
Beeve mengernyit akan pernyataan Jane, ia yang sudah bersahabat lama dengan Arinda merasa semua itu tidak akan pernah terjadi, sebab keduanya sudah melewati suka dan duka bersama sejak SMP, dan keduanya tak pernah sekali pun bertengkar.
Namun karena tak ingin adu pendapat dengan sang ibu, Beeve pun menuruti perkataan Jane.
“Iya bu, maaf kalau Beeve enggak tahu perilah yang seperti itu,” ucap Beeve.
“Ya sudah, jangan pernah dia undang kemari, dan kalau dia mau datang bermain, katakan saja kalau suami mu enggak kasih izin kau bawa teman, kalau tetap mau bertemu, bertemunya di luar saja, satu poin lagi yang paling penting Bee,” ucap Jane dengan serius.
“Apa bu?”
“Jangan katakan rahasia mu padanya, yang namanya manusia, mulutnya itu enggak bisa di rem, meski sudah ada janji atau sumpah enggak akan membocorkan, tapi baru lepas kau bercerita, sudah di ceritakan pada orang lain, dengan dalih yang sama, jangan ceritakan pada orang lain ini dan itu,” terang Jane.
Beeve yang sudah kelepasan sebelumnya pun menjadi khawatir, ia takut kalau Arinda akan menceritakan aibnya pada orang lain.
Jane yang melihat wajah Beeve nampak resah pun bertanya.
“Kau belum curhat pada Arinda kan Bee?”
Karena takut akan di amuk oleh sang ibu, Beeve pun menggelengkan kepalanya.
“Bagus kalau begitu, Bee kau boleh dekat dengan orang lain, tapi tetap buat batasan, ada hal-hal yang boleh di bagi, ada yang tidak, termasuk pada keluarga mu juga, tapi terlepas dari semua itu, kalau kau ada masalah atau yang lainnya, ceritakan pada keluarga, karena tempat yang aman menampung segala hal ya hanya keluarga.” setelah mendapat nasehat dari ibunya, Beeve perlahan mengerti tentang sisi lain dari sebuah kehidupan.
“Iya bu, terimakasih sudah menasehati Beeve,” saat keduanya masih mengobrol, bel pintu pun berbunyi.
Ting tong ting tong!
“Sepertinya itu Arinda bu,” ujar Beeve seraya berdiri dari duduknya.
“Ya sudah buka pintunya,” ucap Jane.
Beeve pun bergegas ke pintu, ceklek!
Kriettt.....
Setelah pintu terbuka, ternyata benar, yang datang itu adalah sahabatnya Arinda.
“Assalamu'alaikum,” Arinda memeluk Beeve.
“Wa'alaikumsalam, ayo masuk,” ujar Beeve.
Dan ketika Arinda tiba di ruang tamu, ia melihat Jane sedang duduk di atas sofa.
“Tante!” dengan senyum ceria, Arinda berlarian kecil dan memeluk Jane yang duduk si atas sofa.
“Apa kabar tan.” ucap Arinda seraya melepas pelukannya dan duduk di sebelah Jane.
“Alhamdulillah baik, kau sendiri apa kabar?”
“Baik juga tan,”
“Kau dari mana? Sampai-sampai main sesore ini kemarin?” tanya Jane.
__ADS_1
“Aku dari tempat kerja tan, karena jalur kantor dan rumah melewati rumah Beeve, makanya aku mampir kemari tante,” terang Arinda.
“Oh, kau kerja sekarang,”
Beeve yang takut kalau ibunya marah jika tahu Arinda bekerja di tempat suaminya pun mengedip-ngedipkan matanya pada Arinda, namun Arinda tak mengerti
“Iya tan,”
“Kerja dimana?”
“Di perusahaan suaminya Beeve, mas Andri,” terang Arinda, yang membuat Jane langsung memberi tatapan mata tajam pada Beeve.
Alhasil nyali Beeve menjadi ciut, ia pun tak berani menatap wajah ibunya lagi.
“Oh iya tante, ini aku bawakan martabak, maaf ya, cuma bisa bawa ini, karena keuangan ku sedang menipis,” ungkap Arinda.
“Iya nak, enggak apa-apa, sejak kapan kau bekerja disana?”
“Baru hari ini tan, dan ini semua berkat Beeve,”
Arinda begitu terbuka pada Jane, sedangkan Jane sudah meremass ujung bajunya menahan rasa kesal pada putrinya.
