Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_11


__ADS_3

Sila ikut terdiam melihat wanita yang berdiri di depan pintu tersebut, usianya sekitar 50 tahun, tapi masih terlihat sangat muda, dan cantik, wajahnya pun masih fresh, belum terlihat ada keriput sedikitpun.


Setelah hampir beberapa menit terdiam, akhirnya Rafael membuka suara, dan Sila sedikit terkejut mendengar ucapan suaminya itu.


"Mama." Desis Rafael.


Wanita itu adalah ibu Maya ibunda Rafael dan Aldo, semenjak pergi dua tahun yang lalu, Maya baru kembali ke rumah.


"Sayang, apa kabar, kamu sehat kan Nak?" tanya Maya, yang langsung memeluk putranya itu.


Sementara yang dipeluk hanya diam, tanpa merespon apa lagi membalas pelukan dari ibunya itu.


Sila hanya diam, ia masih merasa bingung, dan sekarang ia baru tau, siapa ibu mertuanya itu.


Karena sejak menikah dengan Rafael, Sila belum pernah bertemu langsung dengan ibu mertuanya itu, hanya lihat di foto saja.


Setelah itu, Maya melepas pelukannya dan menatap wajah putranya itu.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Maya yang terlihat khawatir.


"Rafael baik-baik saja kok ma," jawab Rafael.


Maya tersenyum setelah mendengar jawaban dari putranya itu, lalu sekilas melirik wanita yang berdiri di samping Rafael.


Sila yang merasa diperhatikan, mencoba tersenyum ramah pada ibu mertuanya itu.


"Rafael, dia siapa?" tanya Maya, dengan melirik ke arah Sila.


Seketika Rafael menoleh ke arah istrinya, lalu menggenggam tangan sang istri.


"Dia Kaysila, istriku ma," jawab Rafael, dan sontak membuat mata Maya terbelalak.


Seketika ibu Maya menarik tangan putranya, dan menuntunnya menjauh dari Sila.


"Rafael, kamu sudah gila apa, mama itu sudah menjodohkan kamu dengan Aurel, tapi kenapa kamu menikah dengan wanita itu," tutur Maya, yang merasa sangat kecewa dengan pengakuan putranya itu.


"Cukup ma, mama kan sudah tau, kalau Rafael sudah tidak punya hubungan dengan Aurel sejak tiga tahun yang lalu, sejak dia pergi tanpa ada alasan, jadi Rafael minta sama mama, jangan pernah menyebut nama dia lagi di hadapan aku ma," jelas Rafael yang mulai tersulut emosi.


Maya diam seketika, dadanya naik turun menahan amarahnya, ia tidak menyangka kalau putranya sekarang sudah berani melawannya.


"Sekarang mama istirahat saja, aku ada urusan sama Sila," ujar Rafael dan berlalu pergi dari hadapan ibunya.


Maya masih saja diam, ia menatap punggung putranya yang mulai menghilang di balik dinding.


"Sampai kapanpun aku tidak akan setuju kamu menikah dengan wanita itu, karena aku sudah menjodohkan kamu dengan Aurel," decak Maya, dengan senyum liciknya.


***


Kini Rafael dan Sila tengah dalam perjalanan, Rafael memilih untuk diam, ia masih teringat perkataan ibunya sewaktu di rumah, Rafael tidak menyangka kalau ibunya pulang hanya untuk mengatakan hal menyebalkan seperti itu.


Sila pun demikian, ia takut jika bertanya akan kejadian di rumah nantinya membuat suaminya marah, karena Sila masih ingat betul, saat Rafael emosi sewaktu di kantor.


"Sila, aku minta maaf ya," ucap Rafael, yang mampu membuat Sila menoleh ke arah suaminya.


Sila mengernyitkan keningnya, ia tidak tau kenapa Rafael tiba-tiba meminta maaf, padahal menurutnya suaminya tidak bersalah.


"Maaf untuk apa Kak?" tanya Sila, dengan menatap lekat mata elang lelakinya.

__ADS_1


Rafael nampak menarik nafas dalam-dalam, dan membuangnya secara perlahan.


"Maaf untuk soal mama, mama orangnya memang seperti itu, apa lagi kalian kan baru pernah bertemu," terang Rafael.


"Iya enggak apa-apa kok Kak," sahut Sila dengan tersenyum.


Melihat istrinya tersenyum, tiba-tiba Rafael meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan erat.


Untuk sesaat netra mereka saling bertatap, tapi dengan segera Rafael kembali fokus untuk menyetir.


***


Sementara itu, di rumah Maya nampak ngomel-ngomel tidak jelas, bi Inah pun sampai heran, kalau Maya pulang pasti seperti itu, rumah menjadi heboh, kadang pekerjaan pun banyak yang salah di mata Maya.


"Bi, bi Inah," panggil Maya dengan suara keras.


Dengan tergopoh-gopoh, bi Inah berlari dari belakang menghampiri majikannya itu.


"Iya Nyonya ada apa?" tanya bi Inah.


"Tolong bawa koper saya ke kamar, dan jangan lupa, bereskan kamar saya," pinta Maya dengan angkuhnya.


"Baik Nyonya, permisi," sahut bi Inah, dengan segera bi Inah menyeret koper tersebut, dan ia bawa ke kamar majikannya itu.


Maya nampak melihat-lihat seisi rumah, rasa penasaran menghampirinya, saat melihat bingkai foto berukuran besar terpajang di ruang keluarga, Maya pun langsung menghampirinya.


