
“Baiklah, aku setuju dengan mu, nanti setelah pulang dari kampus kita ke rumah sakit untuk membersihkan karang gigi.” Berkat kecerdikan Helena, akhirnya ia di izinkan oleh calon suaminya untuk menempel hari itu.
“Nah, gitu dong bang!” Helena begitu antusias, karena rencananya berhasil.
Setelah selesai minum susu, Emir pun bergegas mandi. Selesai dengan mandi, Emir bergabung kembali di meja makan, selain ada ayah dan ibunya, disana juga ada Helena.
“Bang!” Helena yang tadinya duduk pun bangkit, lalu ia mengambil piring untuk Emir.
“Enggak usah, biar aku saja!” Emir mencoba menolak kebaikan hati Helena yang terlihat cari muka.
“Aku saja bang, lagi pula sebentar lagi kita akan menikah, izinkan aku latihan dari sekarang ya??” Emir menghela nafas panjang, karena tekad Helena begitu kuat.
Aku paham sih dia sedang berusaha mengambil hati ku, tapi... enggak gini juga kan? batin Emir.
Yudi tersenyum geli melihat calon menantunya, yang tak punya rasa malu.
Boleh juga Helena, kepercayaan dirinya di atas 100%, pada hal Emir selalu judes padanya, tapi dia maju terus, pantang menyerah, batin Yudi.
Setelah mengambil nasi satu sendok untuk Emir, Helena tak lupa menaruh lauk ke piring calon suaminya.
“Apa ini?” Emir melirik ke nasi yang begitu sedikit, sedangkan lauknya menggunung.
“Kau kan artis dan model bang, jadi enggak boleh banyak makan nasi, kau harus menjaga kebugaran tubuh mu, makanya aku kasih kau dada ayam 4 potong, agar otot mu tetap seksi!”
Uhuk uhuk uhuk!!
Rahma dan Yudi di buat tersedak, karena Helena berkata seksi, menurut kedua orang tua yang telah memasuki kepala 5 itu, tutur kata calon menantu mereka terlalu vulgar.
“Om, tante! Kalian enggak apa-apa?” Helena memberikan beberapa lembaran tisu untuk kedua calon mertuanya.
Emir menelan salivanya, karena Helena yang belum resmi jadi istrinya sudah mau mengatur pola makannya.
“Helena, kau benar-benar luar biasa!” pekik Emir. Lalu ia pun duduk untuk menyantap isi piringnya.
Kalau Beeve pasti memberi ku makan banyak, batin Emir.
Setelah Rahma dan Yudi merasa baikan, keduanya pun buru-buru menyudahi makan mereka.
“Kami duluan ya Mir, Helena.” Rahma berpamitan pada anak dan calon menantunya.
“Iya tante, hati-hati di jalan.” Helena pun menjabat tangan Rahma dan Yudi, begitu pula dengan Emir.
“Kalian harus akur, jangan berkelahi terus,” ujar Yudi.
“Tenang saja om, berkelahi bukan selalu melambangkan kebencian tapi bisa juga kasih sayang, karena untuk menunjukkan rasa cinta, cara setiap orang itu berbeda-beda, contohnya bang Emir, meski mulutnya bagai cabai janda, tapi ku tahu, ada aku terselip di lubuk hatinya yang paling dalam.”
Uhuk uhuk uhuk! Kini malah giliran Emir yang tersedak, gombalan Helena hampir membuat ia terkencing-kencing di celana.
“Abang! Kau enggak apa-apa?!” Helena dengan sigap memberi Emir minum dan menepuk-nepuk punggungnya.
Rahma dan Yudi malah tertawa terbahak-bahak melihat anaknya menderita.
“Ya sudah, kami berangkat!” ucap Rahma, kemudian ia dan suaminya pun menuju mobil yang terparkir di garasi.
“Yah, ternyata Helena kocak dan humoris ya, pada hal dia lulusan dari luar negeri, dokter pula lagi, tapi... tingkahnya bagai anak ABG labil!” terang Rahma.
__ADS_1
“Betul juga, dan dia orangnya enggak mudah sakit hati, malah terkesan datar, dan enggak mau tahu tentang apapun yang di katakan orang lain.”
“Semoga saja, Helena dapat membuat Emir melupakan Beeve.” ucap Rahma penuh harap.
“Aamiin,” sahut Yudi.
__________________________________________
Hatciiim!!!! Beeve yang ingin berangkat ke restoran hari itu malah harus mengurungkan niatnya, sebab ia merasa tak enak badan, setelah mengantar Bia naik bis jemputan PAUD ke pinggir jalan rumahnya, ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Hatciiiim! Haa-hatciiim!
“Aduh, kok jadi demam dan pilek begini sih? Pada hal cuacanya bagus, dan aku juga makan tepat waktu,” gumam Beeve.
Ia pun segera meminum obat, “Coba tidur sebentar, mana tahu setelah itu aku baikan,” gumam Beeve.
Ia yang ingin tidur, di gagalkan oleh panggilan video yang di lakukan oleh Andri.