“Ya Allah, ibu bisa memarahi ku lagi nih.” batin Beeve, jantungnya pun berdetak dengan kencang.
“Ooh begitu ya, kalau kau memang butuh kerja, kenapa enggak bilang pada tante? Di perusahaan ayah Beeve juga sedang membutuhkan karyawan, kalau kau mau tante akan bicara pada om.” Jane mencoba mengeluarkan Arinda secara halus dari perusahaan Andri.
“Terimakasih banyak tan, tapi Arinda mau coba di perusaan mas Andri dulu.” selama percakapan itu berlangsung, Beeve tak mau bersuara, karena takut kalau ia salah bicara.
Beeve dan Jane pergi sholat ke mushola yang ada dalam rumah, sedang Arinda tetap di ruang tamu, karena ia lagi berhalangan.
Setelah selesai sholat, dan masih dalam keadaan memakai mukena, Jane memarahi putrinya.
“Kau ini bagaimana sih?! Kenapa kau malah membantu Arinda untuk kerja di perusahaan suami mu?!”
“Maaf bu, aku kasihan pada Arinda, karena dia lagi butuh uang,” terang Beeve.
“Kenapa kau enggak bilang pada ibu? Biar kerja di tempat ayah mu saja?!”
“Maaf bu, Beeve enggak kepikiran,”
“Haa ah! Kau ini, cepat kau katakan pada suami mu untuk memecatnya,” titah Jane.
“Tapi bu...., Arinda baru training disana, belum jadi karyawan tetap,”
“Kalau begitu, katakan pada Andri, untuk enggak memilih dia, Bee perasaan ibu enggak enak, sejak tahu Arinda sudah beberapa kali main kesini, suami mu itu tampan, masih muda, banyak uang, siapapun bisa mencintai suami mu, termasuk sahabat mu itu,”
“Iya bu, nanti Beeve bilang pada mas Andri,”
“Bagus, kau jangan bebal ya Bee.” selesai menceramahi putrinya, Jane membuka mukenanya, begitu pula dengan Beeve, setelah itu mereka kembali ke ruang tamu.
“Arinda, kita pulang sekarang ya, karena Beeve sebentar lagi akan ke rumah mertuanya,” ujar Jane.
__ADS_1
“Oh, gitu ya tan, ya sudah kalau begitu,” Arinda pun beranjak dari duduknya.
“Bee, aku pulang ya,” Arinda memeluk Beeve
“Ibu juga pulang, jaga diri baik-baik.” ucap Jane, memeluk dan mencium kening putrinya.
“Iya bu,”
Setelah itu, Jane dan Arinda meninggalkan kediaman Beeve, dengan Jane pulang di jemput supirnya, sedangkan Arinda menaiki motornya.
“Haaahhh!!!” Beeve menghela nafas panjang setelah kedua tamunya pergi.
Ia yang lelah pun berniat untuk ke kamar, Baru saja ia akan menuju kamar, tiba-tiba ada yang menekan bel pintu.
Ting tong ting tong!!
Beeve pun balik kanan menuju pintu, dan ketika pintu terbuka, ternyata yang datang adalah suaminya.
“Mas,”
“Assalamu'alaikum sayang,” ucap Andri.
“Walaikumsalam mas.” sahut Beeve dengan mencium punggung tangan suaminya. Lalu Andri pun mencium kening Beeve.
“Kau sudah sholat sayang?” tanya Andri dengan merangkul bahu Beeve seraya berjalan menuju kamar.
“Sudah mas, mas sendiri?”
“Sudah sayang, tadi di jalan,” ujar Andri.
Sesampainya mereka di kamar Andri pun membuka bajunya untuk segera mandi, Beeve belum mengatakan maksudnya, karena ingin menunggu suaminya selesai mandi dulu.
Selepas mandi, Andri dan Beeve makan malam yang di layani oleh Winda.
“Sayang, hari ini kau melakukan apa saja?” tanya Andri.
“Aku hanya mengobrol dengan ibu,” jawab Beeve.
“Oh, ibu pulang jam berapa?”
“Mungkin jam 18:15, selepas sholat Magrib,”
“Oh begitu ya, sayang besok kau akan ku antar untuk mendaftar kuliah,” ucap Andri.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, KARENA 1 KONTRIBUSI DARI MU ADALAH PENYEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
...Instagram :@Kissky_muchu...
...Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya....
__ADS_1