Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 232 (Demam)


__ADS_3

Malam harinya, Andri yang belum mendapatkan Art sementara, terpaksa membawa anak dan istrinya menginap di rumah orang tuanya.


“Assalamu'alaikum bu,” ucap Beeve dan Andri.


“Walaikum salam, eh... ada apa kesini?” tanya Rahma, sebab ia merasa esok bukanlah hari minggu.


“Kita mau numpang nginap disini bu,” ujar Andri.


“Oh... tapi dalam rangka apa?”


“Beeve lagi kurang sehat bu, Art di rumah juga lagi pulang kampung, aku sangat kerepotan mengurus rumah,” terang Andri.


“Oh... ya sudah, ayo masuk.” Rahma pun merangkul Beeve yang tubuhnya masih lemas.


“Kau sakit apa Bee? Wajah mu sampai pucat banget loh, enggak biasanya kau begini.” ucap Rahma, seraya membantu Beeve duduk ke atas sofa.


“Mama hamil nek!” celetuk Bia, yang membuat Rahma terkejut.


“Hah? Yang benar kau hamil Bee?!” Rahma begitu antusias mendengar kabar kehamilan menantunya.


“Iya bu.” jawab Beeve dengan malu-malu.


“Alhamdulillah, akhirnya ibu punya cucu lagi.” Rahma memeluk menantunya.


“Bia! Harusnya jangan bilang sekarang pada nenek.” ucap Andri pada putrinya.


“Memangnya enggak boleh pa?” Bia yang tak di beri aba-aba sebelumnya malah terlanjur buka suara.


“Oh iya juga,” gumam Andri.


“Apa sih kau Ndri! Kabar bahagia begini malah di tunda-tunda memberitahunya pada ibu! Durhaka!” pekik Rahma.


“Nunggu 3 bulan dulukan bu,” ujar Andri.


“Kelamaan kalau 3 bulan! Bee... usia kandungan mu sudah berapa minggu nak?” tanya Rahma dengan nada lembut.


“Ini sudah jalan 6 minggu bu.” jawab Beeve dengan menahan senyum.


“Alhamdulillah, semoga sehat terus ya nak... jangan cape-cape, kau juga enggak perlu urus restoran dulu kalau memang enggak sanggup, janin yang ada dalam kandungan mu adalah yang lebih penting.” Rahma memberi nasehat menantunya.


“Iya bu, aku juga sudah mengatakannya pada Beeve,” ucap Andri.


“Baguslah kalau begitu, Andri, bawa Beeve ke kamar, ibu mau buatkan air madu untuknya, semoga dia lebih bertenaga setelah meminumnya nanti.”


“Iya bu, ayo sayang.” Andri pun menuntun istrinya menuju kamar tamu yang ada di lantai 1.


Bia yang ingin mengikuti kedua orang tuanya ke kamar, di cegah oleh Rahma.


“Bia cantik... kau ikut nenek ke dapur ya sayang, temani nenek buat air madu ya.”

__ADS_1


“Iya nek.” Rahma dan Bia pun bergegas ke dapur. Andri dan Beeve yang telah tiba di kamar langsung naik ke atas ranjang.


“Sayang, sepertinya waktu kau hamil Bia enggak separah ini ku lihat,” ujar Andri.


“Iya mas, aku juga heran, kali ini benar-benar berat untuk ku, semua serba sakit, mual terus menerus, sewaktu kau kerja, aku banyak menghabiskan waktu di kamar mandi untuk muntah, meski pun perut ku sudah kosong, tapi rasanya aku tetap ingin muntah,” terang Beeve.


“Kasihan benget kau sayang, maafkan aku ya, akibat ulah ku, kau jadi menderita begini,” ucap Andri.


“Ya, enggak apa-apa sih mas, namanya juga efek hamil, mungkin waktu Bia, itu hamil kebo, yang ini hamil normal.” ucap Beeve seraya tertawa, agar suaminya tak merasa terbebani akan dirinya.


“Hem... kalau kau masih begini sampai besok, sebaiknya kita periksa ke rumah sakit lagi, aku takut kau kenapa-napa, baru beberapa hari kau ketahuan hamil, tapi tubuh mu kelihatan sudah kurus begitu, kali ini kita ke rumah sakit besar, aku mau memastikan dengan benar.” Andri yang merasa ada yang janggal pada istrinya memutuskan untuk check up kembali.


“Iya mas, aku ikut apa kata mu saja.”


Andri yang iba pada istrinya berniat ingin memberi ciuman, saat bibirnya ingin mendarat di pipi istrinya, tiba-tiba Rahma dan Bia masuk ke dalam kamar.


“Ini ibu sudah...” suara Rahma kian meredup, saat melihat anaknya ingin mencium menantunya. Membuat Andri jadi salah tingkah, ia pun pura-pura membersihkan kotoran dari mata istrinya.


