
Pertanyaan dari pengacara Hutapea membuat Celine panik, pasalnya ia lah yang membawa Bia bermain ke pinggir kolam, dan meninggalkannya di atas kursi santai saat ia teringat akan kompornya yang belum di matikan.
“Bu Celine, apa ibu bisa menjelaskan kronologi tersebut?” tanya pak hakim.
“Sa-saya enggak tahu soal itu, karena pada saat kejadian berlangsung saya tidak berada di rumah,” terang Celine.
“Bohong pak hakim! Kami mempunyai bukti dan saksi disini!” Andri dan pengacara Hutapea ternyata telah membuat kesempatan dengan Abraham, adik Celine yang mengetahui seluruh kronologi kematian Cristian, jika Abraham bersedia berkerja sama, maka Abraham akan kebal hukum, dan keluarga Andri takkan menuntutnya.
Celine rasanya ingin membunuh adiknya Abraham, saat bersaksi atas kesalahan yang ia perbuat.
Abraham pun menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya, mulai dari masalah Cristian, sampai dengan kemalangan yang Bia alami atas ulah keluarganya.
Karena sudah cukup bukti untuk menjerat Celine, Meri dan juga Maria, akhirnya ketiganya di jatuhi hukuman berbeda-beda, yaitu Celine 30 tahun, Meri 15 tahun, sementara Maria 7 tahun, bersyukurnya hak asuh Bia kini resmi jatuh ke tangan Beeve.
Semua orang mengucap syukur pada sang maha pencipta, karena ibu dan anak itu kembali bersama setelah terpisah sekian tahun.
Sedang dari pihak keluarga Cristian malah menangis meraung-raung karena mereka harus mendekam di dalam penjara.
Celine pun berlari ke hadapan Beeve kemudian iaberlutut seraya menyatukan sepuluh jarinya.
“Ku mohon, maafkan aku nak Beeve, tolong cabut tuntutan mu ini, bagaimana pun aku adalah nenek kandung Bia.” ucap Celine dengan berderai air mata.
Beeve yang telah muak pun memberi wajah kecut dan sombongnya pada Celine.
“Maaf saja ya, aku sudah terlanjur baik pada mu dan keluarga mu sejak dulu, kalau aku yang kau sakiti, aku masih bisa terima, tapi kalau sampai anak ku juga! Tak ada kata ampun dan maaf untuk mu!” pekik Beeve.
“Nak... nak Beeve ku mohon!!” Celine menarik ujung baju Beeve.
“Minggir kau! Membusuk lah dalam penjara!” Beeve menarik kasar bajunya, ia pun menggendong Bia keluar dari ruang sidang.
Alhamdulillah, sekarang semua sudah baik-baik saja, batin Beeve.
Setelah semua selesai, Beeve dan seluruh anggota keluarga pulang ke rumahnya dan Andri, sesampainya mereka, Beeve mulai menyiapkan makan siang di dapur bersama mertuanya.
Sedangkan Andri, Yudi dan Emir menunggu di ruang tamu. Andri yang teringat akan janji Yudi soal harta warisan mulai menagih pada sang ayah.
“Yah, ayah masih ingat enggak?” ucap Andri.
“Soal apa?” tanya Yudi.
“Harta warisan untuk Bia,” jawab Andri.
“Oh, itu... tentu saja ayah enggak lupa, tenang saja, ayah akan memasukkannya ke dalam hak waris ayah,” terang Yudi.
“Jangan bohong ya yah! Aku akan periksa surat wasiat ayah 3 hari lagi,” Andri yang tak ingin di tipu ayahnya memberi peringatan.
__ADS_1
“Iya-iya, bawel sekali kau!” Yudi yang telah berjanji dengan sang putra pun akan menepatinya.
Setelah makan siang telah terhidang di atas meja makan, mereka pun makan bersama.
Malam harinya, Rahma yang duduk berdua dengan Andri di depan rumah di temani secangkir kopi di hadapan mereka masing-masing mulai membuka topik.
“Andri, apa Beeve sudah datang bulan?” tanya Rahma penasaran.
“Kurang tahu bu, memangnya kenapa?” tanya Andri kembali.
“Enggak ada sih, semoga saja Beeve segera mengandung anak mu,” ucap Rahma.
“Gimana mau hamil bu, di sentuh saja dia belum ikhlas,” ungkap Andri.
“Hah? Masa sih? Pada hal kemarin aku sudah memberi dia obat.” gumam Rahma. Andri yang mendengar pun paham betul, penyebab kemalangan yang ia alami beberapa hari yang lalu.
