
Beeve pun menepuk-nepuk pelan punggung putri kecilnya hingga terlelap, setelah itu ia memindahkan si kecil ke atas sofa, agar ia dapat menukar spray yang di penuhi noda darah dan air ketubannya yang telah mengering.
“Sampai kapan aku berada dalam kamar ini? Ari-ari si dede juga kalau tidak segera di kubur akan membusuk,” gumam Beeve.
Beeve yang ingat ada palu di laci meja riasnya berinisiatif untuk membongkar satu lembar lantai granit kamarnya.
“Terpaksa aku lakukan, kalau enggak, kamar ini akan bau, aku juga enggak tahu sampai kapan si gila itu mengurung ku disini.” selagi putrinya tidur, Beeve membongkar granit kamarnya dengan sangat pelan.
Arinda yang melihat aktivitas Beeve geleng-geleng kepala.
“Kau mau apa sih bolong? Kenapa malah membongkar lantai? Ada-ada saja,” gumam Arinda.
Setelah berhasil menghancurkan granit, Beeve mulai menggali tanah dengan palunya kembali.
“Cepat-cepat, jangan sampai si dede bangun,” gumam Beeve.
Setelah menggali cukup dalam, Beeve membungkus air-ari putrinya dengan plastik baju baru yang belum ia pakai.
Usai menutup lubang yang ia buat, Beeve mencuci tangannya yang kotor akan tanah.
“Ya Allah, bagaimana caranya aku keluar dari sini? fentilasi kamar mandi saja tingginya 2 meter lebih, itu juga lebarnya hanya 30 senti.” Beeve benar-benar putus asa.
“Kalau aku enggak makan, bagaimana asi ku akan keluar? Kasihan sekali kau de.” Beeve yang lelah terlelap di sebelah putrinya yang ada di atas sofa.
Setelah tidur selama 3 jam, Beeve terbangun dari tidurnya. Lalu ia menoleh ke sofa tempat putrinya berada.
“Hah?! De?? Dede!!” Beeve panik setengah mati, karena putrinya tak ada lagi disana.
Ia pun mencari ke seluruh penjuru kamar, namun tak menemukan putrinya dimana pun.
“Dede!! kamu dimana nak??” Beeve menangis karena tak mendapati anaknya dimana-mana.
“Ini pasti kerjaan Arinda!!” Beeve pun naik pitam, ia beranjak ke pintu dengan membawa palu.
“Arinda!! Kembalikan anak ku!! Arinda!!” Beeve berteriak seraya memukul pintu dengan palu, ia juga berusaha merusak handle pintu agar bisa keluar.
Arinda yang memantau dari cctv memijat pelipisnya.
“Sudah mulai keluar tanduknya, hufff!!!”
“Arinda!! Awas saja kau ya! Buka pintunya!!” Beeve terus menerus berteriak seraya merusak handle pintu.
“Enggak bisa di biarin nih.” Arinda pun turun ke lantai satu dengan menggendong putri Beeve.
Beeve yang berusaha keras pun akhirnya dapat menjebol pintu.
Ia bergegas mencari Arinda dengan palu di tangannya.
“Awas saja kalau kau menyakiti anak ku! Akan ku bunuh kau!” ucap Beeve.
__ADS_1
Arinda yang baru sampai di lantai satu di kawal oleh 4 orang, yang mana dua satpam dan 2 Art.
“Arinda!!!” Teriak Beeve yang mulai mendekat ke arah lift.
“Pegang dia pak!” titah Arinda pada para satpam.
“Baik nyonya!” sahut Karto dan Kasim.
Beeve yang ingin menyerang Arinda langsung di cegah oleh kedua satpam.
“Pegang dia dengan erat, ambil palunya!”
“Baik nyonya!” Karto pun melepas paksa palu yang ada di tangan Beeve.
“Hei Bee, sekarang anak mu ada pada ku, kalau kau sampai macam-macam, maka anak mu akan ku tenggelamkan di kolam!” pekik Arinda.
“Jangan macam-macam Arinda! Aku enggak akan tinggal diam kalau sampai terjadi apa-apa pada anak ku! Akan ku bunuh kau! Kembalikan anak ku!!” hardik Beeve.
“Hem..., sudah terpojok masih bisa melawan lagi!” pekik Arinda.
“Lepaskan! Kembalikan anak ku! Dasar orang gila!”
“Oh... belum sadar diri rupanya! Enaknya kau di kasih pelajaran apa ya?!” Arinda pun memikirkan hukuman yang pantas ia berikan pada Beeve.
