
Lalu Beeve pun menganggukkan kepala, “Lalukan dengan pelan mas.”
“Aku enggak bisa janji sayang.” Andri melucuti celana renangnya, selanjutnya ia melepas tali pengait segi tiga yang ada di bawah pusat istrinya begitu saja.
Setelah tubuh keduanya polos tanpa balutan kain, Andri perlahan menerobos masuk ke dalam rumah cinta yang telah lama tak ia kunjungi.
“Akh!” keduanya mengeluarkan suara goib bersamaan.
Sangat sempit, batin Andri.
Ia tersenyum puas, karena rumah terapis itu masih terasa hangat, bahkan serasa mencekik si Joni yang keluar masuk.
“A-pa kau merawatnya?” tanya nakal Andri yang masih sibuk maju mundur.
“Te-tentu sa-ja mas.” jawab Beeve dengan suara putus-putus.
“Ku rasa lebih sempit dari yang kemarin.” Andri memuji Beeve.
“Kau juga makin besar mas, apa kau minum obat ekstra jumbo?” tanya Beeve.
“Iya, ku konsumsi saat kau kembali lagi, agar kau merasa puas!” ujar Andri.
“Ma-mas...”
“Iya sa-yang??”
“Aku benar-benar pu-puas!” suara serak dan juga manja Beeve membuat Andri merasa panas dan gerah, pada hal cuaca malam itu sangat dingin.
Meski Beeve telah melakukan pelepasan berulang kali, Andri tetap tak mau menyudahinya, karena ia belum sampai puncak sama sekali.
“Aku lelah mas.” ucap Beeve dengan mata sendu.
“Sabar sayang, aku hampir sampai.”
“Oke mas, santai saja.” ujar Beeve.
“Sayang.”
“Iya mas?”
“Kau sudah siap punya anak? Karena aku akan taruh di dalam,” tanya Andri.
“Jangan dulu mas.” Beeve yang belum siap mengandung menolak ide Andri.
“Loh, kenapa sayang? Aku ingin kau mengandung anak kusecepatnya,” ucap Andri.
“Kalau aku hamil sekarang kasihan Bia mas, kasih sayang kita akan fokus ke si kecil, tunggu sebentar lagi mas Andri sayang, biarkan Bia bermanja lebih lama sedikit, dan aku juga ingin melakukannya dengan mu sebanyak yang aku mau,” terang Beeve.
“Bukannya kita bisa saja melakukannya kapan pun kita mau?”
“Tanpa rasa sakit,” jawab Beeve.
Andri mengernyitkan dahinya, “Memangnya dulu kau kesakitan sayang?”
__ADS_1
“Tentu saja, tapi demi kau, ku tahan mas,” sahut Beeve.
Andri pun mencoba mengerti, dan menerima keputusan istrinya.
“Sa-sayang aku...” Beeve yang paham pun menyelam ke dalam air, lalu mengatasi si Joni yang akan keluar.
Andri menutup mata, saat mulut manis Beeve berinteraksi dengan si Joni kembali.
“Akhh!!!” setelah si Joni telah tuntas, Andri menarik tubuh Beeve yang masih dalam air.
“Haahh.. Haah... apa sudah selesai mas?” tanya Beeve dengan nafas sesak.
“Iya sayang.” jawab Andri seraya mengecup pipi Beeve.
“Kita naik yuk mas, aku sudah kedinginan, lihat, jemari ku juga sudah mengerut.” Beeve menunjukkan telapak tangannya pada sang suami.
“Baiklah sayang.” ketika Andri telah beranjak dari kolam, Beeve malah berenang kesana kemari.
“Kau lagi apa sayang? Cepat naik!” seru Andri.
“Aku mau cari bikini ku mas, masa aku naik enggak pakai apa-apa.” terang Beeve.
“Sudahlah, besok saja carinya, toh aku juga enggak pakai apapun, ayo cepat naik!” ujar Andri.
Atas desakan suaminya, Beeve pun mengurungkan niat untuk mengambil bikininya, padahal sudah di depan mata. Ia pun naik dengan di bantu oleh suaminya.
“Mas, kita mandi wajib sekarang?” tanya Beeve dengan tubuh gemetaran.
“Enggak usah, karena nanti kita mau main lagi,” ujar Andri.
“Kapan pun aku mau,” ucap Andri.
“Oh...” setelah keduanya berada di dalam villa, Andri pun meminta tolong pada istrinya.
“Buatkan teh manis hangat ya sayang, aku akan ke lantai 2 untuk mengambil handuk untuk mu.”
“Iya mas.” sahut Beeve mengikuti perkataan suaminya.
Beeve segera menuju dapur memanaskan air, sedang Andri ke lantai 2. Setelah beberapa saat, Andri datang dengan memakai handuk di pinggangnya, lalu ia pun mengeringkan rambut Beeve dengan handuk yang ia bawa.