📲 “Halo sayang?” Andri.
📲 “Halo mas,” Beeve
📲 “Loh, kok masih di ranjang? Kau enggak jadi ke restoran sayang?” Andri.
📲 “Jadi mas, tapi nanti, karena rasanya aku kurang enak badan,” Beeve.
📲 “Kau demam?” Andri.
📲 “Iya mas, dan juga flu,” Beeve.
📲 “Astaga, cepat ke rumah sakit sayang, sebelum parah, kasihan Bia, nanti enggak ada yang urus,” Andri.
📲 “Bibikan sibuk kerja sayang, kasihan, kalau enggak aku akan minta supir di rumah ibu untuk mengantar mu ke rumah sakit,” Andri.
📲 “Aku sudah minum obat mas, paling sebentar lagi sembuh,” Beeve.
📲 “Enggak bisa, sayang ku harus ke rumah sakit, tunggu saja di rumah ya, aku akan telepon pak Reno,” Andri
Karena Andri memaksa, Beeve pun setuju, lalu Andri pun dengan sigap mendial nomor supir keluarganya.
📲 “Halo pak Reno, lagi dimana?” Andri.
📲 “Lagi di jalan tuan,” Reno.
📲 “Oh, setelah mengerjakan tugas mu, tolong ke rumah ya, karena nyonya Beeve lagi sakit, antar kan dia ke rumah sakit ya pak,” Andri.
📲 “Baik tuan,” Reno.
Setelah selesai mendial Reno, Andri pun mematikan sambungan teleponnya.
“Siapa pak?” tanya Emir.
“Tuan Andri tuan,” Jawan Reno.
“Tuan menelepon untuk meminta tolong, mengantarkan nyonya Beeve ke rumah sakit,” terang Reno.
__ADS_1
“Apa? Beeve sakit?” Emir langsung khawatir dengan kondisi kakak iparnya.
“Betul tuan,” ucap Reno.
“Sakit apa pak?” tanya Helena.
“Kurang tahu non,” jawab Reno.
“Ya sudah pak, ayo ke rumah Beeve!” Emir yang panik lebih mengutamakan Beeve dari pada bertemu dosennya.
“Tapi ke kampusnya gimana bang?” ucap Helena.
“Nanti juga bisa, buruan pak!” Emir mendesak Reno untuk tancap gas.
Dengan kecepatan penuh mereka tiba di rumah Beeve dengan waktu yang sangat singkat. Emir pun bergegas keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Helena.
“Buru-buru banget.” gumam Helena yang kemudian menyusul Emir.
Ting tong ting tong!! Emir menekan bel rumah berulang kali. Tak lama, Beeve pun membuka pintu.
“Bee, mana yang sakit?” Emir langsung meletakkan telapak tangannya di kening Beeve.
“Aku enggak apa-apa mas, ini hanya demam biasa.” ucap Beeve.
Helena merasa janggal dengan perhatian lebih yang Emir berikan pada Beeve, ia pun mengernyitkan dahinya.
Kok, agak berlebihan ya? Apa hanya perasaan ku saja? batin Helena.
“Apanya yang enggak apa-apa? Kau panas begini, ayo cepat kita ke rumah sakit.” Emir menggenggam tangan Beeve melewati Helena yang ada di hadapan mereka menuju mobil.
“What? Aku di tinggal??” Helena pun menyusul keduanya ke dalam mobil.
Beeve dan Emir duduk di kursi kedua dari belakang kemudi.
Lalu Helena pun berkata, “Bang, kau di depan aku yang di samping kak Beeve.”
“Kau saja yang di depan! Cepat masuk kalau mau ikut!” karena Emir tak mau pindah, Helena pun mengalah, ia pun duduk di depan dengan wajah yang cemberut.
“Bee, pasti badan mu sakit.” Emir mijat-mijat bahu Beeve, ia takut kalau kakak iparnya masuk angin.
“Aku baik-baik saja mas, ini hanya demam biasa, harusnya cukup pak Reno yang antar aku, kalian enggak perlu ikut,” ucap Beeve.
“Tahu tuh bang Emir, sok sibuk banget, pada hal dia sebentar lagi ada janji dengan dosen!” Helena menyambung perkataan Beeve.
“Sudah mas, aku berangkat dengan pak Rejo saja, kalian bisa lanjutkan ke kampus.” ujar Beeve, selain tak enak karena merepotkan, ia juga tak mau kalau Helena salah paham padanya.
“Enggak, aku harus menemani mu berobat, lalu mengantar mu kembali, setelah itu baru ke kampus,” ucap Emir.
“Enggak usah mas.”
“Sstt.. sudah, kau jangan menolak, lagi pula aku kasihan pada mu, sakit pada saat Andri enggak ada,” terang Emir.
“Kan aku ada bibi mas.” ujar Beeve.
“Itu sih lain.”
__ADS_1
Helena benar-benar cemburu pada Beeve, meski ia tahu status Beeve adalah kakak ipar calon suaminya, namun ia tetap merasa panas di dalam dadanya.
...Bersambung...