juga menyiapkan makan malam untuk menyambut ke datangan suaminya.


Ia yang bersemangat terus memotret makanan yang telah tersaji di atas meja.


Cekrek!


Cekrek!


Tak lupa ia mengunggah ke halaman media sosialnya.


“Malam ini, aku harus bisa mengambil hati mas Andri, agar ia perlahan-lahan mulai menaruh rasa pada ku.” Arinda telah membayangkan, betapa romantisnya makan malam yang akan mereka lakukan nanti, setelah suaminya datang.


Kemudian ia melirik ke jam di handphonenya yang telah menunjukkan pukul 20:00 malam.


“Perjalan dari kantor ke rumah makan waktu 3 jam, mas Andri pulang jam 17:00 atau jam 18:00, berarti sebentar lagi, dia akan tiba,” gumam Arinda.


Ia pun menuju kamarnya sejenak untuk memperbaiki riasan di wajahnya.


“Cantik!” ucapnya, seraya menatap wajahnya yang ada di cermin.


Setelah itu, ia kembali ke meja makan, ia pun menunggu suaminya dengan sabar.


Hingga jam menunjukkan pukul 21:00 malam, namun tanda-tanda kehadiran suaminya belum ada juga.


“Lama banget sih!” Arinda yang stok kesabarannya telah habis, memutuskan untuk mendial nomor suaminya.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


“Kau ingkar lagi mas?” gumam Arinda.


Lalu ia membuka aplikasi si hijau, dan melihat status terbaru Beeve, yang membuat ia menelan saliva bulat-bulat.


“Kau benar-benar seorang pembohong mas!” Air mata Arinda menetes, ia yang sedang dalam masa kehamilan jadi lebih sensitif.


“Untuk mendapat momen indah dengan mu, aku menahan lapar sedari sore, namun kau!” Arinda menggenggam erat handphonenya.


“Enggak sedikit pun memikirkan ku! Anak ku! Yang jelas-jelas adalah darah daging mu! Dia! Si wanita jalan* yang bukan siapa-siapa sebenarnya dalam hidup mu, malah kau beri perhatian lebih! Kau sungguh menyedihkan mas!” Arinda yang masih merasa lapar memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Sesampainya Arinda ke kamar, ia langsung membanting pintu dengan keras.


“Harusnya aku yang kau perhatikan, harusnya aku yang tidur di samping mu mas! Bukan dia! Bukan wanita kotor yang tak bisa menjaga kesuciannya untuk suaminya! Lihat saja, akan ku balas semua penderitaan yang kau berikan pada ku Bee! Andai kau tak ada, pasti mas Adri akan sepenuhnya mencintai ku, karena aku lah yang berhak atas dirinya.” Arinda menangis di atas ranjangnya yang terasa dingin.


___________________________________________


Pagi harinya, setelah Andri berangkat ke kantor, Arinda tiba di kediaman Beeve.


Ting tong ting tong!!


Ia menekan bel berulang kali, yang membuat Sinta sang Art membukakan pintu dengan buru-buru.


Ceklek!


Ketika pintu terbuka, Sinta terperanjat, karena ternyata sang tamu mereka pagi itu adalah Arinda, yang sempat ingin di habisi oleh majikannya beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


“Selamat pagi nona,” ucap Sinta.


“Selamat pagi juga, ada Beeve?” tanya Arinda seraya masuk ke dalam rumah dengan angkuhnya.


“Ada non, sebentar saya panggilkan," ucap Sinta.


“Hei, kamu!” Arinda memanggil Sinta.


“I-iya non?”


“Panggil saya nyonya, karena status saya sekarang ada seorang istri, dari majikan mu!” pekik Arinda, yang membuat mata Sinta membulat sempurna.


Serius? batin Sinta.


“Ba-baik nyonya.” Sinta yang tak ingin berlama-lama bicara dengan Arinda pun menuju kamar Beeve.


Tok tok tok!


Mendengar ketukan pintu dari luar, Beeve pun membuka pintu kamarnya.


“Ada apa Sin?” tanya Beeve.


“Ada nyonya Arinda di ruang tamu nyah,” ucap Sinta.


“Nyonya?” ucap Beeve seraya mengernyit.


“Iya nyah, kalau begitu saya permisi,” ucap Sinta.


Beeve pun menuju ruang tamu, untuk menemui sang sahabat.


“Eh, Arinda!” ucap Beeve.


“Bee!” Dengan senyum terpaksa Arinda bangkit dari duduknya dan memeluk Beeve.


Jalan*! batin Arinda.


“Kok pagi sekali kesini? Ada apa?” tanya Beeve seraya duduk di sebelah Arinda.


“Aku hanya ingin berkunjung,” ucap Arinda.


“Oh.., eh bagaimana dengan kuliah mu?”


“Aku ambil cuti Bee,” ucap Arinda.


Apa karena kurang biaya ya? batin Beeve.


“Oh ya? Apa kau sudah dapat pekerjaan baru?” tanya Beeve.


“Belum, hehehe.” Arinda sangat kesal pada pertanyaan yang Beeve ajukan.


Apa dia meledek ku? Dasar setan! batin Arinda.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


__ADS_1



__ADS_2