“Oh!! Aku tahu!! Bagaimana kalau kau di kurung di gudang? Atau mungkin anak mu saja yang mendapat hukuman? Contohnya enggak di kasih susu gitu? Hahaha!!”
“Hemm... tapi tetap sajakan dia bagian dari dirimu, jadi dia pantas juga dong dapat hukuman, ya kan?”
“Enggak! Jangan sakiti anak ku.” Beeve geleng-geleng kepala memohon agar anaknya jangan di sakiti.
“Kalau enggak mau anak mu ku sakiti, maka jadilah ibu yang budiman, masuk ke gudang, hahaha!!” dengan terpaksa Beeve menuruti keinginan Arinda.
Tanpa melawan, ia pun di antar oleh Karto menuju gudang.
Sesampainya ia di gudang yang kotor dan lembab Karto pun menguncinya dari luar.
Tek, tek, tek!
Beeve yang menekan saklar lampu karena gelap baru menyadari, ternyata lampu di gudang itu telah di copot. Suhu disana juga panas, meski ada kipas namun aliran listrik di gudang itu telah di putus.
“Ya Tuhan, berikan aku dan anak ku jalan keluar, kirimkan seseorang untuk membantu ku dan anak ku, agar kami bisa keluar dari rumah ini.” Beeve hanya bisa berdo'a untuk keselamatannya dan si buah hati.
Sore harinya, Arman yang telah sampai di depan gerbang rumah Beeve pun membunyikan klakson.
Tin tin!
Tresno sang satpam penjaga gerbang pun keluar untuk menyapa Arman.
“Selamat siang pak, ada yang bisa di bantu?” tanya Tresno.
__ADS_1
“Bisa tolong buka gerbangnya, saya ingin bertemu nyonya Beeve atas perintah pak Andri,” jawab Arman.
“Maaf tuan, nyonya Beeve tak ada di rumah, sejak kemarin pagi, nyonya keluar rumah dengan membawa koper,” terang Trisno.
“Oh, begitu ya pak, apa bapak tahu nyonya pergi kemana?”
“Saya kurang tahu pak, karena saya tidak ada hak untuk bertanya demikian pada nyonya.”
“Bukannya kalian telah di perintahkan, untuk tidak mengizinkan nyonya Beeve keluar rumah?”
“Memang benar, tapi nyonya bersikeras makanya saya dan yang lainnya tak dapat mencegah.” penjelasan dari sang satpam membuat Arman tak dapat berbuat lebih.
“Ehm, kalau begitu buka gerbangnya, aku ingin bertemu nyonya Arinda,” pinta Arman.
“Sebentar pak, saya akan hubungi penjaga pintu utama,” ucap Tresno.
Tresno pun menghubungi rekan kerjanya melalui HT (Walkie talkie)
Arinda yang mendapat kabar kedatangan Arman pun menitipkan bayi Beeve pada Desi.
“Segera bawa ke lantai 2, teman mas Andri mau datang,” titah Arinda.
“Siap nyah.” Desi pun langsung menjalankan perintah Arinda.
Setelah itu, ia menuju ruang tamu untuk menemui Arman.
“Selamat siang pak Arman, apa kabar?” sapa Arinda dengan ramah.
“Selamat siang Arinda, kabar ku baik, bagaimana dengan mu?”
“Alhamdulillah baik pak, oh iya, silahkan duduk pak.”
“Terimakasih Arinda.”
“Oh iya bapak mau minum apa? Biar disiapkan,” ujar Arinda.
“Tidak perlu, karena saya baru minum tadi,” ucap Arman.
“Oh, oke kalau begitu pak.”
“Ehm, tujuan saya datang kemari untuk menanyakan soal Beeve, apa kau tahu dia pergi kemana?” tanya Arman dengan serius.
“Kalau soal itu, saya kurang tahu pak, memang saya melihat dia keluar rumah, bahkan sempat saya cegah, tapi dia tetap pergi juga, dan saya enggak bisa berbuat apapun dong kalau dia tetap ingin pergi,” terang Arinda.
“Kau serius Nda?” tanya Arman penuh selidik.
“Tentu saja pak, walau pun saya madunya, tetap saya memberi dia peringatan, karena kalau mas Andri marah, saya akan kena imbasnya, maklumlah pak, saya hanya istri kedua yang tak di sayang, jadi saya cukup tahu diri pak, saya juga harus mengambil hati Beeve meski pun sakit, bapak tahukan saya kemarin keguguran? Yang di perhatikan siapa? Beeve bukan saya, tapi enggak apa-apa, resiko istri kedua memang demikian pak.” Arinda mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arman tak banyak bertanya lagi soal Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1