“Harusnya pakai hair dryer mas.” Beeve menoleh ke suaminya yang sibuk mengucak-ngucak rambutnya.
“Memangnya kau bawa sayang?”
“Enggak mas.”
“Makanya aku gunakan handuk, apa teh manisnya sudah selesai?” Andri melirik ke dua gelas besar yang telah penuh dengan teh manis dengan uap yang bergebu.
“Iya mas.”
“Ayo, lanjutkan mengeringkan rambut mu, aku akan bawa tehnya ke sofa,” titah Andri.
“Iya mas.” Beeve melap rambutnya yang masih basah, seraya menyusul Andri ke sofa empuk berwarna putih berukuran besar.
__ADS_1
Lalu Andri meletakkan teh manis mereka ke atas meja, kemudian ia pun duduk di atas sofa, seraya menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.
Selanjutnya ia meraih tubuh Beeve untuk duduk di hadapannya, saat ia mengambil selimut tebal berwarna putih yang terlipat rapi di sebelahnya, ia pun membalut tubuhnya dan Beeve dalam 1 selimut yang sama, kemudian Andri mengambil handuk yang ada di tangan istrinya, dan lanjut mengeringkan rambut si cantik.
“Mas, malam ini dingin banget, kenapa kau enggak ambil baju kita?”
“Kalau tubuh kita saling bersentuhan, lama-lama juga jadi hangat sayang,” terang Andri.
“Nanti masuk angin baru tahu rasa,” ucap Beeve.
“Masuk angin tinggal minum tolak angin.” Andri yang telah selesai mengurus rambut panjang Beeve, kemudian merapatkan tubuhnya, hingga menyatu dengan punggung Beeve, kemudian ia memeluk tubuh ramping ibu satu anak itu.
“Ku pikir yang terjadi sekarang hanyalah mimpi.”
“Kok begitu mas?”
“Karena aku sudah lama menanti, selama kau tak ada, aku benar-benar prustasi, orang rumah juga stres melihat keterpurukan ku, ibu dan ayah sangat menyesal karena telah menyakiti mu, ibu juga pernah menjodohkan ku pada wanita yang mirip dengan mu, karena saking putus asa nya melihat aku yang tak ada gairah hidup.”
“Lalu?”
“Aku menolak, karena yang ada di hati ku hanya kau seorang, aku juga enggak menyangka kepergian mu, membuat aku kehilangan separuh hidup ku, maaf nih ya, hehehe” Andri tiba-tiba tertawa tak jelas.
“Kenapa mas?” tanya Beeve dengan mimik wajah kebingungan.
“Penyemagat ku, untuk tak melakukan bunuh diri adalah, melihat kembali rekaman video panas kita setiap hari.” terang Andri seraya mengecup bahu Beeve.
“Dasar nakal! Kalau ada yang lihat selain kau gimana mas? Bisa-bisa video itu di sebar luaskan, lalu kita di tangkap polisi, pikir panjang dong mas, lagi pula yang begituan cukup kita simpan dalam memory kita saja.” Beeve menasehati suaminya, karena takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan.
“Siapa juga yang akan tahu.” Andri yang bebal tak mau mendengar apa kata istrinya.
“Ehm, kau susah banget mas di kasih tahu!” Beeve geleng-geleng kepala.
“Kau sendiri bagaimana hidup tanpa aku?” tanya Andri penasaran.
“Biasa saja.” jawab Beeve singkat.
“Masa sih sayang? Ayo dong cerita, ku rasa kau pasti merasakan hal yang sama,” ujar Andri.
“Biasa saja mas, aku enggak merasakan apapun!” ucap Beeve yang enggan mengatakan isi hatinya.
“Kau pasti bohong! Mana mungkin biasa saja, aku tahu bagaimana perasaan mu.”
“Kalau sudah tahu, ngapain tanya lagi?” Andri yang ingin mendengar kejujuran istrinya menggigit telinganya.
“Ssstt! Mas kau ini!” Beeve meringis kesakitan.
“Bicara jujur, atau aku gigit lagi?” Andri memberi ancaman pada istrinya.
“Oke-oke, aku jujur nih, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama, aku merindukan mu mas, setiap malam kau selalu hadir di mimpi ku, selama setahun aku menangisi perpisahan kita, tapi apa daya, saat itu aku juga marah pada keadaan dan takdir yang menghampiri ku.”
“Kenapa kau tak menghubungi ku kalau kau memang rindu?”
“Ku pikir kau sudah tanda tangan surat cerai yang telah ku tanda tangani, ku pikir kau marah pada ku, aku juga sudah membuat perjanjian dengan Arinda, yang terpenting alasan terbesar ku adalah, karena aku ingin hidup mandiri, aku bertekad mencari uang yang banyak, untuk menebus Bia, tapi sayang... aku dan Cristian lost contact, hidup ku makin hancur saat itu.” Beeve pun menceritakan panjang lebar, kehidupannya pada Andri selama 4 tahun silam.
__ADS_1
...Bersambung......