“Oh, jadi yang mengerjai aku ibu?”
“Mengerjai apa sih?” Rahma tak mengerti maksud putranya.
“Sudahlah, memang ibu selalu kurang kerjaan!” pekik Andri.
“Kau ngomong apa sih?”
“Kau kenapa mas?” tanya Beeve.
“Enggak ada sayang.” jawab Andri yang tak ingin membahas kekonyolan Rahma.
“Enggak ada, tapi wajah mu seseram itu?”
“Benar sayang, enggak ada, oh ya? Bia tidur dengan kita atau bagaimana?” tanya Andri sebab putri mereka sudah terlelap di atas ranjang.
“Di kamarnya saja mas.” jawab Beeve yang berniat ingin melakukan ritual penyatuan malam itu.
“Baiklah, aku akan pindahkan dia.” dengan perlahan Andri mengangkat tubuh Bia, dan membawanya keluar menuju kamar tidur Bia yang ada dia sebelah kamar mereka.
Rahma yang melihat cucunya akan tidur sendiri pun mendekat.
“Hei, Bia tidur dengan kami saja!” seru Rahma yang menginap malam itu di rumah Andri.
Andri yang malas melihat wajah ibunya pun langsung membawa Bia ke kamar tamu yang di tempati oleh kedua orang tuanya tanpa protes.
Selesai mengantar Bia, Andri kembali ke kamarnya dan Beeve. Ia yang baru tiba di buat tertegun, sebab istrinya telah mengenakan pakaian haram yang legendaris di kalangan suami istri.
Piyama hitam berenda di atas lutut membuat lekuk tubuh Beeve terpampang nyata.
__ADS_1
Andri menelan bulat-bulan salivanya, jelas ia tergoda akan surga dunia yang ada di hadapannya.
Indahnya, batin Andri.
“Mas.” Beeve mendekat ke arah Andri yang masih berdiri di dekat pintu, ia pun memeluk tubuh suaminya seraya menutup pintu rapat-rapat.
Ceklek! Retek!
Deg deg deg! Jantung keduanya berdegup dengan kencang.
“Mas...” suara lembut Beeve membuat bulu kuduk Andri merinding.
“Iya sayang?” sahut Andri dengan suara yang berat.
“Apa bisa aku melayani mu malam ini?” tanya Beeve seraya mengencangkan pelukannya pada suaminya.
Andri yang telah tergoda pun ingin segera menyetujuinya, namun ia teringat kalau esok hari harus berangkat subuh menuju Surabaya, untuk bisnis trip selama seminggu.
Aduh gimana ya, kalau main sekarang bisa ketinggalan pesawat nih besok, aku juga enggak enak pada ayah kalau minta keringanan, apa lagi baru nuntut hak Bia, batin Andri. Dengan terpaksa Andri menolak ajakan istrinya.
“Maaf sayang, jangan malam ini ya.”
“Kenapa mas?” wajah Beeve nampak bingung dengan penolakan Andri untuk yang kedua kalinya.
“Besok aku ada perjalanan bisnis ke Surabaya.”
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Itu karena kita sama-sama sibuk, maafkan aku, kita lakukan setelah aku pulang dari sana ya sayang.” Andri pun melepaskan pelukan Beeve dari tubuhnya, lalu ia segera naik ranjang untuk tidur.
Dua kali dia menolak ku, pada hal dulu, asal dia atau aku sedang ingin, sesibuk apapun dia sempatkan memberi jatah, mas Andri sebenarnya balas dendam atau apa? batin Beeve.
Hatinta teramat kecewa, namun apa daya, tak mungkin ia memaksa suaminya, sedang ia sendiri pun begitu saat Andri menginginkannya.
Beeve dengan cemberut naik ke atas ranjang, ia pun masuk ke dalam selimut, lalu merebahkan tubuhnya dengan kasar.
Andri sendiri tahu kalau istrinya marah, namun ia sengaja tak membujuknya.
Biarkan dulu deh, semoga ke depannya Beeve sadar, kalau di abaikan itu sakitnya minta ampun, hehehe, batin Andri.
Hatinya teramat senang, karena Beeve perlahan mulai kembali menerimanya. Sebelum Andri benar-benar tidur, ia pun memeluk Beeve yang tidur membelakanginya.
“I love you sayang.” bisik Andri ke telinga istrinta, selanjutnya ia mendekap Beeve, yang membuat Beeve tersenyum, keduanya pun terlelap dengan saling berpelukan.
...Bersambung... ...
__ADS_1