Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_18


__ADS_3

Perlahan Sonya membalikkan badannya, jantungnya berdegup lebih kencang, dan untung saja tidak loncat.


Seketika Sonya bisa bernafas dengan lega, karena yang ia takutkan tidak terjadi.


Sonya tersenyum melihat perawat yang tengah berdiri di belakangnya.


Ia jadi salah tingkah sendiri, Sonya juga merasa gugup, kalau-kalau nanti dituduh macam-macam oleh perawat itu.


"Maaf, mbak lagi ngapain di sini?" tanya perawat tersebut.


"Ini sus, saya salah kamar, permisi," ucap Sonya, dan setelah itu ia bergegas pergi dari tempat itu.


Sonya bergegas pergi menjauh dari tempat itu, ia merasa lega karena yang memergokinya adalah perawat, bukan keluarga Rafael.


Setelah menjauh, ia pun bergegas untuk segera pulang.


Tak butuh waktu lama, Sonya sudah tiba di rumahnya.


Ia segera masuk dan di dalam terlihat Sila yang tengah mondar-mandir tak jelas. Sudah dapat ditebak, Sila pasti tengah menunggu kepulangan Sonya.


Melihat Sonya pulang, dengan segera Sila menghampiri sahabatnya itu.


Sila pun langsung memburu Sonya dengan berbagai pertanyaan.


"Sonya bagaimana, kamu berhasil masuk ke ruangan kak Rafael apa tidak, lalu keadaan kak Rafael bagaimana, apa kak Rafael sudah bangun dari komanya ... Sonya, ayo jawab, kenapa kamu diam saja," pertanyaan Sila yang panjang lebar membuat Sonya bingung sendiri.


"Sila, kamu satu-satu dong nanyanya," ujar Sonya. Lalu menarik tangan Sila dan mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Maaf ya Sil, aku tidak berhasil untuk masuk ke ruang rawat kak Rafael, soalnya di dalam ada Dokter yang tengah mengecek kondisi suami kamu, dan aku lihat keadaan suami kamu masih sama, belum ada perubahan," jelas Sonya. Wajah Sila kembali muram.


Seketika semangatnya hilang entah kemana, ia berharap jika suaminya segera bangun dari komanya. Tapi ternyata itu hanya angan-angan saja. Toh sampai saat ini, keadaan suaminya masih sama.


Sonya yang menyadari keadaan sahabatnya itu, ia langsung menarik tubuhnya dan memeluknya dari samping. Saat ini Sila hanya butuh ketenangan dan juga semangat untuk tetap melanjutkan hidup.


Awan pun menghitam seakan ikut merasakan sedih, seperti yang Sila rasakan.


***


Dua bulan sudah Rafael menjalani perawatan intensif di RS, tapi sampai saat ini Rafael belum juga bangun dari komanya.


Perban yang membalut kepala dan tangannya sudah terlepas, serta yang lainnya. Hanya jarum infus dan selang oksigen yang masih menempel.


Selama dua bulan ini, Sila tinggal bersama dengan Sonya, awalnya Aldo tidak tau jika Sila bersama Sonya, tapi seiring berjalannya waktu, lama-lama Aldo mengetahui di mana keberadaan Kakak iparnya itu, hanya saja Aldo belum memberitahukan kepada Neneknya.


Aldo sengaja membiarkan Sila tinggal bersama dengan sahabatnya itu, karena menurut Aldo  itu adalah jalan terbaik untuk sementara waktu ini, sebelum Rafael subuh.


Karena Aldo tau jika ibunya tidak menyukai menantunya itu.

__ADS_1


Hari ini entah kenapa Sila merasa jika dirinya sangat rindu kepada suaminya, dan ingin sekali datang menjenguknya.


Mungkin yang di dalam perut juga merasakan apa yang Sila rasakan.


Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke RS, tapi sebelum itu Sila akan memberitahu Aldo terlebih dahulu.


Kini Sila sudah tiba di RS, tentunya bersama dengan Aldo, karena Aldo takut jika nanti ibunya tau, justru bukan nanti Sila akan diusir.


Kini Sila tengah duduk di samping Rafael, sementara Aldo memilih rebahan di sofa, sembari memainkan ponselnya.


"Kak, Sila rindu sama Kakak, apa kak Rafael tidak rindu pada Sila, kapan Kakak akan membuka mata, apa kak Rafael tidak ingin melihat indahnya dunia ini, apa kak Rafael tidak ingin melihat kelahiran anak kita nanti," ratap Sila. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya itu, dan menempelkan pada pipinya.


Tak terasa cairan bening itu luruh tanpa meminta izin.


Sila tidak sanggup berkata-kata lagi, rasanya lidahnya kelu, hatinya sakit melihat suaminya hanya diam seperti itu, dua bulan bukan waktu yang sebentar, selama ini Sila hanya bisa berdo'a agar ada keajaiban untuk lelaki yang sangat dicintainya.


Tiba-tiba Sila merasakan jika jari tangan Rafael bergerak, seketika Sila mendongakkan kepalanya menatap wajah lelakinya.