"Ini pasti foto pernikahan Rafael dan wanita itu, dan pasti ini adalah kerjaan ibu, yang menjodohkan putraku Rafael," desis Maya, sudut bibirnya terangkat, senyum liciknya terukir.


"Sepertinya aku harus membuat kejutan untuk malam ini, aku akan kembali mendekatkan Rafael dengan Aurel, dan wanita itu, anggap saja tidak terlihat," desisnya dengan senyum penuh kelicikan.


"Bi, kesini sebentar," pinta Maya, dan dengan segera bi Inah pun menghampirinya.


"Iya Nyonya, apa ada yang bisa Bibi bantu lagi?" tanya bi Inah.


"Sekarang Bibi masak makanan yang banyak dan enak, karena malam ini, saya akan mengundang seseorang untuk makan malam bersama kedua putra saya," jelas Maya.


"Baik Nyonya, kalau begitu, Bibi langsung ke belakang," jawab bi Inah, dan bergegas menuju ke dapur.


Maya tersenyum, ia sangat yakin jika usahanya nanti akan berhasil.


***


Matahari telah tergelincir di ufuk barat, senja kemerah-merahan kini menghiasi langit.


Hembusan angin sore menambah kesejukan, perlahan langit pun menggelap, dan yang tersisa hanya sinar rembulan dan kerlipan bintang.


Malam ini, Maya nampak gelisah menanti kedua putranya yang belum juga pulang, ia mondar-mandir di ruang tamu, tangannya pun tak henti-hentinya mengecek layar ponselnya.


Selang beberapa menit deru motor berhenti di halaman rumahnya.


"Itu pasti Aldo baru pulang," gumam Maya, dan benar saja, pintu rumah terbuka dan sosok pria tampan masuk ke dalam.


"Mama, kapan mama pulang?" tanya Aldo, saat melihat ibunya sudah berdiri di hadapan.


"Mama pulang tadi siang, kamu dari mana saja, udah malam begini baru pulang," ujar Maya, yang langsung menghampiri putranya itu.


"Biasa lah ma, anak muda," sahut Aldo, yang membuat Maya tersenyum.

__ADS_1


Maya mengacak-acak rambut putranya itu, lalu memeluknya, dengan senang hati Aldo pun membalas pelukan ibunya itu.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi, setelah Kakakmu pulang, kita akan makan malam bersama," kata Maya. Ia pun melepas pelukannya.


"Ok ma, Aldo mandi dulu ya," sahut Aldo, dan bergegas berlari menuju ke kamarnya.


Setelah Aldo masuk ke kamar, tiba-tiba terdengar suara mobil yang masuk ke garasi, dan sudah bisa ditebak jika itu adalah Rafael dan istrinya.


Benar saja, tak berapa lama kemudian, Rafael dan Sila masuk ke dalam.


"Sayang, kamu dari mana saja sih, jam segini baru pulang," ujar Maya, yang langsung menghampiri putranya itu, tanpa menghiraukan istrinya yang berdiri di samping Rafael.


"Rafael habis jalan sama Sila ma," sahut Rafael, dengan datar.


Seketika Maya menyunggingkan senyum tak suka, dan melirik ke arah menantunya itu, tatapan tak suka dapat Sila rasakan.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi, nanti kita makan malam bersama," kata Maya.


"Iya ma, Sila ayo," sahut Rafael, lalu menggandeng tangan istrinya, dan berjalan menuju ke kamar.


Sila tersenyum saat melintas di hadapan ibu mertuanya itu, tapi hanya tatapan sinis yang Sila dapatkan.


***


Kini mereka telah berkumpul di meja makan, semua makanan sudah tersaji di atas meja.


Maya nampak gelisah karena orang yang ia undang belum juga datang.


"Ma, kita lagi nunggu siapa sih, Aldo udah laper nih," ujar Aldo, yang memang sudah menahan lapar sejak tadi.


"Sabar dong Sayang, sebentar lagi juga datang," sahut Maya, mencoba menenangkan putranya itu.


"Mama lagi nunggu papa ya," celetuk Aldo, yang langsung mendapat tatapan tajam dari ibunya.


Seketika Rafael melirik ke arah adiknya itu, ia merasa tidak suka jika ada yang menyebut lelaki kejam yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


"Hehe, santai Bro, cuma becanda kok," ujar Aldo cengengesan.


"Atau jangan-jangan ada udang dibalik bakwan ya ma," tebak Aldo, seraya menunjuk ke arah ibunya.


"Maksud kamu?" tanya Maya heran.


"Ah, enggak apa-apa, lupakan saja ma," sahut Aldo, yang membuat ibu serta Rafael dan Sila menggelengkan kepalanya.


Selang beberapa menit, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman depan, Maya yang mendengarnya segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Putra dan menantunya hanya melihat heran dengan sikap wanita itu.


"Kok perasaan aku jadi nggak enak gini ya," lirih Sila, dengan menatap lekat wajah suaminya itu.


Melihat kegelisahan dari sang istri, Rafael langsung meraih tangan wanitanya itu, dan menggenggamnya, memberinya isyarat, bahwa semua akan baik-baik saja.


Tentunya itu membuat Sila tersenyum dan bernafas lega.


Setelah itu, Maya datang dengan seorang perempuan, dengan dandanan yang sangat seksi.


Seketika Aldo, Rafael, dan Sila terlonjak kaget melihat perempuan yang digandeng ibunya itu.

__ADS_1


__ADS_2