“Sayang, belek mu besar sakali, sebaiknya kau cuci muka habis minum teh jahe,” ujar Andri.


“Mama belekan?” tanya Bia.


“Iya sayang, banyak banget.” Andri terus memegang mata Beeve.


Kenapa harus belek sih mas? batin Beeve.


“Ini nak.” Rahma menyerahkan teh buatannya pada menantunya, lalu Beeve pun bangkit dari tidurnya, dan menerima pemberian sang mertua.


“Iya nek.” keduanya pun keluar dari dalam kamar, meninggalkan Beeve dan Andri.


“Mas! Banyak alasan lain kenapa harus belek?”


“Habis, yang ku ingat hanya itu, apa boleh buat.” Andri mengangkat kedua bahunya.


“Hem... ya sudahlah.” setelah Beeve menghabiskan teh jahenya, ia pun kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


“Bee...”


“Iya mas?”


“Kalau kita bercinta, kira-kira kau bisa enggak ya?” Andri yang sudah sebulan tak adu tempur dengan Beeve tiba-tiba menjadi bergairah.


“Jangan sekarang mas, aku lagi enggak mood, lain kali ya mas.”


Andri mencoba mengerti, ia pun menganggukkan kepalanya, selanjutnya ia merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya.


“Kalau begitu, kita tidur sekarang saja sayang.” Andri memeluk Beeve dengan erat.


“Iya mas.”

__ADS_1


Pukul 03:34 subuh, Andri yang baru bangun dari tidurnya, di kejutkan dengan kondisi Beeve yang penuh keringat.


“Sayang, kau baik-baik saja?” ketika ia menyentuh kening istrinya, ia tersentak, sebab suhu tubuh Beeve begitu panas.


“Ya Allah, kita ke rumah sakit sekarang.” Andri pun menggendong Beeve ala bridal style menuju mobil yang ada di garasi.


Saat anggota keluarga yang lain masih terlelap, pasangan suami istri itu telah berangkat ke rumah sakit.


Selama dalam perjalanan, Beeve menggigil hebat, keringatnya pun bercucuran deras.


Setelah menempuh perjalanan selama 17 menit, keduanya sampai di salah satu rumah sakit terbesar di kota Jakarta.


Andri pun membantu istrinya turun, para perawat yang sedang dinas malam pun membantu Andri meletakkan tubuh Beeve di atas ranjang pasien.


“Tolong panggilkan dokter terbaik, istri saya sedang demam tinggi!” titah Andri. Beeve pun di bawa langsung ke ruang rawat atas permintaan Andri.


Tak lama, dokter datang dan memeriksa kondisi Beeve.


“Panasnya tinggi ya pak.” ucap sang dokter setelah mengukur suhu tubuh Beeve.


“Apa mungkin ini efek hamil dok?” ucapAndri.


“Oh, istri bapak sedang hamil?”


“Iya dok.”


“Kalau begitu, saya akan panggilkan dokter kandungan, untuk memeriksa secara detail." ujar sang dokter, lalu dokter umum itu pun memerintahkan para perawat untuk membawa Beeve ke ruang usg.


Sesampainya mereka di ruang khusus USG, ternyata dokter kandungan wanita paruh baya sudah ada disana.


“Saya periksa sebentar ya pak.” sang dokter meletakkan stetoskop di dada Beeve. Selanjutnya sang dokter menyingkap baju yang Beeve kenakan, untuk melakukan USG.


Ketika transducer telah menyentuh perut Beeve, sang dokter menganggukkan kepalanya , ia mengerti apa yang Beeve alami sebenarnya.


“Masya Allah, pantas mamanya jadi kurang sehat begini pak.” ucap sang dokter dengan senyum bahagia.


“Maksudnya dok?” tanya Andri tak mengerti.


“Coba bapak lihat ke monitor besar yang ada di belakang bapak.” ujar sang dokter, lalu Andri pun menoleh kebelakang nya yang menampilkan hasil layar 4D.


Andri pun mengernyitkan dahinya sebab ia tak mengerti sama sekali.


“Selamat ya pak, istri bapak mengandung anak kembar 3.” terang sang dokter. Sontak Andri dan Beeve melihat satu sama lain


“Kembar 3 dok?!” tanya Andri dengan netra membelalak.


“Dokter yakin aku mengandung 3 bayi?” tanya Beeve tak percaya.


“Saya 100% yakin pak, bu... dan ketiganya begitu sehat, dan juga aktif, ibu pasti kewalahan ya, perbanyak sabar ya bu, syukuri dan nikmati prosesnya, Allah benar-benar sayang pada ibu, karena di titipkan 3 malaikat kecil sekaligus.” terang sang dokter.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2