Selang beberapa detik, Sila melihat jika suaminya mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, ada senyum terukir di bibir Sila.


"Kak Rafael, apa Kakak mendengarkan aku," lirihnya. Matanya berbinar melihat suaminya membuka mata.


Setelah itu, Sila memanggil adik iparnya itu, Aldo pun segera menghampiri Sila, senyum terukir di bibir lelaki itu, kemudian mereka segera memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Rafael.


Sila tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas keajaiban yang terjadi.


Namun tatapan Rafael seperti orang yang linglung, Dokter mengatakan Rafael tidak amnesia, hanya saja untuk saat ini ingatannya masih belum sempurna.


Rafael terus memandangi orang-orang di sekelilingnya, dari mulai Aldo, Neneknya, ibunya, Aurel, dan juga istrinya, tapi tatapan Rafael berbeda saat melihat wajah wanita yang berada di dekatnya itu.


Sorot mata Rafael menunjukkan jika ia sangat mengenal dan mengingatnya.


Tangan Rafael pun tak mau lepas, ia terus menggenggam erat tangan istrinya.


Seperti orang yang tidak mau kehilangan, Rafael juga masih banyak diam, ia sama sekali belum berbicara, mereka maklum Rafael baru saja bangun dari tidur panjangnya.


"Sebaiknya kita keluar dulu, biarkan Rafael dan Sila saling melepas rindu," saran Sukma. Aldo mengangguk paham.


"Tapi Bu," sela Maya. Sorot matanya menunjukkan jika dirinya tidak setuju dengan saran yang Sukma berikan.


"Keluar, jangan buat keributan," tandas Sukma. Mau tidak mau Maya pun mengikutinya.


Mereka pun bergegas keluar dari ruang rawat Rafael, dan di dalam hanya ada Rafael dan Sila.


Sila terus memandangi wajah suaminya, rasa tak percaya, tapi semuanya adalah kenyataan, dan kenyataan itu benar adanya.


"Kenapa?" tanya Rafael. Suaranya masih terdengar lemah.

__ADS_1


Mendengar suara yang sangat ia rindukan selama ini, membuat air mata Sila menetes.


Rafael yang melihatnya merasa heran. Begitu pentingkah dirinya bagi wanita yang duduk di sampingnya.


"Kenapa menangis," ucap Rafael. Tangannya terangkat dan menghapus air mata Sila dengan ibu jarinya.


Sila hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak sanggup untuk mengeluarkan suara lagi.


Sila benar-benar bahagia dengan apa yang terjadi saat ini.


Ia tersenyum melihat apa yang suaminya perbuat untuknya.


"Sila bahagia Kak," lirihnya. Tapi Rafael tetap bisa mendengarnya.


"Apa aku begitu penting untuk kamu?" pertanyaan itu sukses membuat jantung Sila berhenti berdetak.


Sila tidak tau, kenapa Rafael tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu.


Bagi Sila, Rafael adalah bagian dari hidupnya, separuh nyawanya.


Lelaki itu sukses membuat Sila hidup lebih berarti.


"Kak Rafael sangat penting, Kakak adalah bagian dari hidup aku ... dan .... " Rafael mengernyitkan keningnya, lantaran ucapan Sila terpotong.


"Dan apa?" tanya Rafael. Ia sangat menunggu jawaban apa yang akan Sila berikan.


Lagi-lagi Sila terdiam, ingin rasanya Sila mengatakan jika dirinya tengah hamil.


Namun sekarang bukan saat yang tepat, Rafael baru saja bangun dari komanya, Sila takut jika nanti Rafael tidak langsung percaya dengan apa yang Sila katakan.


"Dan aku tidak mau kehilangan Kakak, aku ingin selalu di samping kak Rafael," kata Sila. Rafael tersenyum mendengar kata-kata istrinya itu.


Seminggu sudah Rafael bangun dari komanya, dan keadaannya semakin hari semakin membaik.


Sejak saat itu juga, Rafael tidak pernah mau jauh dari Sila. Seperti saat ini, merasa bosan, Rafael pun meminta Sila untuk mengajaknya keluar, meski Maya sudah menawarkan diri, tapi tetap saja Rafael tidak mau.


Kini Rafael dan Sila tengah berjalan menuju ke taman RS. Rafael duduk di kursi roda, sementara Sila mendorongnya mengelilingi taman.


Capek berkeliling, Sila pun memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.


Rafael tetap duduk di kursi roda, sementara Sila duduk di bangku taman, dan menghadap ke arah suaminya.


Senyum terukir di bibir keduanya, tangan Rafael terus menggenggam erat tangan wanitanya.


Tiba-tiba senyum Sila memudar saat melihat seseorang datang menghampirinya.


Seketika Sila bangkit dari duduknya, dan ia berdiri di belakang Rafael, kedua tangannya memegangi bahu suaminya. Rafael yang menyadari itu, tangannya terulur dan memegang tangan istrinya untuk memberikan ketenangan.

__ADS_1


__ADS_2